
Pagi ini matahari sedang malas untuk menyapa. Tetesan embun masih terlihat di antara dedaunan dan angin pun masih berbisik pelan. Genangan air hujan masih membasahi jalanan.
Amira masih menggeliat dalam tidurnya, malas untuk membuka matanya hingga sebuah usapan tangan di wajahnya membangunkan dirinya. Ia membuka matanya perlahan dan memejamkan matanya kembali, karena belum terbiasa dengan cahaya yang masuk ke mata.
Perlahan gadis itu membuka matanya lagi dan ia melihat sebuah senyuman yang menyegarkan seperti embun pagi menyapa dirinya pagi itu.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Vincent dengan suara seraknya masih berbaring di sampingnya.
Amira mengangguk pelan dan membalas senyumannya, "Kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Amira karena mendapati Vincent yang sudah terlihat segar.
"Baru aja kok, Sayang."
Vincent mengecup kening gadis itu dengan lembut, "Morning kiss untukmu," godanya membuat Amira tersenyum tipis.
Tiba-tiba gadis itu mengerutkan keningnya, karena melihat dirinya yang hanya mengenakan jubah mandi yang membalut tubuhnya, "Ke-kenapa aku …."
Vincent tersenyum dan berbisik, "Apa kamu sudah lupa?"
Amira mencoba mengingat kejadian semalam, kilasan ingatan tentang ciuman mereka di bawah hujan deras melintas di kepalanya. Wajahnya memerah dan ia mengigit bibir bawahnya.
"Seingatku kita cuma ciuman aja … habis itu … kita pulang … terus ... sepertinya aku tertidur, bukan? Apa ada lagi?" tutur Amira mencoba mengingatnya, ia menoleh ke arah Vincent meminta jawaban darinya.
"Bingo! Memang gak ada lagi," jawab Vincent sambil mengangguk-angguk pelan.
"Terus? Kenapa aku memakai jubah mandi?" tanya Amira heran.
Vincent hanya tersenyum tipis dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan ke arah pintu kamar mandi, kemudian berbalik menatap kekasihnya, "Kalau aku cerita kamu janji gak marah kan?"
"Tergantung … apa coba?"
"Mm … semalam kan kamu ketiduran … tapi aku gak mungkin kan biarin kamu tidur dengan baju yang … basah semua, jadi aku …" terang Vincent sambil menampilkan senyumnya yang paling lebar.
Wajah Amira memerah, ia mengigit bibir bawahnya mendengarkan penjelasan kekasihnya itu, "Dasar … MESUM!" teriak Amira sambil melempar bantal yang berada di dekatnya ke arah kekasihnya itu. Dengan cepat Vincent menghindar dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
Begitulah pagi ini diawali dengan sedikit bumbu-bumbu kisah mereka yang manis.
°
°
°
°
°
Sambil menunggu Vincent bersiap-siap berangkat ke kantor, Amira menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ia membuatkan menu sederhana, hanya sandwich yang berisi telur mata sapi, salad, tomat dan keju dilengkapi dengan segelas susu.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Amira berjalan perlahan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian agar dirinya tidak terlambat ke kantor. Lututnya masih terasa perih akibat jatuh semalam. Vincent sudah membantu mengobati lukanya ketika ia tertidur.
Ketika berjalan melewati ruang tengah, matanya menangkap sebuah benda yang begitu ia kenal, berada di atas meja ruangan itu.
Amira berjalan menuju meja itu dan duduk bersimpuh di dekat meja tamu. Matanya berkaca-kaca melihat paperbag yang berisi kotak kue hasil buatannya. Ia membuka penutup kotaknya dan melihat kue tiramisu buatannya sudah habis setengah loyang.
"Kamu ngapain, Sayang? Gak siap-siap berangkat?" tanya Vincent yang baru saja keluar dari kamar dengan stelan kerja yang sudah rapi. Ia melihat kekasihnya berada di ruang tengah tanpa bergeming.
Amira beranjak dari duduknya dan berbalik menatap kekasihnya itu, masih dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Yang mana, Sayang?" tanya Vincent cemas melihat wajah gadis itu yang sendu dan mata yang memerah menahan tangis. Ia mendekati Amira dan memegang pundaknya, menelusuri tubuh gadis itu dengan panik.
Amira menggeleng cepat dan tersenyum mendengarkan pertanyaan yang diucapkan pria itu.
__ADS_1
"Terus kok kamu nangis? Sekarang malah senyum-senyum," ucap Vincent heran melihat ekspresi kekasihnya yang berubah-ubah.
"Kue itu … kamu yang makan?" tanya Amira menunjuk kue yang berada di atas meja tadi.
Vincent menarik ujung bibirnya dan tersenyum, "Jadi karena itu kamu menangis?" tanyanya yang sudah mengerti maksud ekspresi aneh kekasihnya itu.
"Iiih … siapa juga yang nangis?! Aku itu terharu! Masa ga bisa bedain!" protes Amira sambil memanyunkan bibirnya.
"Hahahahaha .…"
Vincent tertawa lepas mendengarkan protes kekasihnya itu dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas.
Amira menghambur ke dalam pelukan Vincent dan melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. Ia menyenderkan wajahnya di dada Vincent, "Terima kasih, Sayang ... Terima kasih."
"Maaf ya, Sayang. Mamaku …" ucap Vincent terputus dan menghela nafas pelan.
"Sudah, Vin. Kamu ga usah minta maaf, mungkin Mama kamu belum begitu mengenalku, jadi dia …." Amira berusaha menahan air matanya ketika mengucapkan hal itu, ia mengulum bibirnya.
"Ssttt … aku akan mencoba membujuk Mama. Kamu tenang saja, Sayang. Berikan dia sedikit waktu dulu, oke?" hibur Vincent membalas pelukan kekasihnya itu.
Amira hanya mengangguk pelan, 'Mungkin yang Mamamu butuhkan bukan waktu, Vin, tetapi adalah calon istri yang bisa mendukungmu sepenuhnya,' batin Amira perih, tetapi ia tidak menceritakan semuanya kepada kekasihnya itu. Ia tidak ingin terjadi pertengkaran di antara Vincent dan ibunya demi dirinya.
"Ngomong-ngomong perutmu gak sakit makan kue itu?" tanya Amira cemas mengingat kue tiramisu buatannya sudah masuk ke dalam tempat sampah kemarin.
Vincent hanya menggedikkan bahunya dan tersenyum lebar.
°
°
°
°
°
Hari ini mereka pergi ke kampus untuk mengurus semua administrasi yang diperlukan untuk kelulusan nanti. Saat ini mereka sedang duduk di kursi taman dekat fakultas mereka.
"Akhirnya … aku sudah menjadi orang dewasa sepenuhnya …" ucap Tiffany sambil menaikkan kedua tangannya ke atas udara.
"Hahaha ... memangnya kamu dari kemarin masih anak kecil?" ledek Amira.
Tiffany berdecak kesal mendengar ledekan sahabatnya itu, "Maksudku sekarang kita sudah masuk ke dunia orang dewasa sepenuhnya, tak terasa waktu berlalu sangat cepat ya, Ami."
"Iya, perasaan baru kemarin aku bertemu denganmu."
"Ih … lebay deh … hahahaha …" timpal Tiffany tertawa lebar.
"Terus gimana rencanamu, Ami? Kamu pulang ke Serenity dong?"
Amira terdiam mendengarkan pertanyaan Tiffany. Ia juga tidak tahu bagaimana menjawabnya, karena ia sendiri belum merencanakan apapun saat ini.
"Aku belum tahu, Tif."
"Kenapa? Apa kamu masih belum mengatakan kepada Tante masalah hubunganmu dengan Vincent?" tebak Tiffany melihat wajah Amira yang terlihat murung.
Amira mengangguk pelan menjawab pertanyaan itu. Ia sudah pernah menceritakan perihal Ibunya yang sepertinya tidak suka dengan hal yang berhubungan dengan Royal Group itu kepada Tiffany.
"Menurutku, cepat atau lambat kamu harus mengatakannya, apalagi kalau kamu pulang ke Serenity. Masa kamu mau merahasiakan hubungan kalian?" tutur Tiffany membuat Amira makin murung.
"Tapi Tif, aku takut Ibu akan marah dan … dan mungkin tidak akan menyetujui hubungan kami, seperti Mamanya Vincent yang tidak menyukaiku," jawab Amira dengan raut wajahnya yang lemas.
__ADS_1
"Itu kan hanya kemungkinan, coba saja kamu bicara baik-baik. Aku rasa ada alasan kenapa Tante tidak suka kamu berhubungan dengan Royal Group atau Vincent," hibur Tiffany sambil menepuk bahu Amira pelan.
Amira menghela nafas pelan, "Hm … Baiklah …."
"Ya udah, gimana kalau kita liburan dulu? Daripada kamu mumet mikirin itu," usul Tiffany.
"Mau liburan ke mana?"
"Gimana kalau ke pantai?"
"Mm … oke, siapa aja yang ikut? Kita aja?"
"Ya nggak lah. Mana enak berdua aja. Kamu ajak beruang kesayanganmu, sedangkan aku mau ajak seseorang …." ucap Tiffany sambil mesam-mesem sendiri.
"Emang siapa sih? Kamu ajak Kak Edward juga?" tanya Amira curiga.
"No … no … no …." Tiffany mengacungkan telunjuknya dan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri.
"Lho jadi siapa? Kamu gak jadi ngejer Kak Edward?" tanya Amira heran.
"Nggak lah … malas aku, gara-gara dia kamu hampir aja dalam bahaya."
"Lah bukan salah dia juga kali. Memang aku aja yang lagi apes ketemu pria brengsek itu." Amira menghela nafas pelan.
"Iya sih, tapi kalau bukan karena dia dan karena aku juga, mungkin kamu gak bakal alami hal itu. Maaf …."
"Sudahlah Tif. Kejadian itu juga sudah lewat, gak usah menyalahkan siapapun. Kamu seperti sama orang lain aja, mau maaf berapa kali, ha?"
Amira beranjak dari duduknya dan menatap ke langit yang berwarna biru cerah, "Ya udah, aku pulang dulu mau kemas-kemas buat besok. Besok kan perginya?"
Tiffany beranjak dari duduknya, "Iya besok. Ya udah aku anter kamu pulang dulu."
°
°
°
°
°
Malamnya Amira menunggu Vincent pulang dari kerja, ia mengepak beberapa barang bawaannya untuk besok.
Tanpa sepengetahuannya Vincent masuk ke dalam kamar dan berdiri di ambang pintu sambil menyilangkan tangannya dan menyenderkan punggungnya sedikit ke daun pintu di belakangnya. Ia memperhatikan kekasihnya sedang bersenandung ria sambil membereskan perlengkapannya ke dalam koper kecil.
Tadi siang, Amira sudah mengabarinya untuk pergi ke pantai besok dan ia pun sudah menyetujuinya. Ia tak menyangka Amira begitu senang dengan liburannya kali ini. Ia menarik ujung bibirnya ke atas dan menghampiri kekasihnya.
"Kamu senang banget, Sayang." Vincent memeluk pinggang Amira dari samping dan mengecup pipinya sekilas.
"Hehehe …." Amira menyunggingkan senyuman kudanya, "Iya dong, habis sudah lama aku gak ke pantai. Sudah setahun lebih gak ke sana, waktu itu aku perginya bareng Tiffany dan Kak Leon," ucap Amira sambil melipat pakaiannya.
"Kamu sengaja mau buat aku cemburu?" bisik Vincent menggoda di telinga Amira.
Amira baru menyadari perkataannya barusan dan tersenyum lebar menatap Vincent, "Maaf aku keceplosan. Habis emang kenyataannya begitu. Masa aku bohong."
"Baiklah, liburan kali ini aku akan memberikan momen spesial untukmu, yang gak bakal kamu lupain seumur hidupmu," goda Vincent lagi dan mengecup bibir mungil kekasihnya sekilas. Ia tersenyum dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan kekasihnya yang bengong menatapnya.
'Apa maksudnya? Apa jangan-jangan ….'
Amira menutup wajahnya yang sudah memerah dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
To be continue ....