Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 31


__ADS_3

"AAAAAAAAAAAAAA ...!!!!"


"APA KAU SUDAH GILAAA?!"


"HENTIKAN VINCENT!!! AAAAAAAAA ...!!!!!"


Begitulah teriakan Amira sepanjang jalan di dalam mobil Vincent.


Vincent dengan sengaja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bukan hanya itu saja, dia juga menyalip mobil-mobil yang ada di depannya. Amira merasakan jantungnya berdebar sangat kencang, ia memegang seatbelt nya dengan erat dan memejamkan matanya.


Tidak berapa lama, sebuah mobil polisi mengejar mereka. Vincent melihat dari spion mobilnya, polisi itu memperingatinya untuk berhenti melalui pengeras suara, tetapi bukannya berhenti, Vincent malah menambah kecepatannya.


"KAU BENAR-BENAR SUDAH GILA!!!" teriak Amira merasa frustasi dan takut.


"AKU BELUM MAU MATIIIIII!!! TOLONG AKUUUU!!! YA TUHAN!! AKU BELUM MENIKAH, BELUM MERASAKAN MALAM PERTAMA!! AKU TIDAK MAU MATI BEGITU SAJAAAAA!!!" teriak Amira yang sudah ikut menggila dengan sikap Vincent saat ini. Vincent menyeringai mendengarkan teriakan Amira.


Vincent sedikit memperlambat kecepatan mobilnya, kemudian mengambil headsetnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, aku sedang di jalan Rosevelt. Tolong urus mobil polisi yang sedang mengejarku," ucap Vincent kepada orang itu dan mengakhiri pembicaraan.


Beberapa menit kemudian, Amira merasa heran, sudah tidak ada lagi mobil polisi yang mengejar mereka dan Vincent mulai memperlambat mobilnya.


Amira mendelik marah kepada Vincent, wajahnya masih pucat. Dia ingin mengeluarkan suaranya, tetapi bibirnya bergetar.


"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Amira setelah bisa menguasai dirinya.


"Membawamu untuk merasakan malam pertama," ucap Vincent menyeringai.


"APAAA?!"


"Turunkan Aku! Berhenti!"


"Aku bilang berhenti! Apa kamu tidak dengar yang aku ucapkan, Vincent?!!"


Amira berteriak frustasi mendengar Vincent mengatakan hal itu. Vincent hanya diam dan tidak memedulikan ucapan Amira.


"Kalau kamu tidak berhenti, aku akan loncat!!!" ancam Amira padanya.


CKKIIIIIIIITTT!!!!


Rem mobil Vincent yang berhenti tiba-tiba berdecit membuat telinga Amira sakit.


Amira menghela nafas panjang. Kemudian dia menatap Vincent dengan tatapan marah.


"Kalau kamu ingin mati, jangan ajak-ajak aku! Mati saja sendiri!" ucap Amira kesal. Kemudian dia ingin membuka pintu mobil Vincent, tetapi tidak bisa.


"Buka pintunya, Vincent!" teriak Amira sambil memegang handle pintu.


Vincent tidak menggubris amarah dan teriakan Amira. Dia menarik tangan Amira dan membuat Amira berhadapan dengannya.


Amira kaget atas tindakan Vincent, "Lepaskan! Lepaskan tanganku Vincent!", teriak Amira padanya sambil mengayunkan tangannya.

__ADS_1


Vincent mencengkram tangan Amira, dia tersenyum menyeringai melihat Amira yang semakin kesal padanya.


"Lepaskan! Kalau tidak, aku akan ... mmm ... mmm ...."


Amira membelalakan matanya kaget, Vincent menarik tengkuk leher Amira dan mencium bibirnya.


Amira memberontak dan memukul dada Vincent, tetapi apa daya tenaga Vincent sangat besar. Vincent terus membungkam bibir Amira dengan bibirnya.


Amira yang awalnya memberontak, perlahan mulai mengikuti permainan bibir Vincent. Vincent tersenyum menyadari Amira sudah melepaskan pertahanannya.


Kemudian Vincent mengigit sedikit bibir Amira, sehingga Amira membuka mulutnya, dan Vincent tidak ingin melepaskan kesempatan itu. Lidahnya menelusuri di dalam mulut Amira.


Amira hanya mengerjap-ngerjapkan matanya merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya. Setelah beberapa saat, Vincent menjauhkan bibirnya dan meletakkan keningnya pada kening Amira. Mereka mengambil nafas dalam dan menghembuskannya.


"Apa kamu menikmatinya?" tanya Vincent menyeringai dan membuat Amira mengigit bibir bawahnya.


Wajah Amira merah merona, dia merasa marah dan malu.


'Kenapa aku bisa menikmati ciuman dengan si mesum ini? Aku pasti sudah gila?!!' batin Amira memaki dirinya sendiri.


Amira memalingkan wajahnya. Vincent menarik dagu Amira dan membuat Amira menatapnya.


"Kenapa? Kamu tidak mau mengakuinya?"


"Sebenarnya kamu sudah menyukaiku, bukan?"


Vincent menyudutkan Amira dengan pertanyaannya. Amira mengerutkan keningnya dan tersenyum sinis.


"Hah! Dasar narsis! Aku tidak menyukai orang mesum sepertimu. Selamanya tidak akan pernah!" ucap Amira tegas. Padahal di dalam hati kecilnya sedikit berdenyut mengatakan hal itu, tetapi Amira mengabaikannya.


"Lepaskan aku!" Amira mendorong tangan Vincent dari dagunya, dan memalingkan wajahnya.


"Turun!" perintah Vincent pada Amira setelah dia membuka kunci mobilnya, sehingga Amira dapat segera turun dari mobil itu.


Vincent segera melajukan mobilnya ke jalan dan meninggalkan Amira yang berdiri menatap kepergiannya.


Amira menatap sekelilingnya, dia melihat ke sisi kiri dan kanannya hanyalah bukit. Jalanan itu cukup sepi, jarang ada kendaraan yang lewat.


"Ini di mana? Dasar bodoh kamu, Ami!"


Amira memukul kepalanya sendiri dengan pelan, "Seharusnya tadi aku tidak memintanya untuk berhenti di sini! Haish!"


"Ah! Lebih baik aku menghubungi Tiffany untuk meminta bantuan kak Leon!" ucap Amira yang kemudian merogoh saku celana jeansnya.


"Lho? Ponselku ke mana? Seingatku tadi aku memasukkannya ke dalam saku."


Amira memegang saku celana depan dan belakangnya dan tidak menemukan ponselnya. Kemudian dia melepaskan tas ranselnya dan membongkar isinya di tepi jalan, tetapi tidak menemukan ponselnya itu.


"Apa jangan-jangan jatuh di mobil si mesum itu?"


"Ini semua gara-gara si mesum itu! BUAT APA DIA KE SINI, HAH!!!"

__ADS_1


"AAAARGGGH ...! TEMPAT APAAN INIIIII?!!" teriak Amira menumpahkan kekesalannya.


Setelah puas berteriak Amira segera membereskan barangnya dan memasukkannya ke dalam ranselnya lagi.


Amira hanya bisa pasrah, menatap jalan yang tiada berujung, dia hanya bisa berharap ada mobil yang lewat dan memberikan tumpangan untuknya. Tetapi harapan itu sangatlah tipis.


Dia terus berjalan menyusuri jalan itu dan beruntungnya dia hari ini tidak memakai high heels! Kalau tidak, mungkin tumit kakinya sudah lecet saat ini, sekarang saja telapak kakinya sudah terasa sakit padahal dia baru berjalan sekitar dua puluh menit. Belum lagi perutnya yang sudah minta diisi.


°


°


°


°


°


Sementara itu Vincent sudah hampir sampai ke Hotel Martinez. Pada saat di lampu merah, dia melirik ke tempat duduk penumpang, dan melihat ponsel Amira yang terjatuh di bawah tempat duduk itu dan mengambilnya. Vincent masih merasa kesal kepada Amira dan berniat untuk memberinya sedikit pelajaran, tetapi dia tidak menyangka kalau ponsel gadis itu terjatuh di mobilnya.


"Dasar gadis bodoh!!" umpatnya sambil memukul kemudi mobilnya. Dia melempar ponselnya ke atas dash board mobil. Kemudian memutar mobilnya dan berbelok ke arah berlawanan membentuk U-turn kembali ke jalan yang dia lewati tadi.


°


°


°


°


Amira berjalan perlahan, rasanya kakinya sudah tidak kuat lagi. Perutnya juga sudah keroncongan. Akhirnya dia berjongkok di tempatnya berdiri dan menangis tersedu-sedu.


"HUAAAAAAAA ...."


"KAKEEEKKK ...."


"IBUUUUUU ... HUAAAAA ...."


"KAK DANIIEELL ... KALIAN DIMANA?? KENAPA TIDAK ADA MOBIL YANG LEWAT?? HUAAAA ...."


"TIFFANY ... KAK LEOOONN ... HIKS ... HIKS ...."


Amira menangis dan berteriak nama-nama orang yang dia sayangi, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang datang menolongnya.


"Aku musti jalan berapa lama lagi, kakiku sakit sekali. Hiks ... hiks ... Aku juga lapaaar ...."


Amira mengelus perutnya, dan berteriak, "VINCEEEEEEEENT!!!!"


Karena lelah berteriak dan lapar, Amira akhirnya hanya bisa menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.


Tidak jauh dari tempat Amira berdiri, sebuah mobil Lamborghini gold metalic sudah berhenti cukup lama dan si pemiliknya sudah memperhatikan Amira sejak tadi. Vincent tersenyum melihat Amira yang memanggil namanya dan melajukan mobilnya menghampiri Amira.

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


*To be continu*e ....


__ADS_2