
***HAI READERSSSS!!!
Apa kabar??
Masih menunggu lanjutannya kah?
Jangan lupa tinggalkan jejak, tinggalkan komentar donk pliss ...
Yang punya poin, berbaik hatilah membagi dengan cara vote author ya 🥰🥰
Episode berikut ini bercerita dari sudut pandang Amira ya atau point of view Amira.
Selamat membaca*!!!!
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
AMIRA POV
"Aku lapar ... hiks ...."
"Dasar gak punya hati!"
"Aku sumpahin hatimu diambil dan dimakan hewan!!"
Aku mengumpat kesal dan menangis sejadi-jadinya.
Memanggil nama-nama orang yang kusayangi, berharap mereka dapat mendengarnya, tetapi itu semua hal yang mustahil. Kakiku sakit, perutku juga lapar. Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi.
"Apa mungkin aku akan mati di sini?"
"Seharusnya aku tadi bilang saja kalau aku menikmati ciumannya, ups."
Aku segera menutup bibirku dengan telapak tanganku.
"Haish! Apa yang kamu pikirkan, Ami? Apa kamu sudah gila?" ucapku sambil memukul kepalaku pelan.
""VINCEEEEEEEENT!!!!!"
Aku meneriakkan namanya, berharap dia akan datang menjemputku. Tapi mana mungkin, orang yang tidak punya hati itu mana mungkin kembali untuk menjemputku.
Aku menangis tersedu-sedu dan menundukkan kepalaku, meratapi nasibku.
Hari ini benar-benar hari yang sial, kertas tugasku hilang, aku juga harus mengulang kuliahku, dan sekarang aku terdampar di tempat seperti ini.
Tidak beberapa lama, aku mendengar suara mobil berhenti di depanku.
'Akhirnya ada juga orang yang berbaik hati ingin menolongku.'
Aku menengadahkan wajahku sambil tersenyum cerah dan melihat mobil Lamborghini gold metalic di depanku. Senyum yang mengembang di wajahku berubah menjadi kecut menatap mobil dan si pemilik mobil itu.
'Berani-beraninya dia datang ke sini lagi!!!'
"Ngapain kamu balik lagi?" ucapku kesal padahal sebenarnya aku cukup senang ternyata dia masih punya sedikit belas kasihan untuk datang ke sini menjemputku.
"Bukankah kamu tadi memanggil namaku?" Vincent menyindirku.
Aku mendengus kasar, "Cih! Dasar narsis!"
Vincent membunyikan klakson mobilnya dan berteriak, "Hei, gadis bodoh! Apa kamu tidak mau naik?"
"Siapa yang kamu panggil gadis bodoh di sini, ha?"
Aku menatap marah padanya karena berteriak dan meledekku.
__ADS_1
"Kamu," jawab Vincent sambil menunjuk ke wajahku.
"Kenapa? Tidak terima kalau aku panggil kamu bodoh?" Vincent tersenyum senang dan memutar-mutar ponsel milikku di tangannya.
Aku memalingkan wajahku kesal, ternyata karena ponselku itu makanya dia kembali menjemputku.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau naik," ucap Vincent yang sambil memainkan pedal gas di kakinya.
"Ah, tunggu ... tunggu ...."
Aku terburu-buru membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi penumpang.
"Siapa bilang aku tidak mau naik? Ayo jalan!" perintahku padanya. Vincent hanya menyeringai dan melajukan mobilnya.
°
°
°
°
"Ini bukan ke arah apartemenku. Seharusnya ke kanan bukan ke kiri, aku kan sudah bilang tadi," ucapku sambil menunjuk ke arah jalan yang benar.
"Siapa bilang mau mengantarmu pulang," jawab Vincent santai dan berhasil membuatku melongo.
"Jadi? Sebenarnya apa sih maumu?"
Vincent tidak menjawabku dan tidak peduli dengan pertanyaanku. Beberapa saat kemudian, dia menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran dan turun dari mobil.
Aku mengikutinya turun dan masuk ke dalam restoran itu. Restoran itu bergaya klasik, dengan dindingnya terbuat dari ukiran perak dan lantainya dilapisi permadani.
"Untuk berapa orang, Tuan? tanya salah satu pelayan restoran kepada Vincent.
"Baik, mari saya antarkan."
Kami mengikuti pelayan itu sampai ke sebuah ruangan VIP. Di tengah ruangan terdapat satu buah meja persegi panjang dan dua buah kursi yang berada di kedua ujung meja.
Pelayan itu menarik salah satu kursi untukku dan aku duduk di sana, sedangkan Vincent duduk di depanku.
Kemudian pelayan itu menyerahkan buku menu untukku dan Vincent.
Aku melihat berbagai macam menu di dalamnya, terlalu banyak sehingga aku agak bingung untuk memilihnya, karena semuanya terlihat enak di mataku.
"Hmm.. aku pesan sup krim jamur, pasta carbonara, lasagna, dan clasic tiramisu", ucapku. Vincent melihat ke arahku dan tersenyum.
"Ya sudah itu saja, ah tambahkan satu botol red wine terbaik yang ada di restoran kalian," ucap Vincent pada pelayan itu dan ia meninggalkan kami berdua di dalam ruangan.
"Kenapa kamu tidak memesan makanan? Yang tadi aku pesan itu hanya untukku lho," jawabku memperingatkannya karena melihat Vincent yang tidak memesan makanan apapun.
"Aku tau," ucap Vincent datar dan berusaha menahan tawanya.
"Kau mengejekku?" tanyaku tidak senang dengan sikapnya yang merendahkan. Vincent tidak menjawab pertanyaanku, dan hanya menatapku.
Beberapa menit kemudian, makanan yang ku pesan sudah datang dan ditata di atas meja di hadapanku. Aku melihat Vincent hanya menuangkan anggur merah ke dalam gelas wine-nya dan memutarnya perlahan.
Aku menghela nafas pelan, kemudian menarik kursiku dan meletakkannya di samping Vincent. Semua makanan yang terhidang di mejaku tadi, kupindahkan semua di hadapannya. Vincent hanya diam memperhatikan gerak-gerikku, kemudian aku duduk di sampingnya.
"Jangan nanti bilang aku wanita tidak tau balas budi," ucapku sambil menyodorkan sepiring lasagna untuknya.
"Terima kasih tadi kamu mau berbalik menjemputku," ucapku pelan dan mulai memasukkan pastaku ke dalam mulut.
Tangan Vincent menyentuh wajahku dan menyingkirkan anak rambutku ke belakang telinga. Aku sedikit terkejut dengan tindakannya yang mendadak lembut dan perhatian. Aku tidak terbiasa dengan situasi ini.
__ADS_1
"Ehem ... kamu tidak makan?" tanyaku menyembunyikan kecanggunganku.
"Suapin aku!" perintah Vincent padaku.
"Tanganmu bukannya masih bagus, kamu bukan anak kecil," ucapku sinis sambil memasukkan sepotong tiramisu ke mulutku.
"Baiklah kalau begitu," ucap Vincent yang kemudian dengan gerakan cepat menciumku dan merasakan bibirku dengan bibirnya. Aku tidak sempat menghindarinya karena dengan cepat juga dia menarik wajahnya.
"Mmm ... rasanya lumayan," ucapnya sambil menjilat bibirnya sendiri dan tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar mesum!!" teriakku kesal dan membanting garpu di tanganku sehingga menimbulkan bunyi dentingan di piring.
Padahal beberapa detik yang lalu, aku merasa dia sangat perhatian dan lembut, tapi ternyata mesum tetap saja mesum!
"Kenapa marah?" tanya Vincent tidak merasa bersalah.
"Bukankah aku memintamu untuk menyuapiku, tapi kamu sendiri yang menolak," jawabnya tanpa merasa bersalah.
'ARGGGHHH! DASAR MENYEBALKAN!!!' Saking kesalnya, aku sampai kehilangan nafsu makanku!
"Jujur saja, sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu selalu menggangguku dan membuatku kesal, Vincent??" tanyaku penuh emosi. Aku sudah benar-benar tidak paham dengannya yang terus menggangguku.
Vincent menatapku dalam dan penuh arti. Dengan perlahan dia mengucapkannya, "Aku menyukaimu, Ami. Aku ingin kamu menjadi milikku," ucapnya yang membuatku melongo tak percaya dengan apa yang kudengar.
"HAHAHAHAHA ..." Aku tertawa menanggapi perkataannya.
"Kamu ternyata bisa bercanda juga ... ya ... Hahaha ...," ucapku sambil tertawa dengan canggung dan berusaha menelan salivaku dengan bersusah payah melihat raut wajah Vincent sekarang.
Wajah Vincent seketika berubah gelap. Aku tidak berani menatapnya, menundukkan kepalaku dan menyendokkan sup krim jamur ke dalam mulutku.
GLEK! Dengan susah payah aku menelan sup krim itu.
Vincent hanya diam dan meminum anggur merahnya sekali teguk dan meremas gelas wine-nya. Terlihat jelas ia sedang berusaha menahan amarahnya.
Aku meletakkan sendok supku dan dengan mengumpulkan keberanianku, aku menatap wajahnya yang sangat dingin. "Ehem ... Vincent, maafkan aku ..."
"... Sudah ada orang yang aku sukai", ucapku perlahan.
"Orang itu Leon Kim?" tanyanya dingin.
"Kenapa kamu bisa tau?" tanyaku sedikit kaget, "Kamu menyelidikiku?"
"Oh iya, Kak Leon pernah bilang kamu adalah teman lamanya, apakah benar begitu?" tanyaku lagi yang teringat akan perkataan Kak Leon waktu itu.
"Huh! Teman?" balasnya sambil tersenyum menyeringai dan tatapan yang meremehkan.
"Apa kamu sudah mengenalnya dengan baik? Dia bukanlah orang yang sebaik yang kau kira, Ami," ucap Vincent sinis.
"Kamu tidak usah berusaha untuk menjelek-jelekkan dia di hadapanku. Aku tidak akan percaya padamu," elakku tidak ingin mendengarkan ucapannya.
"Baiklah, aku akan memberikanmu waktu untuk lebih mengenalnya. Apabila kamu berubah pikiran, kamu dapat mencariku," ucap Vincent akhirnya berbicara normal seperti biasanya.
"Lalu bagaimana kamu akan membayar hutangmu yang belum kamu bayar itu?" tanya Vincent mengingatkanku.
"Ah! Itu ... aku belum punya uang sebanyak itu, tapi aku pasti akan membayarnya," ucapku mantap.
"Bagaimana kalau kamu membayarnya dengan tubuhmu?" tanya Vincent yang sukses membuatku naik pitam.
"DASAR BRENGSEK!" umpatku kesal.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....
__ADS_1