Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 35


__ADS_3

Amira dan Leon sekarang sedang sibuk mengelilingi Light Departemen Store, mereka sedang mencari hadiah ulang tahun untuk Tiffany.


"Aku bingung nih Kak. Mau beli yang mana ya?" tanya Amira pada Leon sambil melihat-lihat berbagai jenis parfum yang ada di etalase.


"Yang mana aja pasti Tiffany suka, dia kan gila koleksi semua parfum," jawab Leon.


"Iya sih, tapi aku tidak tahu dia cocok apa nggak dengan aromanya."


Amira menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengambil satu sampel contoh parfum dan menciumnya.


"Yang ini bagaimana Kak? Wanginya manis banget lho," ucap Amira sambil menyodorkan sampel itu pada Leon.


Leon memegang pergelangan tangan Amira dan sedikit menundukkan kepalanya dan mencium aroma sampel parfum itu. Amira sedikit tersentak kaget karena sikap Leon yang tidak seperti biasanya.


'Kak Leon tumben berinisiatif lebih dulu mendekatiku seperti ini, dan ini pertama kalinya dia yang duluan memegang tanganku.'


"Mmm ... boleh juga wanginya, cocok dengan Tiffany," jawab Leon mengagetkan Amira yang sedang melamun.


"Ah ... begitu ... Ba ... baiklah, aku ambil yang ini aja," ucap Amira gugup dan menyodorkan sampel parfum kepada petugas toko, memintanya untuk membungkus parfumnya dengan cantik.


"Kak Leon, sudah tau mau beli apa untuk Tiffany?" tanya Amira yang sudah melakukan pembayaran ke kasir dan membawa paper bag yang berisi hadiahnya. Leon mengambil paper bag itu di tangannya.


"Masih belum, apa aku belikan kalung saja?" tanya Leon.


"Boleh juga Kak. Di sana ada toko perhiasan, aku dengar modelnya banyak yang bagus-bagus," ucap Amira menunjuk toko perhiasan yang berada di sudut kanannya.


"Baiklah, ayo kita ke sana," ucap Leon sambil menarik tangan Amira.


Amira tertegun menatap tangannya yang berada di genggaman Leon. Leon menyadari hal itu dan refleks dia melepaskannya.


"Ah, maaf," ucapnya sambil berjalan keluar menuju toko perhiasan yang ditunjuk Amira tadi. Amira segera mengikuti langkah Leon dan menuju ke toko itu.


Pelayan toko menghampiri mereka, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pelayan itu kepada Leon.


"Mm ... Saya ingin mencari kalung," jawab Leon.


"Bisa perlihatkan pada saya model terbaru di toko ini?"


Pelayan itu mengeluarkan beberapa model di hadapan Leon dan Amira dan menunjuk salah satu kalung yang memiliki liontin berbentuk nama, "Ini salah satu motif kalung yang sedang trend saat ini, Anda dapat membuat inisal nama kekasih Anda di liontinnya, Tuan," ucap pelayan itu sambil menunjuk kata 'kekasih ' pada Amira.


"Ah, Anda salah paham. Saya bukan kekasihnya dan dia ingin mencari hadiah untuk adiknya", kilah Amira cepat karena tidak ingin pelayan tersebut salah paham.


"Oh maafkan saya, saya kira Anda pasangan kekasih. Kalung ini juga bisa Anda hadiahkan untuk adik Anda, Tuan. Tinggal tulis inisial atau nama panggilannya dan kita akan melakukan proses pembuatan sekitar 1 atau 2 hari," jelas pelayan toko tersebut.

__ADS_1


"Menurutmu bagaimana, Amira?"


Leon meminta saran pada Amira. "Boleh juga, kak. Motifnya imut dan unik, aku juga suka," ucap Amira.


"Kamu juga mau?" tanya Leon.


"Ah, tidak Kak. Aku hanya memberikan pendapatku saja," ucap Amira malu.


"Baiklah, yang ini saja," ucap Leon pada pelayan itu.


Pelayan toko itu menyodorkan secarik kertas dan pulpen kepada Leon untuk menuliskan inisial nama pada liontin kalung yang dipesan.


"Kak Leon, aku ke toilet dulu ya," pamit Amira pada Leon.


"Baiklah, aku tunggu di sini ya," balas Leon.


Amira mengangguk dan berjalan ke arah toilet. Leon menuliskan dua buah nama di kertas tersebut, dia berencana untuk memesan dua buah kalung, tanpa sepengetahuan Amira.


Ketika masuk ke dalam toilet, Amira bertabrakan dengan seorang wanita yang akan keluar, sehingga membuat wanita itu jatuh terduduk di lantai.


"Ah, maafkan aku," ucap Amira yang ingin membantu wanita itu berdiri.


"Jangan sentuh aku!" ucap wanita itu tajam dan menepis tangan Amira.


Ya, wanita itu adalah Anna Lee. Dia kebetulan sedang melakukan syuting di dekat departemen store itu dan berbelanja di sana setelah selesai syuting. Anna menatap sinis kepada Amira.


'Huh! Kebetulan sekali bertemu dengan wanita rubah ini di sini! Lihat saja aku akan membuatmu malu dan menderita!' batin Anna.


Anna mendengar langkah kaki dan suara beberapa orang yang akan masuk ke dalam toilet dan dia memulai aktingnya!


Anna tiba-tiba saja menangis membuat Amira heran dan panik, "Kamu kalau tidak suka padaku, bilang saja, tidak perlu seperti ini," ucap Anna dengan wajah polosnya pada Amira. Anna memegang pipinya dengan tangannya, seakan-akan Amira telah menamparnya.


"Ah, itu bukannya Anna Lee," ucap salah satu wanita berambut pendek dan bertubuh kurus.


"Iya, benar sepertinya dia sedang ditindas," timpal wanita yang berambut ikal.


"Wanita itu bukannya wanita yang lagi hot di sosmed? Dia tunangan Vincent bukan?" tukas wanita berambut pendek itu.


"A ... apa maksudmu? Kenapa ..." Amira ingin membantu Anna berdiri, tetapi ditepis kembali oleh Anna.


"Aku tau kamu benci padaku, karena Vincent tidak bisa melupakanku, tapi itu bukan salahku. Aku dan Vincent dulu saling mencintai, tapi sekarang kami hanya sebatas teman. Aku juga tidak tau kalau Vincent masih mencintaiku atau tidak. Tetapi sebagai teman, tidak ada salahnya kan kalau dia mengkhawatirkanku," sahut Anna terus berbicara tidak memberikan Amira kesempatan untuk menjelaskan. Anna menangis tersedu-sedu. Amira melongo mendengarkan ucapan Anna yang menfitnahnya saat ini.


"Wah Anna Lee ternyata mantan Vincent? Sekarang tunangan menindas mantan ceritanya," ujar wanita berambut ikal lagi.

__ADS_1


"Ayo, kita bantu Anna. Ini tidak bisa dibiarkan," timpal wanita yang bertubuh gemuk.


Para wanita itu menghampiri Anna dan Amira. Kemudian wanita berambut pendek membantu Anna berdiri, dan wanita yang lain menarik Amira ke ujung ruangan toilet.


"Apa-apaan kalian?" teriak Amira yang tangan dan tubuhnya ditarik dan dipaksa mengikuti mereka berdua.


"Kamu berani-beraninya mengganggu Anna. Apa kamu tidak puas sudah memiliki Vincent?" ucap wanita yang berambut ikal.


"Sejak aku membaca beritamu di sosmed, aku sudah tau kamu bukanlah wanita baik-baik. Vincent ternyata tertipu dengan wajah polosmu itu," sahut wanita beramnut ikal itu lagi.


Tubuh Amira didorong ke dinding, Amira meringis.


"Aku rasa kalian salah paham," ucap Amira ingin mencoba menjelaskan.


"Kami sudah melihatnya tadi, kamu tidak usah berkelit," ucap wanita berambut ikal itu sinis.


"Ayo kita beri dia sedikit pelajaran!" ajak wanita yang bertubuh gemuk sambil mengambil satu ember air yang berisi air kotor bekas mengepel lantai.


Amira ingin melawan, tetapi kedua tangannya dipegang erat oleh kedua wanita yang lain. Wanita bertubuh gemuk itu mengangkat ember tersebut di atas kepala Amira, sehingga air kotor tersebut mengguyur kepala, wajah dan tubuh Amira hingga basah kuyup dan bau.


Amira memejamkan matanya erat dan menggoyangkan tangannya berusaha melawan, tetapi tenaganya tidak cukup untuk melawan kedua orang yang menahannya. Tubuh Amira didorong sehingga kepalanya terbentur siku meja wastafel yang terbuat dari keramik.


Anna yang berdiri di sisi lain hanya tersenyum senang, tujuannya tercapai. Orang-orang lebih percaya kepadanya. Di mata publik, dia adalah seorang wanita berwajah polos, lemah, dan baik hati. Anna memanfaatkan hal itu sekarang.


"Ini adalah sedikit pelajaran untukmu, agar di kemudian hari jangan jadi orang yang seenaknya menindas yang lemah!" tukas wanita yang bertubuh gemuk itu, yang tidak menyadari bahwa mereka sekarang adalah orang-orang yang menindas Amira, seorang gadis yang tak berdaya.


Ketiga wanita itu keluar dan membantu Anna berjalan, karena Anna berpura-pura sakit di pergelangan kakinya.


Amira yang basah kuyup sekujur tubuhnya berusaha untuk berdiri dari tempatnya terjatuh. Tetapi kepalanya terasa sakit, dia memegang pelipisnya dan meringis. Pelipisnya ternyata mengeluarkan darah segar!


Kepalanya terasa pusing dan pandangannya perlahan memudar. Dia berusaha untuk memfokuskan pandangannya dan merogoh tasnya mencari ponselnya.


Amira menyadari bahwa ponselnya tertinggal di kamarnya, karena ingin mengerjai Vincent tadi. Ia merasa menyesal sekarang karena tadi berpikiran jahat. Ia memegang pelipisnya menahan sakit.


'Benar-benar senjata makan tuan!' sesal Amira.


Amira mencoba sekali lagi untuk berdiri dan menyeret tubuhnya untuk berjalan. Tetapi baru beberapa langkah, badannya tidak sanggup sehingga dirinya jatuh kembali ke lantai. Pandangannya kali ini benar-benar memudar, nafasnya juga terengah-engah.


"Kak ... Kak ... Leon," ucapnya pelan dan melemah.


"Vin ... Vincent ...," ucapnya lagi sebelum menutup matanya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2