Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 93


__ADS_3

HALO READERS!!


Jgn lupa like, komen dan votenya ya 🙏


Selamat membaca 🤗


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Perjalanan menuju mansion orangtua Vincent cukup memakan waktu karena Amira harus kembali ke apartemen untuk mengambil kue buatannya. Sebelumnya ia ingin membawanya langsung, tetapi kue itu tidak bisa berada lama di luar ruangan yang panas. Jadi Amira memutuskan untuk menaruhnya dulu di lemari pendingin apartemen, sementara mereka keluar mengambil pesanan hadiah Vincent. Tidak disangka mereka bertemu dengan Elaine yang tersesat, sehingga menyita waktu mereka sedikit.


"Maaf jadinya kita hampir terlambat ke sana," ucap Amira di dalam mobil.


Vincent melirik sekilas dan tersenyum. Tangannya yang tidak memegang kemudi mengacak rambutnya pelan, "Gak apa-apa, Sayang. Tapi dengan begini aku jadi tau, ternyata kamu seorang calon ibu yang penyayang," tutur Vincent membuat Amira heran.


"Maksudmu?"


"Iya melihat kamu dan Elaine tadi, aku merasa bahagia. Aku jadi pengen punya anak seperti Elaine darimu," ucap Vincent membuat Amira bahagia dan malu.


"Apaan sih. Nikah aja belom …" gumam Amira pelan, ia tidak menyangka Vincent sudah memikirkan hal sejauh itu. Ia mengigit bibir bawahnya dan tersenyum malu. Vincent tersenyum simpul dan memfokuskan pandangannya ke depan sambil melajukan mobilnya.


Sesampainya di Mansion orangtua Vincent, Amira merasa gugup. Vincent turun dari mobil dan membuka pintu mobil penumpang untuk Amira. Gadis itu turun dari mobil dan berdiri menatap bangunan di depannya yang begitu mewah dan megah. Luasnya dua kali lipat besarnya dibandingkan rumah orangtua Amira. Di depannya terdapat air mancur tiga tingkat dihiasi patung cupid di sisi kanan kirinya. Bentuk bangunannya minimalis, tetapi terkesan mewah dan modern.


Vincent melihat kekasihnya yang hanya berdiam diri di depan mobilnya. Ia menggenggam jari-jemari kekasihnya itu yang sudah dingin karena gugup. Amira kaget dengan genggaman tangan kekasihnya itu dan mencoba untuk tersenyum. Senyumannya terkesan sangat kaku sekali.


"Kenapa? Kamu gugup? Takut?" tanya Vincent bertubi-tubi. Amira mengangguk dan menggeleng secara bersamaan.


Vincent mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud kekasihnya itu, "Jadi yang benar yang mana?"


"A-aku … gugup …" ucap Amira sambil menghela nafasnya pelan. Vincent tersenyum dan memeluk kekasihnya itu. "Kalau begini masih gugup?" tanya Vincent sambil mengelus surai hitam nan lembut kekasihnya itu dengan pelan. Hati Amira terasa nyaman dan tenang.


Amira menggeleng dan mendorong tubuh Vincent dengan pelan. "Ayo masuk," ajak Amira berusaha memantapkan hatinya sambil membawa paper bag yang berisi kue buatannya di tangannya.


Vincent menengadahkan telapak tangannya dan disambut oleh tangan Amira yang bebas. Mereka menautkan jari-jemari mereka dan masuk ke dalam mansion.


Di dalam mansion, Amira dan Vincent disambut oleh beberapa pelayan wanita dan seorang kepala pelayan pria yang berusia sekitar empat puluhan.


"Tuan Muda, akhirnya Anda datang juga. Nyonya dan Tuan sudah menunggu Anda," ucap Kepala Pelayan mansion itu, Alfred, kepada Vincent.


"Terima kasih Paman Alfred," balas Vincent.

__ADS_1


"Ini …" Alfred menatap Amira yang digandeng oleh Tuan Mudanya. Ia sedikit terkejut karena baru kali ini Tuan Mudanya membawa seorang gadis ke mansion ini. Dulu waktu Vincent bersama Anna saja, dia tidak pernah membawanya ke mansion itu dan yang membuatnya terkejut lagi adalah sikap Tuan Mudanya yang berubah menjadi lebih hangat dan ramah. Ia tidak menyangka kata 'terima kasih' bisa keluar dari mulut majikan kecilnya itu.


"Perkenalkan Paman Alfred, ini Amira Lin. Calon istriku," sahut Vincent yang membuat Alfred dan Amira kaget mendengar ucapannya. Amira menatap Vincent meminta penjelasan dari pria itu, tetapi Vincent pura-pura tidak melihatnya.


"Bukankah Nyonya …" Alfred ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ia urungkan niatnya. Vincent menatap Alfred dengan heran.


"Ah, Nona Lin. Perkenalkan saya Alfred, Kepala Pelayan di mansion ini. Jika Anda membutuhkan sesuatu bisa mencari saya, Nona," ucap Alfred memperkenalkan dirinya.


"Terima kasih, Paman Alfred," balas Amira dengan tersenyum lembut.


'Pantas saja Tuan Muda bisa berubah, ternyata gadis cantik ini yang telah mencairkan hatinya yang membeku,' batin Alfred.


"Mama dan papa ada di mana, Paman?" tanya Vincent.


"Nyonya ada di ruang makan, sedangkan Tuan ada di ruang kerjanya," jelas Alfred.


Vincent mengangguk dan menarik tangan Amira agar mengikutinya ke ruang makan. Ia melihat ibunya sedang sibuk menata meja makan di ruangan itu.


Ruang makan di mansion itu cukup besar, dengan meja makan yang panjang dan lebar dengan ukiran di sisi kanan dan kirinya dan kursi yang tersusun rapi di setiap sisinya mampu menampung sepuluh orang untuk makan bersama di meja itu.


"Ma," panggil Vincent mengagetkan wanita itu dan menoleh.


Bunyi pecahan piring yang menyentuh lantai mengagetkan seisi ruangan itu, termasuk Amira. Nyonya Thalia berusaha menenangkan dirinya dan menahan tubuhnya di sisi meja dengan kedua tangannya.


Vincent melepaskan genggaman tangannya dari Amira dan berjalan mendekati Ibunya. Ia memegang pundak Ibunya, "Ma, kamu kenapa?" tanya Vincent cemas.


"Ah, Ma-mama ... tidak apa-apa. Tadi tangan mama sedikit licin," ucap Nyonya Thalia gugup. Vincent hanya mengangguk pelan.


"Ma, perkenalkan ini Amira Lin, pacarku …" ucap Vincent berjalan ke arah Amira dan memegang tangannya mengajaknya mendekati Ibunya, "… dan calon istriku," lanjut Vincent yang membuat Ibunya terkejut.


Amira menggenggam tangan Vincent erat, "Tante …" sapa Amira kepada Ibunya Vincent dan tersenyum simpul.


Nyonya Thalia menoleh dan menatap wajah Amira datar, tidak ada senyuman di wajahnya.


'Kenapa wajahnya begitu mirip dengan wanita itu?' batin Nyonya Thalia yang memikirkan wajah seseorang di dalam lubuk hatinya. Seseorang yang begitu ia benci.


Amira menelan salivanya pelan dan berusaha mempertahankan senyumannya, 'Apa Tante tidak menyukaiku?' batin Amira gugup. Ia mempererat jarinya di dalam genggaman Vincent.


Vincent merasakan telapak tangan Amira di tangannya yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Ia berusaha menenangkan Amira dengan menepuk lengannya pelan. Vincent melihat raut kedua wanita di dekatnya begitu tegang dan gugup, "Ma, ini ada kue buatan tangan Amira. Mama pasti suka," tutur Vincent yang membuyarkan lamunan Ibunya dan menyerahkan paperbag di tangan Amira kepada Ibunya.

__ADS_1


"Ah … maaf Mama tadi sedang memikirkan apa lagi yang harus Mama persiapkan," ujar Nyonya Thalia tidak ingin membuat putranya khawatir.


"Terima kasih ya," ucap Nyonya Thalia mengambil paper bag itu dan meletakkannya di atas meja tanpa membukanya.


"Sama-sama, Tante. Happy Wedding Anniversary ya, Tante. Semoga Tante dan Om suka dengan kue buatanku," ucap Amira tulus.


Nyonya Thalia hanya mengangguk dan memaksakan dirinya untuk tersenyum kepada Amira. Ia berjalan dan menunduk memungut pecahan piring di lantai.


Amira melepaskan genggaman tangan Vincent dan berjalan mendekati Nyonya Thalia, ia membantunya memunguti pecahan piring di lantai. Nyonya Thalia terdiam dan menatap lagi gadis di depannya sejenak. Amira tidak memperhatikan tatapannya itu.


'Kenapa bisa ada dua orang yang begitu mirip? Apa jangan-jangan gadis ini putrinya?' batin Nyonya Thalia lagi.


Ketika memungut pecahan piring itu, tanpa sengaja, Amira menggores jari telunjuknya dengan pecahan piring itu.


"Auw …" Amira meringis dan menjatuhkan pecahan piring itu.


Vincent menunduk dan memegang jari telunjuk Amira yang terluka, "Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Vincent yang cemas dengan luka di jari Amira.


"Tidak apa-apa kok, Vin. Cuma luka kecil aja," jawab Amira dan berusaha menarik tangannya, tetapi ditahan oleh Vincent. Vincent membawa Amira ke wastafel yang berada tidak jauh dari ruang makan dan membersihkan lukanya dengan air mengalir.


"Vin … lukanya sebaiknya dibersihkan dulu dengan alkohol supaya ga ada infeksi," saran Nyonya Thalia mengalihkan perhatian putranya itu. Nyonya Thalia melihat perlakuan putranya terhadap gadis itu. Ia tidak suka dengan kedekatan mereka. Nyonya Thalia ingin menyelidiki identitas gadis itu terlebih dahulu.


"Mm … Ami ya? Ayo ikut Tante ke kamar, biar Tante bantu rawat lukanya," ajak Nyonya Thalia kepada Amira.


"Ti-tidak usah kok, Tante. Ini cuma luka kecil kok," tolak Amira halus. Ia merasa tidak enak merepotkan Ibunya Vincent dengan luka kecil di jarinya.


"Sudah, Sayang. Sana kamu ikut Mama aja bersihkan lukanya dan diberi obat, takutnya nanti malah infeksi. Aku juga mau ketemu Papa dulu mau bahas kerjaan sedikit," bujuk Vincent. Ia ingin mendekatkan hubungan Ibunya dengan kekasihnya itu.


Amira menatap kekasihnya itu dan mendapatkan anggukan darinya. Nyonya Thalia memegang lengan Amira dan mengajaknya ke lantai dua. Vincent tersenyum puas menatap mereka yang terlihat akur di matanya.


To be continue ….


Di sini Author ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan Author Tya Gunawan yang sudah mengundang tokoh Vincent Zhang di dalam ceritanya (Bab 98) 😘


Thank you ya Kak atas dukungannya 🙏


Yang belum baca karya Kak Tya, ayo mampir dan baca NIKAH KONTRAK.


__ADS_1


__ADS_2