
Hades dan Silver datang ke rumah sakit untuk menjeguk Vincent dan melihat kondisi pria itu, tetapi mereka tidak menemukan Vincent di dalam ruangannya.
"Mungkin dia sedang berada di ruangan Nona Lin," terka Silver.
Hades hanya menghela nafas pelan. 'Anak itu memiliki sifat yang sama sepertiku dulu. Mencintai seseorang tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.'
Hades mengarahkan kursi rodanya keluar dari ruangan itu. Silver mengikutinya dari belakang menuju ruang rawat Amira. Mereka menemukan Lucas yang sedang duduk di depan ruangan itu.
Lucas segera berdiri ketika melihat kedatangan Hades. Wajahnya tampak pucat. Ia menundukkan wajahnya.
"Kenapa? Apa yang kamu takutkan?" tanya Hades datar.
"Maafkan saya, Hades. Saya tidak menjaga Light dengan baik," sesal Lucas.
"Sudahlah, bukan salahmu. Terima kasih sudah menemaninya selama lima tahun ini," ucap Hades yang membuat Lucas dan Silver sedikit terperangah.
'Baru kali ini Hades mengucapkan terima kasih,' batin mereka berdua.
"Apa dia ada di dalam?" tanya Hades.
"Iya, Hades," jawab Lucas dan mengangguk.
Hades pun masuk ke ruangan itu sendiri, sementara Lucas dan Silver menunggunya di luar.
"Apa sekarang misiku sudah selesai?" tanya Lucas kepada Silver.
"Sepertinya begitu, tapi mungkin kamu perlu menunggu keputusan Hades," jawab Silver sambil menepuk pundak Lucas.
Sebenarnya Lucas sedikit tidak rela untuk meninggalkan Vincent, karena ia sudah merasa nyaman dan betah bekerja di bawah kepemimpinan Vincent. Namun dia tak berdaya jika Hades memintanya untuk kembali dan mengambil misi selanjutnya. Ia pun hanya bisa menghela nafas pelan.
Di dalam ruangan, Hades melihat putranya yang sedang berada di samping kekasihnya. Ini pertama kalinya ia berada begitu dekat dengan putranya itu. Oh bukan, tepatnya mungkin ketiga kalinya.
Pertama kalinya adalah ketika Vincent baru lahir ke dunia ini, ia sempat memeluk dan mencium putranya itu; kedua kalinya adalah ketika berada di kamar operasi, ia mendonorkan darahnya untuk putra kesayangannya itu; dan ketiga kalinya adalah yang sekarang.
Hades tersenyum sedih tatkala memikirkan sosok ayah macam apa dia di mata putranya itu. Tidak berani menemui putranya sendiri. Hanya berdiri di belakang layar diam-diam memperhatikannya dan melindunginya.
Pria tua itu mengarahkan kursi rodanya mendekati putranya yang masih tidak menyadari kehadirannya.
"Vincent," panggil Hades. Suara bass-nya itu mengagetkan Vincent, membuat ia menoleh menghadapnya.
Vincent menautkan kedua alisnya. Ia menatap datar pria asing di hadapannya saat ini.
"Siapa Anda?"
Hades tersenyum miris mendengarkan pertanyaan itu. Ia hanya bisa menghela nafas pelan. Bukan salah putranya jika tidak mengenali dirinya.
"Bagaimana kondisimu? Apa kepalamu masih terasa sakit?"
__ADS_1
Hades tidak menjawab pertanyaan Vincent sebelumnya. Ia lebih mengkhawatirkan kondisi putranya saat ini.
Tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Vincent memalingkan wajahnya kembali menatap Amira. Ia tidak mempedulikan pria asing yang berada di sampingnya itu.
Hades tersenyum tipis. "Apa kamu begitu mencintai gadis ini? Apa kamu ingin bersama dengannya?" tanyanya lagi yang membuat Vincent berbalik menatapnya aneh.
"Siapa kamu sebenarnya? Dan apa hubunganmu dengan Ami?" tanya Vincent dingin. Ia berpikir Hades datang ke ruangan itu untuk bertemu dengan gadis itu.
Hades tertawa renyah mendengarkan pertanyaan putranya. Kedua alis mata Vincent kembali bertaut. Bingung dengan sikap pria asing itu.
"Apa ada yang lucu?" tanya Vincent tajam dan dingin, namun tidak membuat Hades takut.
"Tidak. Tidak ada yang lucu, Putraku," jawab Hades singkat namun mampu membuat Vincent terperangah.
Mata elang Vincent menilik tajam ke arah Hades. Mencari kebohongan di dalam manik mata berwarna hitam pria tua itu. Seketika Vincent menyadari banyaknya kemiripan di dalam pria itu dengan dirinya. Manik mata hitam pria itu yang tajam, senyum seringainya, bentuk wajahnya yang oval dengan rahang yang tegas dan sikap tenang namun dingin, semua itu terasa tidak asing bagi Vincent. Kemiripan pria tua itu membuat rasa ingin tahu Vincent mencuat.
"Siapa sebenarnya Anda, Tuan?" tanya Vincent kali ini dengan nada sedikit ramah namun masih tajam.
Hades menyunggingkan senyumannya. Ia merasa bangga dengan putranya yang memiliki intuisi yang tajam seperti dirinya. Dengan sekali pandang saja, Vincent sudah menyadari sesuatu hal yang telah ia sembunyikan selama ini.
"Aku adalah ayah kandungmu, Vincent," pungkas Hades memberitahukan rahasia yang telah ia tutupi selama 28 tahun ini.
"A-Apa maksudmu?"
Vincent tercengang dan menatap Hades tak percaya. Ia mengernyitkan keningnya, mulutnya menganga, namun kegembiraan terlihat begitu jelas di matanya.
Flashback
Dua puluh delapan tahun silam, Hades alias Anderson Xiao adalah seorang pria muda nan tampan. Ia adalah putra dari seorang raja mafia bawah tanah. Sejak kecil hidupnya selalu hidup bergelimpangan harta namun tidak jauh dari pertumpahan darah. Bukan keinginannya untuk mengikuti jejak ayahnya, namun ia terpaksa harus beradaptasi dengan keadaannya. Sejak kecil Anderson sudah diajarkan untuk tidak memiliki perasaan cinta dan belas kasihan, sehingga ia pun tumbuh menjadi seorang pribadi yang kejam dan dingin. Di dunia hitam itu, siapa yang kuat dialah yang dapat bertahan hidup. Sedikit saja ia lengah, musuh-musuh yang tidak terlihat akan menyerangnya tanpa ampun, hingga suatu hari Tuhan mempertemukannya dengan seorang gadis yang akan mengajarinya arti cinta dalam hidupnya. Gadis itu adalah Selena Wu.
Selena adalah seorang gadis yatim piatu. Ia hidup sebatang kara sejak ditinggal ibunya ketika usianya 17 tahun. Gadis itu hidup dengan melakukan berbagai macam pekerjaan sambilan demi menghidupi dirinya sendiri dan melunasi hutang yang pernah ia pinjam untuk membiayai pengobatan ibunya dulu.
Anderson dan Selena bertemu ketika pria itu sedang dalam pengejaran salah satu musuh bebuyutannya, Luiz Smith. Anderson mengalami luka tembak di bahunya. Ia pun bersembunyi di daerah perkumuhan ketika dalam pengejaran Luiz. Area perkumuhan itu adalah tempat tinggal Selena.
Saat itu Selena baru saja pulang dari kerja sambilannya. Ia menemukan pria yang sedang terluka di samping rumahnya. Selena merasa iba dan menolong pria itu.
Anderson mengira saat itu nyawanya sudah tidak tertolong lagi, mengingat sejarah keluarganya yang memiliki golongan darah yang unik. Namun Tuhan masih tidak mengijinkannya untuk meninggalkan dunia itu, mempertemukan dirinya dengan seorang gadis dengan golongan darah yang sama dengannya.
Sejak pandangan pertama mereka bertemu, Anderson sudah jatuh hati kepada gadis cantik pemilik mata coklat hazel itu. Begitu juga dengan Selena, gadis itu pun memiliki perasaan yang sama dengan Anderson.
Kisah cinta mereka tidak berjalan mulus, ayah Anderson, Alfonso Xiao, tidak menyetujui hubungan mereka apalagi gadis itu hanyalah gadis dari kalangan bawah, tetapi Anderson tidak menyerah begitu saja dengan cintanya. Ia membawa Selena pergi sejauh mungkin dari dunia yang penuh kegelapan itu. Mereka menikah diam-diam tanpa restu dari Alfonso.
Anderson berpikir ia telah terlepas dari kekejaman dunia hitam dan hidup bahagia dengan Selena. Kebahagiaannya pun bertambah ketika Selena mengandung buah hati mereka. Namun ketika Selena mengandung delapan bulan, terjadi sebuah tragedi yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Luiz Smith, menemukan tempat tinggal Anderson dan istrinya. Pria itu mengejar pasangan suami istri itu yang telah kabur terlebih dahulu dengan mobil milik mereka.
Luiz tidak menyerah begitu saja. Ia mengejar mobil milik Anderson, hingga akhirnya mobil Luiz mendekati mobil Anderson dan ia pun mengacungkan pistolnya ke arah Anderson namun tembakan itu melesat mengenai Selena yang saat itu melindungi tubuh suaminya. Tembakan itu tepat mengenai punggung sebelah kanannya.
"Tidaaaakk! Selenaaaa!"
__ADS_1
Anderson menjadi murka melihat wanita kesayangannya dilukai. Ia segera mengambil pistol miliknya dari dashboard mobilnya sambil tetap menyetir mobilnya, ia menyembulkan kepalanya keluar dan melihat ke belakang, mengarahkan pistolnya tepat ke arah kaca depan mobil Luiz. Tembakan Anderson menembus kaca mobil Luiz dan mengenai kening pria itu hingga ia langsung meregang nyawa dalam sekejap. Anderson pun melajukan mobilnya langsung dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit yang terdekat.
"Selena! Bertahanlah!" teriak Anderson panik. Pria itu tetap fokus mengendarai mobilnya sambil sesekali ia melirik ke arah istrinya yang sudah kritis.
Selena menahan rasa sakit di dadanya dan perutnya yang sudah mengalami kontraksi begitu hebatnya.
"Su … suamiku … a-anak … ki-ta …," lirih Selena dengan suara terbata-bata dan nafas tersengal-sengal.
Wajah Anderson semakin pucat tatkala melihat cairan bening namun keruh yang keluar dari rahim istrinya melewati pangkal paha istrinya itu dan mengalir layaknya cairan urin. Anderson tahu itu adalah air ketuban milik istrinya dan sekarang sudah waktunya buah hati mereka lahir ke dunia tanpa mereka sangka-sangka.
"Tenanglah, Sayang. Kamu dan anak kita akan selamat. Bertahanlah …," hibur Anderson yang saat ini sudah berada di rumah sakit agar istrinya tidak semakin panik dan takut. Walaupun begitu Selena tahu waktunya sudah tidak banyak lagi, ia pun mengajukan permintaan terakhir kepada suaminya itu.
"A-aku ingin … ka-kamu se-selamatkan … anak kita …," pinta Selena dengan lirih dan suara yang terputus-putus. Buliran cairan bening membasahi wajah cantiknya, namun ia masih ingin meneruskan ucapannya, walau Anderson sudah melarangnya untuk terus berbicara.
"Ba-bawa dia ... jauh da-dari … du-dunia … hitam …." Selena mengatur nafasnya sebentar dan melanjutkan lagi, "be-berikan dia … ke-kebahagiaan …."
"Cukup! Jangan bicara lagi!" sela Anderson dengan suara parau, karena air matanya pun telah jatuh membasahi pipinya. "Kamu dan anak kita pasti akan selamat!" lanjutnya lagi.
Selena menarik lengan suaminya dan menatapnya dengan nanar, meminta agar suaminya untuk memenuhi permintaan terakhirnya itu. "Ber-berjanjilah …," pintanya lirih.
Akhirnya Anderson pun terpaksa menyetujui permintaan istrinya itu dengan berat hati. Ia tahu istrinya ingin agar kelak anaknya nanti tidak mengikuti jejaknya yang penuh dengan bahaya. Awalnya Anderson mengira ia dapat meninggalkan dunia kelam itu, namun ternyata ia salah. Sekali sudah masuk ke dalam dunia yang penuh kegelapan itu, mereka akan susah untuk melangkah keluar walaupun telah mencuci tangan mereka yang telah bersimbah darah dari nyawa orang-orang yang mereka akhiri.
Selena pun melahirkan seorang bayi laki-laki untuknya, namun sayangnya wanita itu tidak dapat menemani putranya. Ia pun menghembuskan nafas terakhirnya setelah melihat wajah polos bayinya untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
End of flashback.
"Hari kelahiranmu bertepatan dengan kelahiran anak dari Nyonya Zhang. Aku mendengar dari salah seorang perawat bahwa anaknya tidak dapat diselamatkan lagi. Anak kandung Nyonya Zhang lahir prematur dan hanya bertahan hidup beberapa jam setelah lahir." Hades menghela nafasnya sebentar dan menelan salivanya kasar, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Saat itu aku berpikir bahwa mungkin ini sudah jalan yang diberikan Tuhan kepadamu. Aku pun membayar perawat itu agar membawamu kepada Nyonya Zhang dan membuatnya mengakui bahwa kamu adalah anaknya," papar Hades mengakhiri ceritanya.
Vincent mendengarkan cerita Hades dari awal hingga akhir tanpa bergeming dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia tidak tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa. Sedih, senang atau malah membenci Hades yang telah memberikannya begitu saja kepada orang lain.
"Hades? Apakah itu kamu?" terka Vincent.
Hades mengangguk membenarkan tebakan Vincent. "Aaron. Itu adalah nama yang diberikan oleh ibumu ketika ia mengandungmu. Dia mengatakan kepadaku untuk menamaimu Aaron apabila yang lahir adalah seorang bayi laki-laki. Aaron berarti seorang pemimpin yang memiliki tujuan hidup, agung dan mulia, yang juga berarti cahaya. Ia berharap kamu dapat hidup di tengah kehidupan yang penuh cahaya. Oleh karena itu aku selalu menjulukimu dengan sebutan Light," jelas Hades.
Vincent teringat dengan sebutan itu. Setiap kali Hades mengirim pesan email kepadanya. Pria itu selalu memanggilnya dengan sebutan 'Light'.
"Aku menceritakan hal ini bukan ingin kamu memaafkan aku dan ibumu. Hanya ingin kamu tidak terus menyakiti dirimu sendiri karena mengira kamu dengan gadis itu bersaudara," lanjut Hades lagi sambil tersenyum simpul dan memutar kursi rodanya, ingin meninggalkan ruangan itu.
"Dad …," panggil Vincent pelan.
Hades terdiam dan kembali memutar kursi rodanya menghadap Vincent. Ia tersenyum dan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menahan cairan beningnya yang akan keluar dari sudut matanya.
"Boleh aku memanggilmu begitu? Dad?" tanya Vincent dan membalas senyuman ayah kandungnya yang telah menatapnya haru.
Hades mengangguk pelan dan tersenyum simpul. "Aaron, anakku," ucapnya pelan namun penuh haru dan ia pun menepuk pundak Vincent dengan tatapan kerinduan yang sangat mendalam dari seorang ayah kepada anaknya.
__ADS_1
To be continue ….