Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 39


__ADS_3

Amira masih belum sadar dari komanya. Dia sedang berkelana di dalam mimpinya.


Di dalam mimpi Amira.


"Mmm.. di mana sih ini?"


"Kenapa gelap sekali?"


"Halooooo, ada orang tidak?"


"Halooooooo."


Tidak ada jawaban sama sekali. Suasana di sekitar Amira sangat gelap dan dingin. Amira hanya berjalan tanpa arah, hingga dia lelah berjalan lagi. Dia duduk entah di mana, karena tidak ada cahaya yang menerangi tempat itu.


"Ini di mana sebenarnya?"


"Kak Leoooonn," teriak Amira.


"Tiffanyyyyyy," teriak Amira lagi.


"Kalian di mana, hiks.. hiks.. di sini sangat gelap.. hiks.. hiks..." Amira mulai menangis sesengukan hingga akhirnya dia tertidur.


"Ami", panggil suara yang sangat dikenal Amira.


"Bangun, Ami. Lihat aku. Kalau kamu masih marah padaku, bangunlah dan marahlah padaku," ucap suara itu lagi.


"Ami, kalau kamu tidak bangun, aku akan menciummu sekarang,"


"Vincent?", Ami membuka matanya, dan mencari sumber suara itu. "Vincent? Vinceeeenntttt !!!" teriak Amira. Dia terus berjalan berusaha mencari sumber suara itu, tetapi nihil.


"Vincent, kamu di mana?" gumam Amira.


"Kamu jawab Vincent!! Kamu bilang akan menciumku, bukan?" teriak Amira kesal.


◇◇◇◇◇◇


Hari sudah menjelang dini hari, tetapi di luar masih sangat gelap. Cuaca saat itu juga dingin. Di ruangan rawat Amira saat ini hanya ada Vincent seorang.


Sebenarnya Leon dan Tiffany juga ingin menunggu hingga Amira sadar. Tetapi Leon ada jadwal operasi di pagi hari, mau tidak mau dia harus beristirahat agar operasi nanti berjalan lancar. Sedangkan Tiffany juga harus kembali membawa perlengkapan Amira selama di rumah sakit.


Vincent senang mereka berdua pergi, sehingga dia bebas melakukan apapun terhadap Amira. Dia tidak bermaksud melakukan hal tidak senonoh yang dipikirkan orang. Tetapi kalau ada Leon, mau menggenggam tangan Amira saja sudah dipelototin, rasanya tidak enak saja diawasin seperti itu.

__ADS_1


Luka di wajah Vincent juga sudah diobati oleh Leon, walaupun Vincent menolak, tetapi Leon bersikeras mengobatinya. Kakinya yang terkilir juga sudah diobati. Sebenarnya Vincent sudah tidak begitu marah dan membenci Leon, ia hanya gengsi untuk mengakuinya. Selain itu, Leon sekarang adalah ssaingan cintanya, dia tidak akan mengalah untuknya. Dia bertekad akan membuat Amira menyukainya.


Vincent mengecup tangan Amira yang digenggamnya, "Sadarlah Ami. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau kalau kamu segera sadar. Apa kamu mendengarkanku?"


Amira masih tidak bergeming dengan ucapannya, Vincent merasa hatinya pilu melihat orang yang disukainya terbaring di atas tempat tidur, tidak membalas ucapannya.


"Ami, aku perintahkan kamu untuk segera bangun! Apa kamu dengar?" ucap Vincent dengan suara sedikit serak.


"Bukankah kamu berjanji akan membuatkan makan malam untukku? Apa kamu lupa? Hutangmu juga belum terbayar. Kamu jangan mengingkari janjimu."


Vincent menghela nafas, matanya terasa berat hingga akhirnya tertidur di kursi samping tempat tidur Amira. Kepalanya tergeletak di atas tempat tidur dengan posisi tangan menggenggam tangan Amira.


°


°


°


°


°


°


Amira mencoba membuka matanya lagi, kali ini matanya perlahan-lahan sudah bisa menyesuaikan dengan cahaya sekitarnya.


"Ini di rumah sakit? "


"Kenapa aku bisa di sini?" batin Amira.


Amira mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, dia teringat kalau dia habis diserang oleh beberapa wanita dan kepalanya terbentur. Amira memegang kepalanya yang sakit karena benturan itu, sudah terbungkus rapi dengan perban di sekelilingnya.


"Siapa yang membawaku kemari? Apa kak Leon?"


Amira mencoba mengangkat tangannya yang tidak dipasang selang infus. Tangannya terasa berat, ada beban yang menimpanya. Dia melirik ke arah tangannya, dan sedikit menyipitkan matanya melihat pria yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya.


"*Kak Leon? "


"Ah, bukan. Itu Vincent*!"


Amira seakan tak percaya dengan penglihatannya, dia mengucek matanya dan melihat lagi.

__ADS_1


"Ternyata benar Vincent! Si mesum itu kenapa bisa kemari? Dan suara yang memanggilku di dalam mimpi tadi, itu benar Vincent?", batin Amira bertanya-tanya dan mencoba mengingat suara orang di dalam mimpinya.


"Dia sedang apa di sini? " Amira berpikir keras mengingat kejadian sebelumnya.


"Ah jangan-jangan dia marah padaku karena aku tidak datang untuk membuatkan makan malam untuknya?"


"Aduh gawat!", gumam Amira panik dan menggigit bibirnya.


Gumaman Amira membangunkan Vincent yang sedang tertidur. Amira dengan cepat menutup matanya, pura-pura masih belum sadar.


Vincent membuka matanya perlahan, mengucek matanya. Dia melihat ke wajah Amira yang masih tertidur, dan tersenyum lembut, "Selamat pagi, sayang", ucapnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Amira yang sebenarnya sudah sadar.


"Iiih manggil-manggil orang seenaknya aja, nyebelin!" batin Amira.


Vincent perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Amira, hembusan nafasnya terasa di kulit wajah Amira.


"Apa yang mau dilakukan si mesum ini? " batin Amira berteriak karena makin terasa wajah Vincent yang mendekati wajahnya. Dengan cepat, Amira membuka matanya dan menatap Vincent. Wajahnya dan Vincent sudah sangat dekat, kira-kira lima centi lagi.


Vincent tertegun menatap Amira yang sudah sadar, dia sedikit kaget, tetapi juga senang. Kemudian dia memeluk Amira erat ke dalam tubuhnya, Amira yang berada di dalam pelukannya hanya diam tak bergeming karena pelukan Vincent yang sangat erat. "Si mesum ini main peluk-peluk aja! " batin Amira geram.


"Akhirnya kamu sadar Ami," ucap Vincent senang masih dalam posisi memeluk Amira.


" Kenapa dia begitu senang? Seharusnya kan dia marah karena aku tidak ke tempatnya kemarin. Ah jangan-jangan ini hanya tipuan dia saja, agar dia bisa mengerjaiku habis-habisan," pikir Amira di dalam hati.


Vincent heran melihat Amira yang tidak menjawab atau berbicara sepatah kata pun padanya, dia melepaskan pelukannya. "Apa kamu masih merasakan sakit di kepala?" tanya Vincent khawatir.


" Lho, wajah si mesum ini kenapa sampai babak belur begini? Aku yang dianiaya, malah dia yang babak belur", batin Amira merasa heran dengan luka di wajah Vincent, tetapi dia tidak mau menanyakannya, karena saat ini Amira masih merasa heran dengan kehadiran Vincent yang berada di rumah sakit.


Belum lagi sikap Vincent yang menurutnya aneh, seharusnya dia marah terhadap Amira yang melanggar janjinya.


"Ah, aku punya ide, lebih baik aku mengetes dia apakah dia hanya berpura-pura saja", pikir Amira iseng.


Amira memegang kepalanya dengan tangan, berpura-pura merasakan sakit di kepalanya. "Aaah.. kepalaku.. sakit sekali," ucap Amira.


"Ami, kamu tidak apa-apa?" tanya Vincent yang panik dan memegang tangan Amira.


Amira menepisnya dan menatapnya tajam, "Kamu siapa?"


Vincent tertegun mendengarnya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2