
"Aku lapar!" ucap Amira berbalik menatap Vincent yang sudah berjalan ke arahnya dan merangkul pinggangnya.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Vincent.
"Mmm ... aku sebenarnya sudah janji sama Tiffany mau makan siang bareng," jawab Amira.
"Kamu kok gak bilang mau ajak makan? Aku kan sudah janji sama Tiffany," ucap Amira lagi.
"Kalau aku bilang jadinya gak surprise dong," jawab Vincent santai.
Amira tersenyum mendengar jawaban kekasihnya itu. "Tapi kamu senang kan Sayang ...," goda Vincent.
"Senang sih, tapi aku udah janji sama Tif, tar aku dibilang gak setia kawan ninggalin dia demi pacar," ucap Amira galau. Vincent mengacak rambut Amira dan tersenyum.
"Ya udah, aku ikut kalian aja," jawab Vincent mengalah. Amira membulatkan matanya menatap Vincent.
"Kenapa?" tanya Vincent heran melihat Amira.
"Beneran?" tanya Amira memastikan. Vincent mengangguk mantap.
"Kami makan siang di kantin lho Sayang," balas Amira berusaha menjelaskan lokasi area mereka nanti.
"Sekali lagi dong," ucap Vincent yang senang Amira memanggilnya dengan kata 'Sayang', suaranya terdengar manis di telinga Vincent.
"Apa sih?!" protes Amira memanyunkan bibirnya dan bibir Amira dikecup dengan gemas oleh Vincent. Amira memukul dada Vincent pelan karena kaget dengan ulah Vincent.
"Terus kenapa kalau kalian makan di kantin?" tanya Vincent atas pernyataan Amira tadi, sambil mengernyitkan keningnya heran.
"Kamu kan Presdir, masa makan di kantin?" balas Amira.
"Emangnya Presdir bukan manusia, gak boleh makan di kantin?" tanya Vincent tidak senang karena Amira melarangnya ikut makan bersamanya.
Amira menghela nafas, "Bukan begitu Sayang, tapi ... ah sudahlah terserah kamu aja."
__ADS_1
Amira melangkahkan kakinya meninggalkan Vincent di belakang. Vincent mengejar langkah Amira dan menggandeng tangannya.
Saat ini aktivitas di kantin sangat padat. Para karyawan mondar-mandir mengambil makanan dan mencari tempat duduk, ada beberapa yang sudah menyelesaikan makannya dan duduk santai sambil bersenda gurau bersama rekannya. Suara riuh rendah terdengar dari ruangan itu.
Hanya ketika jam makan siang lah mereka dapat melepaskan penat atas pekerjaan mereka dari pagi, menyantap makanan yang telah dihidangkan dan meregangkan otot-otot wajah yang sudah menegang akibat stress dengan pekerjaan yang dihadapi.
Tetapi dalam hitungan detik, ketika Amira dan Vincent melangkahkan kakinya di kantin, ruangan yang padat dengan suara yang ramai menjadi sunyi senyap. Semua mata memandang ke arah mereka. Amira menelan ludahnya pelan. Suasana dan tatapan yang diberikan kepada mereka, lebih tepatnya kepada Amira membuat dirinya merinding.
Inilah yang aku tidak inginkan, batin Amira sambil menghela nafasnya panjang.
"Kenapa?" tanya Vincent yang masih bersikap santai berjalan masuk ke dalam kantin.
"Ah selamat datang, Pak Presdir," sapa Kepala Kantin, John Yang segera beranjak dari posisinya dan menyambut Vincent. Tidak biasanya Presdir mereka datang ke kantin, baru kali ini Vincent melangkahkan kakinya ke tempat itu. John tidak ingin melepaskan kesempatannya untuk mencari perhatian Sang Presdir.
Vincent hanya mengangguk tanpa menjawab sapaan John. Ia menatap sekeliling untuk mencari tempat duduk untuk dirinya dan Amira. Semua karyawan tidak ada yang berani mengangkat wajahnya. Mereka menundukkan wajahnya dan memakan makanan mereka dalam diam. Hening dan dingin terasa di dalam ruangan itu.
Tiffany mengangkat tangannya dan melambaikan tangannya ke arah Amira dan Vincent. Amira melihat ke arahnya dan ia menarik lengan Vincent untuk mengikutinya ke tempat duduk Tiffany yang terletak di sudut ruangan.
Steve menyapa Vincent tetapi diangukkan kepala oleh Vincent, tanpa membalas sapaannya. Amira hanya menyunggingkan senyumnya kepada Steve merasa tidak enak dengan perlakuan Vincent kepada Steve.
Amira duduk di sebelah Vincent berhadapan dengan Tiffany dan Steve. Mereka duduk dalam diam dan suasana menjadi canggung.
"Ehem ...." Amira berdeham mencairkan suasana yang canggung itu. Ia tersenyum dengan canggung kepada Steve dan Tiffany.
"Tif, kamu makan apa?" tanya Amira membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang sungguh bodoh. Jelas terpampang di depan meja Tiffany kalau ia sedang menyantap seporsi nasi goreng seafood.
Amira menutup wajahnya sendiri mendengar pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutnya itu. Tiffany hanya tersenyum kikuk menjawab pertanyaan Amira.
Steve menghela nafas pendek, "Ami, kalian sudah pesan makanan?" tanya Steve mencairkan suasana.
Amira menatap Steve dan tersenyum, "Belum Kak."
"Kamu mau makan apa? Biar aku pesen," tawar Steve kepada Amira tanpa menanyakan kepada Vincent yang berada di depannya yang sudah berwajah masam.
__ADS_1
"Hm ... aku pesan yang sama aja dengan Tif, nasi goreng tapi gak pakai seafood kak, telor didadar aja," balas Amira menjawab tawaran Steve. Vincent menatap Amira tajam mendengarkan jawaban kekasihnya itu.
Vincent merasa cemburu mendengarkan jawaban Amira yang menyambut tawaran Steve. Ia segera beranjak dari tempat duduknya ketika Steve mulai berdiri dari tempat duduknya juga.
"Kamu tidak usah repot-repot. Biar saya saja yang memesan makanan untuk kekasihku," balas Vincent dengan sinis dan dingin kepada Steve. Ia menekankan kata 'kekasihku' di dalam ucapannya.
Vincent berjalan ke arah counter makanan dan memesan makanan yang diminta oleh Amira.
Amira menghela nafas dan menatap Steve dan Tiffany, "Maaf ya. Aku ...."
"Tidak apa-apa Ami. Jangan dipikirkan," sela Steve dan tersenyum ramah.
"Kamu bisa ya pacaran dengan lelaki es seperti itu," ledek Tiffany kepada Amira. Amira berdecak sebal mendengarkan sindiran sahabatnya itu.
"Sudah jangan begitu. Kamu lihat tuh, semua pada iri sama kamu, Ami," ucap Steve menghibur Amira.
Amira menatap sekelilingnya yang memang sedang menatap ke arahnya, bukan hanya tatapan kagum tetapi tatapan sinis pun dilayangkan ke arahnya.
Amira hanya bisa mendesah pasrah. Kalau tatapan bisa membunuh, mungkin Amira sudah mati tertusuk berpuluh-puluh tatapan yang dilayangkan saat ini.
"Iri apanya, Kak. Itu mah bukan iri, tapi mungkin benci kali," sahut Amira sewot. Steve tertawa mendengarkan ucapan Amira. Amira hanya menyunggingkan senyuman kudanya.
Vincent yang sedang memesan makanan melihat ke arah tempat duduknya tadi. Ia melihat Amira dan Steve yang saling bercanda dengan riang, hatinya terbakar api cemburu. Ia mengeraskan rahangnya dan menatap mereka dengan dingin dan tajam.
"Tuan Zhang, ini pesanan anda," ucap pelayan kantin yang sedang melayani Vincent. Vincent menatap nampan yang berisi dua porsi nasi goreng seafood dan nasi goreng tanpa seafood dengan telor dadar di atasnya. Terlintas ide di benaknya saat itu.
Vincent membatalkan pesanan nasi goreng tanpa seafood milik Amira dan meminta telor dadarnya dipindahkan ke piring yang berisi seafood. Ia tersenyum menyeringai menatap nampan tersebut.
Vincent berjalan ke arah mejanya sambil membawa nampan berisi satu porsi nasi goreng seafood dengan telor dadar di atasnya dan satu gelas jus mangga.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....
__ADS_1