
Steve melambatkan laju mobilnya karena melihat tidak ada yang mengejar mobilnya di belakang. Ia melihat wajah adiknya yang pucat sedang duduk di sampingnya menatap datar ke depan.
"Helen, apa kamu tidak apa-apa? Apa mereka menyakitimu?" tanya Steve cemas.
Helen menggeleng kepalanya pelan, ia hanya diam dan menatap kakaknya berusaha tersenyum agar kakaknya tidak mengkhawatirkannya.
"Kamu tenanglah. Kakak akan mengantarkanmu pergi dari kota ini. Mereka tidak akan bisa menemukan kita," ucap Steve membuat Helen membelalakan matanya.
"Ma-maksud kakak?" tanya Helen tidak sepenuhnya mengerti ucapan kakaknya. Steve hanya diam dan fokus mengendarai mobilnya.
Tidak perlu waktu lama, mobil anak buah Adrian sudah berada di belakang mereka. Salah satu dari mereka mengarahkan senjata apinya ke arah mobil Steve. Untungnya cahaya lampu jalan yang remang mengurangi pandangan si penembak dan hanya mengenai spion mobil Steve.
Steve yang kaget mendengarkan bunyi tembakan dari belakang, refleks melihat kaca spion mobilnya yang pecah. Ia melirik ke belakang melalui spion tengahnya. "SHIT!" umpatnya panik. Dua mobil sedan hitam dan silver sedang mengejarnya dari belakang dengan kecepatan tinggi.
"Helen, pakai sabuk pengamanmu!" perintah Steve pada adiknya. Dengan segera, gadis itu mematuhinya. Ia memegang tali sabuk pengamannya dengan erat.
Steve memasukkan gigi mobilnya dan menginjak pedal gasnya dengan kuat, membuat mobil itu melaju dengan cepat.
'Kenapa mereka tahu posisiku? Apa jangan-jangan ada alat pelacak di tubuhku dan Helen?' batin Steve.
Tembakan kedua kembali ditembakkan dari mobil sedan hitam, tetapi meleset mengenai body mobil Steve. Helen berteriak histeris dan memejamkan matanya.
"Tutup telingamu dan tundukkan kepalamu, Helen!" seru Steve sambil memutar setirnya cepat berbelok ke kanan.
Kedua mobil sedan di belakangnya memisahkan diri ke kanan dan ke kiri, mereka dengan cepat mengejar mobil Steve bermaksud ingin mengapit mobil itu.
__ADS_1
"Serahkan tasmu!" perintah salah satu anak buah Adrian dari mobil sedan hitam di samping kanan Steve. Mereka menginginkan tas yang berisi laptop Steve.
Steve mengabaikan perintah mereka dan menambah laju mobilnya. Ia meliuk-liukkan mobilnya ke kanan dan ke kiri agar mereka tidak mengapit mobilnya. Dari arah belakang, mobil sedan silver menabrakkan dirinya ke badan mobil Steve.
"KYAAAAAA!" teriak Helen ketakutan. Keringat bercucuran di kening Steve, tetapi ia tidak menyerah. Steve tetap mempertahankan posisi mobilnya dan berusaha meninggalkan mobil di belakangnya.
Terdengar bunyi tembakan dari arah belakang Steve, tetapi tembakan itu bukan mengarah ke mobilnya, melainkan ke arah mobil sedan hitam yang berada di samping kanan mobil Steve.
Mobil sedan silver itu tetap mengejarnya, sedangkan mobil sedan hitam tertinggal di belakang karena ban mobilnya tertembak peluru dari mobil di belakangnya. Lucas dan anak buahnya segera datang menyelamatkan Steve setelah mendengarkan tembakan pertama melalui alat penyadap suara yang dipasang di pergelangan tangan Steve.
Lucas memang sengaja tidak mendekati mobil Steve agar kedua mobil itu tidak menyadari keberadaannya, tetapi ia sudah tidak bisa meremehkan lawannya yang telah berani menggunakan senjata api.
Beberapa anak buah Lucas turun dan membereskan orang yang berada di dalam sedan mobil hitam, sedangkan Lucas dan yang lainnya mengejar mobil Steve dan mobil sedan silver itu.
Lagi-lagi kaca mobil belakang Steve tertembak, Steve tetap berkonsentrasi mengendarai mobilnya dengan baik, yang ia khawatirkan adalah kondisi adiknya yang sudah gemetar dan ketakutan.
Satu tembakan dilayangkan dan terdengar teriakan dan tangisan Helen yang berada di samping Steve serta rintihan Steve yang menahan sakit.
Tembakan itu mengenai dada kanan Steve sehingga membuat pria itu tidak stabil mengendarai mobilnya dan membuat mobilnya berputar hingga sembilan puluh derajat dan terdengar decitan antara ban dan aspal.
Steve memukul setirnya kuat. Ia sudah tidak bisa melarikan diri kali ini. Mobilnya terapit di antara lereng bukit dan mobil sedan silver itu.
Nafas Steve tersengal-sengal dan keringat yang bercucuran dari keningnya karena menahan sakit yang luar biasa. Jas dan kemeja yang ia pakai telah basah oleh keringat di bagian punggung dan darah di area dada Steve yang tertembak.
Steve melihat kondisi adiknya telah pingsan karena takut melihat kakaknya tertembak. Ia menghela nafas dan memukul setirnya berkali-kali.
__ADS_1
Penumpang dan pengemudi mobil sedan silver itu tersenyum menyeringai, salah satu dari mereka adalah pria botak itu. Mereka segera turun dan bermaksud menghampiri mobil Steve, tetapi baru saja mereka keluar dari mobil, sebuah mobil jeep berukuran besar mendekati mereka dari depan. Terdengar bunyi dua tembakan dari mobil jeep itu yang dilayangkan tepat di kepala mereka, hingga membuat mereka terbujur kaku saat itu juga.
Steve yang kaget mendengar tembakan di sampingnya, memalingkan wajahnya melihat kedua orang yang mengejarnya sudah tak bernyawa di atas aspal yang memanas itu.
Pandangan Steve beralih ke arah mobil jeep di depannya, ia melihat seorang pria bertubuh tinggi mengenakan kacamata hitam turun dari mobil jeep itu. Cahaya yang remang dan pandangan yang mulai memudar membuat Steve sulit untuk melihat sosok pria itu. Ia tidak tahu apakah itu teman atau lawan. Ia hanya bisa pasrah. Darah yang terus mengalir di dadanya membuat dirinya tidak sadarkan diri seketika.
Dari arah belakang, mobil Lucas menghampiri mobil Steve. Lucas segera turun dan mendekati pria yang sedang berdiri menatap dingin kedua sosok tak bernyawa di dekatnya.
"Silver?" panggil Lucas kepada pria itu.
Pria yang dipanggil Silver menatap ke arah Lucas dan menarik sedikit ujung bibirnya, "Lama tak berjumpa, Dark," ucapnya datar.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Lucas, tepatnya Dark. Ya Lucas adalah utusan yang dikirim Hades untuk menjaga dan memberikan informasi tentang Vincent kepada Hades.
Pria itu membuka kacamata hitam yang bertengger di matanya, memperlihatkan dinginnya manik mata berwarna perak itu.
"Hades yang memintaku untuk membantu Light," ucap Silver santai. Lucas alias Dark hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa lagi.
"Sebaiknya kamu segera membantu pria lemah di sana sebelum ia mati kehabisan darah," ucap Silver mengingatkan Lucas.
"Biar aku yang membereskan onggokan sampah di sini," ucap Silver lagi dengan dingin. Tidak ada senyuman yang terukir di bibirnya.
Lucas mengangguk dan segera memerintahkan bawahannya untuk membantunya membawa Steve dan adiknya ke rumah sakit.
Silver memandangi mobil Lucas yang mulai menjauh. Ia mengeluarkan senapannya dan mengarahkannya ke mobil sedan silver di depannya, tepat di tangki bensinnya.
__ADS_1
Ia berjalan perlahan masuk ke dalam mobil jeepnya dan memundurkan mobilnya dan berputar arah. Tidak berapa lama terdengar percikan api dan ledakan berasal dari mobil sedan silver itu. Dua tubuh yang tak bernyawa itu pun habis dilahap kobaran api dari ledakan itu.
To be continue …