Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 70


__ADS_3

***Hai Readers ....


Bantu like, share dan vote cerita ini ya ...


Thank you 🙏


Selamat membaca!! 😘***


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Rumah Sakit Rigo


"DOK!"


"DOKTER!!"


Vincent berteriak panik memanggil-manggil dokter di depan Rumah Sakit Rigo. Ia menggendong tubuh Amira di tangannya, mobil yang dikendarainya diletakkan begitu saja di depan pintu rumah sakit.


Dua orang perawat dan seorang dokter jaga unit gawat darurat datang membantu Vincent. Salah satu perawat mendorong ranjang pasien dan Vincent meletakkan tubuh Amira di atas ranjang itu.


"Dok! Tolong selamatkan dia!" ucap Vincent memohon kepada dokter itu.


"Tuan, saya harap anda tenang," ucap salah satu perawat.


"Sebaiknya anda segera mengisi data pasien terlebih dahulu di bagian pendaftaran," saran perawat tersebut.


"Di sini ada kami yang menjaga nona itu. Serahkan semuanya kepada kami," ucap perawat itu lagi.


Vincent mengangguk dan segera menuju bagian pendaftaran. Setelah selesai, ia kembali ke ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Ia berjalan bolak-balik di depan ruang UGD.


Pikirannya sangat kacau, Vincent tidak tau harus berbuat apa. Hingga akhirnya seorang perawat memanggilnya untuk masuk.


"Dok, bagaimana keadaan pacar saya?" tanya Vincent cemas sambil mencengkram jas putih dokter itu.


"Tenang Tuan. Nona Lin tidak apa-apa, untung saja ia segera dibawa ke rumah sakit. Kita sudah melakukan penanganan pertolongan pertama," ucap dokter itu.


Vincent melepaskan cengkramannya di jas dokter itu dan bernafas lega.


"Tetapi Tuan ada yang mau saya tanyakan, apa Nona ini punya riwayat semacam alergi? Alergi makanan mungkin?" tanya dokter lebih lanjut sambil melihat data pasien di tangannya.


"Karena dilihat dari kondisinya, ia memiliki gejala alergi yang membuat tubuhnya bereaksi berlebihan untuk melawan zat dari makanan yang tidak bisa diterima oleh tubuh," jelas dokter itu lagi.


Vincent mencoba mencerna penjelasan dokter itu. Ia teringat ucapan Tiffany yang mengatakan bahwa Amira memiliki riwayat alergi seafood.


Vincent memijat pelipisnya, 'Seharusnya aku lebih berhati-hati dalam memesan makanan tadi,' gumam Vincent di dalam hati ketika teringat bahwa tadi ia memesan sup yang ada campuran abalon di dalamnya.


"Tuan?" panggil dokter itu karena Vincent tidak menjawab pertanyaannya.


"Ah, maaf Dok. Iya dia punya riwayat alergi makanan terutama seafood. Makanan malam ini ada campuran abalon di dalamnya, Dok," jawab Vincent merasa bersalah.


"Baiklah kalau begitu kami akan melakukan pengetesan alergi terhadap Nona Lin agar dapat melakukan penanganan lebih lanjut," jelas dokter itu lagi.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok."


Dokter tersebut tersenyum mengangguk dan menepuk pundak Vincent pelan.


°


°


°


°


°


Amira dipindahkan ke ruang rawat inap setelah dilakukan penanganan oleh dokter. Ia masih belum siuman. Wajahnya dan beberapa area tubuhnya terdapat ruam-ruam kemerahan akibat alergi.


Vincent duduk di samping tempat tidur Amira. Ia menatap wajah kekasihnya dengan lembut. Tangannya yang satu menggenggam tangan Amira dan tangan yang lainnya mengelus wajah Amira pelan.


Amira membuka matanya perlahan. Ia mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke matanya. Setelah matanya terbiasa dengan keadaan sekitar, Amira menatap ke samping tempat tidurnya. Ia melihat Vincent duduk di sana dan menundukkan wajahnya sambil menggenggam tangannya.


"Vin ...," ucap Amira lirih. Ia agak kesulitan untuk berbicara akibat alergi yang ditimbulkan menyebabkan pembengkakan di tenggorokannya.


Vincent mengangkat wajahnya dan menatap Amira dengan lembut, "Kamu sudah sadar, Sayang?"


Amira mengangguk pelan, "A-Aku ... ke-kenapa ...."


"Sttt ... Sayang, sudah jangan bicara dulu. Dokter sudah melakukan pemeriksaan tadi. Katanya kamu alergi makanan," jelas Vincent karena Amira susah untuk mengeluarkan suaranya.


"Bu-bukan ... sa-salahmu ...," ucap Amira tersendat-sendat.


Vincent tersenyum, "Sudah. Kamu istirahat aja Sayang. Kata dokter tenggorokanmu membengkak, jadi jangan banyak mengeluarkan suara dulu."


Amira mengangguk dan memanyunkan bibirnya. Vincent tersenyum geli melihat sikap Amira, ia tau kekasihnya itu tidak betah disuruh diam saja.


Tiba-tiba ponsel Vincent berdering, ada panggilan masuk. Vincent merogoh ponselnya di saku celananya dan mengeluarkannya. Ia menatap layar ponsel, tertera nama 'Lucas'.


Vincent mengerutkan keningnya karena Lucas menelponnya di tengah malam seperti ini. Vincent menghampiri Amira dan mengecup keningnya.


"Aku angkat telepon dulu sebentar di luar. Kamu beristirahatlah, gak usah banyak pikirin yang nggak-nggak," pesan Vincent disambut anggukan oleh Amira.


Vincent tersenyum dan berbalik berjalan keluar ruang rawat. Amira menatap punggung Vincent dan bergumam dalam hati, 'Sepertinya dia sedang dalam masalah ...'


Amira menghela nafas panjang. Ia merasa dirinya tidak berguna karena tidak dapat melakukan apa-apa untuk Vincent dan malah menambah beban di dalam pikiran kekasihnya itu.


°


°


°


°

__ADS_1


Vincent duduk di kursi tunggu yang berada di luar ruangan rawat Amira. Ia menekan panggilan keluar ke nomor Lucas karena ia tidak sempat mengangkat panggilan Lucas tadi.


"Halo Bos," jawab Lucas langsung menjawab panggilan dari Vincent.


"Ada apa?" tanya Vincent datar.


"Bos, saya mendapatkan informasi bahwa Harry Song masih mendekam di penjara, tetapi ...."


"Tetapi apa?" tanya Vincent mulai cemas.


"Tetapi Harry Song ternyata memiliki seorang cucu laki-laki bernama Adrian Song. Ia mempunyai perusahaan bernama Majesty Group," jelas Lucas.


"Majesty Group? Maksudmu perusahaan yang sedang naik daun dua tahun terakhir ini?" tanya Vincent yang tidak familiar mendengar nama itu.


"Iya Bos. Dan berdasarkan isu yang beredar, mereka selalu menggunakan cara licik. Ada beberapa perusahaan yang terkena imbasnya karena informasi perusahaan mereka yang bocor dan dipakai oleh Majesty Group. Tetapi karena tidak ada bukti yang kuat, pihak berwajib tidak dapat menangkapnya," jelas Lucas lebih rinci.


"Baiklah. Aku mengerti. Terima kasih Lucas," ucap Vincent tulus. Lucas sedikit kaget mendengarkan ucapan terima kasih keluar dari mulut Bosnya yang dingin itu.


"Ah, sudah pekerjaan saya, Bos," ucap Lucas dengan malu.


"Tolong kamu pantau dan selidiki orang-orang yang terkait proyek Green Resort besok! Yang di Little Royal, saya yang akan selidiki sendiri," ucap Vincent lagi dan memutuskan sambungan telepon setelah Lucas memahami tugas dia berikutnya.


Vincent menyenderkan punggungnya di kursi dan menengadahkan wajahnya sambil memejamkan matanya sebentar. Ia merasa lelah, tetapi ia tidak boleh ambruk saat ini, karena banyak yang harus ia kerjakan.


"Vincent?" panggil seorang pria yang berdiri tidak jauh dari tempat Vincent duduk. Vincent membuka matanya dan menatap pria itu, yang tidak lain adalah Leon yang saat itu sedang bertugas di rumah sakit.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Leon heran melihat Vincent berada di rumah sakit.


Vincent menghela nafas dan memalingkan wajahnya. Ini adalah pertemuan mereka yang pertama setelah kejadian di malam ulang tahun Tiffany waktu itu.


"Kamu masih marah?" tanya Leon tertawa dan mendudukkan tubuhnya di samping Vincent karena melihat raut wajah Vincent yang tidak suka dengannya. Vincent hanya berdecak sebal tanpa menjawab pertanyaan Leon.


Leon menepuk pundak Vincent dan meletakkan tangannya di atas pundak Vincent, tetapi Vincent segera menepisnya. Leon menggeleng melihat tingkah Vincent dan tersenyum, "Vin, kamu gak perlu bersikap bermusuhan seperti itu sama aku."


"Aku akui aku memang menyukai Ami, tapi kamu tau kan Ami telah memilihmu. Aku tidak ingin merebut Ami darimu, karena aku tau walau aku memiliki tubuhnya, tetapi hatinya tidak akan bersamaku," jelas Leon dengan bijak.


Vincent hanya diam tak bersuara, tetapi Leon tau Vincent mendengarkan dengan seksama penjelasannya.


"Tetapi aku ingin memperingatkanmu ...," ucap Leon terputus dan membuat Vincent mengalihkan pandangan matanya yang tajam kepada Leon.


Leon tersenyum menyeringai mendapatkan tatapan tajam dari Vincent, "... Jika suatu hari kamu menyakiti Ami, aku tidak akan segan-segan untuk merebutnya hingga kamu akan menyesali perbuatanmu itu di kemudian hari," ancam Leon kepada Vincent.


Leon sangat berharap Amira mendapatkan kebahagiannya dan Vincent dapat menjaga Amira dengan baik, dengan begitu ia juga merasa tidak menyesal telah melepaskan Amira kepada Vincent.


Vincent tersenyum menyeringai mendapatkan ancaman dari orang yang pernah sangat dekat dengannya. Ia tau Leon hanya ingin dirinya dapat memberikan kebahagiaan untuk Amira.


Vincent menepuk pundak Leon, "Tetapi sayangnya, tidak akan ada hari itu!" ucap Vincent tajam seperti sebuah belati menusuk langsung ke jantung Leon. Leon hanya bisa tertawa mendengarkan ucapan Vincent.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2