Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 103


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan vote ya...


Thanks 🙏


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Setelah kejadian tadi siang yang cukup menegangkan, Vincent dan yang lainnya kembali ke hotel. Mereka membatalkan kegiatan snorkeling, karena sudah tidak ada mood lagi untuk melakukannya.


"Sebaiknya kamu segera mandi dan berganti pakaian, Sayang. Aku kembali ke kamar dulu," ucap Vincent ketika mereka telah sampai di lantai hotel tempat mereka menginap. Amira mengangguk pelan. Vincent mengacak rambut Amira, kemudian berjalan masuk ke dalam lift kembali.


Amira menyusul Tiffany yang sudah berjalan mendahuluinya masuk kembali ke kamar mereka. Sesampainya di kamar, Amira membersihkan diri terlebih dahulu dan berganti pakaian bersih, kemudian disusul Tiffany setelah Amira keluar dari kamar mandi.


Amira membuka kopernya dan mengeluarkan hair dryer miliknya. Ia duduk di kursi di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Gadis itu masih memikirkan kejadian di laut tadi.


Beberapa saat kemudian, Tiffany keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk. Ia melihat sahabatnya melamun di depan cermin dengan hair dryer yang masih menyala di tangannya tanpa diarahkan ke rambutnya yang basah.


"Ada tikus!" teriak Tiffany iseng dengan suara cemprengnya.


Refleks Amira terperanjat dan berdiri di atas tempat duduknya, "Kyaaa ...! Mana? Mana?" jeritnya. Bukannya mendapatkan jawaban, ia malah mendengarkan suara tawa renyah dari sahabatnya.


"Hahahaha …." Tiffany tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya.


Amira menatap Tiffany tajam dan memanyunkan bibirnya. Ia mendengus pelan dan turun dari tempat duduknya. Gadis itu kembali duduk dan melanjutkan aktivitasnya mengeringkan rambutnya.


Tiffany menghentikan tawanya dan berusaha mengatur nafasnya. Ia berjalan mendekati Amira.


"Kamu sedang kesal ya?" tanya Tiffany tersenyum lebar.


"Sudah tahu masih nanya!" sungut Amira.


"Habis kamu melamun aja tadi, mikirin apaan sih?" Tiffany menyambar hair dryer di tangan sahabatnya itu. Ia hanya menyunggingkan senyumnya mendapatkan tatapan tajam dari gadis itu.


"Gak pa pa," kilah Amira berbohong dan memalingkan wajahnya.


"Mm … aku tahu, kamu pasti mikirin kejadian tadi ya? Masalah Kak Eva bukan?" tebak Tiffany.


"Kok kamu tahu? Kamu cacing di perutku ya?" sindir Amira.


Tiffany berdecak sebal, "Mana ada cacing secantik aku," ucapnya narsis.


Amira menjulurkan lidahnya dan menirukan orang sedang muntah.


"Tapi … menurutku Kak Eva sedikit … aneh," gumam Tiffany. Amira terdiam mendengarkan ucapan sahabatnya itu.


Tiffany melirik Amira sekilas, "Sudahlah jangan dipikirkan, mungkin itu hanya perasaanku saja, Ami," hibur Tiffany.


"Tapi mungkin pemikiranmu sama denganku, Tif. Sepertinya Kak Eva masih menyimpan perasaan terhadap Vincent," ucap Amira menceritakan hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi.


"Terus kenapa kalau dia suka? Kan yang Kak Vincent sukai itu sekarang kamu, lagian Kak Vincent nanti juga mau …." Tiffany segera menutup mulutnya rapat. Ia mengigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Mau apa?" tanya Amira heran dan menatap Tiffany tajam.


Tiffany menyunggingkan senyumnya dengan kikuk, "Gak ada apa-apa, hehehe …."


Amira mengerutkan keningnya dan merebut hair dryer miliknya, melanjutkan mengeringkan rambutnya yang masih basah.


"Intinya kamu harus percaya sama Kak Vincent. Memang sih dia dulu sama Kak Eva pernah menjalin hubungan, tapi bukankah pacarnya sekarang itu kamu? Tadi juga ia begitu mencemaskanmu, bukan?" lanjut Tiffany lagi dan Amira mengangguk pelan.


"Nah gitu dong! Udah ah, aku mau cari Kak Lucas dulu." Tiffany melambaikan tangannya dan beranjak keluar dari kamar.


Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Amira membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tidak dapat melupakan tatapan sinis yang dilayangkan Eva kepadanya beberapa saat lalu.


'Apa itu hanya perasaanku saja ya?' batin Amira.


Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar. Ia berencana menuju kamar Vincent yang berasa satu lantai di atasnya.


°


°


°


°


°


Suara bel pintu kamar Vincent berbunyi. Pria itu mengerutkan keningnya heran, karena ia merasa tidak memiliki janji atau memesan apapun. Ia berjalan menghampiri pintu kamarnya dan membukanya tanpa melihat terlebih dahulu siapa gerangan yang mendatanginya saat ini.


Vincent menatap Eva yang saat ini berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis. Ia mengerutkan keningnya heran dengan kedatangan wanita itu tiba-tiba, karena ia tidak memiliki janji apapun dengan wanita itu.


"Eva, ada apa?" tanya Vincent datar.


Senyuman di wajah Eva perlahan memudar mendengarkan nada suara pria itu yang seakan tidak mengharapkan kehadirannya, tetapi ia tetap memaksakan senyumannya.


"Apa aku boleh masuk? Ada yang ingin aku bicarakan."


Vincent membuka pintunya lebih lebar dan berjalan masuk ke dalam, Eva mengikutinya dari belakang. Vincent mengambil mantel di atas tempat tidurnya dan mengenakannya.


"El bagaimana?" tanya Vincent tanpa menoleh ke arah Eva.


"Ia sudah baikan, sekarang sedang tidur di kamar sama bibi pengasuhnya."


"Apa kamu mau keluar, Vin?" tanya Eva yang saat ini duduk di tepi tempat tidur dan memandangi Vincent yang sudah berpakaian rapi.


Vincent tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. Ia mengambil ponselnya dan sibuk mengetik sesuatu di ponselnya tanpa memandangi Eva.


Eva berdiri dan berjalan mendekati Vincent, ia meraih mantel yang dipakai pria itu dan merapikan kerahnya.


"Apa yang mau kamu bicarakan? Kalau memang tidak ada, aku mau keluar," cetus Vincent dan melepaskan tangan wanita itu dari mantelnya.

__ADS_1


Eva terdiam dan menatap wajah pria itu dengan wajah sendunya. Ia tersenyum tipis.


"Jika delapan tahun yang lalu, aku tidak memilih untuk pergi, apakah saat ini kamu akan bersikap begitu dingin kepadaku, Vin?" lirih Eva.


Vincent mengerutkan keningnya heran akan pertanyaan yang diajukan oleh wanita itu. Sungguh sebuah pertanyaan yang aneh dan atas dasar apa ia meginginkan Vincent bersikap lembut padanya.


Delapan tahun yang lalu yang mengucapkan kata putus adalah wanita di hadapannya saat ini. Saat itu Eva memutuskan untuk meninggalkan Vincent demi mengejar cita-citanya menjadi seorang desainer. Ia lebih memilih mimpinya daripada cinta.


"Tidak ada kata 'jika', Eva. Semua sudah berlalu dan sudah terjadi. Aku sudah melupakannya, tidak perlu diungkit lagi dan aku masih menganggapmu sebagai seorang teman seperti keinginanmu," papar Vincent.


Eva tersenyum miris, "Teman? Hanya itukah sekarang statusku di dalam hatimu?" tanya Eva tidak percaya.


Vincent mengangguk pelan, "Ya, saat ini kita hanyalah teman, tidak lebih. Tolong kamu jangan berharap apapun dariku. Bukankah ini keinginanmu delapan tahun yang lalu?" desis Vincent.


"Kalau tidak ada hal penting yang mau kamu bicarakan lagi, silahkan keluar. Aku sudah ada janji," ujar Vincent dingin.


"Bisakah kamu tidak menceritakan kepada siapapun mengenai El?" pinta Eva dengan wajah sendunya.


"Kedua orang tuaku tidak mengetahui keberadaan El saat ini. Aku belum mengatakan hal ini kepada mereka," lanjut Eva lagi.


Vincent terdiam sejenak dan mengangguk, "Baiklah, itu saja?" tanya Vincent datar.


Eva menggeleng pelan dan segera memeluk pinggang pria itu, "Vin, sebenarnya aku masih mencintaimu. Apa kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi?" pintanya penuh harap.


Vincent menghela nafas pelan dan memijat pelipisnya, ia mencoba melepaskan pelukan Eva padanya.


"Eva, tolong kamu jangan rusak hubungan pertemanan kita saat ini. Kamu sudah tahu dengan jelas siapa yang telah berada di dalam hatiku sekarang, bukan?"


Eva tahu itu, tetapi ia tidak ingin menyerah. Ia segera meraih tengkuk pria di depannya dan menciumnya dengan kasar. Vincent membulatkan matanya, tak percaya dengan tindakan Eva yang begitu agresif. Ia mencoba melepaskan lengan Eva dari lehernya.


Saat ini Amira berdiri di depan pintu kamar Vincent yang memang terbuka lebar dan Eva mengetahui kedatangan gadis itu karena posisinya yang saat ini menghadap ke arah luar, berbeda dengan Vincent yang membelakanginya. Pria itu tidak mengetahui kedatangan Amira.


Amira segera bersembunyi di balik dinding di dekat pintu kamar Vincent. Ia tidak bermaksud menguping ataupun mengintip. Ia begitu terkejut dan tak percaya dengan semua yang ia lihat beberapa detik yang lalu.


Amira tidak mendengar keseluruhan percakapan mereka, ia datang tepat ketika Eva mencium kekasihnya itu. Ia mengigit bibir bawahnya dengan pelan.


'Sebenarnya apa yang terjadi? Apa mereka rujuk kembali?' batin Amira merasa hatinya perih, tetapi pikiran buruknya segera terhapus setelah mendengarkan kalimat Vincent selanjutnya.


Vincent tidak membalas ciuman Eva dan segera mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh ke atas tempat tidur di belakangnya.


"Eva … tolong jaga sikapmu!" seru Vincent dingin, "Aku harap tidak ada kejadian seperti ini lagi nanti …," desisnya.


"… atau hubungan pertemanan kita pun tidak akan ada lagi," lanjut Vincent kepada Eva yang saat ini hanya diam dan mengepalkan tangannya erat.


Vincent berjalan meninggalkan Eva dan langkah kakinya sudah di ambang pintu, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan wanita itu.


"Apa kamu tidak mau tahu siapa ayah kandung El?" tanya Eva dengan tersenyum miris.


To be continue ….

__ADS_1


__ADS_2