Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 91


__ADS_3

Keesokannya berita mengenai Majesty Group yang melakukan pencurian data dan proyek beredar luas. Dalam sekejap mata, nama Majesty Group hancur. Adrian pun mendapatkan panggilan untuk menjalani pemeriksaan secara berkala, walaupun begitu ia tetap mendapatkan dukungan penuh dari Tang Corp. Di dunia bisnis, kekuasaan Tang Corp tidak kalah dari Royal Group, tetapi tidak pernah sekali pun mereka berselisih, kecuali saat ini.


Demi putri semata wayangnya, Marcus Tang mengirim pengacara terbaiknya untuk membantu Adrian menjalani proses pemeriksaan dan melalui jalan belakang ia melakukan penyuapan kepada beberapa ahli sidak dan memanipulasi bukti yang telah mereka dapatkan. Semua itu ia lakukan demi putrinya, Emmy Tang.


Adrian hanya mendekam di sel selama dua minggu setelah melakukan pemeriksaan dan dinyatakan tidak bersalah. Ia hanya kehilangan reputasi dan kepercayaan di dunia bisnis, tetapi baginya itu sudah membuatnya terpuruk begitu dalam.


Adrian terpaksa menutup perusahaannya dan kembali bekerja di bawah naugan Tang Corp. Itulah syarat yang diajukan oleh Marcus, tetapi tentu saja bukan hanya itu keinginan Marcus. Ia juga meminta Adrian untuk segera meminang putrinya, karena keinginan putrinya adalah menikah dengan Adrian.


"Adrian benar sudah dinyatakan tidak bersalah, Dad?" tanya Emmy kepada Marcus yang saat itu sedang duduk di sofa membaca koran hariannya.


Marcus hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang ia baca. Emmy duduk di samping ayahnya dan merangkul lengannya, "Thank you, Dad. I love you so much."


"Daddy rasa yang kamu sayang bukan daddy, tapi bocah busuk itu," goda Marcus.


"Dad, Adrian bukan bocah busuk, tapi dia adalah pangeran Emmy!" protes Emmy kepada ayahnya.


"Iya … iya … pangeran … Pangeran yang membuat masalah dan merugikan kita semua," balas Marcus lagi yang kesal putrinya membela pria lain daripada dirinya.


"Dad!" Emmy menyilangkan tangannya dan memanyunkan bibirnya. Marcus menghela nafasnya pelan melihat tingkah putrinya itu.


Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan putrinya dan Adrian sudah menyetujui permintaannya untuk segera menikah dengan putrinya. Ia tau Adrian sebenarnya ada pria yang baik, hanya terlalu ceroboh dan ambisius, sehingga mengalami hal seperti ini. Harapannya tidak banyak, ia hanya berharap Adrian dapat memperlakukan putrinya dengan baik dan mencintainya seperti ia memperlakukan putrinya.


"Aku mau pergi jemput Adrian sekarang," ucap Emmy beranjak dari tempat duduknya.


Marcus menggeleng-geleng kepalanya dan melanjutkan kegiatannya membaca koran.


°


°

__ADS_1


°


°


°


Apartemen Riverside.


Pagi-pagi sekali Amira sudah bangun dan sibuk di dapur. Tercium aroma kopi dan keju yang begitu kuat memenuhi seluruh ruangan, membuat orang yang menciumnya merasa lapar seketika.


Hari ini adalah hari libur dan bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan orangtua Vincent. Pria itu mengajak Amira ke mansion orangtuanya untuk menghadiri makan malam keluarga. Ini adalah pertama kalinya Vincent ingin memperkenalkan Amira secara resmi kepada kedua orang tuanya.


Amira sedikit gugup, tetapi ia berpikir tidak mungkin pergi dengan tangan kosong. Akhirnya gadis itu berencana membuatkan makanan kesukaan ibunya Vincent, kue tiramisu. Ia memutuskan membuat sendiri kue itu daripada membelinya agar ketulusannya terlihat dari kue yang ia buat.


Untungnya Amira pernah mengikuti kursus tata boga ketika liburan musim panas tahun lalu, ia tidak begitu kesulitan dalam melakukan pembuatan kue itu. Awalnya hasil pertamanya tidak begitu bagus dan ia mengulangnya lagi, alhasil kue keduanya lebih bagus dan lebih lembut dibandingkan yang pertama. Ia tinggal melakukan hiasan di atasnya saja.


Vincent yang baru membuka matanya pagi itu mencium aroma dari kue yang begitu menggoda hidungnya. Ia melihat ke samping tempat tidurnya dan tidak menemukan sosok kekasihnya. Sejak beberapa hari yang lalu, Vincent selalu tidur sambil memeluk kekasihnya itu. Walau begitu mereka tidak pernah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.



"Pagi Sayang …" ucap Vincent sambil mengecup pipi kekasihnya yang membuatnya kaget.


"Kamu udah bangun, beruang besarku?" tanya Amira tersentak dengan kecupan dan lingkaran di pinggangnya saat ini. Amira yang sedang menghias kue yang ia buat dengan bubuk kakao di atasnya, terpaksa menghentikan kegiatannya itu sebentar.


Vincent hanya berdeham, ia membenamkan wajahnya di tengkuk Amira. Ia mencium aroma tubuh gadis itu yang manis seperti kue yang ia buat saat ini. Ia seperti terbuai dan hanya diam memeluk gadis itu.


Vincent melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Amira menghadapnya, "Rasanya aku ingin memakanmu sekarang," ucap Vincent pelan.


"Ap …" Amira baru akan melayangkan protesnya, tetapi bibir Vincent sudah lebih dulu membungkamnya. Menciumnya dengan memburu hingga Amira yang tidak ada persiapan hanya bisa pasrah mengikuti gerakan bibirnya itu, hingga perlahan Amira mendorong tubuhnya untuk mencari udara di sekitarnya.

__ADS_1


"Rasanya sungguh manis," tutur Vincent sambil menjilati bibirnya sendiri dan mengusap bibirnya dengan ibu jarinya.


Wajah Amira merona dan memukul dada Vincent pelan, "Apaan sih, dasar gombal," balas Amira ketus.


Amira mengambil spuit yang berisi butter cream yang ia siapkan tadi dan melanjutkan kegiatan menghias kue yang sempat terhenti karena gangguan kecil dari kekasihnya.


Vincent memeluknya lagi, "Sayang …."


"Apa lagi sih, Vin … Kalau kamu begini terus, aku gak selesai-selesai nih. Tar gak keburu kita mau pergi, kan kamu mau ambil kado pesananmu nanti buat mama dan papamu," protes Amira karena Vincent begitu manja padanya hari ini.


"Aku jadi iri sama kue itu, kamu lebih memperhatikan dia daripada aku," protes Vincent tidak mau kalah. Amira tersenyum kecil mendengar ucapan pria itu.


Gadis itu meletakkan lagi spuit-nya dan berbalik menatap kekasihnya itu, "Kamu kenapa sih? Masa sama kue aja iri … Nanti kalau punya anak terus istrimu lebih memperhatikan anakmu, apa kamu juga akan cemburu?" goda Amira yang entah kenapa malah membahas hal di luar topik pembicaraan.


"Istriku? Maksudnya kamu?" balas Vincent tersenyum. Amira membelalakan matanya kaget dengan ucapan yang barusan ia lontarkan.


"Bu-bukan ... Siapa juga yang mau jadi istrimu …" protes Amira sedikit gugup.


"Beneran gak mau? Gak nyesal?" tanya Vincent menggoda kekasihnya itu lagi. Amira hanya diam, sebenarnya dirinya masih belum terpikir sampai ke jenjang pernikahan, tetapi ia juga tidak mau dan tidak rela kalau Vincent menikah dengan wanita lain.


Vincent melihat bibir kekasihnya yang cemberut, ia tersenyum kecil dan mengecupnya sekilas, "Wanita yang akan aku nikahi hanya kamu, Sayang …" hibur Vincent.


"Bagaimana kalau nanti malam aku bilang sama orangtuaku kalau kita menikah besok?" tanya Vincent iseng membuat Amira kaget.


"Apaan sih, kamu kira menikah segitu gampangnya?" balas Amira yang mulai kesal dengan kekasihnya itu, menganggap pernikahan seperti suatu permainan saja. Apalagi Vincent belum melamarnya secara resmi, ia tidak mau menyetujuinya begitu saja.


"Gampang kan, tinggal daftar aja ke kantor sipil," jawab Vincent santai.


"VINCENT!" teriak Amira yang sudah kesal.

__ADS_1


Vincent tertawa renyah mendengarkan protes kekasihnya itu, ia benar-benar menikmati keisengannya pagi ini. Sebenarnya ia serius ketika mengatakan bahwa ingin menikahi gadis itu, hanya saja ia perlu menunggu beberapa minggu lagi hingga kelulusan kekasihnya itu.


To be continue ….


__ADS_2