
Leon 💔
Devil Kiss Pub.
Saat ini aku sedang berada di dalam sebuah pub, aku perlu menenangkan pikiranku dan ingin melupakan kejadian beberapa jam yang lalu. Aku berharap semua yang terjadi tadi adalah mimpi belaka.
Di depan mejaku berdiri beberapa gelas whisky yang sudah kosong. Aku belum pernah menyentuh minuman keras sebanyak ini sebelumnya sejak kejadian lima tahun yang lalu, tetapi saat ini aku merasa sangat membutuhkannya. Entah kenapa aku sudah minum sebanyak apapun tetap saja tidak dapat melupakan wajah Amira di dalam pikiranku.
Aku teringat wajah Amira tadi ketika di pesta ulang tahun adikku. Amira terlihat sangat cantik sekali dengan gaun biru navynya. Senyumannya yang manis membuat hatiku sangat bahagia melihatnya.
Amira seorang gadis kecil nan polos yang usianya terpaut delapan tahun dariku. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali kami bertemu.
Flashback
Saat itu aku baru berumur dua puluh lima tahun dan Amira berumur tujuh belas tahun.
Amira datang ke rumahku menemui adikku, Tiffany. Mereka berdua sudah berteman baik sebelum kami pindah ke Amigos. Aku selalu mendengar cerita tentang Amira dari mulut adikku sebelumnya.
"Kak Leon, perkenalkan ini sahabat baikku, Amira," ucap Tiffany mengenalkan sahabatnya.
Aku tersenyum lembut menatap gadis di depanku. Seorang gadis berkulit putih, berambut hitam panjang, dengan pipi sedikit tembem dan senyumannya yang menggemaskan. Entah kenapa refleks aja aku tersenyum kepadanya seperti itu.
Gadis itu tersipu malu dan menyodorkan tangannya ke arahku, "Salam kenal, Kak Leon. Panggil aku Ami aja," ucapnya pelan. Suaranya terdengar begitu manis dan lembut di telingaku.
Itulah pertemuan pertamaku dengan Amira yang tidak akan kulupakan.
Sejak saat itu aku selalu memperhatikannya, awalnya aku mengira hanya menganggapnya sebagai adik perempuan yang manis. Entah mulai kapan aku sudah tidak melihatnya sebagai seorang adik lagi, tetapi sebagai seorang wanita.
Ah mungkin ketika saat hari ulang tahunnya yang ke dua puluh satu. Aku dan Tiffany berencana merayakan ulang tahun Amira bertiga saja. Tiffany ingin membuatkan kejutan untuknya. Aku juga sudah membeli hadiah untuknya. Sepasang high heels. Sebenarnya bukan aku yang ingin membelinya high heels, tetapi Tiffany yang memaksaku untuk membeli itu. Ia mengatakan bahwa Amira sudah mengincar sepatu itu sejak lama.
Hari sudah mulai malam, aku dan Tiffany menunggu Amira pulang ke apartemennya. Aku melirik jam tanganku, sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Tif, apa Amira selalu pulang selarut ini?" tanyaku kepada adikku dengan cemas.
"Mmm.. nggak sih. Tapi katanya ia mau ke perpustakaan dulu tadi, mungkin keasyikan baca kali. Aku coba telepon dia dulu," ucap Tiffany. Aku mengangguk.
Tiffany mengambil ponselnya dan menghubungi Amira, tapi tidak ada jawaban.
"Aneh. Kok gak diangkat sih," ucap Tiffany.
"Ya udah, coba kakak pergi ke kampus dulu. Kamu tunggu dia di sini. Kalau dia sudah pulang, kabarin kakak ya," ucapku segera keluar.
__ADS_1
Aku berjalan kaki menuju kampus Amira karena letaknya yang tidak begitu jauh dari apartemennya. Aku berjalan menyusuri jalan yang biasa dilewati Amira dan adikku, berharap bisa menemukan Amira.
Dalam perjalanan, aku melihat dua orang pria sedang mengganggu seorang gadis di sebuah gang sempit di ujung jalan. Aku melihatnya lebih dekat, ternyata itu Amira. Aku mempercepat langkahku.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku kepada kedua pria muda berusia sekitar dua puluhan. Mereka sepertinya anak-anak yang suka mengganggu di sekitar daerah itu. Soalnya lampu di ujung jalan ini memang sedikit remang, sehingga sering terjadi perampokan dan tindakan kriminal lainnya.
Aku sudah pernah memperingatkan adikku dan Amira agar tidak lewat jalan ini apabila sendirian. Walaupun jalan ini lebih dekat menuju kampus, tetapi sangat rawan.
Aku menghajar kedua orang tersebut hingga babak belur. Walaupun saat itu, diriku juga bernasib sama tetapi yang penting Amira tertolong.
Amira segera menghambur ke dalam pelukanku dan menangis. Tubuhnya gemetar karena ketakutan. Tanpa sadar aku membalas pelukannya itu, jantungku berdebar sangat kencang.
Amira menengadahkan wajahnya dan menatapku dengan berlinang air mata. Aku mencoba menghiburnya dan menghapus air matanya. Kutatap mata Amira yang bersinar di bawah cahaya lampu, aku merasa saat itu aku mulai jatuh cinta padanya, dan selalu ingin melindunginya.
End of flashback.
Aku menghabiskan gelas whisky yang keenam. Aku rasa aku cukup mabuk sekarang. Aku mencoba berdiri, tetapi tubuhku lunglai dan membuatku terduduk lagi ke tempat dudukku.
Aku meletakkan kepalaku di atas meja dan mulai meracau tidak jelas. "Ami..."
Berulang kali aku menyebut namanya, tetapi Amira tidak kembali ke hadapanku.
Aku berdiri dan menarik tangannya. Wanita itu berbalik dan menatapku heran. Wajahnya terlihat seperti Amira di mataku saat ini.
Aku memeluknya erat, "Amira.. jangan tinggalkan aku," ucapku lirih. Setelah itu perlahan kesadaranku mulai memudar.
°
°
°
°
°
°
Keesokan paginya, aku bangun dengan kepala yang sangat berat. Aku melihat ke sekelilingku. Ruangan ini tampak asing di mataku.
"Ini di mana?" gumamku sambil memijat pelipisku.
__ADS_1
Aku kaget melihat kondisiku saat ini, aku bertelanjang dada. Aku membuka selimutku. Benar saja! Tidak ada sehelai benang pun di tubuhku.
Kulihat pakaianku berserakan di lantai. Aku segera memungutnya dan memakainya. Tidak ada siapapun di ruangan itu. Aku segera keluar dan mencari seseorang.
Aku mendengar suara irisan potongan pisau dari arah dapur. Aku berjalan mendekat dan melihat sosok seorang wanita berambut panjang mengenakan kemeja putih dan rok mini hitam. Ia sepertinya sedang sibuk menyiapkan makanan sehingga tidak menyadari kehadiranku.
"Ehem." Aku berdeham mencoba mengalihkan perhatiannya. Wanita itu berbalik dan membuatku terkejut, "Eva?" panggilku padanya.
Wanita itu adalah Evangelin Mo, teman satu kampusku dulu, kami satu angkatan tetapi beda jurusan. Kudengar ia sekarang menjadi seorang desainer terkenal, sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
"Kau sudah bangun?" tanyanya padaku. Aku mengangguk.
"Ini rumahmu?" tanyaku padanya. Eva mengangguk dan tersenyum.
"Ah Eva semalam..." Aku ragu melanjutkan ucapanku. Aku menggaruk tengkuk leherku yang tidak gatal.
Eva tersenyum melihatku, ia mengerti apa yang ingin kutanyakan. "Tidak ada yang terjadi," ucapnya.
"Tapi bajuku..," ucapku lagi menggantung.
"Bajumu kan kamu sendiri yang membukanya. Pria kalau sudah mabuk, sudah lupa segalanya. Dasar!" ucapnya sambil berdecak pelan.
Aku menghela nafas lega.
"Ini minumlah," ucapnya sambil menyodorkan segelas air madu kepadaku. "Agar mabuknya hilang," lanjutnya lagi.
"Terima kasih." Aku meneguk minuman yang diberikan olehnya.
" Siapa itu Amira?" tanya Eva tiba-tiba yang membuatku tersedak. Eva tersenyum dan menepuk punggungku. Aku menatapnya sambil tersenyum kikuk.
"Kalau kau tidak mau menceritakannya, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja, siapa gadis yang membuat Leon, seorang idola kampus dan seorang dokter muda nan tampan menjadi sekarang seperti ini, " ucapnya padaku.
Aku tahu ia tidak bermaksud untuk menyindirku, ia adalah orang yang spontan, selalu mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya tanpa bisa ditahan. Siapapun yang mengenalnya akan mengira ia adalah orang yang tidak berperasaan.
Aku hanya menanggapi ucapannya itu dengan senyuman.
End of Leon POV
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue...
__ADS_1