
Vincent segera membuka pintu apartemennya dan terkejut melihat sosok seorang wanita yang berdiri di depannya.
"Mama?"
"Mama kenapa bisa kemari?" tanya Vincent terkejut melihat Mamanya di depan pintu apartemennya. Ia mengira Amira yang datang tetapi ternyata dugaannya salah.
"Mama gak boleh kemari?" tanya Thalia Zhou, Mama Vincent, memandangi anaknya dengan tatapan curiga. "Tadi kamu bilang siapa gak usah datang?"
"Ah bukan siapa-siapa kok, Ma. Aku heran aja kenapa Mama bisa tahu tempat tinggalku di sini?" balas Vincent gugup dan mempersilahkan Mamanya masuk ke dalam. Sebelum menutup pintu, ia melihat keluar ke arah pintu apartemen Amira. Pintu itu masih tertutup, ia bernafas lega.
"Mama kemari karena kangen sama anak Mama yang tampan ini," ucap Nyonya Thalia sambil menatap anaknya.
Vincent menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, "Terus Mama tau dari mana tempat tinggalku?"
"Dari Jason," ucap Nyonya Thalia santai.
"Kamu ini sudah berapa lama gak ke tempat Mama?" tanya Nyonya Thalia mulai mengomeli anaknya itu.
Vincent dan orang tuanya memang tinggal terpisah. Orang tua Vincent tinggal di Kota Amigos, sedangkan Neneknya dan Vincent tinggal di Kota Serenity.
Biasanya Vincent meluangkan waktu untuk mengunjungi orang tuanya di sela-sela kesibukannya. Tetapi semenjak pertemuannya dengan Amira, ia sedikit sulit untuk membagi waktunya antara pekerjaan, Amira dan orang tuanya.
"Mama kan tau aku sibuk, Ma," alasan Vincent supaya Mamanya tidak marah.
"Ya sesibuk-sibuknya kamu, setidaknya satu minggu sekali kan bisa ke tempat Mama. Ini sampai satu bulan. Kalau Mama gak tanya Jason, mungkin Mama gak tau kalau kamu juga ada di Amigos," balas Nyonya Thalia.
Vincent menghela nafas dan mengangguk pelan, "Oke Mama," jawab Vincent singkat.
"Papa gimana, Ma?" tanya Vincent mengalihkan pembicaraan.
"Ya Papa kamu sehat-sehat aja. Seperti biasa dia sibuk sama kerjaannya sendiri, sama seperti kamu. Gila kerja!" ucap Nyonya Thalia kesal.
James Zhang, papanya Vincent, memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang advertising dan fashion, letaknya di Kota Amigos.
Perusahaan itu sebenarnya adalah warisan dari keluarga mamanya Vincent, karena Nyonya Thalia adalah anak tunggal sehingga perusahaan itu jatuh ke tangan Nyonya Thalia setelah ayahnya meninggal.
Nyonya Thalia tidak mengerti mengelola perusahaan, sehingga ia meminta suaminya untuk membantunya mengurus perusahaan itu.
Oleh karena itu, sejak Vincent berumur 22 tahun Royal Group dipindahtangankan secara perlahan kepada Vincent. James Zhang merasa sudah saatnya untuk memberikan tanggung jawab perusahaan sepenuhnya kepada Vincent agar Vincent dapat belajar dan terjun langsung ke dalam dunia bisnis. James Zhang tetap membantu dan membimbing anaknya hingga ia mandiri.
Alhasil dalam waktu tiga tahun saja, Vincent sudah dapat mengelola dan mengembangkan perusahaan itu dengan usaha dan kerja kerasnya.
Vincent tersenyum dan merangkul pundak Mamanya, "Wajar dong Ma. Namanya juga pria harus kerja buat menghidupi anak dan istrinya nanti. Kalau gak kerja, emangnya Mama bisa shopping dan jalan-jalan terus setiap hari seperti ini?" ledek Vincent.
"Kamu ini sekarang bisa ngeledek Mama ya?" balas Nyonya Thalia dan mencubit perut Vincent. Vincent meringis mengelus perutnya yang sakit.
__ADS_1
"Eh sepertinya ada yang salah ini," ucap Nyonya Thalia curiga menatap anaknya.
Vincent mengerutkan keningnya mendengar ucapan Mamanya. "Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?"
Nyonya Thalia mengerutkan keningnya seolah berpikir keras, "Iya ada yang salah sama kamu hari ini," jawab Nyonya Thalia memincingkan matanya.
"Gak biasanya kamu iseng seperti tadi. Kamu biasanya sangat dingin kan?" jawab Nyonya Thalia lagi.
"Biasa kamu cuma jawab 'oh' kalau gak 'hm' begitu," ucap Nyonya Thalia memperagakan sikap Vincent yang dingin seperti biasanya.
"Jawab! Kamu anakku atau bukan?" tanya Nyonya Thalia menunjuk ke Vincent.
Vincent memijat keningnya dan tersenyum kecil melihat kelakuan Mamanya itu. "Ma, cukup. Aku mau tidur. Mama pikirkan saja pelan-pelan," ucap Vincent dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar anak ini. Kebiasaan banget, main tinggal aja kalau orang tua lagi bicara!" gumam Nyonya Thalia sebal.
°
°
°
°
Vincent masuk ke kamarnya dan melihat pesan masuk di ponselnya. Amira membalas pesannya beberapa menit yang lalu, tetapi Vincent baru membacanya sekarang.
Ya udah kalau memang gak dibolehin! 😤
Vincent tersenyum membaca pesan tersebut dan mengacak rambutnya sendiri.
My Bear ❤
Jangan marah ya Sayang 😘
Besok pagi aku jemput kamu berangkat ke kantor, ok?
Love You 😘
Vincent membalas pesannya Amira dan menunggu balasan darinya. Tetapi setelah menunggu lima menit, tidak ada balasan dari Amira.
Vincent menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian mengecup foto Amira yang barusan dikirim Amira. Ia menggantinya menjadi wallpaper di ponselnya.
"Good Nite Sayang," ucap Vincent pelan dan memejamkan matanya.
°
__ADS_1
°
°
°
°
Keesokan paginya.
Vincent bangun dan bergegas masuk ke kamar mandi. Ia segera membersihkan diri dan berganti pakaian kerja dengan stelan jas dan celana panjang berwarna biru tua.
Setelah berkaca di depan cermin dan memasang dasinya, Vincent mengambil ponselnya dan memeriksa pesan masuk di ponselnya. Amira masih tidak membalas pesannya.
'Apa dia marah ya?' gumam Vincent di dalam hati. Ia menghela nafas pelan.
Vincent segera keluar dari kamarnya. Vincent mencari Mamanya di kamar sebelah, tetapi ia tidak menemukan Mamanya di kamar itu.
Vincent berjalan ke arah dapur, ia mencium aroma makanan. Dilihatnya di meja makan sudah tersaji sarapan pagi untuknya, seporsi omelet telur, dua potong sosis, dan segelas jus jeruk.
Ia melihat tidak ada tanda-tanda Mamanya di ruangan itu. Diliriknya meja makan, ada secarik kertas kecil tertempel di sana. Ia mengambil dan membacanya.
Dear My Little Boy,
Mama sudah buatkan sarapan untukmu.
Jangan sibuk kerja sampai lupa makan.
Ingatlah kesehatan lebih penting dibandingkan apapun.
Just reminder, bulan depan wedding anniversary Mama dan Papa. Kamu jangan lupa datang ke rumah ya.
Love You My Son.
Hampir semua orang tua menganggap setua apapun umur anak-anaknya, mereka tetaplah 'bayi kecil' di mata mereka. Bukan berarti mereka tidak percaya anak-anaknya mampu mandiri, tetapi itulah cara mereka menyanyangi, sebuah kasih sayang yang tak lekang oleh waktu. Begitu juga perlakuan Mama Vincent terhadap anaknya.
Vincent tersenyum kecil membaca pesan dari mamanya. Ia merasa sedikit terharu membaca pesan di secarik kertas itu.
Sebelum keluar apartemen, Vincent memakan sarapan yang dibuat mamanya.
°
°
°
__ADS_1
°
To be continue ....