Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 97


__ADS_3

Halo readers,


Jangan lupa dukung aku dengan cara vote cerita ini ya ....


Terima kasih 🙏


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Heningnya malam membuat suara sekecil apapun terdengar jelas, begitupun bunyi kecapan dari kedua pasang bibir yang saling bertaut menggema di dalam kamar mandi saat ini.


Amira melepaskan ciumannya dan menatap pria di depannya masih tetap dalam posisi merangkul leher pria itu, "Aku mencintaimu, Sayang," ucap Amira pelan.


"Kamu kok agresif banget sih malam ini?" ucap Vincent seraya mengusap kepala Amira pelan.


"Kalau tahu begini, aku sering-sering aja kasih lihat foto-foto mantanku," goda Vincent kepada kekasihnya itu yang sudah menatapnya tajam.


Bukannya takut, tetapi Vincent malah tertawa renyah mendapatkan tatapan itu. Ia begitu senang menerima respon gadis itu yang agresif kepadanya malam ini, walaupun ia tidak tahu alasan sebenarnya. Ia hanya mengira gadis itu cemburu kepadanya.


"Jadi kamu masih nyimpan foto-foto mantan kamu? Berapa orang?" selidik Amira sebal. Ia melepaskan rangkulannya dan menyilangkan kedua tangannya di dada, tentu saja bibir manyun khasnya bertengger dengan gemasnya.


"Ra-ha-si-a," bisik Vincent pelan dan terputus-putus di telinga Amira. Ia sengaja menggoda gadis itu.


Amira mendengus kesal mendengarkan jawaban Vincent. Ia berjalan meninggalkan Vincent, tetapi dengan cepat Vincent menarik tangannya membuatnya berbalik menghadap pria itu.


Vincent meletakkan bibirnya di puncak kepala Amira dan mengecupnya dengan lembut dan penuh kasih, "Aku suka kamu cemburu begini," godanya lagi.


Amira berdecak sebal, walau begitu dirinya sangat bahagia dengan perlakuan Vincent yang begitu manis terhadapnya. Ia berharap semua perkataan Nyonya Thalia salah. Perkataannya yang menyebutkan bahwa Vincent hanya sekedar menganggap hubungan mereka sebagai permainan semata.


"Ayo, Mama dan yang lainnya sudah menunggu di bawah," ajak Vincent dan menggandeng tangan Amira keluar dari ruangan itu.


Vincent dan Amira segera turun ke bawah dan menuju ke ruang makan. Di ruang makan sudah berkumpul Nyonya Thalia, Tuan James, Eva dan kedua orang tua Eva. Semua terlihat kaget dengan kedatangan Vincent yang menggandeng tangan Amira.


Tuan James tertegun menatap Amira, 'Kenapa gadis ini begitu mirip dengan dia?' batinnya mengenang masa lalunya. Nyonya Thalia melihat suaminya yang memandang Amira sampai melamun, ia menyenggol lengan suaminya dan menatapnya tajam. Tuan James mengalihkan pandangannya dan tersenyum datar.


Ketika berada di depan pintu ruang makan, Amira tertegun melihat paperbag miliknya berada di dalam tempat sampah dengan isinya yang masih utuh. Hatinya merasa sakit dan perih, karena hasil kerja kerasnya tadi pagi hanya berakhir di tempat sampah. Ia berusaha menahan sakitnya itu dalam diam.


Vincent tidak mengetahui hal itu, ia menarik tangan Amira dan mengajaknya duduk. Vincent menarik kursi kosong di samping Eva dan ingin meminta Amira duduk di sana, tetapi disela oleh Nyonya Thalia.


"Vin, kamu duduk di samping Eva aja. Kan kamu juga sudah lama gak ketemu dengan Eva, lagian juga lebih enak ngobrolnya kalau dekat kan," ucap Nyonya Thalia beralasan.


Vincent ingin menolak perintah Nyonya Thalia, tetapi Amira sudah lebih dulu menarik kursi kosong di sebelahnya.


"A-aku duduk di sini aja, Vin. Kamu duduk di sana aja," ucap Amira cepat sebelum Vincent membantah ucapan lbunya itu, karena Nyonya Thalia sudah menatap Amira dengan sinis. Vincent hanya bisa menurutinya.


Di meja makan semua makan dengan tenang, sesekali Tuan James dan Tuan Jonathan membahas masalah perusahaan mereka, begitu juga dengan istri mereka yang saling bergosip ria.


"Vin, bukankah biasanya kamu tidak suka makan bawang bombay?" tanya Eva yang saat itu melihat Amira mengambilkan ayam asam manis yang ditumis dengan bawang bombay ke dalam piring Vincent.

__ADS_1


Amira terdiam mematung mendengarkan ucapan Eva, apalagi Nyonya Thalia juga ikut menimpali, "Ternyata kamu masih ingat juga ya, apa yang Vincent suka dan yang tidak ia suka, Eva," tutur Nyonya Thalia yang bermaksud menyindir Amira.


Amira heran karena biasanya ia memasak tumisan menggunakan bawang bombay untuk Vincent, tetapi tidak pernah sekali pun kekasihnya itu protes dan tidak memakan bawang bombay itu. Amira hanya bisa menelan salivanya pelan mendengarkan sindiran dari Nyonya Thalia.


Vincent melihat piringnya dan menatap ke arah Amira, ia tersenyum kepada kekasihnya itu, "Siapa bilang? Aku suka kok."


Vincent mengambil satu irisan bawang bombay dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sebenarnya sejak dulu ia tidak suka dengan bawang bombay, tetapi ia tidak ingin membuat kekasihnya kecewa dan malu di hadapan orangtuanya dan yang lain, apalagi ia sekarang sudah terbiasa memakannya.


Eva hanya tersenyum kaku melihat sikap Vincent, begitu juga Nyonya Thalia, ia tidak menyangka putranya berbuat seperti itu sampai rela memakan makanan yang tidak ia sukai.


Tiba-tiba Eva bertanya kepada Vincent yang menyita perhatian semua yang ada di meja makan, "Vin, kamu gak mau memperkenalkan gadis cantik di sebelahmu kepada kami?"


Belum sempat Vincent menjawab Eva, Nyonya Thalia segera menyela, "Ah, namanya Amira, Eva."


'Amira? Kenapa namanya terasa tidak asing ya?' batin Eva.


"B**y the way, kamu sekarang sudah buka butik sendiri ya Eva?" tanya Nyonya Thalia mengalihkan perhatian mereka saat ini yang penasaran dengan status Amira.


Vincent mengernyitkan dahinya melihat sikap Ibunya saat ini, tetapi karena sedang ada Tuan dan Nyonya Mo, ia mengurungkan niatnya untuk menyela Ibunya. Amira hanya menundukkan wajahnya dan meneruskan makannya dalam diam.


"Iya Tante, hanya butik kecil kok. Sekalian menambah pemasukan dan sekarang lagi mencoba untuk mendesain beberapa gaun pengantin,"jelas Eva.


"Kamu sungguh luar biasa. Kalau begitu nanti kamu bisa mendesain gaun pengantinmu sendiri dong," puji Nyonya Thalia. Eva hanya tersenyum simpul.


"Yang penting cari pasangan dulu Nyonya Zhang," sela Ibunya Eva, Vanessa.


"Maksud Anda menjodohkan Eva dengan Vincent? Tapi Nak Vincent bukannya sudah …" ucap Nyonya Vanessa melirik Vincent dan Amira sekilas.


"Mereka hanya teman kok," balas Nyonya Thalia cepat dan Nyonya Vanessa paham bahwa Nyonya Thalia tidak menyukai gadis itu.


Amira mengigit bibir bawahnya, hatinya terasa perih mendengarkan ucapan Nyonya Thalia. Ia hanya bisa menelan semua rasa pahit itu.


Vincent yang sedang meminum airnya pun tersedak mendengarkan percakapan Ibunya dan Nyonya Mo. Eva mengambil tisu di sampingnya dan memberikannya kepada Vincent. Ia membantu Vincent menepuk punggungnya.


"Terima kasih," ucap Vincent kepada Eva.


Amira menatap mereka berdua, rasa cemburu, iri dan rendah diri menyerang pikirannya, ia sudah tidak sanggup berlama-lama di sana. Belum lagi kehadirannya yang tidak dianggap oleh Nyonya Thalia.


"Lebih baik kita adakan pesta pertunangan saja dulu, Nyonya Mo? Setelah mereka sudah memantapkan hati masing-masing, baru adakan pernikahan. Bagaimana?" usul Nyonya Thalia lagi.


Mendengar perkataan Ibunya, Vincent merasa kesal dan ingin membantah ucapan Mamanya, "Ma …"


Belum sempat Vincent menyela ucapan Ibunya, ucapannya terpotong karena Amira di sampingnya meletakkan sendok dan garpunya dengan cukup kuat, sehingga menimbulkan bunyi dentingan yang menyita perhatian kepadanya.


Dengan memaksakan senyumannya Amira menatap semua perhatian yang tertuju kepadanya.


"Maaf saya sudah kenyang. Terima kasih atas jamuannya malam ini, Om, Tante. Saya baru terpikir masih ada urusan. Saya permisi dulu," ucap Amira sambil berdiri dan membungkukkan badannya pamit.

__ADS_1


Amira segera beranjak pergi dan meninggalkan Vincent. Ia berlari kecil menuju pintu keluar mansion dan tanpa sengaja menabrak Alfred yang saat itu berjalan masuk.


"Ah maafkan aku, Nona Lin," ucap Alfred. Amira hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan air mata yang sudah tumpah ke pipinya.


Alfred menatap wajah gadis itu dan menghela nafas pelan, "Sungguh kasihan," gumamnya pelan yang sudah bisa menduga apa yang terjadi beberapa saat lalu.


Sementara itu di ruang makan.


Ketika Amira berjalan keluar ruang makan, Vincent ingin mengejarnya, tetapi diurungkan niatnya itu tatkala Nyonya Thalia memanggilnya.


"Vincent, kamu mau ke mana? Selesaikan makanmu dulu, masih ada tamu di sini. Tolong jaga sikapmu!" ucap Nyonya Thalia kepada putranya itu.


"Duduklah Vin. Selesaikan makanmu dulu," ucap Tuan James membuka suaranya berusaha menenangkan suasana yang mulai terasa canggung.


Vincent menghela nafas pelan dan menatap Ibunya, akhirnya ia paham apa yang terjadi dan alasan kekasihnya itu menangis tadi di kamarnya waktu itu.


Makan malam kali ini semua sudah direncanakan oleh Ibunya. Semua mengetahui hal itu termasuk Amira, Vincent merasa kesal, karena tidak diberitahu terlebih dahulu oleh Ibunya dan kekasihnya itu, tetapi Ibunya sudah keterlaluan kali ini. Vincent merasa ia perlu meluruskan semua masalah malam ini sebelum mengejar kekasihnya itu.


"Maaf Om, Tante. Saya tidak bisa menikah dengan Eva. Saya tidak mencintai Eva. Selain itu saya juga sudah memiliki kekasih dan orang itu adalah Amira," jelas Vincent kepada kedua orangtua Eva.


"Vincent!" teriak Nyonya Thalia.


"Maaf, Ma. Makan malam ini tidak bisa aku lanjutkan lagi. Yang ingin aku sampaikan semuanya sudah cukup jelas, bukan?" ucap Vincent lagi.


Vincent pun segera beranjak dari tempat duduknya dan mengejar kekasihnya itu. Sebelum keluar ruangan, Vincent melihat paperbag yang berada di tempat sampah. Ia menatap Ibunya sekilas dan menghela nafas pelan. Segera ia mengeluarkan paperbag yang berisi kue buatan kekasih hatinya itu dan membawanya pergi.


"Vincent!" teriak Nyonya Thalia agar putranya kembali, tetapi Vincent tidak berpaling. Nyonya Thalia benar-benar kesal dengan putra kesayangannya itu.


Wajah Tuan dan Nyonya Mo pun tidak kalah masamnya dibandingkan Nyonya Thalia. Mereka merasa usaha mereka datang ke acara jamuan malam ini hanya sia-sia belaka, malah membuat mereka dan putrinya menanggung malu ditolak begitu saja oleh Vincent. Eva hanya diam dan menundukkan wajahnya, ia merasa sedih karena Vincent menolaknya langsung di hadapan kedua orangtuanya.


Tuan James menghela nafas melihat kejadian malam ini. Ia juga tidak suka dengan sikap istrinya yang seenaknya menjodohkan putranya itu. Dari awal ia juga sudah pernah mengatakan kepada istrinya itu agar membicarakan terlebih dahulu kepada putra mereka, tetapi istrinya itu tidak mau mendengarkan sarannya. Pada akhirnya membuat dirinya dan istrinya menanggung malu akibat ucapan putranya itu. Sekarang yang membuat James penasaran adalah jati diri Amira, ia akan menginterogasi istrinya nanti setelah makan malam yang akan segera berakhir malam ini atau mungkin tidak perlu dilanjutkan lagi karena kekacauan yang dibuat oleh putranya itu.


To be continue ....


Oh iya Author punya rekomendasi novel dari author yg lain nih... silahkan mampir dan dibaca ...


Singking Of Love dan Dunia Memihak Mu


Karya Author Maomao



Beyond The Imaginaton


Karya Author M.Y


__ADS_1


__ADS_2