
Seolah tak percaya dengan pendengarannya, Amira kembali bertanya kepada kekasihnya itu, "A-Apa maksudmu, Vin?"
Vincent menyentuh bibir Amira yang terluka dengan jempolnya. Amira sedikit meringis karena masih terasa perih.
"Apakah dia menyentuhmu?" tanya Vincent datar. Ia meralat pertanyaannya. Tatapannya masih terasa dingin bagi Amira. Tidak ada senyuman di bibirnya.
"Vin …" ucap Amira lirih. Entah kenapa ia merasa sedikit takut dengan pria di depannya itu, air mata di pelupuk matanya mulai menggenang.
"A-aku … aku dengan dia tidak terjadi apa-apa. Waktu itu memang aku dalam pengaruh obat, tetapi seingatku kami tidak melakukan hal yang seperti kamu pikirkan, kecuali …" Amira memejamkan matanya erat mengingat kejadian Adrian yang tiba-tiba menciumnya di mobil. Air mata di pelupuk matanya yang sejak tadi ia tahan, mengalir tanpa ia minta.
Vincent melihat air mata gadis itu dan bibirnya yang gemetar ketakutan. Ia tidak tau hal yang menakutkan seperti apa yang sebenarnya telah dilalui olehnya. Dirinya merasa tidak berguna karena tidak berada di sana di saat gadis itu membutuhkannya. Ia juga merasa dirinya begitu egois, karena tidak memikirkan posisi Amira saat itu malah menyalahkannya dan tidak mempercayainya.
Vincent menarik dagu Amira perlahan dengan tangannya dan menghadap ke arahnya. Air mata masih mengalir di pipi gadis itu. Ia merasa bersalah membuat gadis itu ketakutan. "Maaf," ucap Vincent lirih.
Amira masih diam mendengarkan permintaan maaf dari kekasihnya itu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Maaf telah membuatmu takut," ucap Vincent lagi.
"Maaf karena aku meragukanmu tadi. Maaf karena aku tidak di sana saat kamu membutuhkanku … aku malah berpikir kalau … kalau kamu dan Adrian …"
Amira menghentikan ucapan Vincent, ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir pria itu, "Bukan salahmu, Vin. Aku yang bersalah, seharusnya aku bisa lebih mengontrol diriku sendiri, tetapi ..."
__ADS_1
Vincent menurunkan jari Amira di bibirnya dan mengecup bibir gadis di depannya dengan cepat, ia tidak ingin mendengar kelanjutan ucapan gadis itu.
Amira sedikit terkejut dengan kecupan Vincent dan sekarang pria itu memeluknya erat seolah ingin menenangkannya. Amira membalas pelukannya,
Vincent tau Amira tidak bersalah. Yang bersalah adalah pria brengsek yang memberikan obat kepada gadisnya dan Adrian Song yang memanfaatkan kesempatan itu. Ia berjanji di dalam hatinya bahwa ia akan membalas kepada kedua orang itu yang telah menyakiti gadis yang ia cintai.
Vincent melepaskan pelukannya dan menatap manik mata gadis itu yang bersinar di bawah cahaya lampu di pinggir jalan.
"Tapi Vin … seingatku, kami tidak melakukan hal itu, tapi aku ... aku tidak tahu pasti apakah ..." lanjut Amira mencoba mengingat kejadian sebelumnya, tetapi kepalanya terasa pusing untuk mengingat hal itu. Ia memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Sttt ... sudah, Sayang. Lupakanlah!" bujuk Vincent menenangkan kekasihnya itu. Ia tidak ingin Amira mengingat hal buruk itu lagi. Hatinya merasa sakit melihat air mata yang jatuh di pipi gadis itu. Ia tidak peduli lagi kejadian yang sebenarnya seperti apa. Ia tidak ingin gadis itu tenggelam dalam kesedihan.
"Aku percaya padamu, Sayang. Maafkan aku," ucap Vincent dengan lembut. Sebenarnya ada setitik keraguan di dalam hatinya, tetapi rasa cintanya yang begitu besar mampu menghapuskan segala keraguannya. Ia dapat menerima segala kekurangan di dalam diri gadis itu karena besarnya cinta yang ia miliki.
Vincent menarik dagu Amira perlahan dan menempelkan bibirnya di bibir mungil gadis itu. Ia menciumnya dengan lembut dan penuh kasih. Dirinya ingin menghapus semua ingatan buruk yang terjadi malam itu di dalam pikiran kekasihnya dan menggantinya dengan kenangan manis yang ia buat saat ini.
Amira terharu mendengar ucapan Vincent dan merasa dirinya tidak pantas menerima cinta Vincent yang begitu besar terhadapnya. Awalnya ia ragu untuk membalas ciuman pria itu, tetapi Vincent menarik tengkuk Amira dan memperdalam ciumannya membuat Amira perlahan membalas ciuman kekasihnya itu. Ia merasa nyaman berada di dekat Vincent. Segala keraguan dan ketakutan di dalam dirinya sirna bersama ciuman dan kehangatan yang diberikan oleh kekasihnya itu.
Sesampainya di Apartemen Riverside, Vincent memarkirkan mobilnya di basement. Ia melirik ke kursi penumpang di sampingnya dan tersenyum simpul melihat kekasihnya sedang tertidur lelap. Tampak wajahnya yang terlihat lelah dan sedikit pucat. Vincent tidak tega untuk membangunkan gadis itu, karena ia baru saja mengalami hal-hal yang menegangkan di dalam hidupnya. Vincent dengan perlahan menggendong kekasihnya dengan satu lengan mengelilingi punggung dan satu lengan di belakang lututnya. Ia berusaha membuat Amira tidur dengan nyaman.
Sesampainya di dalam apartemen, Vincent meletakkan tubuh Amira di atas tempat tidur dengan perlahan agar gadis itu tidak terbangun. Tidak lupa ia menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut tebal bermotif teddy bear. Ia mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih, "Good night, My Chubby," ucapnya dengan lembut dan meninggalkannya menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Vincent mengeluarkan telepon genggamnya dari saku celananya. Ia menekan nomor kontak Lucas yang saat ini sudah berada di Kota Amigos. Jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Tidak perlu menunggu lama, Lucas menjawab panggilan dari atasannya.
"Halo Bos," jawab Lucas masih dengan suara yang terlihat segar. Ia masih menunggu perintah dari atasannya malam itu.
"Lucas, segera periksa CCTV di dalam Devil Kiss dan di area luarnya! Cari pria brengsek yang sudah berani mengganggu Amira sampai dapat dan selidiki siapa orang di belakangnya!" perintah Vincent dengan dingin.
"Baik Bos!" jawab Lucas cepat.
"Bos, persiapan untuk besok sudah saya persiapkan," lapor Lucas.
"Baiklah. Besok kamu dan yang lain ikuti Steve dan segera bantu dia jika Adrian dan orang-orangnya ingin melukai Steve dan adiknya. Pastikan mereka kembali dengan selamat!" perintah Vincent dengan sorot mata yang tajam.
"Baik Bos!" jawab Lucas lagi dan Vincent memutuskan sambungan telepon.
Vincent meletakkan teleponnya di atas meja kerjanya dan menyenderkan punggungnya ke belakang kursi kerjanya. Ia memejamkan matanya perlahan. Hari ini banyak sekali yang terjadi, ia perlu menenangkan pikirannya.
Vincent kembali ke kamar tidur dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Ia melihat Amira yang masih tertidur, tetapi selimut di tubuhnya sudah tergeletak di lantai. Ia menggeleng pelan dan tersenyum.
Vincent memunguti selimut di lantai dan menyelimuti tubuh Amira dengan perlahan. Ia beranjak dari tempat tidur Amira, tetapi gadis itu masih dalam posisi tidur menarik tangan Vincent dan mengigau menyebut namanya, "Vin …."
Vincent tersenyum mendengarnya dan melihat gadis itu masih memejamkan matanya, " Sepertinya ia sedang bermimpi," gumam Vincent pelan.
__ADS_1
Tangannya masih dicengkram oleh Amira, Vincent melepaskannya perlahan dan memasukkannya ke balik selimut. Ia tersenyum nakal dan membaringkan tubuhnya di samping Amira. Ia bisa membayangkan reaksi gadis itu besok jika melihatnya di atas tempat tidur bersamanya, tetapi ia tidak peduli. Malam ini tubuhnya terasa lelah, ia merasa sangat nyaman dengan tidur sambil memeluk gadis di sampingnya itu.
To be continue ….