Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 17


__ADS_3

Amira POV


Hari ini kakek keluar dari rumah sakit, dia sudah tidak betah di sana, sehingga pagi-pagi sekali, aku sudah bangun dan merapikan diri untuk menjemputnya.


"Semoga hari ini lebih baik daripada kemarin!" ujarku di cermin menyemangati diriku sendiri.


Tiba-tiba wajah si mesum itu melintasi pikiranku. Aku memikirkan kejadian semalam. Sebenarnya apa yang terjadi ketika aku tidur, kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja dengan raut wajah yang membuat orang merinding melihatnya.


Aku tidak tau sebenarnya dia orang yang seperti apa. Apakah baik atau jahat, sikapnya benar-benar tidak bisa ditebak.


Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya dia tidak jahat, bisik suara hatiku di telingaku.


Semalam bukankah dia menyelimutimu dengan jasnya ketika kamu tidur. Bukankah kau merasakan kehangatan yang diberikan olehnya? bisiknya lagi


Aku mengangguk mendengar suara hatiku itu, membenarkan bisikannya.


Ami, apa yang kau pikirkan? Dia itu mesum dan narsis! Dia juga suka seenaknya sendiri, bukankah dia menyentil dahimu beberapa kali kemarin, sehingga kamu kesakitan? bisik suara hatiku yang satu lagi.


Aku membenarkan juga bisikannya.


Tapi Ami, dia sebenarnya bukan orang seperti itu. Dia tidak menyerangmu waktu kamu tidur, bukan? suara hatiku yang tadi tidak mau mengalah.


Aku mengangguk lagi.


Siapa bilang, dia itu mesum! Dia menciummu ketika kamu tidur dan memotretnya diam-diam!" suara hati yang lain memprovokasi.


Memang benar si mesum itu semalam memotret dan menciumku! Seenaknya aja dia! Sebal!


Aku tidak tau sebenarnya Vincent orang seperti apa. Dan aku tidak mau memikirkannya lagi!


"Aaa .... Stop!!!" teriakku yang menenangkan hatiku sendiri.


"Semoga aku tidak bertemu dengannya lagi!" ujarku lagi di depan cermin.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku turun ke bawah dan menyapa ibu dan kakakku di meja makan.


"Pagi Sayang," ucap Ibuku.


"Pagi Bu." Aku mencium pipinya.


"Tumben pagi sekali sudah bangun," sindir Kak Daniel padaku. Aku memajukan bibirku.


Aku segera mengambil sepotong roti tawar dan mengolesnya dengan selai coklat dan kacang.


"Kan hari ini mau jemput kakek," jawabku sambil mengoles selai.


"Kak Daniel, langsung ke kantor?" tanyaku dengan roti yang sudah di mulut.


"Nggak. Aku ke rumah sakit dulu, ada yang mau aku bahas dengan kakek," jawab Kak Daniel.


Ibu mengerutkan keningnya, "Kenapa, Niel? Apa ada masalah lagi di perusahaan?"


"Nggak kok Bu. Mau bahas sedikit mengenai proyek Green Resort," ucap kak Daniel yang membuatku berhenti mengunyah.


G**reen Resort? Apa maksudnya resort yang akan dibangun di Green Forest itu?


Aku mencoba mendengarkan percakapan Kak Daniel dengan seksama.


"Proyek Green Resort kenapa, Niel?" tanya Ibu cemas.

__ADS_1


"Sepertinya perusahaan kita tidak ada kesempatan mendapatkan proyek itu. Royal Group tidak menerima kerja sama yang kita ajukan," ucap Kak Daniel menghela nafas.


"Royal Group?" gumam Ibu dengan suara lirih.


Aku memperhatikan raut wajah ibu berubah ketika mendengar nama Royal Group disebut, tapi aku tidak begitu menghiraukannya.


"Green Resort itu yang akan dibangun di area Green Forest itu ya, Kak?" tanyaku penasaran.


"Iya. Kok kamu tau, Ami?"


Kak Daniel heran dan menatapku.


"Kak, apa proyek Green Resort itu sangat penting buat kita?" tanyaku lagi tanpa menjawab pertanyaannya.


"Tentu saja, Ami. Kalau kita bisa bekerja sama dengan Royal Group dan mereka menyerahkan seluruh rancangan resortnya kepada kita, maka perlahan-lahan perusahaan lain yang kemarin mengajukan pembatalan kerja samanya akan berbalik mencari kita lagi," terang Kak Daniel padaku.


Aku mengangguk paham, "Ternyata perusahaan si mesum itu begitu hebatnya," gumamku pelan.


"Apa?" tanya kak Daniel yang mendengar gumamanku.


"Ah ... tidak ... tidak ... maksudku Royal Group ternyata sehebat itu. Iya kan, Bu?" tanyaku panik dan meminta pendapat Ibu.


"Bu? Ibu?"


Aku menatap Ibu yang hanya terdiam saja dan tidak mendengar panggilanku. Aku menepuk lengannya pelan.


"Ibu kenapa? Ibu sakit?" tanyaku cemas sambil memegang dahinya.


"Ah ... gak ... gak pa pa, kok. Ibu hanya kurang tidur saja semalam. Kalian yang jemput kakek saja ya. Ibu mau istirahat dulu," ucap Ibu sambil berjalan meninggalkan kami.


Aku dan kakak menatap ibu dengan heran, tapi kami tidak ingin mengganggunya.


"Ayo, kita pergi sekarang," ucap Kak Daniel.


Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan proyek resort yang disebutkan oleh Kak Daniel. Aku melihat Kak Daniel beberapa hari ini terlihat lelah mengurus perusahaan. Apalagi Kakek juga sudah berumur dan baru keluar dari rumah sakit. Aku ingin membantunya, tapi entah bagaimana cara meringankan beban di pundak mereka ....


Apa aku memohon kepada si mesum itu untuk memberikan proyek Green Resort kepada Lin Corp?


Tapi si mesum itu pasti tidak akan membantuku dengan percuma, hutang kemarin saja aku belum membayarnya. Mana mungkin dia mau membantuku begitu saja. Haaaah ....


Aku menghela nafasku pelan.


"Hei, Ami. Kok malah bengong?" ucap kak Daniel yang mengagetkanku.


"Ha? Tidak Kak, tidak apa-apa."


"Kamu aneh deh hari ini, gak biasanya begini ...," ucap Kak Daniel memberi jeda ucapannya. Aku menatapnya.


"... biasanya kan kamu bawel hahaha," lanjutnya lagi membuatku kesal.


"Iiiih nyebelin banget!"


Aku memanyunkan bibirku dan menyilangkan tanganku di dada.


"Hahahaha"


Kak Daniel tertawa dan mengacak-acak rambutku dengan salah satu tangannya.


Tanpa terasa kami sudah sampai di depan rumah sakit. Aku berjalan dulu ke dalam, karena Kak Daniel memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Aku masuk ke ruangan perawatan Kakek tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ha ... lo ... Ka ... kek ...," ucapku terputus-putus karena kaget ternyata ada tamu yang menjeguk kakek.


Tamu itu seorang wanita paruh baya, umurnya perkiraan tidak beda jauh dari kakek. Ketika dia menoleh menatapku, aku terkejut.


Astaga! Kenapa dia bisa ada di sini? Dan lagi, kenapa dia bisa kenal Kakek sih? Aduh apa dia masih ingat padaku ya? Jangan sampai dia ingat!


Aku terkejut melihat Nenek Vincent yang kutemui di apartemen waktu itu ada di sini. Kemudian dengan cepat aku memalingkan wajahku dan bergegas keluar dari ruangan itu. Tetapi Kak Daniel menghalangi jalanku.


"Kamu mau ke mana, Ami. Ayo masuk."


Kak Daniel menarik tanganku masuk ke dalam.


Aduuuhh ... Kak Daniel nyebelin banget!


"Kek," sapa kami berdua.


Aku berusaha menutupi wajahku dengan tanganku seperti menahan sinar matahari.


"Kamu kenapa, Ami?" tanya kak Daniel berusaha menurunkan tanganku dari wajahku.


Iiiih, Kak Daniel .... Sebeeell!


Kak Daniel berhasil menurunkan tanganku, aku memberikan senyuman terpaksa di depan mereka, "Kek, hehehehe ...."


"Kamu kenapa sih, aneh banget hari ini."


Kak Daniel terus memojokkanku, aku mencubit lengannya agar dia tidak banyak bertanya.


"Apaan sih."


Kak Daniel protes dan memegang lengannya yang kucubit, aku melotot kepadanya.


"Amira ya?" ucap Nenek Vincent tersenyum lembut padaku.


Aku tersenyum padanya dan sedikit membungkukkan badanku, "Halo."


"Perkenalkan, aku Celine Wang. Kamu boleh memanggilku Nenek Wang. Maaf ya aku mengagetkanmu dengan kedatanganku ke sini," ucapnya memperkenalkan diri dan meminta maaf karena melihat sikapku yang merasa tidak enak akan kedatangannya.


"Tidak Nek. Tidak apa-apa, aku yang seharusnya meminta maaf, karena sudah tidak sopan begini. Maafkan aku."


"Gadis manis. Kamu benar-benar cantik dan baik, seperti yang aku bayangkan sebelumnya," ucapnya sambil mengambil kedua tanganku dan menepuknya pelan.


Aku merasakan kehangatan dari tangannya.


"Ah, Anda Nyonya Celine, Komisaris dari Royal Group?" tanya Kak Daniel tiba-tiba.


"Iya benar, kamu pasti Daniel ya. General Manager dari Lin Corp dan juga kakaknya Amira. Ternyata kamu setampan ini," ucap Nenek Wang membuat Kak Daniel mengangguk malu.


"Kedatanganku ke sini karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Kakekmu," ucapnya lagi.


A**staga! Apa dia sudah mengatakan kepada Kakek bahwa dia bertemu denganku dengan kondisi begitu di apartemen Vincent waktu itu? batinku cemas.


"Terima kasih ya Ami," ucapnya lagi yang membuatku bingung.


"Maksudnya apa Nek?" tanyaku heran.


"Aku dan Kakekmu sudah tau hubunganmu dengan Vincent," ucapan Nenek Wang membuatku dan Kak Daniel melongo, tetapi tidak dengan kakek yang wajahnya berseri-seri.

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....


__ADS_2