
'Hades? Siapa sebenarnya dia,' batin Vincent.
Hades, pengirim misterius itu, selalu mengirimkan informasi rahasia melalui email kepadanya sejak lima tahun yang lalu, ketika ia baru menjabat sebagai CEO Royal Group.
Hades dalam sebuah mitologi memiliki arti raja dunia bawah (Underworld) dan dewa kematian. Ia mempunyai nama lain yaitu Aïdoneus, yang memiliki makna 'Yang Tak Terlihat'. Sesuai dengan namanya, ia tidak terlihat. Seperti sebuah bayang kegelapan yang tak berujung.
Vincent memandangi layar laptopnya dengan tajam. Di dalam pesan itu juga tercantum peringatan agar dirinya berhati-hati terhadap orang yang berada di dekatnya.
Vincent mengacak rambutnya frustasi. Bukannya Vincent tidak mau melacak pengirim email misterius itu, tetapi lima tahun yang lalu ia pernah menyewa hacker profesional untuk melacak IP Address Si Hades, tetapi hasilnya nihil.
Hades tidak meninggalkan jejak setitik pun. Ia selalu memanipulasi lokasi IP Address nya, sehingga siapapun tidak bisa menemukannya.
Walaupun begitu Hades tidak pernah menipu Vincent dengan informasi yang dikirimkannya, dan kali ini Vincent sedikit meragukan informasi yang dikirimkan oleh Hades. Ia perlu memastikan informasi yang diberikan Hades adalah benar adanya.
Vincent meraih ponselnya yang berada di sampingnya, ia menekan nomor asistennya, Lucas. Ia meminta Lucas untuk memantau pergerakan saham di Royal Group.
"Bertindaklah secara rahasia!" perintah Vincent.
"Baik Bos," jawab Lucas.
"Satu lagi ...." Vincent menjeda ucapannya.
Lucas menunggu perintah dari atasannya itu dalam diam.
"... tolong kamu pantau orang-orang di perusahaan yang bertindak mencurigakan, lapor ke saya langsung," perintah Vincent.
"Baik Bos," jawab Lucas lagi.
"Ah, yang terakhir, apa kamu bisa mencari seorang yang profesional untuk mengecek lokasi IP Address seseorang?" tanya Vincent.
"IP Address? Apa orang itu mengirim email lagi, Bos?" tanya Lucas yang mengerti maksud Vincent. Ia sedikit terkejut.
Vincent tidak menjawab pertanyaan Lucas, ia memijat pelipisnya. Lucas dengan cepat menjawab, "Baik Bos. Saya akan meminta orang untuk menyelidikinya."
"Oke. Nanti saya kirimkan ke kamu alamat email-nya," ucap Vincent dan mematikan teleponnya.
Vincent memang mempercayai Lucas karena Lucas adalah orang yang ia rekrut sendiri tanpa melalui seleksi seperti karyawan biasa.
Karena itu, Vincent telah mempercayakan Lucas untuk menyelidiki hal yang berhubungan dengan Hades. Tidak ada yang mengetahui email dari Hades selain Lucas dan dirinya sendiri.
Flashback.
Lima tahun yang lalu, Lucas hanyalah seorang mahasiswa miskin yang tidak punya apa-apa. Ia hanya sebatang kara. Lucas bertemu dengan Vincent ketika ia berhasil menyelamatkan Vincent dari maut.
Ketika baru menjabat sebagai CEO Royal Group, ada salah satu pemegang saham di bawah Vincent yang tidak menyukai cara kerja Vincent, namanya adalah Harry Song. Ia ingin mengambil posisi Vincent saat itu dengan cara keji. Tetapi untungnya saat itu Vincent mendapatkan email dari Hades, sehingga ia meningkatkan kewaspadaannya.
__ADS_1
Tetapi sialnya, Vincent hampir dibunuh oleh orang suruhan Harry dan saat itu Lucas yang menolongnya menggantikan dirinya menerima tusukan yang ditujukan kepada Vincent. Nasib baik berpihak kepada Lucas karena tusukan itu tidak mengenai organ vitalnya.
Akibat tindakan percobaan pembunuhan, Harry Song dijebloskan ke dalam penjara dengan masa tahanan seumur hidup dan semua asetnya disita.
End of flashback.
"Sial, kenapa aku bisa sampai lupa," umpat Vincent setelah teringat soal Harry Song. Ia segera menghubungi Lucas kembali dan meminta Lucas menyelidiki Harry beserta sanak keluarganya yang memiliki hubungan dengan Harry.
°
°
°
°
°
°
Pukul lima sore.
Amira membereskan dokumen di mejanya. Ia melirik jam di ponselnya. Tiffany melihat Amira yang sudah bersiap-siap pulang, "Kamu mau ke mana sih? Buru-buru amat," ucap Tiffany.
Tiffany berdecih dan mengerucutkan bibirnya, "Dasar, ada pacar, teman dilupain," sindir Tiffany yang merasa cemburu dirinya yang dilupakan.
Amira berdiri dan merangkul leher sahabatnya itu dari belakang, "Jangan gitu dong. Kamu tetep nomor satu di hatiku."
"Geli aku dengernya. Sudah sana, aku juga mau pulang," ucap Tiffany melepaskan tangan Amira di lehernya.
"Habis ini kau mau ke mana?" tanya Amira heran.
"Mau cari pacar!" jawab Tiffany asal. Amira tertawa terkekeh-kekeh mendengarkan jawaban temannya itu dan beranjak pergi dari ruangannya.
"Enaknya yang punya pacar," gumam Tiffany menatap kepergian Amira.
"Kamu mau?" tanya Steve dari belakang yang mendengarkan gumaman Tiffany.
Tiffany kaget mendengarkan pertanyaan Steve dan berbalik menatap Steve dengan malu. Steve tertawa melihat sikap Tiffany. "Makanya cari pacar sana," ledek Steve dan beranjak kembali ke ruangannya.
Tiffany hanya bisa menggerutu kesal karena sudah diledek oleh Steve dan Amira.
°
°
__ADS_1
°
°
°
Ting!
Pintu lift berdenting dan terbuka di lantai 22. Amira melangkahkan kakinya keluar dari lift dan mencari ruangan Vincent. Baru kali ini ia naik ke lantai itu, jadi ia tidak tahu letak ruangan Vincent.
Matanya tertuju ke sebuah pintu besar di sebelah kanan tempat ia berdiri. Ia tersenyum dan melangkahkan kakinya ke sana.
"Maaf. Anda siapa dan mau ke mana?" tanya suara seorang wanita di belakang Amira yang membuatnya menghentikan langkahnya.
Amira berbalik dan menatap seorang gadis cantik dengan tubuh yang montok saat ini berdiri di depannya. Amira tidak sengaja melirik ke arah belahan dada gadis itu yang menyembul dari balik kemejanya. Amira berusaha menelan salivanya pelan. Ia mengembangkan senyuman kikuk di depan gadis itu.
"Aku mencari Pak Vincent," ucap Amira sambil berusaha mengembangkan dadanya ke depan.
"Ah ... Anda gadis yang digosipkan itu ya," balas gadis itu setelah mengenal Amira.
"Perkenalkan saya Olivia Wang, sekretaris Pak Vincent di sini," ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Amira sambil tersenyum gugup, "Saya Amira Lin."
"Mari saya antar, Nona Lin," ucap Olivia seraya berjalan mengantarkan Amira sampai ke depan pintu ruangan atasannya.
"Pak Vincent ada di dalam. Silahkan masuk. Saya permisi dulu," ucap Olivia sedikit membungkukkan tubuhnya sehingga membuat belahan dadanya semakin terlihat. Amira membulatkan matanya dan memalingkan wajahnya.
Olivia beranjak pergi dari sana. Amira menatap Olivia dan dirinya bergantian, lebih tepatnya melihat payudaranya yang sendiri.
'Beda sekali dengan punyaku. Bagaikan apel dan melon,' gumam Amira di dalam hati dan tersenyum miris memikirkannya.
Amira memanyunkan bibirnya kesal, membayangkan kekasihnya yang ternyata dapat menikmati 'pemandangan indah' setiap hari di depan matanya.
Amira melangkahkan kakinya kesal dan membuka pintu ruangan Vincent tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ruangan itu cukup besar dan luas dengan sebuah meja besar di ujung ruangan dan kursi yang besar pula dengan lemari penuh berisi pajangan dan buku-buku di belakangnya. Di tengah ruangan terdapat satu sofa panjang dan sofa pendek serta satu buah meja kaca. Di sudut ruangan juga terdapat mini bar dengan terpampang beberapa botol minuman beralkohol di depannya.
Amira melihat sosok punggung pria yang sedang menghadap ke jendela luar. Punggungnya yang lebar dan tubuhnya yang tinggi kokoh dengan kaki yang jenjang dan terlihat kuat, membuatnya terlihat sempurna seperti sebuah lukisan yang indah, membuat Amira terpukau.
Sosok pria itu adalah Vincent, ia tidak menyadari kedatangan Amira karena pikirannya sedang melayang ke tempat lain. Ia sedang memikirkan email misterius itu.
Amira berusaha meredakan emosinya tadi dan berjalan mengendap-endap ke arah Vincent. Ia mendekati Vincent dan memeluk pinggang Vincent dari belakang.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....
__ADS_1