Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 59


__ADS_3

**Hai Readersss...


Plis tinggalkan like dan vote kamu ya..


Bantu share juga dong cerita ini..


Thank you 😍


Enjoy Reading**!!!!


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


"Pria itu.. kamu?" tanya Amira menatap Vincent tak percaya.


Vincent menjentikkan jarinya ke dahi Amira, "Dasar! Masa ada cowok ganteng begini di sampingmu bisa gak ingat?!"


Amira memanyunkan bibirnya dan mengelus dahinya yang memerah, "Huh dasar narsis!"


"Jadi waktu itu yang nyelimutin aku, sama nenangin aku pakai musik itu kamu?" tanya Amira memastikan.


"Betul.. Habisnya aku kasihan lihat gadis yang begitu manis di sampingku sampe menangis ketakutan begitu," ucap Vincent mencubit pipi Amira gemas.


"Kamu gak ngapa-ngapain aku kan waktu aku tertidur?" tanya Amira dengan tatapan curiga, menepis tangan Vincent dari pipinya.


Vincent menjentikkan jarinya ke dahi Amira lagi, "Kamu kira aku cowok apaan."


"Aduh, sakit Vin.. Nih lihat merah nih," protes Amira sambil melihat di kaca spion.


Vincent membalikkan tubuh Amira menghadap dirinya, "Mana sini aku lihat!"


Cup..


Vincent mengecup kening Amira yang memerah, "Nah bagaimana? Sudah sembuh kan?" tanya Vincent menatap Amira.


Wajah Amira memerah seperti kepiting rebus, ia kaget dengan kecupan Vincent yang tiba-tiba.


"Lho, malah wajahnya yang merah?" ucap Vincent memegang wajah Amira yang merona merah.


"Nih lagi."


Cup...


Vincent mengecup pipi Amira yang memerah. Amira tertawa geli.


"Hahahaa.. sudah.. sudah Vin.. hahaha." Vincent berulang-ulang mengecup dahi dan pipi Amira bergantian, membuat Amira merasa malu dan geli.


Vincent memeluk Amira dan wajah Amira berada di dada Vincent. Amira dapat mendengarkan irama jantung Vincent yang berdegup kencang.


"Ami... kamu beneran suka sama aku?" tanya Vincent masih dalam posisi memeluk Amira. Amira mengangguk cepat dan berucap, "I love you, Vin."


Vincent melepaskan pelukannya dan menatap ke manik mata Amira.


"I love you too...", ucap Vincent pelan dan lembut.


Dengan pelan dan pasti Amira mendekatkan wajahnya dan mencium Vincent terlebih dahulu di bibirnya sekilas. Amira tersenyum malu dan menundukkan wajahnya.


Vincent merasa dirinya dialiri listrik, ia dan Amira seperti dua buah magnet yang berlawanan tetapi tidak dapat melepaskan diri karena berdekatan. Vincent mengangkat dagu Amira, ia tidak terima dengan ciuman sekilas itu. Ia ingin meminta lebih.


Kali ini, Vincent yang mencium Amira dulu. Ia mencium Amira dengan lembut dan pelan. Amira mengikuti irama gerak bibir Vincent dan merangkulkan lengannya di leher Vincent.


Makin lama gerakan bibir Vincent semakin cepat dan ciuman mereka semakin dalam. Lidah Vincent menyusuri rongga mulut Amira, hingga terdengar bunyi kecapan dalam ciuman mereka.

__ADS_1


Satu menit berlalu...


Dua menit berlalu...


Tiga menit berlalu, Amira sudah tidak dapat bertahan lagi. Dengan pelan, ia melepaskan diri dari Vincent.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Amira menatap Vincent malu. Vincent tersenyum, ia sebenarnya belum puas, tetapi ia menahan hasratnya itu karena ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak memaksa Amira lagi.


Mereka berdua menyenderkan tubuh mereka masing-masing di kursi mobil, menatap pemandangan di depan mereka yang mulai berubah gelap.


"Vin.. kamu belajar ciuman dari mana?" tanya Amira penasaran.


Vincent tersenyum nakal, "Kenapa? Masih mau?"


"Iiiih... kan aku nanya, gak usah nyari-nyari alasan deh," balas Amira sebal.


"Kenapa? Ada yang disembunyiin?" tanya Amira curiga.


Vincent berdeham dan berucap, " Janji kamu gak akan marah kalau aku jawab?"


Amira mengangguk cepat.


"Aku belajar dari mantanku," ucap Vincent.


Amira memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Vincent.


"Huh.. mantan? Mantan yang mana? Anna? Atau Evangeline?" batin Amira yang mulai merasa cemburu.


Vincent melihat sikap perubahan Amira, ia tersenyum dan mengacak-acak rambut Amira dengan gemas. "Tuh kan mulai deh ngambek," ucap Vincent.


"Terus ciuman pertamamu kapan?" tanya Amira menatap Vincent tajam.


Vincent tersenyum geli melihat Amira yang marah padanya, soalnya marahnya Amira menggemaskan baginya.


Vincent mengecup bibir Amira sekilas, "Udah gak usah dibahas, ntar kamu tambah marah."


Amira berdecak kesal dan melipat tangannya di dada.


"Kalau gitu, sekarang giliran aku yang nanya. Ciuman pertamamu kapan?" tanya Vincent mengangkat satu alis matanya.


"Iiiiih itu kan pertanyaanku.. Kamu gak mau jawab, aku juga gak mau jawab!" ucap Amira sebal. Ia malu mengakui bahwa Vincent-lah ciuman pertamanya.


"Apa aku?" tebak Vincent dan membuat wajah Amira merona malu. Vincent tersenyum nakal, "Bener nih?"


"Bukan!" teriak Amira sebal, isi hatinya ketahuan. Ia memanyunkan bibirnya.


Vincent mengeluarkan kotak persegi dari bawah dashboard mobilnya. Ia memberikannya di hadapan Amira. "Sudah jangan ngambek lagi. Ini bukalah," ucapnya menyodorkan kotak tersebut di tangan Amira.


"Apa ini?" tanya Amira.


"Bukalah," balas Vincent tersenyum.


Amira membuka kotak tersebut dan terkejut melihat isinya, " Ini.. couple maksudnya?" tanya Amira.


Kotak itu berisi kalung dengan liontin berbentuk seperti kunci di tengahnya dan gelang dengan motif gembok hati di tengahnya. Vincent sebenarnya sudah memesannya sejak jauh hari, ketika ia menyatakan perasaannya kepada Amira, ia sudah akan memberikannya tetapi ternyata Amira menolaknya saat itu. Ia tetap menyimpannya dengan harapan Amira akan membalas perasaannya. Dan kini hari itu telah tiba.



"Iya, gelang gembok ini buat kamu. Yang kalung kunci buat aku," jelas Vincent dan mengeluarkan gelang dengan motif gembok berbentuk hati di tengahnya.


"Kok aku punya yang gembok sih. Aku maunya kunci," protes Amira.

__ADS_1


"Iya aku maunya hatimu digembok, supaya pria lain tidak dapat masuk. Dan hanya aku yang punya kuncinya buat masuk ke dalam hatimu," ucap Vincent dengan lembut dan mesra.


Amira mendengar pernyataan Vincent dan mendengus sebal, "Terus hatimu boleh dimasuki wanita lain gitu?"


Vincent tertawa mendengar pertanyaan Amira dan mencubit hidungnya yang mancung, "Hatiku cuma buat kamu sayangkuuu.."


Wajah Amira memerah mendengar Vincent menyebutnya dengan panggilan 'sayang'.


"Dasar gombal! Pakai sayang-sayang segala." Amira membalas ucapan Vincent dan berusaha menyembunyikan rasa senangnya.


"Kamu juga bisa panggil aku sayang atau sebutan mesra yang lain," balas Vincent menggoda Amira.


"Honey?"


"My sweetheart?"


"Atau my hubby?"


Vincent menggoda Amira dengan sebutan-sebutan mesra, membuat Amira tertawa geli. "Sudah ah Vin. Geli aku dengernya hahaha..."


Vincent menatap tajam ke arah Amira, "Kamu bisa panggil pria lain dengan sebutan 'Kak' dengan begitu entengnya. Aku juga mau dapat panggilan sayang!" balas Vincent kesal.


"Jadi ceritanya kamu cemburu ya sama Kak Leon? Atau Kak Steve?" balas Amira menggoda Vincent.


Amira tersenyum nakal dan menggigit bibirnya, "My Bear," ucap Amira di telinga Vincent.


Vincent mengernyitkan dahinya, menyatukan kedua alis matanya. "Kenapa my bear?"


"Karena aku suka sama beruang. Beruang itu kuat dan besar, tapi di satu sisi dia juga lucu dan menggemaskan seperti kamu," goda Amira membalas perbuatan Vincent tadi.


Vincent tersenyum nakal, " Kalau beruang yang mesum, kamu sudah pernah lihat?" Vincent menarik dagu Amira dan mengecup bibirnya sekilas.


"Aku suka dengan julukan itu, My Chubby," bisik Vincent di telinga Amira.


"My Chubby? Kamu bilang aku gendut?!" protes Amira.


"Hahahahahahahahaha," Vincent tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Amira yang cemberut dan menggembungkan pipinya.


"Hmmphh..," Amira memalingkan wajahnya tanda ia merajuk.


"Jangan marah sayaannggg," bujuk Vincent.


"Kamu itu cantik dan manis, kamu itu cahaya di hatiku, kamu tau itu?" rayu Vincent lagi. Amira diam-diam tersenyum mendengar perkataan Vincent, ia tau Vincent mulai frustasi sekarang.


Pasalnya Vincent adalah tipe pria yang kaku dan dingin, biasanya wanitalah yang selalu mengalah kepadanya untuk mendapatkan hatinya.


Sekarang ia dihadapkan kepada Amira yang berbeda dengan wanita-wanita yang ditemuinya. Kecuali satu orang Evangeline Mo, cinta pertamanya itu memiliki sifat yang hampir sama dengan Amira.


Beda lagi dengan Anna Lee, kalau Anna lebih agresif mendekati dirinya dan Vincent hanya mengikutinya. Tapi itu semua hanyalah cerita lama. Vincent tidak ingin mengungkit dan mengingatnya lagi.


"Baiklah, kamu mau dipanggil apa, Sayang?" Vincent menyerah dengan kelakuan Amira yang masih marah padanya. Amira tertawa sambil memegang perutnya melihat wajah Vincent yang frustasi.


"Hahahahahahaha, kamu lucu bangeeeettt," balas Amira menggoda Vincent dan mencubit pipi Vincent.


"Sekarang mulai berani yaaaa," balas Vincent dan menggelitik perut Amira. "Stop Vin.. stop.. hahaha.. aku menyerah.. hahahaha," ucap Amira memegang perutnya geli.


Vincent menghentikan gelitikannya dan mengecup bibir Amira dengan lembut. Amira mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian memejamkan matanya membalas kecupan Vincent.


Mereka bercumbu begitu dalam ditemani dengan pemandangan kota yang sudah berganti dengan kelap-kelip lampu setiap bangunan yang berwarna-warni.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2