Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 116


__ADS_3

Jangan lupa vote cerita ini


biar Author makin semangat up


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Nyonya Merina masuk ke dalam ruangan kerja Vincent dengan anggun. Raut wajahnya tidak terlihat angkuh, hanya saja sedikit tidak senang. Walaupun ia telah berkepala empat, namun wajahnya masih terlihat cantik, hanya garis-garis halus di wajahnya yang menandakan dirinya sudah berumur.


Vincent menampilkan senyuman terbaiknya kepada Nyonya Merina dan mempersilahkannya duduk di sofa tengah ruangannya.


"Tante, maaf saya tidak menyambut Anda tadi. Seharusnya saya yang datang ke rumah dan memperkenalkan diriku terlebih dahulu," sambut Vincent dengan ramah.


Nyonya Merina tersenyum tipis. 'Pria ini ternyata memiliki mulut yang begitu manis dan attitude yang baik. Pantas saja Ami tergila-gila dengannya,' batin Nyonya Merina.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan Zhang. Saya tahu Anda adalah orang yang sibuk. Tujuan saya ke sini hanya satu. Saya ingin kamu memutuskan putriku," papar Nyonya Merina langsung memberitahukan maksud kedatangannya saat ini.


Vincent cukup terhenyak mendengarkan ucapan yang dilontarkan oleh calon mertuanya itu. Padahal ini pertemuan pertama mereka, tetapi kalimat yang diucapkan oleh ibu kekasihnya adalah 'putus dengan putrinya'. Ia menghela nafas pelan.


"Tante, saya sudah tahu masalah mengenai hubungan Anda dengan ayahku. Apakah kalian tidak bisa mengesampingkan masalah kalian? Tidak bisakah kalian merestui hubungan kami?"


Nyonya Merina tersenyum miris. "Tuan Zhang, bukan saya yang tidak ingin merestui kalian, tetapi Yang Di Atas lah yang tidak mengizinkan kalian untuk bersama," pungkas Nyonya Merina.


Vincent mengerutkan keningnya. Ia tidak paham dengan yang dikatakan Nyonya Merina beberapa detik yang lalu. "Apa maksud Anda?"


"Kamu dengan putriku sudah ditakdirkan tidak dapat bersama sejak kalian lahir di dunia ini, Tuan Zhang," jelas Nyonya Merina dengan wajah sedikit bersalah kali ini, ia menghela nafasnya pelan dan bibirnya sedikit bergetar untuk melanjutkan kalimatnya, "kalian adalah saudara kandung satu ayah."


Kaget, bingung, tak percaya. Itulah ekspresi wajah Vincent saat ini. Namun beberapa saat kemudian, ia pun tertawa lepas.


Nyonya Merina mengernyitkan dahinya, bingung dengan sikap Vincent yang malah menertawakan ucapannya.


"Maaf. Apakah ada yang lucu?" tanyanya menatap Vincent dengan tajam.


Vincent menghentikan tawanya dan menatap ibu kekasihnya itu, mencoba mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya.


"Maaf, Tante. Apakah Anda harus mengarang hal yang di luar nalar seperti ini demi memisahkan kami?" tuduh Vincent.


Nyonya Merina mendengus pelan. "Tuan Zhang! Saya tidak sedang bercanda. Amira Lin benar adalah putri dari ayahmu!" tegas Nyonya Merina kali ini dengan wajah serius.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak percaya, saya akan memberikan sampel DNA milik Amira nanti, kamu bisa mencocokkannya dengan milik ayahmu itu," lanjut Nyonya Merina lagi.


Mata elang Vincent menyelidik wanita itu. Ia tidak menemukan kebohongan di dalam manik matanya. Raut wajahnya menjadi pias. Ia tak percaya dengan pernyataan yang baru saja ia dengar.


"Saya tahu ini bukan salah kalian berdua yang saling mencintai satu sama lain. Ini adalah kesalahan saya dan ayahmu. Saya pun tidak ingin kejadiannya menjadi seperti ini, tidak ingin putriku yang menanggung akibat yang telah kuperbuat, tetapi …," sesal Nyonya Merina terputus karena air mata yang telah tumpah di wajahnya. Isak tangis menghiasi ruangan itu yang sedari tadi hening.


Vincent mengepalkan tangannya dengan begitu erat. Perasaan dan pikirannya begitu kalut. Ia tidak dapat menghibur Nyonya Merina, dirinya sendiri pun begitu kacau sekarang. Tidak ada satu pun ucapan yang keluar dari mulutnya.


"A-Amira belum mengetahui hal ini, karena saya tidak ingin dia tahu. Saya sudah memintanya untuk berpisah denganmu, tetapi tidak pernah dihiraukan olehnya. Saya datang kemari berharap kamu yang memutuskan hubunganmu dengannya sesegera mungkin agar dia tidak semakin menderita nantinya," lanjut Nyonya Merina seraya mengusap air matanya.


"Saya harap Anda memikirkannya, Tuan Zhang. Saya tahu ibu Anda juga pasti tidak akan menyetujui hubungan kalian, terlepas dari kalian saudara atau bukan. Pikirkanlah baik-baik," pinta Nyonya Merina beranjak dari duduknya sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu meninggalkan Vincent yang duduk termangu tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.


'Lelucon apa lagi ini? Kenapa malah menjadi seperti ini?' batin Vincent sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Mencoba mencerna semua perkataan yang diucapkan Nyonya Merina. Rasa frustasi, tidak percaya, dan tidak ingin menerima kenyataan itu menyeruak di dalam dirinya.


"Amira adalah adikku?" gumam Vincent tersenyum miris. "Bagaimana mungkin? Hahaha-ha-ha ...."


Walaupun Vincent tertawa namun wajahnya berkata lain. Bayangan dirinya yang memiliki hasrat ingin memiliki Amira membuat ia merasa rendah dan jijik terhadap dirinya sendiri. Berbagai kenangan manisnya bersama gadis itu terlintas di dalam pikirannya. Saat ini pikirannya benar-benar kacau. Ia tidak ingin mempercayai ucapan Nyonya Merina. Namun jika apa yang dikatakan oleh Nyonya Merina itu adalah kebenaran, ia merasa ia telah melakukan sebuah dosa yang begitu besar dan tidak dapat dimaafkan oleh siapapun.


Vincent memejamkan matanya. Setetes cairan bening di ujung matanya jatuh membasahi wajahnya yang tampan tanpa seijinnya. Ia begitu rapuh sekarang. Padahal beberapa jam yang lalu ia begitu bahagia menerima kabar dari Leon dan kemenangannya di rapat tadi, tetapi semua itu sudah tidak berarti lagi baginya. Amira benar-benar telah menjadi satu dengan dirinya, mempengaruhi dirinya dengan begitu besarnya.


Hatinya terasa begitu sakit dan perih. 'Inikah namanya sakit namun tidak berdarah?' batinnya tertawa miris.


'Apakah takdir telah mempermainkanku sekarang? Mempertemukanku dengan gadis itu, membuatku jatuh cinta dengannya, kemudian ingin memisahkan kami dengan cara seperti ini?'


"Hahahahaha …."


Suara tawa Vincent yang terdengar begitu menyedihkan menggema di dalam ruangan itu. Kesedihan yang begitu mendalam menghiasi wajah tampannya. Rapuh itulah keadaan yang menggambarkan dirinya sekarang ini.


°


°


°


°


°

__ADS_1


Kediaman Keluarga Lin.


Saat ini Amira berada di dalam kamarnya. Wajahnya terlihat murung dan uring-uringan. Beberapa kali terdengar helaan nafas dari gadis itu. Ia menatap benda persegi panjang di sampingnya tanpa berkedip. Jika ponselnya bisa berteriak, mungkin ia bisa memohon kepada pemiliknya agar tidak menatapnya seperti itu terus.


Gadis itu menghela nafas lagi, kemudian menyambar ponselnya. Ia menekan nomor seseorang dan melakukan panggilan keluar. Tidak berapa lama, ia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidurnya dengan kesal. Pasalnya sudah dua hari ini Vincent tidak menghubunginya. Ditelepon pun tidak diangkat, dikirim pesan juga tidak dibalas dan tadi ia menghubunginya lagi yang menjawab adalah operator selular, intinya ponselnya dimatikan.


"Ke mana dia sebenarnya?" gumam Amira pelan.


"Kenapa dia tidak membalas pesanku?"


"Apa jangan-jangan dia … ah tidak-tidak, jangan berpikiran buruk dulu."


Begitulah gadis itu jadi suka bergumam sendiri seharian ini, karena Tiffany sudah pindah ke apartemen barunya kemarin.


Bukannya Amira tidak ingin keluar menemuinya, masalahnya ibunya tidak memperbolehkannya keluar rumah. Ibunya terus mengawasinya membuat ia pun merasa risih dan tidak bebas.


Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil mengacak rambutnya. Tiba-tiba ponselnya berdenting satu kali menandakan ada pesan masuk. Ia segera mengambilnya dan membacanya. Senyuman terukir di wajahnya. Ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan berganti pakaian.


Gadis itu mengobrak-abrik lemarinya, mencari pakaian yang cocok untuk ia kenakan. Setelah itu, ia memoles wajahnya sedikit agar tidak terlihat kantung mata di bawah pelupuknya akibat kurang tidur selama dua hari ini. Ia mengambil tas dan ponselnya, kemudian berjalan keluar kamar.


Amira berjalan perlahan sambil mengendap-ngendap. Ia pun tersenyum lebar setelah memastikan tidak ada ibunya di ruangan tengah. Segera ia berlari secepat mungkin keluar dari rumah itu. Ia segera memanggil taksi yang lewat di depan rumahnya, karena kunci mobilnya telah diambil oleh ibunya.


Dengan perasaan riang dan bahagia ia pergi menuju perusahaan kekasihnya itu. Gadis itu begitu merindukannya dan tentu saja ia tidak akan lupa menanyakan kekasihnya itu alasan kenapa tidak menghubunginya dua hari ini.


Sesampainya di Gedung Royal Group, Amira menuju ke bagian penerima tamu dan melaporkan kedatangannya.


Seorang resepsionis menyambut kedatangan Amira dengan ramah, namun ia cukup terkejut ketika Amira mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Vincent. Resepsionis itu segera menghubungi asisten Vincent, Lucas. Setelah mendapatkan ijin, resepsionis itu memperbolehkannya masuk.


Namun Amira mengerutkan keningnya ketika mendengarkan gumaman salah satu rekan resepsionis itu. "Bukankah wanita tadi juga kekasihnya? Sejak kapan Direktur kita jadi playboy?"


'Apa maksudnya?' batin Amira merasa tidak tenang mendengarnya.


Resepsionis yang satu lagi mengantarkan Amira hingga ke lantai ruangan Vincent, kemudian ia meninggalkan gadis itu di sana setelah menunjukkan letak ruangan Vincent.


Amira melangkahkan kakinya ke depan pintu yang sedikit terbuka itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika akan membuka pintu ruangan itu, gadis itu mendengar suara desahan seorang wanita dari balik pintu tempat ia berdiri. Ia mengerutkan keningnya dan menutup mulutnya yang sedikit terbuka.


"Vin … pelan sedikit, Sayang," ucap wanita itu dengan manja.

__ADS_1


Amira mengenal suara wanita itu. Tangannya gemetar memegang gagang pintu di depannya. Cairan bening telah tumpah di wajahnya. Ia berusaha menguatkan hatinya untuk masuk ke dalam. Dibukanya pintu itu dan apa yang ia lihat tadi sama dengan ada di dalam pikirannya tadi beberapa detik yang lalu.


To be continue ....


__ADS_2