Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 79


__ADS_3

Setelah istirahat makan siang, Amira kembali ke ruangannya disambut oleh Tiffany yang sudah menunggunya dengan duduk manis di kursi sambil menyilangkan tangannya di dada.


Amira menyunggingkan senyuman kuda khasnya, "Maaf, aku memang sudah mau ke kantin tadi, tapi Vincent maksa aku ke ruangannya." Ia tau sahabatnya itu pasti marah padanya karena lupa memberitahukannya tadi.


Tiffany menghela nafas mendengarkan perkataan sahabatnya itu, "Aku tau. Untung aja tadi Kak Steve infoin. Tapi aku gak mau tau, kamu harus ganti rugi waktuku!"


"Hufff ... Baiklah, kamu mau apa?" tanya Amira sambil memajukan bibir bawahnya, cemberut.


"Aku mau kamu temani aku malam iniiiii ...." Tiffany memegang lengan Amira dengan mata berbinar-binar. Amira segera menepis tangan Tiffany dan menghindar darinya.


"Aku ... aku masih normal, Tif! Se ... sejak kapan kamu berubah haluan, Tif!" seru Amira menyilangkan tubuhnya seolah-olah sedang memeluk dirinya sendiri. Ucapan dan sikapnya itu membuat Tiffany melongo, kemudian tertawa lepas.


"Hahahaha ... Ami, Ami ... Kamu ... Hahaha ...."


"Apaan sih? Ketawa terus!"


Amira melotot marah pada sahabatnya itu karena tidak berhenti menertawakannya.


"Oke. Aku ..."


"Aku juga masih normal, Amiii ...!" seru Tiffany setelah puas tertawa.


"Kamu ini pikirannya ke mana aja sih ...," ucap Tiffany sambil mencubit pipi Amira gemas.


"Auw ... sakit iiih!"


Amira memukul tangan Tiffany pelan dan mendelik tajam. Tiffany menggedikkan bahunya.


"Aku itu mau kamu temenin aku ke acara ulang tahun Edward malam ini," terang Tiffany kali ini sejelas-jelasnya agar Amira tidak salah paham lagi.


"Edward? Maksud kamu Edward idola kampus di falkutas kita itu?" tanya Amira kaget.


Tiffany mengangguk cepat dan tersenyum.


"Iya. Ed mengundangku ke acara ulang tahunnya, tapi aku gak mau pergi sendiri. Kamu temanin aku ya," pinta Tiffany lagi.


"Jadi sekarang kamu dan Ed ...."


"Kami temanan," balas Tiffany cepat.


"Kamu suka sama dia?" tanya Amira penasaran.


Tiffany mengangguk cepat, "Siapa yang gak suka sama dia. Semua cewek di kampus tergila-gila sama dia," ucap Tiffany sambil memegang wajahnya tersipu malu.


"Aku," balas Amira datar.


Tiffany berdecih kesal mendengarkan ucapan sahabatnya itu, " Iya aku tau kamu sudah ada setan tampan milikmu. Jadi gimana? Bisa kan temanin aku malam ini?"


Tiffany meletakkan kedua telapak tangannya di depan Amira dan memohon, "Plis ... Ami."


"Baiklah ...," jawab Amira pasrah, "Tapi aku minta ijin dulu sama beruang kesayanganku," balas Amira mesam-mesem sambil mengambil ponselnya mengetik pesan.


"Ck ck ck ... tadi pagi aja manggilnya setan tampan. Sekarang beruang kesayangan ... Terkadang aku kasihan dengan Kak Vincent, ck ck ck ...," sindir Tiffany dan segera menutup mulutnya rapat melihat tatapan Amira yang tajam ke arahnya.

__ADS_1


Tiffany melirik sebuah kartu berwarna hitam pekat di atas meja Amira dan dengan cepat ia menyambarnya, "Wow ... ini punyamu, Ami?" tanya Tiffany dengan mata berbinar-binar melihat kartu di tangannya.


Kartu berwarna hitam pekat dengan desain titanium di pinggirnya adalah salah satu kartu kredit VIP tanpa limit yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih, bahkan Tiffany yang berasal dari keluarga berada dan terpandang pun tidak memilikinya. Karena hanya orang yang memiliki kekayaan yang fantastis baru bisa mendapatkan kartu yang memiliki nama sesuai warnanya 'Black Card'.


"Bukan," jawab Amira santai masih sibuk mengetik pesan di ponselnya.


"Lalu?"


"Itu punya Vincent. Ia memberikan padaku tadi," balas Amira lagi masih berkutat dengan ponselnya.


Flashback


"Kamu gak mau lagi?" tanya Amira melihat sepotong mantao di dalam kotak.


"Bagi dua aja. Kamu sudah gak boleh makan lagi. Nanti kalau kamu makin gendut, aku yang repot," jawab Vincent yang membuat Amira mendelik padanya.


Vincent membelah mantao tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut kekasihnya itu yang sudah akan mengajukan protesnya, "Tapi aku suka bagaimanapun bentukmu."


Amira memanyunkan bibirnya dengan mulut yang penuh makanan. Vincent mengambil dompetnya yang ada di atas meja dan mengeluarkan satu kartu dari dalam, "Ini buatmu. Kamu boleh membeli apapun dengan ini."


Amira melirik kartu itu dan memalingkan wajahnya tidak berminat dengan benda berbentuk persegi yang disodorkan kekasihnya itu.


"Apa bisa membeli semua restoran yang ada di kota ini?" tanya Amira asal karena tidak paham tentang kartu yang disodorkan oleh kekasihnya itu.


"Bisa," jawab Vincent santai. Amira membulatkan dan mengerjap-ngerjapkan matanya sambil merebut kartu yang terasa 'berharga' di matanya saat ini.


End of flashback.


"Makanan," tukas Amira sambil tersenyum membayangkan berbagai macam makanan yang melayang di pikirannya saat ini.


Tiffany hanya bisa menepuk dan memijat dahinya pelan. "Dasar tukang makan!"


°


°


°


°


°


°


Setelah istirahat makan siang, Steve melihat Amira sudah kembali ke ruangan. Ia berpikir untuk segera menemui Vincent. Dan saat ini Steve telah berdiri di depan pintu ruangan Presdir dengan membawa lembaran dokumen hasil rancangan proyek Green Resort. Ia sudah berdiri cukup lama di depan pintu lebar yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran naga di depannya.


'Steve, kamu tidak boleh gugup. Tenanglah!'


Steve mencoba menenangkan dirinya sebelum memasuki ruangan Vincent. Rasa bersalah dan takut terus menghantui pikirannya saat ini, tetapi tekadnya untuk menyelamatkan adiknya lebih besar daripada apapun. Ketika Steve akan mengetuk pintu itu, Olivia menghampirinya.


"Pak Steve," sapa Olivia di belakangnya.


Steve menoleh, "Ah, Bu Oliv. Apa Pak Vincent berada di ruangannya?"

__ADS_1


"Aduh. Baru saja Pak Vincent keluar ruangan. Ada keperluan apa, Pak?"


Steve merasa kecewa setelah mendengar jawaban dari Olivia. Kecewa karena Vincent tidak berada di ruangan sehingga ia tidak dapat segera memberikan dokumen itu.


"Apa nanti ia kembali lagi?" tanya Steve.


"Itu saya juga tidak tau, Pak. Apa Anda ada pesan?"


Steve menghela nafas, "Bu Oliv, bisa hubungi saya kalau Pak Vincent kembali? Ada dokumen yang harus saya serahkan kepada beliau."


"Baik, Pak Steve. Nanti saya hubungi Anda," jawab Olivia menyanggupi permintaan Steve dan Steve segera berlalu dari sana.


Olivia mengetuk pintu ruangan Presdir setelah memastikan Steve masuk ke dalam lift.


"Masuk," ucap Vincent dari dalam.


Olivia membuka pintu dan masuk, "Pak Vincent, baru saja Pak Steve datang. Sesuai perintah Anda, saya sudah memberitahukan kepadanya bahwa Anda sedang keluar," lapor Olivia kepada Vincent yang saat itu sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Seperti dugaan Anda, beliau terlihat tergesa-gesa ingin menyerahkan dokumen itu," lapor Olivia lagi.


Vincent mengangguk, "Baiklah. Terima kasih."


Olivia segera pamit dari ruangan setelah melaporkan tugasnya.


Vincent memang sengaja meminta Olivia untuk berbohong kepada Steve bahwa ia sedang keluar karena ia ingin menguji Steve dan membuktikan kecurigaannya.


Ponsel Vincent yang berada di atas meja berdering, Vincent segera menjawab panggilan itu.


"Halo," sapa Vincent.


"Bos, ada laporan terbaru dari hasil penyelidikan orang-orang kita," jawab Lucas yang sedang menghubungi Vincent saat ini.


"Katakan!" perintah Vincent.


"Berdasarkan pengamatan mereka dan informasi yang didapat, adik Steve yang bernama Helen biasanya selalu keluar setiap hari mengantar kakaknya berangkat kerja, tetapi sudah dua minggu ini tidak terlihat. Sesuai perintah Anda, saya sudah menyewa seseorang untuk menyadap percakapan di ponsel Steve dan mereka menemukan percakapan Steve dengan seorang pria misterius ," terang Lucas.


Vincent mendengarkan laporan Lucas sambil memincingkan matanya tajam dan mengerutkan keningnya.


"Saya barusan mengirimkan percakapan itu ke email Anda sekarang, Bos," sahut Lucas karena tidak mendapat respon dari Vincent.


Vincent membuka email di laptopnya dan mendengarkan hasil rekaman dari percakapan antara Steve dengan seorang pria.


"Apa kamu belum mendapatkannya?" Terdengar suara berat dan noise dari seorang pria.


"Saya akan memberikannya kepada Anda, Tuan. Tolong jangan sakiti adik saya!" teriak Steve.


"Kamu hanya punya waktu dua hari lagi. Kesabaran saya ada batasnya, Steve!" ancam pria misterius itu.


[Rekaman berakhir]


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2