
"Hahaha masa sih, Kak," ucap Amira tertawa mendengarkan celotehan Steve, disambut juga tawa Tiffany di sampingnya.
Vincent mendengarkan tawa kekasihnya itu, ia merasa api di dalam dadanya sudah memburu. Tetapi ia tetap berusaha memasang senyum menawan sejuta umat miliknya ketika mendekati meja mereka.
"Sayang, lagi cerita apa? Sepertinya seru," tanya Vincent dengan lembut dan mempertahankan senyumannya. Vincent meletakkan nampan yang dibawanya dan duduk di sebelah Amira.
"Ah, nggak ... ini Kak Steve habis ceritain tentang dulu ia dikerjain sama temennya, hahaha ... lucu banget," ucap Amira masih tertawa geli. Vincent menarik nafasnya pelan dan mengembangkan senyum menawannya lagi.
"Ya udah Sayang. Yuk dimakan dulu," ucap Vincent menyodorkan makanan yang dipesannya di depan Amira.
Amira mengerutkan keningnya heran melihat makanan yang dipesan Vincent, "Lho kok ada seafood-nya?" tanya Amira menatap piring tersebut.
"Amira alergi seafood lho," ucap Tiffany mengingatkan Vincent. Vincent hanya tersenyum menanggapi peringatan Tiffany.
"Terus pesananmu mana?" tanya Amira heran melihat porsi makanan yang hanya satu piring.
"Itu," jawab Vincent menunjuk piring di depan Amira dengan dagunya.
Amira mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mencerna maksud Vincent. Vincent tersenyum dan mengambil sendok di piring, kemudian mengisi sendok itu dengan nasi goreng yang sudah dipisahkan isi seafood-nya oleh Vincent.
"Aaaaa," ucap Vincent sambil menyodorkan sendok tersebut di depan mulut Amira.
Amira bengong melihat Vincent yang ingin menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Steve dan Tiffany hanya bisa menatap mereka berdua yang sedang bermesraan di depan mereka.
"Ehem." Vincent berdeham mengalihkan perhatian Amira dan lebih mendekatkan sendoknya ke bibir Amira. Dengan terpaksa Amira membuka mulutnya dan memakan makanan yang disodorkan Vincent ke dalam mulutnya.
Sebenarnya apa sih maunya Vincent? gumam Amira di dalam hati.
Vincent menyodorkan sendok kosong ke tangan Amira, "Seafood-nya buat aku aja kalau kamu alergi," ucap Vincent sambil menunjuk ke arah sendok dan mulutnya bergantian, meminta Amira untuk menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
Ck, ternyata dia sengaja pesen satu porsi. Dasar kekanak-kanakan, umpat Amira setelah mengerti maksud Vincent sekarang.
Aku hanya bisa menelan ludah aja melihat mereka, batin Tiffany sambil mengacak makanan di piringnya.
Sepertinya Pak Vincent menganggap aku sebagai rivalnya, batin Steve menghela nafas pelan.
Dan begitulah terjadi adegan suap-menyuap sepasang kekasih di depan mata Tiffany dan Steve. Mereka hanya bisa berpura-pura tidak melihat adegan itu.
"Permisi, aku boleh duduk di sini?" tanya Melinda yang tiba-tiba menghampiri meja mereka. Tiffany menatap sinis ke arah Melinda, Kenapa lagi si centil ini mau duduk di sini?
Tiffany melihat tatapan Melinda yang melirik ke arah Vincent, Ck ternyata dia mau cari perhatian Kak Vincent.
"Ah Mel. Bo ...." Amira ingin menjawab Melinda dengan mengijinkan ia duduk bersama mereka, tetapi disela oleh Tiffany, "Ami."
Tiffany menendang kaki Amira dan memberi kode agar tidak mengijinkan Melinda duduk bersama mereka. Amira meringis melihat kakinya yang ditendang sahabatnya itu dan bengong dengan kode yang diberikan sahabatnya itu. Tiffany menepuk keningnya pelan melihat kepolosan Amira.
Tetapi lain hal dengan Vincent, ia paham dan segera menjawab, "Maaf kamu ke meja lain saja," tolak Vincent dengan dingin. Vincent juga kesal dengan Melinda yang menginterupsi adegan mesranya dengan Amira.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Melinda beranjak pergi meninggalkan mereka dengan muka masam.
"Kamu kenapa sih nendang aku?" protes Amira setelah Melinda menjauh.
"Iiiiih ... Gemes aku lihat kamuuuu," ucap Tiffany dan mencubit pipi Amira dengan gemas. Amira segera menepis tangan Tiffany dari pipinya dan memanyunkan bibirnya.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Steve yang juga heran dari tadi menonton mereka dari tempat duduknya. Tiffany menatap Steve tajam dan menepuk keningnya lagi.
"Udah ah. Kenyang sudah perutku melihat kepolosan kalian berdua," jawab Tiffany dengan wajah kesal dan gemas. Vincent hanya tertawa kecil melihat kepolosan kekasihnya dan kekesalan Tiffany.
Amira menatap Vincent menuntut jawaban, tetapi Vincent hanya menggedikkan bahunya dan melanjutkan adegan mesra mereka. Steve segera pamit setelah kepergian Tiffany, ia tidak ingin menjadi 'obat nyamuk' di meja itu.
°
°
°
°
°
Amira kembali ke mejanya setelah makan siang yang sangat melelahkan baginya. Baru kali ini ia merasa lebih baik ia tidak makan daripada ditatap oleh orang-orang seperti tadi.
Amira menghela nafas panjang dan mengelus perutnya yang masih lapar karena porsi makannya yang harus dibagi dua dengan Vincent.
"Aku lapar ...," gumam Amira pelan dan meletakkan wajahnya di meja, tidak ada nada semangat di dalam ucapannya.
Tiffany tertawa mendengarkan gumaman Amira, "Bukannya kalau lagi kasmaran, cukup makan cinta aja sudah kenyang hahahaha," ledek Tiffany.
Amira mengerucutkan bibirnya dan menghela nafas mendengarkan ledekan Tiffany, "Bagiku makan makanan enak lebih kenyang nyam ... nyam ... nyam ...," ucap Amira sambil mengigau membayangkan makanan yang lezat.
"Ck, dasar tukang makan," ledek Tiffany sambil tersenyum.
"Coba otak kamu dipakai untuk yang lain selain makanan," ledek Tiffany lagi.
Amira mengangkat wajahnya dan mengerucutkan bibirnya, "Maksud kamu tadi apa sih, Tif?" tanya Amira sambil menatap Tiffany dengan sebal.
"Apa apanya?" tanya Tiffany balik.
"Yang tadi waktu di kantin, kamu kasih kode apaan?" tanya Amira memperjelas pertanyaannya.
"Oh itu. Masa kamu gak sadar kalau Melinda sengaja datang ke meja kita buat mencari perhatian pacar kamu," ucap Tiffany lagi.
Amira membulatkan matanya seakan tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu, "Masa sih?"
"Untung aja Kak Vincent paham dan segera mengusir Melinda dari sana, aku kasih tau ya Ami, hati-hati sama Melinda, aku lihat dia bukan tipe orang yang mudah menyerah," ucap Tiffany memperingatkan sahabatnya itu.
__ADS_1
Amira tertegun mendengarkan perkataan Tiffany dan mengangguk pelan.
Drrt ...
Ponsel Amira di saku celananya bergetar, Amira mengeluarkannya dan melihat ada satu pesan masuk. Ia membuka pesan itu dan membacanya.
My Bear ❤
Sayang, nanti kamu ke ruanganku setelah kerjaanmu selesai. Kita pulang bareng. Love U.
Amira tersenyum kecil membaca pesan itu dan membalasnya dengan satu kata 'Oke'. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan melanjutkan pekerjaannya.
°
°
°
°
°
Sementara itu di ruangan Vincent.
Vincent sedang duduk di kursi kebesarannya dan berkutat dengan laptop di depan mejanya, melihat laporan-laporan yang dikirimkan kepadanya melalui email oleh Lucas dan Jason.
Ponsel Vincent di atas meja bergetar. Ia segera membuka pesan balasan dari Amira atas pesan dikirimnya tadi. Ia membaca pesan itu dan mengerutkan keningnya.
My Chubby ❤
Oke.
"Gini aja?" gumam Vincent kecewa membaca pesan Amira yang hanya satu kata.
Vincent menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia tersenyum sendiri membaca pesan tersebut dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nanti musti aku beri dia hukuman dulu, batin Vincent dan tersenyum menyeringai.
Bunyi email masuk di laptopnya membuyarkan lamunan Vincent, ia membaca email tersebut dan raut wajahnya berubah gelap. Rahangnya mengeras dan tatapan matanya menjadi dingin menatap layar laptopnya.
Email masuk itu berisi peringatan kepada Vincent agar ia lebih waspada, ada seseorang yang secara diam-diam membeli saham Royal Group secara perlahan dan bertahap. Walaupun orang yang membeli saham tersebut hanya dalam jumlah kecil, tetapi ia terus membelinya secara bertahap. Hal ini dapat mengecam posisinya sebagai pemegang saham terbesar saat ini.
Yang membuat Vincent penasaran bukanlah hanya seseorang yang membeli saham Royal Group, tetapi si pengirim email misterius itu, Hades.
Hades? Siapa sebenarnya dia, batin Vincent.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
To be continue ....