
Amira POV
Kak Leon mengantarku ke kamar Tiffany dan ia keluar. Aku meminjam kamar mandi Tiffany. Membersihkan badanku dan meminjam jubah mandinya. Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi. Aku bingung tidak tau apa yang mau aku pakai. Tubuh Tiffany lebih kurus dibandingkan aku, jadi kemungkinan bajunya tidak muat di tubuhku.
Tok tok tok
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Tiffany. Aku membuka pintu tersebut dan hanya menyembulkan kepalaku, karena aku hanya memakai jubah mandi saja.
"Kak Leon, ada apa?" tanyaku melihat Kak Leon yang berdiri di depan pintu.
Ia menyodorkan pakaian kepadaku, "Pakai ini, mungkin sedikit kebesaran. Tapi daripada kamu memakai pakaian Tiffany yang kekecilan, lebih baik pakai ini," ucapnya.
Aku mengambil pakaian itu dan menutup pintu kamar, tidak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Kak Leon sebelum menutup pintu.
Aku mencoba baju kaos dan celana pendek yang dipinjamkan oleh Kak Leon. Sedikit kebesaran, tapi nyaman.
"Ini baju siapa ya?" gumamku.
Tok tok tok
"Gimana Ami?" tanya Kak Leon di balik pintu. Ternyata ia masih menungguku di depan pintu.
Aku membuka pintu kamar dan ia melihatku yang sudah berganti dengan pakaian yang diberikan. Ia tersenyum lebar sambil memegang dagunya.
"Ternyata pas seperti perkiraanku, walaupun sedikit kebesaran," ucapnya.
"Memangnya ini punya siapa kak?" tanyaku heran karena Kak Leon tubuhnya besar tidak mungkin muat memakainya.
"Itu bajuku waktu aku masih SMA," ucapnya membuatku kaget. Kak Leon tertawa melihat wajahku.
"Kenapa? Gak percaya?" tanyanya. Aku mengangguk kuat.
"Memangnya Kak Leon dulu sekecil aku waktu SMA?" tanyaku. Kak Leon menjitak keningku dengan telunjuknya, "Kamu kira aku dari bayi langsung jadi sebesar ini?"
Aku tertawa garing menanggapi pertanyaan bodohku sendiri.
"Ami.." Kak Leon menatapku dengan tatapan lembut.
"Kenapa kak?" tanyaku.
"Ini untukmu." Kak Leon mengeluarkan sebuah kotak persegi berbahan bludru berwarna biru dari belakang punggungnya dan menyodorkan kotak tersebut di hadapanku.
Aku menatap kotak persegi itu dengan tatapan heran, "Untukku?" tanyaku menunjuk diriku sendiri. Kak Leon mengangguk.
__ADS_1
"Hari ini ulang tahun Tiffany, kak. Bukan aku," jawabku pada Kak Leon. Aku mengira Kak Leon habis kebentur apa gitu mungkin, sampai dia bisa salah kasih hadiah ke aku.
Kak Leon tersenyum simpul. Ia tidak menjawab dan mengambil tanganku dan meletakkan kotak persegi itu di atas tanganku. "Bukalah!" perintahnya padaku.
Aku membuka kotak itu perlahan. Aku terkejut melihat isi di dalam kotak itu dan menatap Kak Leon meminta jawaban darinya.
"Kamu suka gak?" Kak Leon meminta pendapatku.
Aku melihat kalung dengan liontin bertuliskan inisial namaku 'AL' dengan bertahtakan berlian kecil di atas inisial namaku. Model kalung ini sama dengan model kalung yang aku dan Kak Leon lihat di toko perhiasan beberapa hari yang lalu. Seharusnya Kak Leon membeli model kalung itu untuk Tiffany, bukan aku.
Waktu itu aku memang terus menatap model kalung ini, aku suka dengan modelnya yang simpel tapi elegan. Aku tak menyangka Kak Leon menyadari hal itu.
"Kenapa? Kamu gak suka?" tanya Kak Leon lagi karena tidak ada jawaban dariku.
Aku menggeleng kemudian mengangguk. Kak Leon bingung dengan jawaban gelengan dan anggukanku. Aku malah menjadi salah tingkah.
"Ah maaf kak. Maksudku aku suka dengan kalungnya, tetapi maaf aku gak bisa terima," ucapku meluruskan jawabanku.
"Kenapa? Aku sudah membelinya untukmu Ami. Kalau kamu gak mau menerimanya, buat apa coba inisial nama ini," balas Kak Leon memaksaku. "Sini aku pakaikan."
Kak Leon mengambil kalung dari dalam kotak persegi itu, dan berdiri di belakangku. Ia menyibakkan rambutku yang panjang ke samping dan memakaikan kalung itu di leherku.
Aku menunduk malu, rasanya posisiku dan Kak Leon saat ini sangat dekat hingga hembusan nafas Kak Leon berasa di telingaku. Setelah memakaikan kalung itu, Kak Leon masih tetap dalam posisinya tidak bergerak.
"Ami.. maaf.. aku..," ucap Kak Leon terbata-bata. Aku memalingkan wajahku.
Kak Leon berjalan maju dan aku berjalan mundur, hingga akhirnya punggungku menabrak dinding di belakangku. Aku ingin berjalan ke samping, tetapi Kak Leon dengan cepat mengurungku dengan kedua telapak tangannya di dinding kanan kiriku. Aku terjebak dan tidak berani menatap wajahnya.
"Ami.. maaf membuatmu kaget. Dengarkan aku dulu," ucapnya gugup. Aku menelan salivaku dan mencoba menatap matanya.
"Aku.. aku menyukaimu, Ami. Sudah sejak lama aku menyukaimu, Ami." Aku membulatkan mataku mendengar pengakuannya. Rasanya tak percaya mendengar orang yang selama ini aku sukai mengatakan bahwa ia juga menyukaiku. Aku merasa sedang bermimpi.
Aku seharusnya merasa senang mendengarnya tetapi entah kenapa sekarang yang terlintas di pikiranku adalah wajah Vincent.
Vincent yang menciumku. Vincent yang menyatakan perasaannya padaku. Suaranya dan senyumannya semua terngiang-ngiang di kepalaku.
Aku menggeleng kepalaku kuat, menghapus wajah Vincent di pikiranku.
"Ami?" panggil Leon menyadarkanku.
Kak Leon menungguku atas pernyataannya, tetapi rasanya lidahku kelu untuk menjawabnya. "Aku.."
Aku menarik nafasku panjang dan menghembuskannya pelan, "Kak Leon.. Aku akui aku juga menyukaimu tapi.."
__ADS_1
Kak Leon menghentikan ucapanku dengan meletakkan telunjuknya di bibirku, sepertinya ia tahu jawaban apa yang akan aku berikan. "Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir, tolong jangan menjawabnya sekarang," ucapnya setengah berbisik.
CKLEK!
Tiba-tiba pintu di sampingku terbuka lebar. Vincent melihat aku dan Leon dengan posisi kami yang begitu intim membuat siapapun melihatnya akan berpikiran kalau kami sedang bermesraan saat ini.
Vincent menatap kami dengan dingin, dari matanya tersirat kemarahan dan kebencian. Aku menatapnya dengan perasaan cemas bercampur takut. Vincent tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia mengepalkan tangannya kuat.
"Vin.." panggilku pelan.
Vincent tidak menghiraukan panggilanku dan berjalan pergi dari kamar Tiffany.
"VINNNN.." teriakku, aku segera beranjak dari tempatku ingin mengejarnya, tetapi Kak Leon menahan tanganku.
Aku menatap Kak Leon dan berucap, "Maaf kak. Rasanya aku tidak dapat membalas perasaanmu itu." Mataku berkaca-kaca ketika mengatakan itu. Aku merasa bersalah kepada Kak Leon.
Tangan Kak Leon yang menahanku perlahan mengendur. Aku segera melepaskan tangannya dan berlari keluar mengejar Vincent tanpa menoleh ke belakang.
Aku berlari mengejar Vincent yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Aku sudah tidak sempat untuk ikut masuk ke dalam mobilnya. Vincent sudah melajukan mobilnya dan dengan nekat aku menghadang mobilnya dengan tubuhku dan merentangkan kedua tanganku. Aku memejamkan mataku erat.
CKIIIIITTTT!!!
Vincent mengerem mobilnya yang hampir menabrak tubuhku. Aku membuka mataku dan menatapnya.
Vincent tidak turun dari mobil, ia hanya diam dan menatapku dingin. Dengan cepat, aku segera membuka pintu mobil yang belum terkunci dan duduk di kursi penumpang di sampingnya.
"TURUN!!" perintahnya padaku dengan dingin tanpa melihat ke arahku. Aku tidak menghiraukan ucapannya dan memasang seatbelt ke tubuhku.
Vincent mendengus kasar dan memukul setir mobilnya. Sebenarnya aku takut melihat wajah Vincent yang sangat marah saat ini, tetapi aku perlu menjelaskan kepadanya bahwa ia salah paham denganku.
Aku mulai menyadari perasaanku sebenarnya. Orang yang aku suka dan aku cinta adalah dia, Vincent Zhang!
Perasaanku terhadap Kak Leon hanya sebatas rasa suka dan kagum terhadap seorang idola. Aku baru menyadarinya saat Kak Leon menciumku dan menyatakan perasaannya padaku.
Rasa yang aku dapat berbeda ketika Vincent yang menciumku dan ketika ia menyatakan perasaannya padaku. Saat itu jantungku berdebar-debar ketika ia melakukannya, tetapi debaran itu tidak ada terhadap Kak Leon. Betapa bodohnya aku baru menyadari hal itu sekarang.
"Vin, dengarkan aku dulu. Oke?" ucapku pelan. Ia masih tidak menatap ke arahku.
Vincent tidak mempedulikanku, ia memasukkan gigi mobilnya dan menekan pedal gasnya kuat. Ia melajukan mobilnya kencang, tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara.
Aku hanya bisa diam saat ini sambil menatap jalan di depanku dan memegang seat belt dengan erat.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
To be continue...