Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 117


__ADS_3

Vincent duduk di sofa ruangannya, bersama seorang wanita di pelukannya. Tidak hanya itu, ia sedang mencium leher jenjang wanita itu. Pakaian mereka masih utuh, namun sudah tidak beraturan. Beberapa kancing kemeja Vincent sudah terbuka. Rambut mereka pun juga berantakan, entah sudah berapa lama mereka melakukannya. Amira tidak tahu. Yang ia tahu sekarang adalah hatinya terasa sakit dan begitu perih. Sakit. Itulah yang ia rasakan saat ini. Hancur. Ya hatinya hancur melihat perbuatan mereka.


Vincent dan wanita itu seolah tidak mempedulikan kehadiran Amira, hingga suara isak gadis itu menghentikan mereka.


"Vin …," panggilnya lirih. Suaranya tercekat untuk melanjutkan kalimatnya, tangisnya sudah mewakili perasaannya saat ini.


Vincent melepaskan ciumannya pada wanita di depannya itu dan menatap Amira dengan dingin.


"Kenapa kamu kemari?" tanya Vincent dengan dingin, tidak lembut seperti dirinya yang biasa.


Amira sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Ia mengusap air matanya perlahan. "Bukankah kamu …."


"Aku yang mengirim pesan kepadanya, Sayang. Aku hanya ingin dia tahu yang sebenarnya. Bukankah kamu juga bilang akan memutuskannya tadi?" sela wanita itu, yang tidak lain adalah Anna Lee. Anna masih bergelayut manja di pelukan Vincent dan mengelus dada pria itu.


"Cepat atau lambat dia juga akan tahu kan, Sayang," lanjut Anna lagi dengan tersenyum kepada Amira yang sudah menatap mereka dengan tajam dan nanar.


"Ke-kenapa?" tanya Amira dengan lirih. Ia mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena menangis.


"Hahahaha … kenapa katamu? Seharusnya kamu bertanya kepada dirimu sendiri, apakah kamu pernah memuaskan Vincent selama ini?" desis Anna lagi. Vincent hanya diam mendengarkan Anna memojokkan kekasihnya itu. Tangannya mengepal erat, ingin rasanya ia mencekik leher wanita yang sudah menghina gadisnya, namun ia tidak bisa melakukannya. Semua itu adalah skenario yang ia minta Anna mainkan saat ini.


Bibir Amira bergetar menahan tangisnya. Raut kesedihan menyelubunginya. Ia masih tidak mempercayai semua yang dikatakan oleh Anna, karena melihat kekasihnya hanya diam tanpa menjawab apapun.


Vincent memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap wajah sedih gadis itu. Pria itu takut tidak dapat mengendalikan dirinya jika terus melihat wajah yang sudah basah dengan air matanya, ia yang telah membuat gadisnya menangis. Ingin rasanya ia merengkuhnya dan mendekapnya erat dan mengatakan bahwa ini semua adalah kebohongan belaka.


"Vin … apakah itu benar?" tanya Amira lagi. Ia tidak akan percaya sebelum pria itu yang sendiri mengatakannya. Vincent mengabaikan pertanyaanya. Ia menelan salivanya dengan kasar.


"Vincent Zhang!" teriak Amira kesal karena pria itu tidak menggubrisnya sejak ia masuk.


Vincent hanya tersenyum menyeringai mendengar teriakan kekasihnya itu. "Seperti yang kamu lihat saat ini. Apa mau aku teruskan di depanmu sekarang? Aku tidak keberatan jika kamu mau ikut," balas Vincent dengan dingin, masih tidak menatap wajah gadisnya.


Amira menatap Vincent meminta penjelasan, namun pria itu memalingkan wajahnya dan memilin rambut panjang Anna, menciumnya seperti yang biasa ia lakukan terhadap Amira. Amira tak ingin mempercayai ucapan dan matanya saat ini. Namun kenyataan yang terjadi begitu jelas di depan matanya. Benci, itulah yang ingin ia katakan saat ini, namun ia tidak mampu mengatakannya. Gadis itu menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Ia mengusap air matanya dengan kasar.

__ADS_1


"Menjijikan …," desis Amira sinis.


'Bagus, Ami. Bencilah aku, bencilah aku selamanya agar kamu tidak mengalami sakit yang aku alami saat ini,' batin Vincent yang terasa perih mendapatkan tatapan penuh kebencian dari gadis itu.


"Apa kamu masih mau di sini melihat kami berdua?" tanya Anna dengan sinis. Amira membalas tatapan Anna dengan dingin. Ia melepaskan cincin di jari manisnya dengan bersusah payah, karena cincin itu begitu pas di jari manisnya. Wajahnya terlihat kesal. Setelah berhasil melepaskannya, ia melemparkan cincin itu tepat ke wajah Vincent.


"Vincent Zhang! Ingat, aku yang memutuskanmu. Bukan kamu!" teriak Amira sebelum pergi dari ruangan itu. Ia terus berlari kencang meraih lift dan menekan tombol lift itu berkali-kali, kemudian masuk ke dalam lift itu tanpa berpaling lagi.


Lucas yang saat itu melihat kejadian itu dari luar hanya bisa mendesah pasrah. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Semua sudah direncanakan oleh atasannya itu, dari mulai mengirim pesan ke ponsel Amira, ucapan di pihak resepsionis, hingga akting Anna barusan. Begitu sempurna. Sempurna untuk membuat gadis itu membencinya seumur hidupnya.


"Vin, apa kita mau meneruskannya?" goda Anna yang masih memeluk dan membenamkan wajahnya di dada pria itu.


Vincent segera menepisnya dan mendorong tubuh Anna ke lantai. Ia merasa jijik berdekatan dengan wanita itu. Kalau tidak terpaksa, ia juga tidak akan melakukannya.


"Pergi!" teriaknya kepada Anna yang sudah menatapnya tajam.


Anna segera berdiri. "Aku harap kamu tidak melupakan janjimu padaku, Vincent," ucapnya sebelum keluar.


"Maafkan aku, Sayang," gumam Vincent lirih.


'Bertemu denganmu adalah takdirku, tetapi jika pada akhirnya takdir tidak mengijinkan kita untuk bersama, aku lebih baik memilih kamu membenciku daripada kamu merasakan sakit yang aku rasakan sekarang ini. Aku sangat berharap kamu bisa merasakan kebahagiaan walau tidak bersama denganku.'


Vincent berjalan gontai menuju meja kerjanya. Ia mengepalkan tangannya dan memukul meja kerjanya yang berlapis kaca dengan bertubi-tubi.


"AAARRRGHH …!" teriaknya melepaskan seluruh kekesalan, amarah dan kesedihannya. Ia membenci dirinya sendiri yang telah membuat gadisnya menangis tadi. Ia benci karena tidak dapat menepati janjinya untuk menjaganya, melindunginya dan memberikan masa depan bersama dengannya. Ia benci karena tidak mampu melawan ikatan darah yang mengalir di tubuhnya saat ini. Seandainya bisa mengganti seluruh darah yang mengalir di tubuhnya saat ini, ia rela untuk mengurasnya semua sekalipun itu mengancam nyawanya.


Cairan berwarna merah pekat mengalir dari buku-buku tangannya yang masih menempel serpihan-serpihan kaca dari meja yang ia pukul.


Lucas segera masuk ke dalam setelah mendengarkan teriakan Vincent. Lucas melihat kondisi atasannya yang begitu memprihatinkan. Ini pertama kalinya, ia melihat Vincent yang begitu hancur. Ia menahan tubuh Vincent tatkala pria itu ingin memukul meja itu sekali lagi.


"Bos, sadarlah! Apa yang sudah Anda lakukan!" hardik Lucas. Baru kali ini ia menentang atasannya itu.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Lepaskan!" perintah Vincent sambil mencoba melepaskan diri dari Lucas yang menahan tubuhnya. Tenaga Vincent begitu kuat sehingga membuat tubuh Lucas tersungkur ke lantai ruangan itu.


Lucas segera berdiri dan menghela nafas panjang ketika Vincent memukul tangannya kembali ke atas meja kaca yang sudah hancur berkeping-keping itu.


Lucas mencoba menahan Vincent lagi. Kali ini seluruh tenaga ia kerahkan, Lucas tidak peduli Vincent akan memukulnya atau memecatnya.


"Apa yang terjadi, hah?" tanya Nyonya Celine yang baru masuk ke ruangan cucunya itu. Ia melihat serpihan kaca di lantai dan darah yang mengucur dari tangan cucunya itu. Tatapannya beralih kepada raut wajah cucunya yang begitu menyayat hati seorang wanita tua seperti dirinya. Frustasi, kesedihan dan kekecewaan yang begitu mendalam dapat ia rasakan saat ini.


Vincent berhenti memberontak. Ia terkulai lemas di dalam pegangan Lucas setelah tidak berhasil melepaskan dirinya. Nyonya Celine menatap kondisi cucunya yang memprihatinkan dengan tatapan sedih.


"Vin, apa yang terjadi, Nak? Kenapa … kenapa begini?" tanya Nyonya Celine lirih. Ia tak sanggup melihat cucunya seperti ini. Dihampiri tubuh cucunya itu dan dipeluknya tubuh besar pria itu yang sekarang sudah menangis di dalam pelukannya seperti seorang anak kecil. Lucas melepaskan pegangannya pada tubuh Vincent dan menghela nafas lega.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Nyonya Celine sedih. Nyonya Celine menatap Lucas meminta penjelasan, karena ia tahu tidak mungkin Vincent dapat menjawabnya dengan kondisinya seperti sekarang ini.


Lucas pun menceritakan seluruh kejadian yang ia ketahui kepada Nyonya Celine, termasuk kemarin Vincent memintanya untuk memeriksa sampel DNA Amira dengan ayahnya.


Nyonya Merina mengutus seseorang untuk mengirimkan sampel milik putrinya kepada Vincent. Vincent pun meminta Lucas untuk segera menyelidikinya. Ia ingin membuktikan bahwa ucapan Nyonya Merina itu salah.


Lucas terpaksa melakukan penerbangan ke Amigos sesegera mungkin untuk mengambil sampel milik Tuan James secara diam-diam dan membawanya ke rumah sakit untuk mencocokkan sampel itu. Namun hasil laporan yang diberikan Lucas benar-benar tidak terbantahkan lagi. Amira benar adalah putri kandung ayahnya.


Nyonya Celine terhenyak mendengarkan cerita dari mulut Lucas. Ia juga tidak percaya dan tak menyangka Amira adalah cucunya sendiri.


'Ya Tuhan. Kenapa Engkau mempermainkan takdir dan cinta di antara mereka? Kenapa mereka yang harus menanggung dosa yang telah dilakukan oleh kedua orangtua mereka?' batin Nyonya Celine sedih. Ia dapat merasakan kesedihan yang dialami kedua cucunya saat ini.


"Vincent ... sadarlah, Nak. Belajarlah untuk melupakannya," pinta Nyonya Celine lirih. Ia begitu mengkhawatirkan kondisi cucunya saat ini.


"Aku mencintainya, Nek. Katakan apa yang harus lakukan untuk melupakannya. Katakan padaku!" teriak Vincent frustasi di dalam pelukan Nyonya Celine.


Nyonya Celine tak menyangka gadis itu benar-benar telah mempengaruhi cucunya sebegitu besarnya. Wanita paruh baya itu tak mampu menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia hanya bisa merengkuh dan mendekap tubuh besar cucunya untuk menenangkannya saat ini.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2