
Amira memandangi gadis kecil yang berdiri dengan manis di depannya dan tersenyum lebar kepadanya. Ia memperhatikan wajah gadis kecil itu bergantian dengan wajah wanita cantik di sampingnya. Terlihat jelas kemiripan mereka dari bentuk mata dan hidung yang tidak dapat diragukan lagi identitas mereka berdua. Begitupula dengan Tiffany melakukan hal yang sama dengan Amira, ia sendiri juga kaget dengan kenyataan yang ia dapati sekarang ini.
"Elaine anakmu?" tanya Amira mencoba memastikan.
Eva tersenyum kaku dan memeluk El dengan sedikit berjongkok di depan gadis kecil itu, "Iya, dia anakku," jawab Eva dengan mantap.
"El memanggilmu Kakak Cantik. Apa waktu itu kamu yang menemukannya dan mengantarnya pulang?" tanya Eva kepada Amira.
Amira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ah iya, aku menemukannya sedang menangis di jalan dan mengantarnya pulang bersama Vincent," jelas Amira.
'Vincent? Jadi Om Ganteng yang disebut El itu Vincent?' batin Eva kaget.
"Ah, te-terima kasih sudah mengantarkan Eva waktu itu, Ami. Maaf aku belum sempat mengucapkannya waktu itu karena …." ucap Eva terbata-bata.
"Sudah, gak pa-pa kok. Yang penting El bisa pulang dengan selamat," ucap Amira menyunggingkan senyumnya.
"Apa kalian mau bareng kami ke pantai?" tawar Amira kepada Eva dan Elaine.
"Ah, tidak …."
Eva ingin menolak tawaran Amira, tetapi El sudah menarik lengan Amira, "Aku mau Kakak Cantik, boleh kan, Ma?" tanya Elaine kepada Ibunya itu.
Eva menghela nafas pelan dan tersenyum sambil mengangguk pelan. Ia tidak tega menolak permintaan putri kecilnya itu.
°
°
°
°
°
Hamparan pasir putih yang luas menggelitik setiap langkah kaki yang melewatinya. Begitu pula suara deburan ombak di lautan yang bergulung seperti sebuah melodi yang menenangkan telinga, mereka saling berkejar-kejaran satu sama lain di bawah terik matahari. Angin sepoi-sepoi pun berbisik menghembuskan kedamaian. Aroma laut yang begitu kuat menusuk hidung Amira saat ini. Panasnya terik matahari mengigit kulit putih mulusnya. Gaun pantai yang dipakai gadis itu melambai-lambai ditiup oleh angin laut.
"Wooohooo … pantai aku datang!" teriak Tiffany menghadap ke arah pantai lepas di depannya.
"Yeaaayyy …!" balas Amira dan Elaine mengacungkan tangannya ke atas.
Vincent menggeleng pelan dan tertawa ketika melihat Amira dan Elaine saling mencipratkan air laut ke tubuh Tiffany membuatnya basah kuyup dan Tiffany pun membalas serangan mereka berdua. Amira dan Elaine pun berlari menjauh agar tidak terkena cipratan air dari Tiffany.
Vincent, Lucas dan Eva melihat mereka dari kejauhan dan ikut menikmati canda tawa ketiga gadis itu.
"Kyaaaa … topiku!" Angin yang bertiup cukup kencang menerbangkan topi pantai milik Amira. Dengan cepat Vincent menangkap topi kekasihnya itu. Ia memasangkannya kembali di kepala Amira.
__ADS_1
Amira melepaskan topinya dan memegangnya erat, "Gak usah dipakai aja deh, tar terbang lagi," ucapnya sambil tersenyum lebar. Vincent membalas senyumannya itu. Ia tidak menyangka gadis itu begitu senangnya bertemu dengan pantai.
"Tapi kok aneh ya? Kenapa pantai ini sepi sekali? Bukannya ini weekend ya?" gumam Amira heran menatap hamparan pasir pantai yang tidak berpenghuni.
"Itu karena Bos telah memesan seluruh arena pantai ini, Nona Lin," jawab Lucas berjalan mendekati mereka.
"APA?!" teriak Amira dan Tiffany bebarengan.
"Sayang, kenapa …."
Belum sempat Amira bertanya, Vincent langsung memeluk pinggangnya erat, "Itu karena aku hanya ingin berduaan sama kamu. Aku tidak mau ada orang lain yang mengganggu kita," bisik Vincent di telinga gadis itu yang langsung memerah setelah mendengarnya. Eva menatap sepasang kekasih itu dengan tersenyum tipis hampir tak tampak senyuman di wajahnya.
"Hei tolong … mataku yang polos ternodai sekarang!" protes Tiffany yang melihat adegan kemesraan mereka. Vincent dan Amira tertawa lepas mendengarkan celotehan Tiffany.
"Kak Lucas, ayok kita berenang aja. Aku gak mau baper lihat dua orang yang sedang dimabuk asmara. Ayo El, Kak Eva!" ajak Tiffany sambil merangkul lengan Lucas, tetapi Lucas segera menepis tangannya. Wajahnya sedikit memerah, karena tidak terbiasa didekati oleh wanita.
"Kenapa?" tanya Tiffany heran menatap Lucas.
"Ah, maaf Nona Kim. Sa-saya duduk di sana saja. Silahkan Anda bersenang-senang," jawab Lucas yang ingin menghindar dari Tiffany.
"Yah …! Jangan gitu dong, Kak Lucas. Kita ke sini buat seru-seruan, masa cuma jadi penonton aja! Mana seru …."
"Wow …" Tiffany menutup mulutnya dengan salah satu tangannya melihat 'pemandangan yang indah' di depan matanya.
"Wah … Kak Lucas ada tatto juga ya, keren Kak," sahut Tiffany membuat Vincent dan Amira menoleh ke arah Lucas. Begitu juga Eva dan putrinya yang saat itu sudah berada di pinggir pantai.
Akibat kancing yang terlepas di bagian atas memperlihatkan gambar berbentuk sayap hitam yang terletak di dada sebelah kanan atas Lucas. Vincent mengerutkan keningnya melihat bentuk tato itu. Lucas segera menarik kemejanya yang digenggam Tiffany dan menutup gambar tato di dadanya.
"Keren, Kak …" ucap Amira kagum menatap Lucas.
Vincent merasa cemburu dan menutup kedua mata Amira dengan tangannya, "Kamu gak boleh lihat!"
"Iiih … lepasin dong!"
Amira berusaha membuka tangan Vincent, tetapi pria itu malah memeluk Amira dari belakang dan menutup matanya, "Kalau kamu mau lihat, kamu bisa lihat punyaku, Sayang …" bisiknya di telinga gadis itu membuat wajah gadis itu memerah. Eva melihat perlakuan Vincent terhadap Amira, hatinya terasa sedikit perih.
"Si-siapa juga yang mau lihat punyamu!" sungut Amira sebal masih dengan mata ditutup oleh Vincent.
"Kak Lucas, tatonya keren lho …," puji Tiffany lagi.
"Ah, ini … ini sudah lama. Hanya keiisenganku aja waktu masih muda dulu," tutur Lucas dengan tersenyum kaku.
Lucas mendapatkan tato itu semenjak dirinya menjadi bawahan Hades. Semua bawahan Hades memiliki tato bergambar sayap hitam di setiap masing-masing tubuh mereka agar mereka dapat saling mengenal satu sama lain. Hades sendiri merupakan pemimpin organisasi rahasia bernama Black Wing. Organisasi itu berdiri dengan tujuan menyediakan jasa agen atau mata-mata untuk orang-orang penting di seluruh dunia, selain itu mereka juga menyediakan jasa peretas atau hacker illegal. Anggota Black Wing tersebar di berbagai penjuru untuk menjalankan misi mereka. Tidak heran mereka juga terkadang melakukan tindakan kriminal untuk menyelesaikan misi yang diberikan.
__ADS_1
Sedangkan Lucas mendapatkan misi untuk melindungi dan menjaga Vincent, termasuk membantunya dalam pekerjaan. Tidak ada yang tahu alasan di balik misi itu, kecuali Hades sendiri dan Silver. Lucas hanya menjalankan misinya saja tanpa berani mencari tahu alasan di balik misi itu.
"Sudah belum sih, Vin? Mau ditutup sampai kapan mataku?" protes Amira karena kekasihnya itu masih menutup matanya.
"Kamu pergi ganti baju sana!" perintah Vincent kepada Lucas yang segera dilaksanakan oleh Lucas.
"Pakai baju santai aja, Kak Lucas. Kan ini di pantai, masa pakai kemeja, emangnya mau ngantor!" tutur Tiffany sebelum Lucas berjalan ke mobilnya.
Lucas hanya tersenyum dan bergegas kembali ke mobil untuk berganti pakaian. Untung saja dia membawa beberapa stel pakaian di dalam mobilnya.
"Ck ... aku jadi gak bisa lihat pemandangan bagus," ucap Tiffany sebal.
Vincent akhirnya membuka tangannya dari mata Amira setelah Lucas berjalan meninggalkan mereka. Amira mengerjap-ngerjapkan matanya menahan silaunya matahari yang masuk ke matanya.
"Jadi kita ke sini ngapain kalau semua gak boleh lihat!" protes Amira sebal yang malah mendapatkan tatapan tajam dari kekasihnya itu.
"Kita snorkeling aja gimana? Sepengetahuanku di sana ada jasa snorkeling lho," usul Tiffany sambil menunjuk ke sebuah kapal kecil yang menepi di dermaga yang berada tidak jauh dari mereka.
"Apa itu se-nor-ke-ling, Kakak?" tanya El dengan terputus-putus mengucapkan kata 'snorkeling'.
"Snorkeling itu menyelam di permukaan air yang tidak cukup dalam, biasa sih satu sampai tiga meter aja kedalamannya. Kita bisa melihat keindahan laut seperti terumbu karang dan ikan-ikan kecil lainnya," terang Tiffany.
"El mau!" teriak gadis kecil itu yang langsung dicegah oleh Eva, "El masih kecil. Gak usah ikut menyelam ya."
Wajah gadis kecil itu langsung merengut mendengarkan larangan Ibunya.
"Tapi aku juga gak bisa berenang," timpal Amira juga mendengarkan penjelasan Tiffany tadi.
"Tenang kok, snorkeling aman buat yang gak bisa berenang juga. Kalau mau di atas kapal aja juga boleh, kamu bisa lihat dari sana biota laut yang ada di dalamnya," ucap Tiffany lagi.
"Tapi gak seru cuma lihat doang …" sungut Amira.
"Ya udah, nanti sekalian aku ajarin berenang aja. Gimana, Sayang?" timpal Vincent sambil tersenyum lebar.
"Ck, dasar mau cari kesempatan dalam kesempitan aja," sindir Tiffany yang diikuti anggukan dari Amira. Vincent hanya menggedikkan bahunya dan menghela nafas pelan.
"Kakak Cantik temani El aja di atas kapal ya," pinta Elaine kepada Amira.
"Oke, El. Kakak temani El aja, Kakak pasrah aja deh," ucap Amira sambil mengelus puncak kepala Elaine.
"Yeay!" Gadis kecil itu begitu gembira mendengar permintaannya yang disetujui oleh Amira.
"Ya udah, yang mau ikut snorkeling ganti baju renang dulu. Kak Eva ikutan?" tanya Tiffany menoleh ke Eva yang sejak tadi diam. Ia terlihat ragu.
"El biar sama aku aja kalau Kak Eva mau ikutan snorkeling," ucap Amira yang menyadari keraguan Eva.
"Baiklah, aku ikutan," jawab Eva tersenyum dan mengikuti Tiffany mencari tempat ganti pakaian, sedangkan Amira menggandeng El menuju ke kapal diikuti Vincent di belakang mereka.
__ADS_1
To be continue ....