Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 48


__ADS_3

Sesampainya di rumah kediaman Keluarga Kim, Vincent memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk, kemudian turun dan membukakan pintu mobil penumpang untuk Amira.


Vincent tersenyum pada Amira, tetapi Amira menunjukkan wajah sebal padanya. Amira turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam tanpa menunggunya. Vincent hanya bisa menghela nafas pelan.


Di dalam ruang tengah, para pelayan keluarga Kim hilir mudik. Semua sibuk melayani para tamu. Acara pesta dilangsungkan di halaman belakang rumah keluaga Kim.


Di halaman belakang rumah Keluarga Kim sudah dihiasi dengan begitu cantik, dengan dekorasi acara pesta ulang tahun menambah meriah tempat itu.


Halaman belakang tersebut sangat luas, jadi cocok sekali untuk menyelenggarakan pesta kecil-kecilan seperti ini. Walaupun pesta kecil, tetapi tamu undangannya termasuk lumayan banyak. Kalau dihitung-hitung ada sekitar lima puluhan orang.


Di sisi utara halaman berdiri beberapa stand makanan dan minuman yang terlihat sangat lezat. Di sisi selatan halaman dipasang panggung kecil untuk acara. Dan di tengah-tengah halaman itu terdapat kolam renang yang cukup besar memisahkan sisi utara dan selatan halaman itu.


Selain itu terdapat beberapa meja dan kursi untuk para tamu yang ingin duduk bersantai di pinggir kanan dan kiri kolam renang. Selain itu juga terdapat taman kecil di sisi utara halaman itu. Di sana juga terdapat beberapa ayunan kecil dan di sekelilingnya dihiasi beberapa tanaman hias yang sangat cantik.


Amira celingak-celinguk mencari sosok sahabatnya itu. Tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang oleh seseorang. Amira menoleh.


"Kenapa ninggalin aku?" tanya Vincent kepada Amira yang masih menatapnya sebal.


"Kamu masih marah?" tanya Vincent lagi. Amira tidak menjawabnya.


"Amiiiii," teriak Tiffany dari belakang Amira. Amira menoleh dan tersenyum lebar.


Amira berjalan mendekati Tiffany dan meninggalkan Vincent sendirian.


"Happy birthday, Tif," ucap Amira memeluk sahabatnya itu dan dibalas pelukan juga oleh Tiffany.


"Ini kado kecil untukmu," Amira menyodorkan sebuah paperbag kecil di tangannya. Tiffany menerimanya dengan senang hati, "Thank you, Amiku sayang."


"Akhirnya kamu datang juga. Aku pikir kamu dibawa kabur sama Kak Vincent," ucap Tiffany melirik ke arah Vincent yang mendekati mereka.


Vincent menyodorkan tangannya dan mengucapkan, "Happy birthday."


"Terima kasih, Kak Vincent," Tiffany membalas jabatan tangannya Vincent.


"Kamu gak bawa kado buat yang ulang tahun?" sindir Amira.


"Ini sudah kubawakan," balas Vincent sambil memegang pundak Amira. Tiffany dan Amira melongo.


"Apa maksudmu?" tanya Amira sinis dan menepis tangan Vincent di pundaknya.


Vincent tersenyum lebar, "Sebenarnya aku tidak mau membawanya kemari. Dengan kehadiran Amira dan diriku tentunya sudah merupakan kado terbesar buatmu, bukan?" jawab Vincent santai.


"Dasar narsis!" sindir Amira lagi. Tiffany melongo mendengar jawaban Vincent tetapi dia tertawa garing juga mendengarnya.


"Ayo kita ke sana saja, Tif," ajak Amira kepada Tiffany dan merangkul lengan Tiffany agar menjauh dari Vincent. Mereka duduk di kursi pinggir kolam renang berseberangan dengan tempat Vincent berdiri.

__ADS_1


"Kamu kenapa dengan Kak Vincent? Kalian lagi musuhan? Eh tapi memang dari dulu musuhan sih ya," ucap Tiffany. Amira tidak menjawab hanya memanyunkan bibirnya.


"Tapi... dilihat-lihat kalian pakai stelan couple ya?" tanya Tiffany sedikit ragu sambil melihat Amira dan Vincent bergantian. Amira melihat dirinya sendiri dan Vincent yang berdiri di sebrang kolam. Ia baru menyadari bahwa yang diucapkan Tiffany benar. Gaun yang dipakainya dengan stelan jas yang dipakai Vincent memiliki warna yang sama.


"Aku dijebak, aaarrgh!!!" Amira kesal dan menatap tajam ke arah Vincent. Vincent hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Ah.. ternyata benar. Pantas saja aku merasa pernah melihatnya. Gaunmu ini rancangan oleh designer legendaris itu!" ucap Tiffany histeris mengagetkan Amira.


"Astaga! Aku tidak percaya bisa melihatnya langsung dan memegangnya sekarang," ucap Tiffany lagi sambil mengelus-elus gaun Amira dengan fanatik.


"Designer siapa, Tif? Apa... apa maksudmu?" tanya Amira merasa heran.


"Biar aku jelaskan. Kamu tau Evangelin Mo?" tanya Tiffany. Amira menggeleng.


Tiffany menghela nafas. "Kamu hidup di dunia belahan mana, Ami? Sampai tidak tau Evangelin Mo?" tanya Tiffany tidak percaya.


Amira memutar bola matanya sebal dan memanyunkan bibirnya lagi. "Maaf, Ami. Baiklah aku jelaskan. Evangelin Mo itu salah satu designer legendaris dunia. Desainnya sudah terkenal di seluruh dunia. Tangannya itu terkenal sangat terampil dalam membuat beragam desain pakaian. Ia juga memiliki ciri khas unik, setiap desainnya pasti ada lambang bunga peony," terang Tiffany panjang lebar.


Amira mendengarkan penjelasannya dengan seksama. "Aku pernah melihat gaunmu ini di sebuah majalah fashion. Nah ini kamu lihat di sini," tunjuk Tiffany ke arah gaun Amira. Terlihat di sana jahitan payet berbentuk bunga peony. Kalau tidak melihatnya dengan seksama, mungkin akan terlewat sebagai motif acak.


"Kamu sungguh beruntung, Ami. Yang aku dengar, Evangelin Mo sama sekali tidak mau membuatkan desain baju ke sembarang orang lho. Bahkan putri pejabat sekalipun harus pesan jauh-jauh hari dan belum tentu ia mau menerima orderan itu," ucap Tiffany menatap Amira kagum.


Amira menatap Vincent yang berada di seberangnya. Vincent mengangkat gelas wine nya mengajak Amira bersulang.


"Kamu tau gak arti bunga peony?" tanya Tiffany mengalihkan pandangan Amira.


"Bunga peony itu mewakili karakter berkelas dan natural. Bunga ini juga melambangkan keberuntungan, dan dikenal sebagai bunga kemakmuran dan kehormatan," jelas Tiffany membuat Amira terpukau.


"Kamu dapat gaun ini dari Kak Vincent ya?" tebak Tiffany.


"Mmm... iya benar, aku gak tau kalau gaun ini sehebat itu," jawab Amira cuek.


"Pantas saja. Aku dengar Evangelin Mo dan Vincent itu punya hubungan dekat. Sekarang melihat kamu memakai gaun ini, aku percaya kalau rumor itu benar," ucap Tiffany.


"Rumor apaan?" tanya Amira penasaran.


"Rumor kalau Vincent dan Evangelin Mo pernah menjalin hubungan," jawab Tiffany setengah berbisik.


"Lho, bukannya mantannya Vincent itu Anna Lee?" Amira sedikit bingung dengan jawaban Tiffany.


Semenjak insiden di toilet departemen store itu, Amira sudah tau siapa itu Anna Lee. Dan sekarang Amira bingung mendengar nama Evangelin Mo yang juga punya hubungan dekat dengan Vincent. Sebenarnya ada berapa banyak wanita di dalam kehidupan percintaannya Vincent. Amira mendengus sebal memikirkannya.


"Iya. Tapi dari yang aku dengar. Evangelin Mo itu cinta pertamanya," jawab Tiffany lagi yang membuat Amira merasa hatinya perih mendengar pernyataan itu. Amira terdiam.


"Kamu kenapa?" tanya Tiffany yang melihat Amira malah melamun. Amira tersenyum dan menggeleng pelan.

__ADS_1


"Terus gaunmu ini katanya juga ikut dalam pelelangan di sebuah fashion show terkenal. Rumornya gaun ini dibeli oleh seorang pengusaha muda, aku tebak orang itu adalah Vincent," ucap Tiffany.


"Ternyata dia masih begitu peduli dengan cinta pertamanya," batin Amira merasa iri.


"Tif," panggil Leon menghampiri Amira dan Tiffany dan menghentikan percakapan mereka.


"Hai Ami," sapa Leon pada Amira yang dijawab Amira dengan senyuman.


Orang tua Tiffany dan Leon juga menghampiri mereka bertiga.


"Halo Ami. Kamu makin cantik saja," sapa Selina Kim, ibunya Tiffany dan Leon, memuji Amira.


"Ah tante berlebihan, tante yang makin cantik dan awet muda," balas Amira memuji Nyonya Selina.


"Halo om. Apa kabar? Senang bertemu dengan anda lagi," sapa Amira kepada Mark Kim, ayahnya Tiffany dan Leon.


"Makin hari mulutmu makin manis saja hahaha," puji Tuan Mark. Disambut gelak tawa yang lain. Amira tersipu malu.


"Tif, ayo naik ke atas panggung. Acaranya mau dimulai." Nyonya Selina mengingatkan.


"Ami, ayo kamu naik juga," ajak Tuan Mark.


"Gak usah deh, om. Kak Leon dan Tiffany aja. Aku lihat dari sini aja." Amira menolak ajakan Tuan Mark.


"Ya udah, aku ke depan dulu ya," ucap Tiffany sambil menggandeng kedua orang tuanya.


Leon tidak mengikuti Tiffany, dia mendekat ke arah Amira.


"Kak Leon gak ikut ke panggung?" tanya Amira. "Gak usah. Biar Tiffany aja, ini kan acara dia," jawab Leon.


Di atas panggung berdiri Tiffany dan kedua orang tuanya, kemudian para tamu undangan menyanyikan lagu Happy birthday dan Tiffany meniup kue ulang tahunnya. Memotong kue tersebut dan memberikan suapan pertamanya untuk kedua orang tuanya.


Amira turut merasa senang melihat Tiffany yang sangat cantik dan tersenyum ceria di atas panggung.


Amira tak sengaja melihat ke sisi seberang kolam, dia melihat Vincent dikerubungi dua orang wanita cantik dan seksi. Mereka mengobrol bersama, entah apa yang mereka bicarakan.


Raut wajah Amira berubah masam, Vincent melirik ke arah Amira tetapi Amira memalingkan wajahnya. Menatap kembali ke depan panggung.


Amira melihat sesosok wanita yang baru saja naik ke atas panggung, mengucapkan selamat kepada Tiffany. Tiffany menyambut uluran tangan wanita itu dengan senyum terpaksa, Amira tau itu.


"Anna Lee? Kenapa dia bisa datang kemari?" Amira heran pasalnya Tiffany tidak menceritakan kepadanya bahwa ia juga mengundang Anna.


Amira melihat ke arah Vincent yang juga menatap Anna di atas panggung. Vincent menatap Anna dengan datar dan dingin, tetapi Amira berpikir sebaliknya, Amira merasa hatinya perih.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2