Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 44


__ADS_3

Amira dan Vincent melepaskan tautan bibir mereka. Amira memalingkan wajahnya, malu. Vincent tersenyum penuh kemenangan.


"Ah, buburnya," ucap Amira kaget karena tercium bau gosong di belakangnya.


Amira segera mematikan kompor, dan menghela nafas kecewa, melihat panci yang berisi bubur yang gosong.


"Ini gara-gara kamu nih. Jadinya tidak bisa dimakan, kan?" ucap Amira menyalahkan Vincent yang menciumnya tadi. "Tapi kamu suka kan?" balas Vincent senang.


Amira memanyunkan bibirnya, usahanya setengah jam lebih untuk memasak menjadi sia-sia. Vincent mengambil panci di tangan Amira. Dia mengambil piring kosong, serta menuangkan bubur ikan itu ke dalam piring.


"Kamu mau ngapain?" tanya Amira heran.


"Makan," jawab Vincent datar.


"Jangan! Nanti kamu sakit perut," Amira merebut piring tersebut dari tangan Vincent.


"Nggak pa-pa kok. Ini masih bisa dimakan," ucap Vincent dan merebut kembali piring dari tangan Amira.


"Itu sudah gosong, Vin," ucap Amira ingin merebut piring dari Vincent lagi, tetapi Vincent berhasil menghindar.


"Kamu manggil aku apa tadi?" tanya Vincent yang membuat Amira menjadi salah tingkah.


"Itu.. manggil apa tadi.. hm..ah sudahlah, aku mau pulang aja," ucap Amira gugup.


Vincent tersenyum dan menarik tangan Amira, memeluknya erat dengan satu tangan. "Jangan pergi," ucap Vincent pelan.


Amira tersipu malu, dan mendorongnya pelan. "Sudah ah, jangan mesum," ucap Amira.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah bisa memastikan perasaanmu?" goda Vincent, "Jujur padaku, sebenarnya kamu sudah mulai suka padaku kan?"


Amira merasa malu mengakui bahwa sudah muncul setitik rasa di dalam hatinya. Amira tidak ingin mengungkapkannya sekarang, karena dia rasa perlu sedikit waktu untuk memastikan perbedaan perasaan antara dirinya dengan Vincent dan dirinya dengan Leon. Amira berusaha mengalihkan pembicaraannya.


"Buburnya sudah gosong, kamu nanti sakit lagi," Amira ingin mengambil piring Vincent, tetapi tangannya ditahan oleh Vincent.


"Ini yang di atasnya masih bisa dimakan kok, sayang kalau dibuang. Ini pertama kalinya kamu buat makanan untuk aku," jelas Vincent dan kemudian memasukkan satu suap ke dalam mulutnya.


Wajah Vincent berubah dan perlahan dia menelan suapan itu. "Tuh kan aku bilang apa, gak percaya sih," ucap Amira. Vincent tersenyum miris.


"Ya udah, aku pesan delivery aja. Kamu mau makan apa?" tanya Amira dan mengambil piring Vincent.


"Terserah kamu aja." jawab Vincent.


Beberapa menit kemudian, pesanan makanan mereka datang. Amira dan Vincent memakan makanannya dalam diam di atas meja makan.


"Kamu sejak kapan sakit?" tanya Amira membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Sejak pulang dari rumah sakit," jawab Vincent datar.


"Apa? Sudah dua hari tapi kamu tidak ke dokter atau minum obat?" tanya Amira heran.


"Aku gak suka minum obat," ucap Vincent malas.


"Memangnya kamu masih anak kecil, kalau gak minum obat, gimana bisa sembuh. Kalau aku gak datang gimana?" Amira menatap Vincent tajam.


Vincent hanya menggedikkan bahunya, "Tapi sekarang kan kamu sudah di sini, dan aku suka minum obat yang disuapin olehmu tadi," goda Vincent.


"Sudah ah, jangan diungkit-ungkit lagi," Amira memutar bola matanya malas menanggapi Vincent.


"Terus dua hari ini kamu makan apa? Tadi aku lihat kulkas kamu kosong," Amira mencoba mengalihkan rasa gugupnya.


"Aku pesan delivery. Makanya aku minta kamu bekerja di sini dan memasak untukku, tapi bukannya datang bekerja malah pergi kencan dengan cowok lain," sindir Vincent.


Amira tersenyum simpul melihat wajah Vincent yang cemburu waktu mengucapkan hal itu.


"Habis aku kesal sama kamu, siapa suruh kamu membohongiku dan mengerjaiku terus," balas Amira sambil mengerucutkan bibirnya.


Vincent tertawa kecil menanggapi ucapan Amira.


"Mmm.. Vin..," panggil Amira sedikit ragu melanjutkan ucapannya. Vincent menghentikan makannya, dan menatap Amira. Begitu juga Amira meletakkan sendoknya, menatap Vincent sedikit serius.


"Ada apa? Ada yang mau kamu tanyakan?" tanya Vincent karena menunggu Amira melanjutkan ucapannya tetapi Amira hanya diam.


Vincent duduk santai dan menyilangkan jari-jarinya di atas meja, "Kenapa dengan Green Resort?", tanyanya.


"Aku dengar kalau Royal Group menolak proposal yang diajukan oleh Lin Corp," ucap Amira menatap Vincent, menunggu responnya.


"Iya, benar," jawab Vincent santai.


"Kenapa?" tanya Amira penasaran.


"Apa aku harus menyetujuinya?" tanya Vincent mengangkat salah satu alisnya. "Bukankah citra Lin Corp sudah menurun? Royal Group tidak mungkin bekerja sama dengan perusahaan seperti itu, di mana masih ada perusahaan yang jauh lebih bagus daripada Lin Corp," lanjut Vincent lagi.


Amira mengangguk paham dengan alasan penolakan tersebut, "Tapi bisakah kamu memberikan Lin Corp kesempatan?"


Amira menatap Vincent dengan penuh harapan.


Vincent memalingkan wajahnya, rasanya dia ingin segera menyetujui permintaan Amira tetapi dia tetap harus bersikap profesional dalam bisnis.


"Aku akan mempertimbangkannya, tergantung sikapmu dan niat tulus Lin Corp," ucap Vincent sedikit luluh, tetapi dia tetap harus menjalankan rencananya.


"Sikapku?" tanya Amira heran.

__ADS_1


Vincent hanya tersenyum, "Nanti kamu juga akan tau," ucapnya sambil melanjutkan makan.


"Apa maksudnya? ", batin Amira.


Amira memayunkan bibirnya karena Vincent tidak menyetujui permohonannya, malah memberikan tanda tanya besar di kepalanya.


Di lain tempat, di Kota Serenity.


Tiffany baru sampai di Kota Serenity, dia ikut penerbangan tadi pagi. Tiffany tidak memberitahu Amira kalau ia berangkat ke kota Serenity.


Tiffany ke sana dengan maksud untuk membalas perbuatan orang yang sudah membuat Amira terluka. Ya orang itu adalah Anna Lee. Seperti yang dikatakan Vincent, Anna lah yang sudah melukai Amira secara tidak langsung, Tiffany sudah mengkonfirmasi dan menyelidiki hal itu.


Tiffany juga sudah menghubungi manager Anna, Andy. Andy memberikan informasi kepada Tiffany kalau Anna mempunyai jadwal syuting drama kolosal di kota Serenity. Andy tidak memiliki sedikit pun kecurigaan terhadap Tiffany, dia berpikir putri pemilik perusahaannya itu hanya ingin mencoba memberikan perhatian lebih terhadap artis di bawah naungan perusahaan milik ayahnya.


Tiffany segera bergegas ke tempat syuting. Sesampainya di sana, dia segera mencari sutradara film drama kolosal itu.


"Halo, Sutradara Bai," sapa Tiffany kepada seorang pria berumur sekitar empat puluhan yang sedang melihat hasil syuting adegan beberapa menit yang lalu. Sutradara Bai berbalik dan menatap Tiffany.


"Ah, anda Nona Kim?" tanya sutradara itu mencoba mengingat suara yang menyapanya.


"Iya benar. Perkenalkan saya Tiffany Kim, yang menghubungi anda kemarin," ucap Tiffany memperkenalkan diri.


Sutradara itu mengangguk dan mempersilahkan Tiffany duduk di kursi kosong di sampingnya.


"Bagaimana sutradara Bai, aktris kami Anna Lee, apakah aktingnya bagus?" tanya Tiffany sambil ikut melihat hasil syuting bersama sutradara Bai.


"Sejauh ini cukup memuaskan," ucap sutradara Bai.


"Oh begitu. Begini sebenarnya saya sudah melihat beberapa cuplikan hasil syuting yang anda berikan kemarin, tetapi untuk adegan ke 168 apakah saya boleh meminta untuk di take ulang?" tanya Tiffany.


"Apakah ada kesalahan?" tanya sutradara Bai.


"Sewaktu saya melihat hasilnya, terasa aktingnya tidak begitu nyata. Makanya saya datang langsung ke sini, untuk melihatnya secara langsung," Tiffany mengutarakan maksud kedatangannya kepada sutradara Bai.


Sutradara Bai merasa permintaan Tiffany sedikit berlebihan, karena sebenarnya hasil syuting film yang diberikan kemarin sudah memuaskan dan tidak perlu di take ulang. Tiffany melihat keengganan sutradara itu.


Tiffany menghela nafas pelan, "Baiklah, kalau anda tidak ingin melakukan take ulang, mungkin aku bisa mengatakan kepada ayahku untuk berpikir dua kali menginvestasikan drama kolosal ini," ucap Tiffany lembut tetapi mengandung ancaman dalam ucapannya itu.


Sutradara Bai terkejut, dia tau tidak bisa menolak lagi. Drama kolosal ini memakan biaya yang cukup banyak dan bisa terus berjalan karena adanya dukungan finansial yang cukup besar dari Kim Entertainment. Sekarang putri pemilik perusahaan itu memintanya untuk mengambil take ulang, mau tidak mau dia harus menurutinya.


"Baiklah," ucap sutradara Bai menyetujui permintaan Tiffany dengan pasrah.


Tiffany tersenyum sinis.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2