
Bagi yang minta bonus chapter kemarin 🤣
Enjoy reading!
Awas ada ranjau 🙈
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Hari ini adalah hari pernikahan seorang Direktur Utama Royal Group dengan kekasihnya. Selain menjadi hari yang berbahagia, hari ini adalah hari patah hati massal bagi semua wanita yang sempat bermimpi menjadi Nyonya Zhang. Gelar yang diimpi-impikan sudah terisi oleh seorang gadis yang mungkin bukan menjadi gadis lagi beberapa jam nanti.
Saat ini Amira Lin berada di atas kapal pesiar, tempat pernikahan super megah yang akan diadakan malam ini. Gadis itu tampak begitu cantik dalam balutan gaun pengantin yang serba putih dengan model kerah sabrina dan lace yang menghiasi gaun pengantinnya serta mahkota kecil di kepalanya menjadikan dirinya seorang ratu dalam sehari.
Ia menatap wajahnya di cermin. Wajahnya terlihat gelisah. Beberapa kali ia menghela nafas pelan.
"Kamu kenapa, Ami?" tanya Nyonya Merina menghampiri putrinya dan memegang kedua pundaknya.
Amira menyunggingkan senyum kecilnya. Seakan mengetahui kegelisahannya, ibunya menepuk pundaknya pelan.
"Ibu tahu perasaanmu saat ini. Kamu merasa khawatir dengan masa depanmu nanti akan bagaimana bukan?" tebak Nyonya Merina. Amira mengangguk kecil.
"Gadis bodoh. Bukankah kamu yang sudah memilih pria itu. Itu artinya kamu harus mempercayainya. Seperti dulu ibu mempercayai ayahmu," ucap Nyonya Merina tersenyum sedih.
Nyonya Merina teringat akan almarhum suaminya dulu yang begitu mencintai dan menyayanginya. Kala itu pun ia tengah mengandung Amira, tetapi pria itu tidak pernah sekalipun menganggapnya wanita murahan atau apapun sebutan yang merendahkannya. Bahkan limpahan kasih sayang diberikan olehnya kepada dirinya dan putrinya. Ia begitu bersyukur memilihnya sebagai pendamping hidupnya, walau pada akhirnya pria itu telah meninggalkannya lebih dulu.
"Percayakan semuanya kepada suamimu. Jadilah seorang istri yang baik, mendampinginya, menjadi teman hidupnya, mendengarkan semua keluh kesahnya. Yang penting komunikasi di antara kalian tidak boleh terputus. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin dan jangan memendamnya seorang diri. Mengerti? Ibu akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Ami," pesan Nyonya Merina kepada putrinya itu dan memberikan restu serta doa atas kebahagiaan putrinya itu.
Amira menghambur ke dalam pelukan ibunya. Cairan bening di sudut matanya membasahi wajahnya yang sudah dipoles dengan makeup.
Nyonya Merina juga ikut menangis terisak. Ia sedikit tidak rela melepaskan putri kecilnya itu, tetapi demi kebahagiaannya ia pun harus memendam rasa kehilangannya itu.
Nyonya Merina melepaskan pelukan putrinya itu dan membantunya mengusap wajahnya. "Lihat makeup-nya jadi ikut luntur. Sudah jangan menangis lagi. Kamu kan hanya menikah, bukannya pergi jauh!" hibur Nyonya Merina.
Amira menyunggingkan senyumnya masih sambil menangis terisak. "Iya, Bu. Aku hanya sedikit galau saja tadi."
"Sudah cukup galaunya. Sebentar lagi acaranya dimulai. Bersiap-siaplah. Ibu akan memanggil makeup artist untuk memoles ulang dandananmu," ucap Nyonya Merina seraya beranjak dari ruangan itu.
Amira menghapus air matanya dan mencoba menenangkan dirinya. Hatinya sedikit merasa lega dan tenang. Ia menatap dirinya di cermin dan tersenyum lebar.
'Lembaran hidupmu yang baru akan dibuka mulai hari ini, Ami. Semangat!' batin Amira menyemangati dirinya sendiri.
Tiffany masuk ke dalam ruangan dan memberikan buket bunga pengantin kepada sahabatnya itu.
"Selamat ya, Ami. Semoga kamu dan Kak Vincent terus langgeng sampai tua," ucap Tiffany dengan tulus.
"Terima kasih, Tif." Amira memeluk sahabatnya itu.
"Bagaimana bulan madumu dengan Kak Lucas? Apa malam pertamamu berjalan dengan lancar?" tanya Amira penasaran karena sahabatnya itu baru saja melangsungkan pernikahannya seminggu yang lalu.
__ADS_1
Tiffany memainkan jemarinya dan wajahnya merona merah ketika ditanyakan mengenai malam pertama mereka.
"Awalnya sedikit sakit sih, tapi setelah itu …."
Tiffany menghentikan ucapannya dan tersenyum malu, membuat Amira tambah penasaran.
"Ah, pokoknya nanti juga kamu akan tahu," jawab Tiffany yang enggan menceritakan pengalamannya. Amira memanyunkan bibirnya. Pembicaraan mereka berhenti ketika makeup artist yang masuk ke dalam ruangan itu.
Satu jam kemudian, prosesi acara pernikahan Amira dan Vincent pun dimulai. Kakek Juan menggantikan posisi ayah dari Amira, mengantarkan gadis itu masuk ke dalam ruangan.
Semua tamu undangan takjub dan kagum walau wajah Amira tertutup dengan wedding veil alias tudung pengantin, namun keanggunan dan kecantikannya terpancar dari gadis itu. Begitu juga dengan Vincent, pria itu menatap Amira dari kejauhan tanpa berkedip. Ia begitu terpukau dengan gadis yang akan menjadi istrinya itu.
Kakek Juan menyerahkan tangan cucunya kepada Vincent Zhang, seketika mengalihkan perhatian pria itu yang sedari tadi menatap cucunya dengan kagum.
"Bahagiakanlah cucuku, Vincent. Jangan membuatku kecewa!" pesan Kakek Juan kepada Vincent.
"Pasti, Kek. Aku tidak akan mengecewakanmu," sahut Vincent dengan mantap. Ia pun menggengam tangan gadis itu dengan erat. Mereka berdua saling bertatapan dan melempar senyum kebahagiaan.
Kedua mempelai tersebut mengikrarkan janji untuk hidup bersama dalam suka maupun duka di hadapan Tuhan, keluarga, dan para tamu undangan. Setelah itu mereka saling memasukkan cincin pernikahan mereka ke jari masing-masing pasangan sebagai bukti janji pernikahan mereka hari ini serta menandatangani surat pernikahan di hadapan perwakilan hukum. Detik itu juga mereka telah sah menjadi suami istri di mata hukum dan agama.
Vincent membuka wedding veil istrinya dan tersenyum menatap kecantikan yang begitu memukau pandangannya saat ini. Ia menggenggam tangan Amira, mengangkatnya dan mengecupnya dengan lembut.
"Terima kasih telah memberikanku kesempatan untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu, istriku," ucap Vincent yang menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Aku juga merasa bangga dan beruntung memilikimu, suamiku," balas Amira tersenyum lebar.
Amira dan Vincent melemparkan senyumannya kepada para tamu undangan, kemudian mereka berdua saling menatap dan sebuah kecupan mendarat di bibir mereka masing-masing.
"I love you, Ami," bisik Vincent sambil memandangi wajah istrinya itu. Ia menarik pinggang Amira untuk mendekat kepadanya.
"I love you too, Vin," bisik Amira dan mengalungkan lengannya pada leher suaminya. Mereka pun kembali menautkan bibir mereka dan berciuman lebih lama daripada sebelumnya diiringi suara tepukan dan siulan dari para tamu undangan.
°
°
°
°
°
WARNING 21+
Pesta pernikahan malam itu pun telah selesai. Amira dan Vincent kembali ke kamar pengantin yang telah disiapkan untuk mereka di atas kapal pesiar itu. Amira mengangkat gaun pengantinnya dengan kedua tangannya dan masuk ke dalam kamar itu, sedangkan Vincent masuk ke dalam ruangan itu dibantu oleh Jason, karena keadaan pria itu yang sudah cukup mabuk.
"Ah, letakkan dia di atas tempat tidur saja, Jason," sahut Amira tatkala Jason yang kesusahan membawa tubuh besar Vincent.
__ADS_1
Jason pun meletakkan tubuh Vincent di atas tempat tidur yang sudah dihiasi dengan kelopak bunga mawar yang membentuk hati. Tanpa segan-segan, Jason melemparkan tubuh Vincent ke atas tempat tidur berukuran king size itu, sehingga membuat kelopak mawar merah yang tertata rapi menjadi berhamburan.
Jason memijat pundaknya yang sakit karena memanggul tubuh Vincent tadi. "Badanmu berat banget, Bro. Sumpah, aku gak mau menggotongmu lagi lain kali," ledek Jason kepada Vincent yang masih setengah sadar.
"Terima kasih ya, Jason," ucap Amira ketika Jason sudah beranjak keluar dari kamar mereka. Amira pun menutup pintu kamarnya dan menguncinya, karena gadis itu ingin segera mengganti gaun pengantinnya yang terasa begitu berat baginya.
Ia menatap Vincent yang sudah memejamkan matanya dan menghela nafas pelan.
'Malam pertama macam apa ini!' batinnya mengeluh melihat suaminya yang mabuk di malam pertama mereka.
Ia pun segera melepaskan segala pernak-pernik di rambutnya dan aksesoris di leher dan tangannya, meletakkannya di atas meja rias. Ia pun mencoba meraih resleting gaun pengantinnya yang berada di belakangnya, namun gadis itu sedikit kesulitan untuk mencapainya, hingga sebuah tangan besar membantunya, menarik resleting itu turun ke bawah.
Amira terperanjat dengan gerakan tiba-tiba dari pria di belakangnya saat ini. Ia pun berbalik menghadapnya.
"Kamu kok … kamu bukannya sudah mabuk?" tanya Amira kaget karena melihat wajah suaminya yang terlihat begitu segar sekarang.
Vincent tersenyum nakal menanggapi pertanyaan istrinya itu. Ia mengecup kening istrinya dan berbisik di telinganya, "Aku mana mungkin melewatkan malam pertama kita. Aku sudah menunggunya begitu lama."
Bisikan itu terdengar begitu menggoda di telinga Amira, membuat wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Jadi kamu bepura-pura tadi?"
Sejak pesta berlangsung beberapa tamu undangan terus menyulang champagne kepada Vincent sebagai ucapan selamat atas pernikahannya.
"Iya, kalau nggak begitu. Mereka pasti akan memaksaku untuk menemani mereka minum terus hingga mabuk."
Vincent menatap wajah istrinya dan perlahan menghapus jejak di antara mereka. Ia pun mulai mencium bibir merah muda di hadapannya saat ini. Ciuman yang awalnya lembut, perlahan mulai memburu layaknya aliran sungai yang deras. Ciuman yang penuh sensual dan menggoda. Ia pun mengigit sedikit bibir bawah istrinya membuatnya membuka mulutnya. Amira mengalungkan lengannya pada leher suaminya dan memperdalam ciuman mereka.
Perlahan bibir Vincent turun ke arah leher jenjang istrinya yang terlihat menggodanya sejak pesta berlangsung. Selama acara itu pikirannya selalu tertuju untuk melahap leher jenjang milik istrinya, sekarang ia pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menelusuri setiap lekukan di leher istrinya. Refleks Amira mendongakkan kepalanya memberikan akses penuh kepada suaminya itu untuk menorehkan jejaknya di sana, membuat akal sehatnya mulai tidak bekerja. Ia mencoba menahan erangan yang akan keluar dari bibirnya saat ini.
Vincent melirik ke arah wajah istrinya dan tersenyum nakal. Ia pun melepaskan ciumannya sebentar dan membuat istrinya menatapnya kesal.
Jemarinya menyelusupi helaian rambut istrinya itu dan bibirnya turun mendekati telinga istrinya, mengecupnya perlahan memberikan sensasi tersendiri bagi Amira.
Amira mencengkram jas suaminya dengan erat sebagai pelampiasan atas semua rasa yang ia rasakan saat ini.
Vincent kembali mencium bibir Amira dan kali ini istrinya membalas ciumannya dengan begitu memburu. Pria itu tahu bahwa ia sudah membuat hasrat istrinya memuncak. Perlahan ia menurunkan gaun pengantin istrinya, membuat gaun itu teronggok di atas lantai, memperlihatkan lekukan tubuh istrinya yang begitu indah di matanya. Ia menatap tubuh istrinya dengan kagum. Kali ini Vincent tidak akan menahan lagi keinginannya untuk menjelajahi tubuh istrimya.
Vincent mengangkat tubuh istrinya, masih tidak melepaskan ciuman mereka, meletakkannya dengan lembut di atas tempat tidur.
Vincent melepaskan ciuman mereka dan menatap wajah istrinya dengan lembut. Terlihat kekhawatiran di wajah istrinya. Ia pun tersenyum mencoba menenangkannya. "Aku akan melakukannya dengan lembut, Sayang."
Amira mengangguk pelan dan tersenyum. "Aku mempercayaimu," bisiknya pelan.
Vincent melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sembarang tempat, kemudian membuka kancing kemejanya dibantu oleh Amira. Ia pun melepaskan pakaian yang menutupi tubuh istrinya hingga tak tersisa satu helai benang pun di antara mereka berdua.
Amira menekan punggung Vincent dan membuat tanda cakaran dari kukunya di sana saat suaminya menerobos benteng pertahanan miliknya yang telah ia jaga selama ini. Malam itu menjadi malam pertama mereka yang panjang dan tidak akan dilupakan oleh mereka.
__ADS_1
The End.