Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 42


__ADS_3

WARNING!!


YANG LAGI PUASA, SKIP AJA PART INI!


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Setelah mengantar Amira pulang ke apartemen, Daniel langsung menuju bandara, pulang ke Serenity.


Amira sendirian di apartemen, Tiffany sedang keluar, ada urusan penting katanya.


Amira menghela nafas, merasa bosan. Tiba-tiba dia teringat akan Vincent. Dia mengambil ponselnya, dan melihat pesan masuk. Nihil!


"Tumben, dia tidak mencariku?"gumam Amira.


"Ah, sudahlah, biarkan saja, Ami," Amira melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Amira berusaha mengalihkan pikirannya dengan menonton drama. Tetapi, Amira masih penasaran dan melirik ponselnya.


Amira menghela nafas, "Anggap saja aku membalas budi, karena kamu sudah menjagaku semalaman," ucap Amira kepada boneka beruang kesayangannya.


Amira mengambil kembali ponselnya dan menekan nomor kontak Vincent.


Tut.. tut..tut..


Cukup lama Amira menunggu jawaban, tetapi tidak ada yang menjawab panggilannya, hingga beralih ke nada tunggu.


"Kok aneh sih gak diangkat?" gumam Amira cemberut.


"Katanya suka padaku, tapi mana buktinya, ha?" tanya Amira pada boneka beruangnya lagi, seolah-olah boneka itu adalah Vincent.


Amira mencoba menelpon kembali, tetapi sama tidak ada jawaban. Amira melempar ponselnya lagi ke atas tempat tidur.


"Kamu, awas ya nelepon balik!" tunjuk Amira ke ponselnya.


Amira bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri, karena merasa badannya lengket.


Beberapa menit kemudian, Amira keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Hal pertama yang dilakukan setelah berganti pakaian adalah mengambil ponselnya. Dia mengira Vincent akan menelepon balik, tapi ternyata nihil!


Amira merasa kecewa dan aneh, "Beneran gak nelepon balik nih?"


"Ah, apa coba aku samperin aja ya?" gumam Amira.


"Tapi tar si mesum itu kepedean lagi."


Amira bimbang ingin mengikuti kata hatinya yang mana. Akhirnya Amira memutuskan keluar, dan mendatangi unit Vincent, "Ini karena aku cuma mau memastikan kalau dia baik-baik saja ya," gumam Amira meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Amira memencet bel pintu apartemen Vincent.


TING TONG!


TING TONG!


Tidak ada sahutan dari dalam dan tidak ada yang membuka pintu. Amira mencoba memencet bel lagi.


TING TONG!


TING TONG!


Masih sama, tidak ada jawaban dan tidak ada yang membuka pintu, "Jangan-jangan dia marah dan pulang ke Serenity," gumam Amira.


Amira menghela nafas panjang, "Baguslah kalau begitu, tidak ada yang menggangguku lagi," gumamnya pelan tetapi ada perasaan hilang dalam ucapannya.


Ketika Amira baru akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen, pintu apartemen Vincent terbuka.


Amira menghentikan langkahnya, dan menutup pintu apartemennya kembali. Dia menatap pintu apartemen Vincent, tidak ada orang yang keluar.


Amira menghampiri pintu yang sedikit terbuka itu, ada perasaan takut di dalam dirinya, "Ya Tuhan, lindungi aku!" batin Amira sambil memejamkan matanya dan mendorong pintu itu sedikit kuat.


BRUUUKK!!


"VINCEEENTT!!!" teriak Amira histeris, melihat Vincent tergeletak di lantai.


Amira menghampiri Vincent dan menggoyang-goyangkan tubuhnya, serta memegang wajahnya. "Vincent!! Bangun, Vincent!" Amira menepuk pipinya Vincent. Wajah Vincent terlihat pucat, dan di keningnya terlihat keringat yang bercucuran.


"Wajahnya panas sekali," gumam Amira panik, "Badannya juga, aduh bagaimana ini?"


Amira mencoba untuk mengangkat tubuh Vincent, tetapi tenaganya tidak cukup kuat, sehingga tubuh Vincent terjatuh berkali-kali.


"Aduh, makan apa sih, berat amat," gumam Amira kesal, terduduk di lantai karena ikut terjatuh dengan tubuh Vincent yang berat.


Akhirnya terpaksa Amira menyeret tubuh Vincent hingga masuk ke dalam kamar tidur. Ketika akan mencoba mengangkatnya ke atas tempat tidur, tubuh Amira limbung dan mereka berdua jatuh bersamaan di atas tempat tidur, dengan posisi Amira di bawah.


Amira kaget dan mencoba melepaskan diri. Akhirnya dengan susah payah mendorong tubuh Vincent ke samping, Amira dapat melepaskan dirinya.


"Hadeh, ini yang demam dia, tapi aku juga ikut keringatan," gumam Amira sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya.


Amira beranjak dari tempat tidur dan mencari kotak obat di apartemennya sendiri, tidak lupa sebelum keluar dari apartemen Vincent, Amira mengganjal pintunya dengan sandal. Takut kalau pintunya tertutup nanti dia tidak bisa masuk, karena tidak tau kode sandi apartemen Vincent.


Setelah mengambil kotak obat dan ponselnya yang tertinggal, Amira bergegas kembali ke apartemen Vincent.

__ADS_1


Dengan cekatan, Amira mengambil termometer dan mendekatkannya ke kening Vincent. "Ha? 40 derajat, untung gak kejang-kejang."


Vincent menggigil, badannya gemetaran. Amira menyelimutinya dengan selimut tipis.


Amira mengambil handuk dan baskom berisi air hangat. Amira mengompresnya dan diletakkan handuk hangat itu di kening Vincent.


"Sakit begini, bukannya ke dokter, dasar sok kuat! Kalau aku gak datang, gimana, ha?" celoteh Amira kepada Vincent yang tidak merespon.


Amira dengan cekatan terus mengganti kompresan yang sudah dingin, dengan kompres yang hangat, hal itu dilakukan berulang-ulang.


Dipegangnya kening Vincent, tetapi masih terasa panas, walaupun tidak sepanas tadi. Diambilnya termometer, dan diukur suhu tubuh Vincent lagi, "Cuma turun sedikit? 39 derajat?"


"Mau kasih dia minum obat, tapi gimana caranya dia telan?" gumam Amira pada dirinya sendiri.


Saat itu Vincent sudah mulai sadar, tetapi kepala dan tubuhnya terasa berat dan sakit, dan penglihatannya juga tidak fokus, sehingga dia memejamkan matanya kembali. Tetapi dia dapat mendengar suara Amira walau tidak begitu jelas.


"Ah, sebaiknya obatnya ditumbuk dan dilarutkan ke air, mungkin lebih gampang diminum ya. Kamu memang cerdas, Ami," puji Amira pada dirinya sendiri.


"Apa aku harus meminumkannya dengan mulutku?" gumam Amira. "Ah tidak-tidak, itu namanya ciuman langsung," Amira menggeleng kepalanya kuat. Vincent mendengar gumaman Amira dan tersenyum, Amira tidak menyadarinya.


Amira mencoba meminumkan obat penurun demam yang sudah dilarutkan ke air, tetapi obat tersebut tidak terminum semua, lebih banyak keluar daripada diminum.


"Aduh, kok malah dikeluarin sih. Kalau gak diminum, gimana bisa turun panasnya?" celoteh Amira.


Amira melihat Vincent yang masih belum sadar, dan menghela nafas pelan, "Tenang, Ami. Si mesum itu juga belum sadar, dia juga tidak akan tau kalau kamu meminumkannya dengan mulutmu, oke."


Amira mencoba meyakinkan dirinya, "Ini bukan ciuman, ini hanya meminumkan obat, bukan ciuman."


Setelah meyakinkan dirinya dan memastikan Vincent belum sadar, Amira meminum obat tersebut, dan menopang kepala Vincent dengan tangannya, dengan perlahan dia mendekatkan bibirnya dan memasukkan obat tersebut ke mulut Vincent.


Setelah obat tersebut ditelan Vincent, dengan gesit Vincent mencium bibir Amira lembut. Amira kaget dan mendorong Vincent.


Amira melotot dan menutup mulutnya. Vincent yang didorong, meringis memegang kepalanya.


"Kamu sudah sadar dari tadi?" tanya Amira yang masih kaget. Vincent tersenyum dan memegang bibirnya dengan jarinya.


"AAAAAAA, DASAR MESUM!!!!" teriak Amira kesal dan menimpuk Vincent dengan bantal.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


*To be continue...


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya ya..

__ADS_1


thank you 😘*


__ADS_2