
Mobil Lamborghini gold metalic melaju membelah jalanan Kota Amigos. Di dalamnya terlihat wajah kusut si pengemudi. Ditemani cahaya lampu kota dan sinar rembulan, Vincent menyusuri jalanan di sekitar apartemen dan klub malam Devil Kiss.
Dengan memakai headset bluetooth di telinga kirinya, ia menekan panggilan keluar di ponselnya dengan satu tangan menyetir kemudi mobil. Terdengar dering nada masuk di ponselnya, tetapi tidak ada yang menjawab panggilannya hingga panggilan itu beralih ke operator selular.
Vincent menghentikan mobilnya di sisi jalan dan memukul setirnya dengan kuat. Ia mengambil ponselnya dan mengecek apakah ada pesan masuk dari Lucas. Sesaat sebelum Lucas masuk ke pesawat, ia sudah meminta Lucas untuk menyuruh bawahannya melacak keberadaan Amira melalui GPS yang dipasang di gelang berbentuk gembok yang ia berikan kepada Amira sebagai hadiah tanda jadi mereka.
Vincent memasang chip GPS di gelang itu tanpa sepengetahuan Amira. Ia sengaja tidak memberitahu gadis itu karena tidak ingin dianggap bersikap posesif kepadanya.
Vincent mengernyitkan dahinya heran melihat posisi GPS pada gelang yang dipakai Amira saat ini. Lokasinya terletak cukup jauh dari apartemen dan berada di pinggiran Kota Amigos.
'Kenapa Ami bisa berada di tempat seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi?' batin Vincent sambil memijit pelipisnya.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 10.20 malam. Perjalanan dari sini ke tempat yang ditunjukkan GPS setidaknya memakan waktu 30 menit. Vincent segera melajukan kembali mobilnya ke jalan raya menuju tempat pujaan hatinya berada.
°
°
°
°
Deringan ponsel di atas nakas mengganggu tidur Amira saat ini. Ia berbalik menjauh dari suara ponsel dan menutup telinganya dengan bantal. Tetapi ponsel itu terus berbunyi, dengan terpaksa ia membuka matanya perlahan.
Mata gadis itu berkedip-kedip dan melirik ke kanan dan kiri. Ia berusaha mencerna situasi saat ini dan merasa takut. Tempat ia berada sekarang begitu asing di matanya. Amira segera bangkit dari tidurnya dan menepuk-nepuk pipinya pelan.
'Di mana aku sekarang?'
Amira terus bertanya-tanya di dalam hati kenapa ia bisa sampai di tempat itu. Kepalanya terasa sakit dan berat ketika mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Ia menarik ujung rambutnya dan meremasnya kuat.
'Sebenarnya apa yang terjadi?'
Terlintas sepotong ingatan di dalam pikirannya, gambaran seorang pria yang memeluknya dan menciumnya. Amira menutup mulutnya dan membulatkan matanya tak percaya dengan ingatannya sendiri. Ia semakin kaget ketika melirik tubuhnya yang hanya mengenakan jubah mandi tanpa sehelai pakaian dalam yang menutupinya.
'Apa yang telah aku lakukan?'
Amira segera beranjak dari tempat tidur dan melihat seprei tempat ia berbaring tadi. Tidak ada noda atau bercak setitik pun. Ia sedikit bernafas lega melihatnya.
Amira melihat ponselnya yang berada di atas nakas dan mengambilnya. Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Tiffany dan Vincent. Ia tau mereka berdua sekarang pasti mencemaskannya.
__ADS_1
Ia segera menekan panggilan keluar ke nomor Vincent, tetapi sialnya belum sempat masuk ke nada sambung, ponselnya mendadak mati karena kehabisan daya.
Helaan nafas gadis itu semakin panjang. Ia berpikir cepat mencari cara untuk segera pergi dari tempat itu.
Amira mencoba melihat keadaan di luar, tetapi ia bingung dengan keadaan dirinya yang hanya menggunakan jubah mandi. Ia hanya membuka pintu kamar itu perlahan dan menyembulkan kepalanya keluar.
Di luar kamar itu terlihat sepi dan hanya sedikit penerangan. Wajar saja karena saat itu sudah hampir tengah malam. Tidak terlihat sosok pemilik rumah dan orang yang lain.
Amira memberanikan diri untuk keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tengah. Langkah kakinya terhenti ketika suara berat seorang pria menyapanya.
"Ami? Kamu sudah sadar?" tanya Adrian yang berdiri di belakangnya.
Adrian yang saat itu berada di ruangan samping kamar tidur mendengar pintu kamar dibuka, sehingga ia mencoba keluar dan melihat ternyata Amira sudah bangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya.
Amira berbalik dan menatap Adrian dengan tatapan cemas dan takut. Ia menelan salivanya perlahan.
"Siapa kamu?" tanya Amira menatap Adrian dengan sinis.
Adrian menarik sedikit ujung bibirnya dan tersenyum simpul. Ia menggeleng pelan melihat gadis itu yang melupakan dirinya.
"Apa kamu sudah melupakan semuanya? Padahal kita baru saja melewati malam yang begitu indah berdua," goda Adrian sambil berjalan mendekati Amira.
Adrian tidak menuruti ucapan gadis itu. Ia semakin tertarik menggodanya dan berjalan semakin mendekat ke arahnya.
Kaki Amira membentur ujung sofa, sehingga membuat tubuhnya terjatuh ke belakang. Adrian dengan cepat menarik tangan Amira, tetapi tubuh Amira yang limbung ke belakang malah menarik Adrian jatuh bersamanya.
Amira membelalakan matanya melihat posisinya yang berada di bawah Adrian. Begitu juga dengan Adrian, tanpa sengaja ia melihat jubah mandi Amira yang sedikit terbuka dan memperlihatkan sedikit belahan di dadanya membuat wajah Adrian memerah.
Dengan cepat Adrian segera berdiri dan berbalik dari gadis itu. Padahal niatnya hanya ingin menggoda gadis itu saja, tetapi malah dirinya yang tergoda sekarang.
"Ehem … Ma-maaf," ucap Adrian pelan.
"A-aku tidak bermaksud untuk berbuat yang semena-mena terhadapmu," ucapnya lagi.
Amira segera bangkit dari sofa dan membenarkan jubahnya. Wajahnya memerah karena malu dan marah.
"Se-sebenarnya siapa kamu, hah?" hardik Amira berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Adrian berbalik dan menatap Amira yang membalas tatapannya dengan sinis, "Tenang, Ami. Aku bukan seperti yang ada di dalam pikiranmu sekarang. Apa kamu lupa kalau aku yang sudah menyelamatkanmu ketika kamu dikejar pria hidung belang di depan klub malam?" tanya Adrian membantu Amira mengingat kejadian sebelumnya.
__ADS_1
Amira mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya dan memijat keningnya. Terlintas beberapa potong ingatan ketika ia dikejar pria tua berbadan besar di klub malam. Pria itu memberikannya obat ke dalam mulutnya, hingga ia tanpa sengaja menelannya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil seseorang sehingga ia terlepas dari kejaran pria tua hidung belang itu. Amira mengingatnya sekarang dan menatap Adrian, "Kamu pria yang di dalam mobil itu ya?"
Adrian mengangguk dan tersenyum lembut, "Akhirnya kamu ingat," ucapnya lega.
"Ma-maaf. Aku tadi ..." Amira merasa tidak enak sudah menuduh Adrian tadi.
"Sudahlah. Aku juga salah tadi," potong Adrian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Amira tersenyum menanggapinya dan pandangannya tiba-tiba tertuju kepada tulang selangka Adrian yang terdapat bercak kecil kemerahan dan bekas gigitan di sana.
"Itu ... apa aku yang melakukannya?" tanya Amira menunjuk ke tulang selangka Adrian yang terbuka karena ia memakai kaos tanpa kerah saat ini.
Adrian mengusap lehernya dan tersenyum kecil,"Ini … iya, waktu itu kamu terkena pengaruh obat jadi sedikit … liar, hahaha … tapi tidak terjadi apapun," terang Adrian panjang lebar agar gadis itu tidak salah paham padanya. Amira mengangguk pelan.
"Terus bajuku … kenapa ..."
"Ah itu tadi bajumu basah semua karena aku memasukkanmu ke dalam bathup untuk menyadarkanmu dari pengaruh obat. Tadi pembantu wanita di rumah ini yang membantumu menggantinya dengan jubah mandi, bukan aku," terang Adrian lagi.
Amira mengangguk paham dan bernafas lega.
"Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu. Tunggu sebentar," ucap Adrian dan meninggalkan Amira.
Tidak beberapa lama, Adrian keluar dan membawa satu stel pakaian wanita lengkap dengan dalamannya. Ia memberikannya kepada Amira.
Amira hanya diam menatap pakaian dan dalaman wanita yang berada di tangannya. Seperti tau jalan pikiran gadis itu, Adrian berujar cepat, "Tenang saja itu pakaian baru kok dan dalaman itu aku mencocokkan ukurannya dengan yang lama."
Mendengar jawaban pria itu, wajah Amira memerah dan tertunduk malu, "Te-terima kasih," ucap Amira sambil berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan Adrian.
To be continue ....
Halo readers...
Semoga masih tetap semangat membaca MFIY ya, jgn lupa untuk like dan vote! 👍
Oh iya, Author ada buat cerita baru juga judulnya PERMAISURI SANG CEO.
Bagi yang suka dengan cerita fantasy romance silahkan baca ceritanya, semoga suka! 🤗
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya di setiap ceritaku...
Thank you 😘
__ADS_1