Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 27


__ADS_3

"Ah!"


Ketika ingin melangkahkan kakinya, Amira merasakan sakit di pergelangan kakinya. Leon menyadari hal itu, kemudian tanpa diminta dia langsung menggendong Amira ke dalam ruangannya.


Amira kaget atas tindakan tiba-tiba dari Leon yang menggendongnya. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Wajahnya merona. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Leon.


'Kyaaaaaa...! Akhirnya mimpiku kesampaian juga!!! Baru kali ini aku berada sedekat ini dengannya, kyaaaa...!' teriak Amira kegirangan di dalam hati.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi mengikuti Amira dan mengambil adegan tersebut dengan kameranya.


Di dalam ruangan kerja Leon.


Leon mendudukkan Amira di atas tempat tidur pasien. Kemudian dia sedikit merendahkan tubuhnya di depan Amira dan memeriksa pergelangan kaki Amira, kemudian menekannya pelan.


"Aah!" teriak Amira yang merasakan sakit di kakinya ketika disentuh.


"Maaf," ucap Leon.


"Sepertinya tidak ada luka dalam, ini hanya keseleo biasa."


Leon berdiri dan menatap wajah Amira, "Kenapa wajahmu merah sekali?" tanya Leon.


"Apa kamu demam?" tanyanya lagi dan meletakkan telapak tangannya di kening Amira. Amira merasa gugup dan segera menepis tangannya, "A-Aku tidak apa-apa. Hanya merasa kepanasan saja," ucapnya terbata-bata.


"Ah, maaf aku lupa menghidupkan pendinginnya," ucap Leon yang kemudian mengambil remote control pendinginnya.


"Aku tadi sempat istirahat di ruangan ini dan merasa sudah cukup dingin, jadi aku matikan," ucapnya menjelaskan.


"Sebentar. Aku mengambil obat salep untuk kakimu dulu," ucap Leon lagi.


Amira mengangguk dan menatap punggung Leon yang berjalan keluar.


'Aku akan mengungkapkan perasaanku hari ini !' ucap Amira di dalam hati. Dia merasa bahagia sekali hari ini.


Tidak berapa lama, Leon masuk ke dalam ruangan dan membawa obat salep yang dikatakannya tadi. Dia duduk di kursi putarnya dan mengangkat kaki Amira ke atas pahanya. Kemudian dengan perlahan mengoleskan obat salep itu di sekitar pergelangan kaki Amira.


Amira terus menatap wajah Leon dengan kagum dan Leon merasakan tatapan Amira walaupun dia tidak menatap wajah Amira.

__ADS_1


"Ada sesuatu di wajahku?" tanya Leon masih dengan serius mengobati kaki Amira.


Amira yang ketahuan sedang menatap Leon, terkejut dan gugup, seperti seorang pencuri yang ketahuan sedang mencuri.


"Ha? Ah ... Ti-tidak ... Tidak ada apa-apa," ucap Amira terbata-bata sambil berusaha mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan.


"Nah, sudah selesai." Leon berdiri dari tempat duduknya dan meletakkan obat salep yang dipegangnya ke telapak tangan Amira.


"Nanti kamu oles salepnya di rumah, ingat harus rutin!" perintah Leon. Kemudian dia mendorong kursi putarnya berjalan ke arah meja kerjanya.


"Kak."


Amira menatap punggung Leon, dan ingin mengutarakan perasaannya.


Leon berbalik menatapnya, "Ya, ada apa?"


"Itu ... sebenarnya ... aku ...."


KRUUUUKKK ... KRUUUUUKKK ....


Perut Amira yang sudah keroncongan berbunyi merusak suasana saat itu.


"Kamu belum makan ya?" tanya Leon mengira Amira ingin mengatakan kalau dia belum makan.


"Coba kamu berdiri, pelan-pelan saja," ucap Leon mendekati Amira.


Amira berdiri dengan bantuan dari Leon dan dituntunnya Amira ke meja kerjanya. Amira duduk di kursi pasien.


Kemudian Leon membuka bungkusan plastik yang dibawa Amira, di dalamnya terdapat dua kotak sphagetti, sekotak pizza dan dua gelas minuman jus jeruk.


"Ini kamu makan dulu aja."


Leon menyodorkan sekotak spaghetti ke hadapan Amira.


"Mm.. baiklah, Kak Leon juga makan, jangan liatin aku aja", ucap Amira sambil membuka kotak sphagetti dan pizza di depannya. Leon juga membuka kotak sphagetti miliknya dan memakannya.


Memang sudah sedari tadi Amira merasa lapar dan ingin mengajak Leon makan bersama, tetapi karena kejadian tadi di depan ruangan Leon, dia lupa dengan laparnya.

__ADS_1


"Maaf ya, Kak. Jadi dingin makanannya."


"Uhuk ... uhuk ..." Amira tersedak.


"Kamu ini ... Slesaikan makananmu dulu, nanti baru bicara."


Leon menyodorkan minuman kepada Amira dan menepuk punggungnya pelan, kemudian mereka melanjutkan makan dengan hening.


"Kamu naik apa tadi?" tanya Leon setelah selesai makan.


"Naik bis," jawab Amira.


Amira tidak memiliki kendaraan pribadi di Amigos ini. Bukannya tidak mampu membeli, tetapi Amira yang tidak ingin menghabiskan uang kakek ataupun kakaknya.


Amira merasa tidak memerlukannya karena letak kampus dan apartemennya juga cukup dekat. Kalaupun ingin ke tempat yang lebih jauh, ada angkutan umum yang bisa dinaiki, seperti bis. Jarak halte bis dan apartemennya juga dekat, cukup lima menit berjalan kaki saja.


"Kalau begitu, aku antar kamu pulang saja." Leon menawarkan untuk mengantar Amira pulang.


"Ha? Tidak perlu Kak. Tidak usah repot-repot. Aku bisa naik taksi. Bukannya Kak Leon masih lembur?" Amira merasa tidak enak, karena dia mengganggu pekerjaan Kak Leon.


"Tidak apa-apa. Nanti aku bisa pulang lagi ke sini. Lagian sekarang juga belum ada jadwal operasi ataupun kunjungan pasien," jawab Leon sambil membuka jas dokter miliknya dan melepaskan kacamatanya.


Leon terpaksa memakai kacamatanya ketika bekerja karena dia memerlukannya untuk membaca dokumen. Kalau berada di luar, dia merasa risih dan tidak menggunakannya.


"Mm ... baiklah kalau begitu," jawab Amira memelas. Padahal di dalam hatinya, Amira merasa senang sekali.


"Kamu tunggu di sini sebentar," ucap Leon sembari berjalan keluar ruangan.


Tidak berapa lama, Leon masuk sambil mendorong kursi roda. Amira melongo melihatnya.


"Kenapa bengong?" tanya Leon, kemudian menuntun Amira duduk di kursi roda.


Amira terpaksa menurut dan duduk di atas kursi roda. Padahal ia sudah membayangkan Leon akan menggendongnya keluar seperti tadi. Tetapi ....


'Haaaaahhh ...'


Amira hanya bisa menghela nafas panjang dan memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....


__ADS_2