
Permintaan yang keluar dari bibir Nyonya Merina membuat tubuh Amira terduduk lemas di dekat ibunya. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Ibunya tidak merestui hubungan dirinya dengan Vincent.
"Berpisahlah dengannya, Ami," ucap Nyonya Merina sekali lagi.
Perlahan Amira melepaskan genggaman tangannya pada ibunya, cairan berwarna putih bening mulai menumpuk di pelupuk matanya. Ia menatap wajah ibunya dan menggeleng-geleng pelan.
"Bu, kenapa? Apa karena Tante Thalia? Apa benar semua yang dikatakan olehnya kalau …." Amira menghentikan ucapannya, ia tak sanggup mengatakan bahwa ibunya pernah menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga ibunya Vincent.
Nyonya Merina tercengang mendengarkan ucapan putrinya itu. Ia tak menyangka Amira telah mengetahui masa lalunya. Kakek Juan yang berada di dekat mereka hanya diam tanpa mengerti apa yang sedang mereka berdua bicarakan.
"Ka-kamu … sudah mengetahuinya, Ami?" tanya Nyonya Merina dengan suara terputus-putus.
Amira mengangguk pelan dan mengusap air matanya sebelum jatuh ke pipi. Ia menatap ibunya dengan sendu.
"Kalau kamu sudah tau, lebih baik berpisahlah darinya, Ami. Ibu gak mau kamu berhubungan dengan mereka," pinta Nyonya Merina masih gigih mempertahankan egonya.
"Tidak … Aku tidak akan berpisah dari Vincent, Bu. Aku mencintainya," ucap Amira seraya berdiri dan berlari meninggalkan ibunya, meninggalkan rumah itu.
"Ami!"
Gadis itu berlari keluar rumahnya tanpa mempedulikan teriakan ibunya. Bulir-bulir cairan berwarna bening itu mulai mengalir di pipinya, tetapi tak ia hiraukan kali ini.
Kakek Juan menatap Nyonya Merina dengan tajam meminta penjelasan. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menyuruhnya berpisah dengan Vincent?"
Nyonya Merina menelan salivanya dengan bersusah payah. Ia menghela nafasnya panjang dan mulai menceritakan kejadian masa lalunya yang pahit kepada Kakek Juan.
Setelah mendengarkan kenyataan yang diucapkan oleh menantunya itu, Kakek Juan sedikit terhenyak dan duduk di sofa dengan tubuh terkulai lemas. Nyonya Merina berusaha menenangkannya. "Ayah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu," ucap Nyonya Merina dengan sedikit terisak.
Kakek Juan mengangkat salah satu tangannya dan menghela nafas pelan. "Sudahlah. Biarkan aku sendiri, aku ingin menenangkan diri dulu," ucapnya seraya berdiri dan berjalan lemas menuju ke kamarnya.
Tinggallah Nyonya Merina seorang diri di ruang tengah. Ia menangis terisak mengingat masa lalunya. Ia tak ingin putrinya yang harus menanggung akibat dari perbuatannya di masa lalu. Ia juga tak menyangka putrinya akan jatuh cinta kepada anak dari wanita itu.
'Kenapa putriku harus jatuh cinta dengannya? Apakah takdir sedang mempermainkan kami sekarang?' batin Nyonya Merina sedih.
Padahal selama bertahun-tahun ini, ia sudah berusaha menghindari semua hal yang berhubungan dengan Royal Group. Ia tidak ingin mengingat masa lalunya yang kelam itu dan tidak ingin putrinya mengetahui kenyataannya, tetapi benang takdir mereka ternyata tidak terputus dengan begitu mudahnya.
Tiffany yang sejak tadi berdiri di tangga sedikit terhenyak mendengarkan pengakuan yang keluar dari mulut Nyonya Merina. Ia masih berdiri mematung di bawah tangga, hingga Nyonya Merina berbalik menatapnya kaget.
"Apa kamu sudah mendengar semuanya?" tanya Nyonya Merina tajam membuyarkan lamunan Tiffany.
"Tante, apakah itu semua benar?" selidik Tiffany.
__ADS_1
Nyonya Merina mengangguk pelan dan berjalan mendekatinya, kemudian menepuk bahu Tiffany pelan. "Seperti yang kamu dengar. Tante harap kamu mau membantu Tante merahasiakannya dari Ami," pinta Nyonya Merina.
"Tapi Tante … Ami juga berhak untuk tahu …," tolak Tiffany.
"Tante tidak ingin dia semakin sedih dan merasa bersalah telah berhubungan dengan pria itu. Apa kamu mau dia terus menyalahkan dirinya?" tanya Nyonya Merina dengan dingin.
Tiffany menggeleng pelan dan menundukkan wajahnya. Nyonya Merina tersenyum tipis dan kembali menepuk pundak gadis itu.
°
°
°
°
°
Amira keluar dari rumah tanpa membawa apapun. Ia terus melangkah menjauh dari rumahnya. Walaupun air mata di pipinya sudah mengering, ia tidak berniat untuk kembali ke rumah. Gadis itu tidak tahu ingin pergi ke mana. Terbersit di hatinya untuk menemui kekasihnya itu, tetapi ia tidak ingin pria itu mengkhawatirkannya lagi. Dirinya tidak ingin menambah beban pikiran kekasihnya lagi, karena ia tahu kekasihnya itu pun sedang memiliki masalahnya sendiri.
Langkah kaki Amira terhenti di sebuah butik. Di depan butik itu ada sebuah etalase yang terbuat dari kaca dan patung manekin yang sedang memakai sepotong gaun pengantin wanita yang sangat cantik. Amira berdiri di depannya dan terus memandangi gaun tersebut.
'Kenapa mereka semua menentang hubungan kami? Kenapa?'
Amira terduduk di depan etalase itu, masih enggan untuk pergi dari sana, hingga seorang pelayan butik keluar dan menyapanya.
"Nona, saya lihat Anda sedari tadi melihat gaun ini. Apa Anda mau masuk dan mencobanya?" tawar pelayan butik itu.
Amira mendongak dan menatap seorang wanita berusia tiga puluhan berdiri di sampingnya. Amira segera berdiri dan mencoba tersenyum ramah. Ia pun menggeleng pelan. "Ah ti-tidak usah, Bu. Saya hanya melihat-lihat saja ...."
Belum selesai Amira berbicara kepada wanita itu, tiba-tiba ia disela oleh seorang pria di belakangnya. "Tolong biarkan kekasihku ini untuk mencobanya," ucap pria itu dan merangkul pundak Amira.
"Baiklah. Silahkan masuk, Tuan," ucap pelayan butik itu.
Amira menoleh ke arah sumber suara. "Adrian?" panggil Amira tak percaya dengan matanya, "Ke-kenapa kamu bisa di sini?" tanyanya lagi.
Adrian tidak menjawab, tetapi menarik pergelangan tangan Amira dan masuk ke dalam butik mengikuti pelayan butik itu.
°
°
__ADS_1
°
°
°
Setengah jam kemudian, Amira dan Adrian pun keluar dari butik. Mereka berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih.
"Terima kasih. Kami akan berunding dulu, setelah itu baru kami akan mengabari Anda kembali," ucap Adrian kepada pelayan butik itu sebelum keluar dari sana.
Setelah berada di luar, Amira melepaskan tangannya yang berada di genggaman Adrian. Ia melepaskan tawa yang sudah ia tahan dari tadi, kemudian mengusap air matanya di ujung pelupuk matanya. Adrian menatapnya dan tersenyum simpul.
"Akhirnya kamu tersenyum juga, kalau begitu kamu makin cantik," gumamnya pelan, namun masih dapat terdengar oleh Amira.
Amira menghentikan tawanya dan mengatur nafasnya. Wajahnya tersipu malu. "Terima kasih, karena kamu, aku jadi sedikit melupakan masalahku," ucap Amira tulus. Adrian hanya mengangguk pelan tanpa menanyakan lebih lanjut masalah yang sedang dihadapi gadis itu.
Adrian dan Amira tadi berlagak menjadi sepasang kekasih dan mencoba gaun pengantin yang dilihat gadis itu di etalase. Sebenarnya awalnya Amira menolaknya, tetapi Adrian tetap bersikeras memaksanya. Amira tidak mengetahui bahwa itu semua telah direncanakan oleh Adrian sendiri.
Setengah jam yang lalu, Adrian sudah memperhatikan Amira dari dalam mobilnya. Ia melihat kondisi gadis itu yang begitu rapuh, ingin rasanya ia menghibur gadis itu. Terlintas ide di kepala Adrian untuk menghubungi butik tersebut, semua sudah ia rencanakan dengan pemilik butik itu. Tentu saja itu tidak gratis, ia terpaksa membeli gaun pengantin yang dicoba Amira tadi, walaupun ia tidak tahu untuk apa ia membelinya. Mau diberikan kepada istrinya juga tidak mungkin, toh ia sudah menikah. Dengan suka rela ia melakukannya demi melihat senyuman di wajah gadis pujaannya.
"Ngomong-ngomong kamu kenapa bisa di sini? Maksudku di Serenity," tanya Amira yang sejak tadi penasaran.
Adrian tersenyum tipis. "Aku sedang ada urusan di sini. Jadi aku menetap sementara di sini. Biasa, urusan kantor," jawabnya singkat tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Habis ini kamu mau ke mana? Aku antar aja sekalian, bagaimana? Aku sedang ada waktu senggang," tawar Adrian kepada Amira. Ia ingin memanfaatkan kesempatan ini agar bisa lebih dekat dengan gadis itu, tetapi sayang Amira menolaknya.
"Tidak perlu. Aku sedang ada janji juga dengan temanku di dekat sini," dalih Amira berbohong. Ia tidak ingin merepotkan Adrian.
Sejak tadi Adrian melirik cincin yang melingkar di jari manis Amira, tetapi ia tidak ingin menanyakannya lebih lanjut. Ia bisa menebak makna di balik cincin itu dan siapa yang memberikannya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Oh iya kita belum saling bertukar nomor handphone ya?" tanya Adrian sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Aku tadi terburu-buru keluar dan lupa membawa handphone," jawab Amira tersenyum tipis.
"Baiklah, tidak apa-apa, Ami," ucap Adrian santai, kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan memberikannya kepada Amira.
"Ini kartu namaku dan ada tertera nomor kontaknya. Kalau kamu memerlukan bantuanku, kamu bisa menghubungiku," lanjut Adrian lagi.
Amira menerima kartu nama itu dan tersenyum, kemudian mengangguk. Adrian membalas senyumannya dan masuk ke dalam mobilnya, melajukan mobilnya kembali membelah jalanan kota.
To be continue ....
__ADS_1