Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 105


__ADS_3

Vincent menuntun langkah Amira dengan hati-hati. Kedua tangannya masih menutup mata kekasihnya itu, dengan posisi ia berada di belakang tubuh Amira.


"Sebenarnya ada apa sih, Vin?" tanya Amira penasaran.


"Sebentar lagi sampai kok, nanti kamu juga tahu," jawab Vincent dengan santai.


Amira penasaran sebenarnya kejutan apa yang dipersiapkan oleh kekasihnya. Ia hanya mendengarkan suara deburan ombak yang saling berkejaran satu sama lain dan suara angin yang menyapu wajahnya.


'Sebenarnya dia mau mengajakku ke mana? Ini kan masih di pantai,' batin Amira.


"Oke, stop. Kita sudah sampai," ucap Vincent dan membuka kedua telapak tangannya.


Amira membuka matanya perlahan dan mengerjap-ngerjapkannya. Ia melihat kejutan yang dipersiapkan untuknya. Gadis itu membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


Di depan gadis itu sekarang terdapat sebuah meja makan dan dua buah kursi yang sudah tertata rapi. Di sekelilingnya di hiasi dengan lampu-lampu kecil yang membentuk tanda hati dan beberapa hiasan lampu yang menerangi tempat itu. Cakrawala biru yang bercampur warna jingga kemerahan menambah keindahan tempat itu.


Tidak berapa jauh dari meja itu, berdiri seorang koki yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Tercium aroma makanan dari wajan penggorengan koki itu.



(Sumber gambar : Google)


"I-ini …," ucap Amira terbata-bata.


"Kita makan malam di sini, Sayang," sela Vincent dan menuntun Amira menuju meja makan. Ia menarik kursi untuk Amira dan gadis itu duduk di sana, kemudian ia menarik kursi di sebelahnya untuk dirinya sendiri.


"Bagaimana? Apa kamu suka suasananya?" tanya Vincent meminta pendapat.


Amira mengangguk cepat, "Kapan kamu mempersiapkannya? Kenapa aku tidak tahu?"


"Baru setengah jam yang lalu. Rencananya aku ingin mengajakmu makan di restoran hotel, tetapi ternyata di sini tidak buruk juga," jawab Vincent.


Beberapa saat yang lalu, Lucas menelepon Vincent bahwa Amira sedang berada di pantai dan Vincent menyusulnya. Ia meminta Lucas untuk mengatur makan malam di tempat ia sekarang duduk. Ia sendiri tak menyangka malah menjadi lebih romantis daripada yang ia kira. Ia berpikir akan menaikkan gaji Lucas nanti atas pekerjaannya yang sangat bagus, tetapi itu tergantung apakah rencananya berhasil atau tidak malam ini.


"Bagaimana apa kamu suka, Sayang?" tanya Vincent dan mengenggam tangan Amira.


Amira mengangguk dan tersenyum lebar, "Aku suka. Makan malam ditemani suara ombak sebagai alunan musik. Baru kali ini aku merasakannya."


"Baiklah, ayo kita mulai makan malamnya," ucap Vincent dan menjentikkan jarinya kepada koki di dekatnya. Koki itu segera datang dan menyajikan makanan yang sudah ia sediakan, dari menu utama hingga menu pencuci mulut. Mereka berdua begitu menikmatinya.


Amira terus mengukirkan senyuman di wajahnya. Ia terlihat bahagia menikmati makan malamnya malam ini. Segala risaunya seakan-akan sudah hilang dalam pikirannya. Vincent pun tersenyum puas melihat wajah bahagia kekasihnya itu. Ia pun merasakan kebahagiaan yang sama.

__ADS_1


"Apakah ada yang spesial di hari ini, Vin?" tanya Amira heran karena Vincent mempersiapkan semuanya tanpa ia ketahui.


"Bagiku semua hari bersamamu terasa spesial," goda Vincent dengan lembut.


"Gombal …," ledek Amira. Vincent tertawa mendengarkan ucapan kekasihnya itu.


"Semua makanannya enak-enak. Aku tidak akan pernah melupakannya," tutur Amira tersenyum lebar sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Kalau kamu mau, aku akan menyiapkannya setiap hari untukmu," balas Vincent.


"No … aku ingin makan malam ini menjadi makan malam yang spesial di hatiku. Kalau setiap hari malah gak spesial lagi dong," tolak Amira kepada Vincent.


"Baiklah," ucap Vincent mengalah, "masih ada yang spesial lagi untukmu dan mungkin gak akan kamu lupakan selamanya, Sayang," lanjutnya lagi.


"Masih ada lagi? Kan sudah semuanya." Amira mengerutkan keningnya heran pasalnya ia sudah menghabiskan semua makanan yang disajikan koki itu tadi.


Vincent tidak menjawab, ia menjentikkan jarinya lagi. Koki itu datang sambil membawa sebuah piring di telapak tangannya dan meletakkannya di atas meja di hadapan Amira.


Amira membelalakan matanya melihat piring di hadapannya. Ia menatap piring itu dan berbalik menatap Vincent, "I-ini …."


"Bagaimana? Apakah kamu suka menu spesial malam ini, Sayang?" tanya Vincent meminta pendapat kekasihnya itu.


Amira mengigit bibir bawahnya. Manik matanya mulai basah. Ia menatap piring kosong di hadapannya yang berhiaskan tulisan 'Will You Marry Me?' dengan tanda hati di samping tulisan itu. Ia menelan salivanya pelan dan menatap kekasihnya. Rasa haru dan bahagia menyeruak di dadanya.



(Sumber gambar : Google)


"Be my wife, Amira Lin," ucap Vincent dengan tulus. Segala keegoisan dan kesombongannya seakan luntur saat pria itu berlutut di hadapan gadis yang ia cintai.


Amira mendongakkan wajahnya sebentar ke atas agar air matanya tidak tumpah saat itu. Ia tak menyangka Vincent telah mempersiapkan semuanya dengan begitu matang tanpa ia ketahui.


"Will you?" tanya Vincent lagi karena Amira masih belum menjawab pertanyaannya.


"A-aku …."


Suara Amira tercekat, lidahnya terasa kelu untuk menjawab 'Ya' walau hatinya ingin mengatakan itu. Entah kenapa pikirannya saat ini malah bertindak sebaliknya, ia memikirkan nasib El yang merindukan ayahnya, juga teringat akan tatapan ibunya Vincent kepadanya, dan ucapan ibunya yang sepertinya tidak akan merestui hubungan mereka. Semua bercampur aduk di dalam kepalanya. Ia tidak sanggup untuk mengatakan 'Ya' kepada pria yang saat ini menunggu jawabannya.


Melihat keraguan di wajah kekasihnya itu, kening Vincent berkerut dan kedua alisnya bertaut. Ia berdiri dan mengenggam erat tangan kekasihnya, "Kenapa? Apa yang kamu ragukan, Sayang? Sebenarnya kamu sedang ada masalah apa?" cecar Vincent yang sudah tidak dapat membendung rasa penasarannya sejak tadi.


Sebelumnya Vincent sudah mendapatkan laporan dari Lucas bahwa gadis itu terlihat tidak baik-baik saja sejak keluar dari hotel, tetapi Vincent beranggapan bahwa mungkin Amira hanya ingin menyegarkan pikirannya dari kejadian tadi siang. Namun sekarang ia tahu bahwa masalahnya tidak sesederhana itu.

__ADS_1


°


°


°


°


°


Tidak beberapa jauh dari sana, ada dua orang yang sedang menunggu Amira dan Vincent. Mereka adalah Lucas dan Tiffany.


"Gadis bodoh itu kenapa lagi sih!" gerutu Tiffany yang kesal melihat mereka dari kejauhan dengan gemas. Ia memeluk tubuhnya karena cuaca malam yang semakin dingin.


Lucas memperhatikan Tiffany yang kedinginan, membuka jasnya dan meletakkannya di bahu gadis itu. "Sebaiknya Anda lain kali keluar membawa jaket, Nona Kim, karena kita tidak tahu kapan memerlukannya," saran Lucas yang melihat Tiffany hanya memakai atasan tanpa lengan dan rok denim di atas lutut.


"Kalau aku bawa, aku gak akan mendapatkan kesempatan seperti ini," gumam Tiffany pelan sambil meremas jas milik Lucas sambil tersenyum kecil.


Lucas hanya berdeham dan memalingkan wajahnya mendengarkan gumaman gadis itu, "Sa-saya kembali ke hotel dulu, Nona Kim," pamit Lucas.


"Ah, jangan!" Tiffany menarik lengan Lucas membuat pria itu berbalik dan keseimbangan tubuhnya goyah karena tarikannya yang kuat, kemudian ….


Cup!


Bibir Lucas menempel di kening Tiffany tanpa ijin dari pemiliknya masing-masing. Waktu terasa berhenti di antara mereka, Lucas menelan salivanya pelan dan Tiffany mengedip-ngedipkan matanya tak percaya, hati gadis itu berteriak kegirangan bukan kepalang. Mereka terdiam mematung tanpa ada yang berani bergerak terlebih dahulu.


°


°


°


°


°


To be continue ….


Halo Readers ...


Mohon maaf apabila menunggu kelanjutan cerita ini sedikit lama dari biasanya, karena Author sekarang sedang banyak kegiatan di dunia nyata dan membagi waktu untuk mengejar proses dubbing di MT juga. Author tetap sempat membaca komentar kalian semua kok, walaupun belum bisa membalas komentar kalian satu per satu. Terima kasih atas dukungan kalian terhadap cerita ini dan terhadapku. Walaupun aku sedikit bersedih dengan statistik jumlah pembaca yang semakin anjlok 🙈😂 (entah kenapa alasannya, mungkin karena tidak menarik atau apa), tetapi aku tetap akan melanjutkan cerita ini hingga selesai.

__ADS_1


Untuk yang sudah membantu Vote cerita ini, Author ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Berapapun vote yang telah kalian berikan di cerita ini, Author ucapkan terima kasih. 🙏


__ADS_2