
Amira kesal dan menghentak-hentakkan kakinya berjalan keluar kamar, "Aah," ringis Vincent sambil memegang kepalanya.
Amira berbalik dan menatap Vincent tajam, "Kamu tidak usah pura-pura! Dasar pembohong!"
"Kepalaku sakit sekali," ucap Vincent yang seperti menahan sakitnya. Amira memperhatikan Vincent yang memang sepertinya kesakitan. Amira teringat ketika dia mendorong pintu apartemennya, Vincent terjatuh ke lantai.
"Aduh! Apa jangan-jangan kepalanya terbentur waktu itu?!" batin Amira.
Amira berjalan mendekat, ketika sudah di samping tempat tidur, tangan Amira ditarik dengan cepat oleh Vincent, sehingga tubuhnya jatuh ke atas dada Vincent.
"Vincent!! Kamu mau apa sih? Dasar pembohong mesum!" teriak Amira memukul lengan Vincent.
Vincent meletakkan telunjuknya di depan bibir Amira, "Stttt.. Kepalaku memang sakit, aku tidak bohong. Nih coba pegang di sini, benjol kan?"
Vincent mengambil tangan Amira dan meletakkan di bagian yang sakit, "Nih sebelah sini," ucapnya.
Amira memutarkan bola matanya malas, dia bersikap tidak peduli. "Biarin, itu hukuman buatmu!" ucapnya seraya berdiri.
"Kamu mau ke mana? Kamu tega ninggalin aku?" tanya Vincent memelas.
Amira tidak menjawab, malas meladeninya. Vincent melihat punggung Amira, dan menghela nafas. Vincent membaringkan tubuhnya kembali, badannya terasa mengigil. Dia masih merasa tidak enak badan, tetapi juga tidak ingin memaksa Amira untuk tinggal. Vincent mengantuk dan memejamkan matanya, sepertinya obat penurun panasnya mulai bekerja.
Amira mengintip dari sela-sela pintu, dilihatnya Vincent sudah tertidur. "Dasar mesum! Sudah sakit, masih bisa mengambil kesempatan, huh!" ucap Amira merasa kesal dengan sikap Vincent.
Amira ingin pulang ke apartemennya, tetapi dia juga merasa bersalah sudah mendorong Vincent tadi dan tidak tega meninggalkan Vincent yang sedang sakit. Lagipula Vincent juga sudah menjaganya semalaman waktu dia berada di rumah sakit. Amira merasa perlu membalas kebaikannya waktu itu.
Amira berjalan menuju dapur di apartemen Vincent, dia kaget melihat isi kulkasnya, kosong!
"Kenapa semuanya hanya air mineral dan air soda? Memangnya dia sehari-hari hanya minum?" batin Amira heran melihat isi kulkas Vincent.
__ADS_1
"Apa yang aku bisa buat? Gak ada apa-apa begini!" batin Amira dan menutup pintu kulkas.
Akhirnya Amira pulang ke apartemennya dan mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan. Amira berencana untuk membuat bubur ikan, biasanya orang sakit tidak punya selera makan, bubur adalah makanan yang cocok dan mudah dibuat.
Sekitar setengah jam, Amira berkutat di dapur apartemen Vincent. "Selesai!" ucap Amira dan mencicipi makanan yang dibuatnya.
"Mmm.. lezat, aku jadi lapar," Amira memegang perutnya yang minta untuk diisi. Porsi yang dibuat cukup untuk berdua. Memang sejak tadi, dia belum makan siang.
Setelah mengisi perutnya, Amira masuk ke dalam kamar Vincent. Amira mendekati Vincent dan duduk di samping tempat tidur. Amira memegang kening Vincent dan dirinya bergantian. "Sepertinya panasnya sudah mulai turun," gumam Amira.
Ketika akan beranjak dari duduknya, Vincent menahan tangan Amira. "Jangan pergi," ucap Vincent masih memejamkan matanya.
Amira melihat tangannya dan Vincent bergantian. "Sepertinya dia mengigau," gumam Amira. Dia mencoba melepaskan tangannya, tetapi genggaman tangan Vincent sangat kuat. Amira terpaksa duduk kembali di samping tempat tidur.
Amira memperhatikan wajah Vincent dengan seksama. Baru kali ini dia berani menatap wajah Vincent dari dekat dan lama. "Kalau diperhatikan terus, sebenarnya si mesum ini cukup tampan," gumam Amira sambil tersenyum.
"Cuma kalau sudah bangun, sikapnya nyebelin banget, huh," ucap Amira pelan takut membangunkan Vincent.
Vincent terbangun dan melihat Amira yang tertidur di atas dadanya. Dia tersenyum lembut. Perlahan dia bangun, menggeser dan mengangkat tubuh Amira ke atas tempat tidurnya. Kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya di samping Amira dan memeluk Amira dalam dekapannya.
Menjelang sore, Amira bangun dan membukakan matanya perlahan, dia mengucek matanya. Dia melihat ke sekeliling, dan sadar bahwa dia bukan di dalam kamarnya sendiri. Dia ingin segera bangun, tetapi sebuah tangan yang besar memeluk pinggangnya.
"AAAAAAAA," teriak Amira histeris, melihat Vincent yang tidur di sampingnya. Vincent terbangun dari tidurnya dan melihat Amira yang menatapnya tajam. Amira menarik selimut dan menutup tubuhnya.
Vincent tersenyum melihat tingkah Amira yang menggemaskan. "Kau... apa yang kau lakukan padaku, ha?" tanya Amira galak.
Vincent tersenyum geli mendengarnya dan berucap, "Menurutmu?" Vincent mengangkat salah satu alisnya.
Amira menarik selimutnya erat dan melihat tubuhnya sendiri, pakaiannya tidak berkurang sehelaipun, masih utuh. Amira menghela nafas lega.
__ADS_1
Vincent tersenyum melihatnya, "Tubuhku masih sakit, bagaimana bisa menyerangmu?" ucap Vincent. "Bukankah kamu sendiri yang menyerangku di saat aku tertidur? Aku hanya memindahkanmu ke samping agar tidak menindih tubuhku yang berharga ini," ucap Vincent narsis.
Amira membelalakan matanya mendengar ucapan Vincent, dan menutup wajahnya yang merona merah karena malu bercampur kesal.
Amira beranjak dari tempat tidur dan berlari keluar. Amira duduk di sofa ruang tengah dan mengumpat dirinya sendiri, "Dasar bodoh! Bodoh.. bodoh.. bodoh.. Bisa-bisanya tertidur di sana."
Amira memukul-mukul kepalanya pelan, hingga suara Vincent menghentikannya, "Kalau kamu pukul terus, nanti kamu jadi bodoh beneran."
Amira berdeham dan berjalan ke dapur. Dia mencoba tidak menghiraukan Vincent. Amira menyalakan kompor untuk memanaskan bubur yang dibuatnya.
Vincent mengikutinya dari belakang, kemudian memerangkap Amira dengan kedua tangannya. Amira terkejut karena dirinya terpojok di antara Vincent dan meja dapur.
Vincent berbisik dengan lembut di telinga Amira, "Kenapa kamu menghindariku?"
Amira menundukkan wajahnya dan tidak menjawab Vincent. Wajahnya sekarang sangat merona, dia tidak ingin Vincent melihatnya. Entah kenapa sekarang jantungnya berdebar sangat kencang, Amira mencengkram baju di dadanya.
Vincent melihat sikap Amira dan telinga Amira yang memerah, Vincent tersenyum dan berbisik lagi, "Apa kamu sudah mulai jatuh cinta padaku?"
Amira membelalakan matanya mendengar ucapan Vincent dan semakin kuat mencengkram bajunya, "Apa benar aku mulai suka padanya? Ah tidak, tidak."
Amira mencoba menyangkal perasaannya. Tetapi jantungnya tidak berhenti berdebar. Vincent membalikkan tubuh Amira menghadapnya, dan mengangkat dagu Amira dengan jarinya.
Amira memalingkan wajahnya, Vincent tersenyum, "Kenapa? Kamu tidak ingin menjawabnya?"
"Kamu tidak usah sok tau. Siapa.. siapa bilang aku suka sama kamu," ucap Amira terbata-bata karena gugup.
"Sepertinya kamu masih mau menyangkalnya," balas Vincent tersenyum menyeringai. "Aku akan membuatmu memastikan perasaanmu sendiri," ucapnya lagi dan membungkam bibir Amira dengan bibirnya.
Amira terkejut dengan tindakan Vincent yang tiba-tiba. Dia ingin mendorong tubuh Vincent, tetapi tubuh dan hatinya bertentangan. Sepertinya Amira sudah jatuh ke dalam perangkap cinta Vincent.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue...