Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 57


__ADS_3

Amira berbaring di atas tempat tidurnya, ia merasa bosan, ia berguling-guling di atas tempat tidurnya.


Amira menghela nafas dalam, ia telah mengecewakan Leon. Tetapi ia tidak ingin membohongi perasaannya, makanya ia berterus terang kepada Leon tentang perasaannya itu.


Setelah kepergian Kak Leon beberapa menit yang lalu, apartemennya terasa sepi. Tiffany juga tidak kembali ke apartemen, karena jadwal kuliah mereka yang sudah habis, palingan mereka hanya datang ke kampus untuk memberikan beberapa laporan dari hasil magang mereka nanti.


Amira teringat Vincent yang menyuruhnya untuk menunggunya di apartemen Vincent, ia beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas keluar, pergi ke unit sebelah.


"Mmm.. Vincent bilang sandinya tanggal pertemuan kami?" gumam Amira. Kemudian ia mencoba menekan tombol sandi apartemen Vincent. Tiiittt... Kode sandi salah.


"Lho. Kok salah?" Amira heran. "Benar kok tanggal segitu, kan aku bertemu dengannya pertama kali waktu di apartemennya itu," gumam Amira lagi.


"Ah coba lagi deh, mungkin salah tekan tadi," gumam Amira lagi.


Amira mencoba lagi, tetapi hasilnya tetap sama. Kode sandi salah.


"Apa aku salah tanggal ya?" Amira mencoba menghitung dengan jarinya. "Benar kok."


Amira mencoba lagi dan lagi tetapi tetap saja pintu tidak terbuka. Ia merasa frustasi sendiri.


"Iiiih.. gimana sih. Jelas-jelas sudah benar! Ah bodoh amat deh," gumam Amira sewot dan berjalan masuk ke dalam apartemennya sendiri.


Amira lupa bahwa hari pertama bertemu dengan Vincent adalah ketika berada di pesawat waktu itu. Pikirannya hanya fokus bahwa dirinya bertemu pertama kali waktu di apartemen Vincent.


Amira terpikir untuk menghubungi Vincent menanyakan kode sandi apartemennya, tetapi ia urungkan niatnya itu. Amira takut mengganggu pekerjaan Vincent dan lagi Vincent yang berbicara dingin dengannya di telepon tadi, membuatnya enggan untuk menelepon terlebih dahulu.


°


°


°


°


°


°


°


Keesokan harinya..


Amira bergegas berangkat ke anak perusahaan Royal Group yang berada di Kota Amigos. Nama anak perusahaan itu adalah Little Royal.


Dulunya perusahaan Little Royal dalah perusahaan kecil yang bergerak di bidang properti saja, tetapi semenjak diambil alih oleh Royal Group dan berubah nama menjadi Little Royal, perusahaan itu bergerak di berbagai bidang selain properti, mendukung perusahaan pusat di Kota Serenity.


Amira sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi di depannya, ia mendongak ke atas dan menghadang sinar matahari dengan tangannya. Gedung yang bertuliskan Little Royal itu berdiri dengan megahnya.


"Baiklah. Fighting Ami!" teriak Amira mengangkat tangannya ke atas dan mengepalkannya.

__ADS_1


"DOOOORRRRR!" Tiffany mengagetkan Amira dari belakang.


"Eh copot.. copot... copot...," ucap Amira latah dikagetkan oleh Tiffany dari belakang. Tiffany tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


"Hahaha..kamu lucu banget. Bisa juga ya kamu latah begitu, apanya yang copot Ami?" ledek Tiffany sambil menahan tawanya. Amira memutarkan bola matanya malas dan memanyunkan bibirnya. Ia menatap sahabatnya itu kesal. "Jantungku yang copot tau."


"Hahahaha.. maaf.. maaf.. oke?" ucap Tiffany lagi sambil mengatupkan kedua tangannya rapat.


Amira melipatkan kedua tangannya di dada, "Baiklah, aku maafkan. Awas gitu lagi," tunjuk Amira ke Tiffany.


Tiffany mengangguk-anggukkan kepalanya masih berusaha menahan tawa, "Kamu ngapain berdiri di sini, bukannya masuk ke dalam langsung?" tanya Tiffany.


"Aku gugup. Ini kan pertama kalinya kita masuk ke dunia kerja. Walaupun masih magang sih, tapi tetap aja aku gugup, Tif," ucap Amira serius menatap Tiffany.


"Ya ampun. Kirain apa. Santai aja kali. Nih aku peragain sama kamu. Tarik nafas.. terus.. terus.. ya udah gitu aja tarik terus...," ucap Tiffany mulai iseng mengerjai Amira lagi. Amira yang polos malah mengikuti petunjuk Tiffany, dan akhirnya ia sadar dikerjain oleh temannya itu.


Amira yang mendelik kesal dan menghentakkan kakinya. Ia berjalan meninggalkan sahabatnya itu. Tiffany tertawa sembari mengejar langkah Amira.


°


°


°


°


Amira dan Tiffany sekarang berada di ruangan humas Little Royal. Mereka tidak hanya berdua, tetapi ada dua orang lagi yang juga memakai seragam magang seperti mereka, kemeja putih dan bawahan hitam. Amira memakai bawahan rok mini dengan rambut panjangnya dikuncir kuda satu ke atas.


"Walaupun kalian hanya mahasiswa magang, tetapi kalian yang masuk dan bekerja di sini termasuk karyawan Royal Group juga. Oleh karena itu, kalian harus mematuhi peraturan perusahaan ini," ucap Robert tegas.


Robert membagikan buku peraturan kepada mahasiswa magang di depannya. "Di dalam sini tertera peraturan-peraturan Royal Group yang tidak boleh kalian lakukan dan apa yang harus kalian lakukan. Paham?"


"PAHAM PAK!!" ucap para mahasiswa itu kompak.


"Yang paling penting adalah para karyawan di sini dilarang untuk menjalin hubungan percintaan, dalam arti kata adalah cinta lokasi. Paham?" Robert memperjelas lagi peraturan perusahaan kepada para mahasiswa magang tersebut, termasuk Amira.


"Pak, saya mau tanya," ucap mahasiswi yang berdiri di samping Amira, Melinda Xu. Robert mengangguk menandakan Melinda untuk bertanya.


"Kalau ketahuan, apa pak hukumannya?" tanya Melinda.


"Pertanyaan bagus. Kalau ketahuan, salah satu dari mereka yang menjalin hubungan harus keluar dari perusahaan ini. Dan buat kalian karyawan magang, berarti nilai kuliah magang kalian tidak akan kami berikan, kalian mengerti kan maksud saya?" Robert meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"IYA PAK!" jawab para mahasiswa magang kompak.


°


°


°

__ADS_1


°


°


°


°


°


Amira dan Tiffany masuk ke dalam ruangan Departemen Perancangan. Mereka memperkenalkan diri sebagai mahasiswi magang di sana.


"Mari perkenalkan diri kalian masing-masing," ucap Steven Liu selaku Manager Departemen Perancangan.


"Halo, saya Tiffany Kim. Mohon bantuannya semua," ucap Tiffany memperkenalkan dirinya.


"Halo, perkenalkan saya Amira Lin. Kakak-kakak sekalian boleh memanggilku, Ami. Mohon bantuannya selama kami di sini," ucap Amira memperkenalkan dirinya.


Semua karyawan departemen tersebut bertepuk tangan dan menyambut mereka dengan suka cita. Apalagi para karyawan pria yang begitu girang mendapatkan suasana baru di ruangan kantor mereka.


"Mari saya antar ke tempat duduk kalian. Ah sebelumnya perkenalkan saya Steven Liu. Panggil saja Steve. Saya manager di departemen ini, kalau ada yang tidak kalian mengerti, boleh tanyakan ke saya ataupun rekan-rekan yang lain," ucap Steve memperkenalkan dirinya.


"Baik, terima kasih Pak Liu," ucap Amira dengan sopan.


Steve tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Jangan panggil pak, kita di sini bebas. Lebih baik kamu panggil aku Steve saja seperti yang lain. Apa setua itu dipanggil Pak?" tanya Steve malu. Memang Steve baru berumur dua puluh sembilan, tidak berbeda jauh dengan Vincent ataupun Leon.


Amira mengangguk, "Baiklah Kak Steve."


Steve tersenyum menanggapi ucapan Amira. Sejak awal bertemu dia sudah tertarik dengan Amira.


Steve mengantarkan Amira dan Tiffany ke tempat duduk mereka. Mereka duduk bersebelahan dengan dibatasi sekat di antara meja mereka. Setelah itu, Steve kembali ke ruang kerjanya.


Tiffany menyenggol pundak Amira setelah melihat Steve pergi. "Eh Ami, sepertinya Kak Steve suka sama kamu," ucap Tiffany setengah berbisik.


"Hush.. jangan asal bicara. Nanti didengar orang lain gak enak tau," Amira menghentikan Tiffany yang mulai berbicara asal.


"Kamu gak percaya? Dari tadi aku perhatikan, dia selalu melirik ke arahmu, Ami," lanjut Tiffany lagi.


"Udah ah. Mending kamu baca ini." Amira memberikan file di depan mejanya. Tiffany memajukan bibirnya sebal.


°


°


°


°


°

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue...


__ADS_2