Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 125


__ADS_3

Alunan musik klasik terdengar merdu di setiap sudut ballroom hotel yang sudah dihiasi dengan berbagai dekorasi yang cantik. Di depan pintu utama ruangan sudah terpasang wedding gate yang dihiasi dengan bunga gantung. Tersedia juga panggung yang dihiasi dengan bunga-bunga segar berwarna putih dan kursi pelaminan untuk kedua tokoh utama hari ini. Jalanan menuju area pelaminan pun telah dihiasi dengan tiang-tiang berwarna emas yang berhiaskan bunga berwarna putih dan dedaunan hijau untuk menambah kesan natural. Di tengah ballroom itu pun sudah tersedia area dansa untuk kedua mempelai yang telah didekorasi dengan begitu cantik dan elegan.


Suara riuh rendah pun terdengar dari setiap tamu yang menghadari pesta pernikahan ketika kedua mempelai memasuki ruangan itu. Mempelai wanita mengaitkan lengannya pada lengan mempelai pria. Mereka berjalan beriringan menuju pelaminan. Sesekali mereka melambai ke arah para tamu yang hadir dan melemparkan senyuman kebahagiaan.


"Selamat ya, Leon."


"Selamat Eva. Semoga langgeng."


Berbagai ucapan dan restu diberikan kepada kedua mempelai, Leon Kim dan Evangeline Mo. Ya, hari ini adalah hari pernikahan mereka berdua.


Sejak tiga bulan yang lalu, mereka sudah mulai menjalin hubungan. Tepatnya ketika Vincent meminta bantuan kepada Leon untuk mengecek kebenaran DNA Elaine. Perlahan namun pasti hubungan mereka semakin dekat. Apalagi Elaine juga menyukai Leon, Eva pun mulai membuka hati untuk menerima pria itu. Tidak ingin terlalu lama menjalin hubungan, mereka pun memutuskan untuk menikah. Orang tua Eva pun mendesak mereka, apalagi mengetahui Eva telah memiliki putri yang sudah cukup besar. Mereka ingin Eva memberikan keluarga seutuhnya untuk cucu mereka.


Pesta pernikahan berlangsung cukup meriah, dihadiri beberapa selebritis papan atas dan desainer terkenal. Selain itu juga, beberapa pengusaha dan rekan perusahaan dari kedua orang tua mereka pun turut menghadiri acara itu.


Seorang gadis cantik turun dari mobil Ferrari merahnya, namun wajah gadis cantik itu terlihat kesal. Ia pun berjalan menuju ke dalam hotel yang sedang mengadakan resepsi pernikahan Leon dan Eva.


Gadis cantik itu memakai long dress berwarna putih dengan aksen turtle neck di kerahnya dengan lengan panjang. Kecantikannya tetap terpancar walau ia tidak memakai pakaian yang terbuka. Ia melenggang masuk ke dalam ballroom dan menghampiri kedua mempelai.



(Sumber gambar : google)


Ia pun mengembangkan senyumannya dan memberikan selamat kepada mereka berdua.


"Selamat ya, Kak Leon, Kak Eva. Semoga langgeng sampai kakek nenek," ucapnya tulus.


"Terima kasih, Ami," balas Leon membalas jabatan tangan Ami.


"Terima kasih ya, Ami. By the way, kamu sendirian?" tanya Eva karena melirik ke arah belakang Amira dan tidak menemukan sosok pria yang biasa selalu menemani gadis itu.


Amira memanyunkan bibirnya, kemudian tersenyum masam. "Iya. Vincent ... katanya lagi sibuk," ucap Amira sebal.

__ADS_1


Leon mengatupkan bibirnya menahan tawa. Eva meliriknya dan menyenggolnya pelan.


Amira menautkan alisnya dan menatap mereka dengan curiga. "Apa ada yang kalian sembunyikan?"


Leon berdeham. "Tidak. Mungkin dia memang lagi sibuk, Ami. Baginya pekerjaannya lebih penting dibandingkan menghadiri pernikahanku. Kamu kan tahu sendiri sikapnya sama aku," kilah Leon.


"Hm … baiklah. Aku mau cari Tiffany dulu," balas Amira dan meninggalkan panggung pelaminan.


Gadis itu melirik ke kiri dan kanan mencari sosok sahabatnya dan akhirnya menemukan gadis itu sedang berdiri sendiri di sudut ruangan sambil menggoyangkan minuman di tangannya.


"Tif, ngapain sendirian di sini?"


Amira menghampiri sahabatnya itu dan berdiri di sampingnya, menyenderkan tubuhnya pada dinding di belakangnya.


"Lucas ke mana?" tanyanya lagi karena sahabatnya hanya diam.


"Biasa, kerja," jawabnya datar dengan muka merengut masam.


Amira hanya manggut-manggut dan paham dengan keadaan Tiffany, soalnya Vincent juga tidak menemaninya, malah sibuk dengan pekerjaannya. Tentu saja Lucas harus menemani atasannya itu.


Amira hanya diam dengan pertanyaan itu. Kejadian yang terjadi antara Vincent dengan Anna di kantor Vincent waktu itu masih saja membayangi Amira. Gadis itu sebenarnya sudah memaafkan Vincent, karena dia sudah tahu bahwa Vincent sengaja melakukan hal itu. Lucas sudah menceritakan kepadanya, namun gadis itu masih belum terima dirinya dibohongi.


Sejak ia sadar dari koma, Vincent selalu setia menemaninya dan menjaganya. Pria itu selalu menyempatkan waktunya untuk menemaninya dalam proses penyembuhan. Vincent juga selalu membawakan bunga tulip putih untuknya setiap hari. Gadis itu tahu bahwa pria itu sudah sangat menyesali perbuatannya. Namun bukan itu yang Amira inginkan. Gadis itu tidak ingin Vincent mencintainya karena merasa bersalah, tetapi ia ingin pria itu mencintainya secara tulus.


"Ditanyain malah melamun," gerutu Tiffany sewot.


Amira hanya tersenyum lebar menanggapi gerutuan sahabatnya itu.


"Kamu kapan nikah sama Kak Lucas?" tanya Amira mengalihkan pembicaraan.


"Rencananya sih awal bulan depan, tetapi kami cuma ngadain pesta sederhana saja. Kamu datang ya. Awas kalau nggak!" jawab Tiffany sambil melayangkan ancamannya.

__ADS_1


"Iya, iya. Aku pasti datang kok. Aku jadi bridesmaid-mu ya, oke?"


"Oh, no, no, no …." Tiffany mengacungkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


"Kenapa? Kok gitu sih?" protes Amira.


"Aku bisa dibunuh sama Kak Vincent jadiin kamu bridesmaid. Kamu tinggal duduk diam saja, datang jadi tamu sama Kak Vincent, oke?" jelas Tiffany sambil menepuk pundak Amira.


Amira memanyunkan bibirnya sebal. "Dia gak bakal marah sama kamu. Buktinya aja sekarang, mana ada dia datang ke sini nemenin aku. Hari ini seharian dia sibuk terus, cuma telepon kabarin kalau dia gak bisa datang ke acara ini," celoteh Amira mengenai kekesalannya hari ini. Tiffany hanya tersenyum kecil menanggapi celotehan sahabatnya itu.


Tidak beberapa lama, alunan musik berganti lebih lembut beberapa lampu dipadamkan. Acara sesi dansa pun dimulai. Kedua mempelai pengantin menuju ke tengah ruangan dan melakukan dansa pertama, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pasangan yang turut memeriahkan pesta dansa itu.


Tiffany dan Amira hanya bisa diam di sudut ruangan melihat pasangan yang sedang berdansa dengan mesra. Seorang pria datang menghampiri mereka berdua dan menawarkan Amira untuk berdansa dengannya, namun Tiffany dengan cepat menarik tangan pria itu ke lantai dansa, meninggalkan Amira sendiri di sudut ruangan itu.


Amira menghentakkan kakinya sebal dan melipat kedua tangannya. Ia tidak menyadari kehadiran seorang pria di sampingnya, hingga suara pria itu mengalihkan perhatiannya.


"Sendirian? Mau berdansa denganku, Nona?"


Amira menoleh ke samping dan membulatkan matanya, kemudian ia kembali memalingkan wajahnya ke depan.



(Sumber gambar : Google)


"Kenapa? Masih marah sama aku, Sayang?" tanya pria itu, yang tidak lain adalah kekasih Amira, Vincent Zhang.


"Bukannya kamu sibuk?" sindir Amira cemberut.


Vincent mendekati Amira dan memeluk pinggang gadis itu dari belakang. Ia menyenderkan dagunya di pundak sebelah kanan gadis itu. "Maafkan aku. Jangan marah, oke?" bisiknya di telinga Amira.


Amira masih diam dan mengabaikan permintaan maaf Vincent.

__ADS_1


"Aku punya kejutan untukmu," bisik Vincent lagi di telinga gadis itu. Ia pun melepaskan pelukannya dan menarik tangan gadis itu agar mengikuti langkahnya. Mereka berjalan keluar dari ballroom itu dan menuju lift.


To be continue ....


__ADS_2