Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 51


__ADS_3

Mobil Vincent berhenti di basement Hotel Martinez. Aku menatapnya heran, kenapa ia malah ke hotel bukan ke apartemen. "Vin.. Kenapa kamu malah membawaku kemari?" tanyaku pelan.


Vincent menyeringai sinis. "Kenapa? Takut?" ucapnya dingin dan sinis. "Kamu bisa pergi sekarang!"


Vincent segera turun dari mobil tanpa mempedulikanku. Aku bergegas turun dan mengejarnya. Aku tidak ingin pergi sebelum menjelaskan semuanya.


Vincent masuk ke dalam lift, dengan cepat aku menahan lift dengan tanganku. Aku masuk ke dalam lift dan berdiri di sampingnya. Ia benar-benar tidak mempedulikanku. Aku merasa sangat sedih.


"Vin.. sebenarnya aku.." Aku belum menyelesaikan ucapanku, tetapi pintu lift sudah terbuka di lantai 28 dan Vincent berjalan keluar meninggalkanku. Aku menghela nafas dan bergegas mengejar langkahnya.


Vincent membuka pintu kamar di lantai itu. Aku heran melihatnya, apa hotel ini miliknya, kenapa ia bisa punya kartu kamar hotel. Vincent akan menutup pintu kamarnya, aku dengan sigap menahan tanganku di sela pintu hingga tanganku terjepit. Aku meringis kesakitan.


Vincent melirik tanganku yang memerah tetapi ia masih bersikap dingin dan berjalan masuk. Ia membuka jasnya dan melemparnya ke atas sofa. Aku mengikutinya hingga berhenti di sebuah mini bar di ruangan itu.


Ia mengambil sebotol anggur merah dan membuka penutupnya. Menuangkannya ke dalam gelas wine dan langsung meneguknya tanpa sisa. Ia mengisi gelasnya lagi dan meneguknya lagi.


Aku menghentikan tangannya yang ingin mengisi gelas winenya lagi. "Vin.. cukup!" ucapku.


"Bisakah kau mendengarkanku dulu, Vin?" pintaku padanya. Mataku mulai berkaca-kaca melihat dirinya yang begitu dingin terhadapku.


"Apa? Kau mau mengatakan kalau kalian berdua tidak melakukan apapun tadi?" ucap Vincent meletakkan gelas winenya dan mendekatiku dengan tatapan marah.


"Vin.. Aku dan Kak Leon.." Aku belum menyelesaikan ucapanku, Vincent langsung membungkamku dengan bibirnya. Ia menciumku dengan kasar dan penuh emosi kemarahan. Bau alkohol di mulutnya begitu menusuk di hidungku. Aku mendorongnya kuat, tetapi ia menahan kedua tanganku dengan satu tangannya yang besar.


Air mataku yang kutahan sedari tadi tumpah. Aku tidak ingin Vincent memperlakukanku seperti ini. Setelah mencium bibirku, bibirnya turun menjelajahi leherku. Memberikan kiss mark di leherku dengan kasar. Aku memberontak. "VINCENT!! HENTIKAN!"

__ADS_1


Aku mengigit pundaknya, ia melepaskan tanganku dan memegang pundaknya. Refleks aku menampar wajahnya.


PLAK!


Aku mengenggam tanganku yang menampar wajahnya dengan gemetar. Air mataku masih mengalir. Aku mengigit bibirku dan mencengkram bajuku.


Aku mendekati Vincent dengan perlahan dan takut. Ia masih memalingkan wajahnya ketika kutampar tadi. Aku mengelus wajahnya yang memerah karena tamparanku. Ia berbalik dan menatapku, masih sama. Dingin. Aku menarik tanganku menjauh dari wajahnya.


"Vin.. Aku dan Kak Leon tidak ada apa-apa," ucapku memberanikan diri, suaraku sedikit gemetar.


"Tadi Kak Leon memang ingin menciumku tetapi aku menolaknya, karena aku sadar Vin.." Aku memberi jeda dalam ucapanku dan menarik nafas panjang. "Aku sadar kalau orang yang aku suka adalah kamu," lanjutku memejamkan mataku erat tanpa berani menatap wajahnya.


Vincent tertawa keras. Suaranya memenuhi ruangan itu. Aku menengadahkan wajahku dan menatapnya heran. Apakah pengakuanku selucu itu? Apa ia tidak mempercayaiku? Aku diam, tidak berani menanyakannya.


Setelah puas tertawa, ia menatapku kembali dengan dingin.


"Kau mengatakan kalau kau suka padaku agar aku dapat membantu perusahaan Lin Corp bukan?" ucapnya lagi.


Aku menggeleng, "Bukan Vin, bukan seperti itu."


Ia melihat ke arah leherku dan menarik kalungku hingga terlepas dari leherku. "AL, huh?!" ucap Vincent membaca inisial namaku dan tersenyum sinis.


"AL? Amira Leon? Kau sudah menerima tanda cintanya dan sekarang kau bilang kau menyukaiku?" Vincent menghempaskan kalung itu ke lantai, aku menganga tak percaya mendengarnya.


"Kenapa ia bisa sampai menyimpulkan bahwa inisial namaku Amira Lin dengan Amira Leon? Astaga! Ke mana akal sehatmu Vincent?!" batinku berteriak.

__ADS_1


"Vin... Kyaaaa.." Vincent menarik tanganku kuat sebelum aku menjawab apapun, ia menyeretku tetapi aku memberontak. Kemudian ia memanggul tubuhku di atas pundaknya.


"VINNN.. TURUNKAN AKU!!" teriakku histeris. Aku memberontak dan memukul punggungnya, tetapi ia tidak bergeming. Ia terus berjalan memanggulku masuk ke sebuah ruangan. Aku melihat ruangan itu adalah kamar tidur.


BRUK!


Vincent menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur yang sangat besar di kamar itu. "VINCENT!!! Mmmm..." Vincent tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara, ia membungkamku lagi dengan bibirnya secara kasar.


Aku mengigit bibirnya hingga ia melepaskan ciuman itu. Aku menatapnya tajam dan menangis, "Vin.. Apa.. apa.. aku serendah itu di matamu?" ucapku pelan dan suaraku sedikit terputus-putus karena menangis. Hatiku terasa sakit memikirkan Vincent yang menganggapku begitu rendahnya.


"Aku tau kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan saat ini. Tapi Vin, percayalah orang yang aku sukai itu adalah kamu, bukan yang lain," lanjutku lagi.


Aku berusaha menahan tangisku. Kali ini aku menatap langsung ke dalam matanya yang dingin, mencari jawaban di dalam manik matanya itu. Vincent tidak mengucapkan apapun. Hanya tatapan dingin dan sinis yang kudapat.


"Kalau kau ingin bukti, aku akan melakukannya denganmu," ucapku dengan berani. Entah keberanian dari mana yang aku dapatkan hingga bisa mengatakan hal gila itu.


Aku memberanikan diri mencium bibirnya perlahan, Vincent tidak membalasnya, ia hanya diam dicium seperti itu olehku. Aku mengalungkan tanganku di lehernya mendekat dan memperdalam ciuman kami. Aku menarik ujung kaosku sambil berusaha menahan air mataku hingga Vincent menahan tanganku menghentikan gerakanku.


Ia segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi.


BRAK!


Pintu kamar mandi ditutupnya dengan kuat hingga mengagetkanku. Aku mendudukkan tubuhku di atas tempat tidur dan menangis sesengukan atas segala perbuatan yang Vincent lakukan padaku tadi dan perbuatanku sendiri yang sudah gila. Aku merasa aku sangat rendah di matanya saat ini.


**End of Amira POV

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆*


To be continue*...


__ADS_2