
Vincent berdiri di depan jendela ruangannya dan menatap keluar. Tangannya dimasukkannya ke dalam saku celananya. Dia sedang memikirkan perkataan neneknya beberapa waktu lalu.
Flashback
Setelah kepergian Jason, ruangan Presdir menjadi lebih hening.
Nyonya Celine duduk di samping Vincent dan mengenggam tangan cucunya itu dan menepuknya pelan.
"Vin, Nenek tau kamu tidak ingin Nenek ikut campur masalahmu, tapi ingatlah Nenek akan selalu mendukung semua keputusanmu." Nyonya Celine memberikan senyuman hangatnya.
"Aku tau Nek," ucap Vincent datar.
"Nenek sudah memberitahu Amira dan Kakeknya agar kalian bertunangan saja, untuk memberikan status kepada kalian berdua dan mengatasi gosip di majalah itu. Tidak perlu langsung menikah, kalian bisa saling mengenal dulu, Kakek Amira juga sudah setuju," ucap Nyonya Celine antusias.
"Bagaimana reaksi Amira?" tanya Vincent.
"Hmm ... itu ...." Tampak keraguan di wajah Nyonya Celine, Vincent mengerti sepertinya Amira menolak pertunangan itu, tetapi Neneknya tetap memaksakan keinginannya itu.
"Nek, sudah ya. Biar aku saja yang urus masalahku, ok?" ucap Vincent menenangkan neneknya.
Terukir kecemasan di wajah Nyonya Celine, "Apa kau masih bingung dan takut untuk memulai suatu hubungan, Vin?" tanya Nyonya Celine memastikan kecemasannya.
Soalnya sudah lima tahun, cucunya berusaha menutup hatinya itu, karena pengkhianatan dan rasa sakit yang dirasakannya. Dan sekarang ketika dia ingin membuka hatinya untuk seorang wanita, tetapi tampaknya wanita itu tidak merasakan hal yang sama dengannya.
Vincent hanya diam dan tersenyum.
End of Flashback.
Vincent menghela nafas panjang. Dia melihat foto Amira yang sedang tertidur yang diambilnya waktu itu.
Amira, gadis itu apa sedang dilakukannya saat ini?
Terlintas di pikiran Vincent untuk menghubunginya, tetapi ....
Ding ....
Ponsel Vincent berdenting, ada satu pesan masuk yang muncul. Vincent membuka pesan itu.
My Chubby (kontak nama Amira di ponsel Vincent)
Lagi apa?
Amira menghubunginya telebih dahulu, Vincent tersenyum, seperti ada ikatan batin di antara mereka.
Kemudian dia membalas pesan itu.
My Vincent
Hm ... Lagi memikirkanmu ....
Hanya selang beberapa detik, Amira langsung membalasnya, terlihat jelas dia juga sedang berkutat dengan ponselnya itu.
My Chubby
Huuu ... gombal mesum 😑
My Vincent
Walaupun gombal dan mesum, tapi kamu suka kan? 🥰
My Chubby
Dasar narsis! Siapa yang menyukaimu! Huh! 😡
My Vincent
N**enek yang bilang 😉
My Chubby
🙄 apa yg dikatakan Nenek?
My Vincent
__ADS_1
Ne**nek bilang kau menyukaiku 😘
My Chubby
😠😠aku tidak berkata seperti itu!
My Vincent
Hmmm ... menurutku sama saja 🤔
My Chubby
Jiah! 😒 Apa Nenek membahas tentang pertunangan? Apa kau menyetujuinya ???
My Vincent
Apa kau ingin aku menyetujuinya?
My Chubby
Jadi maksudmu, kau menolaknya kan? Baguslah kalau begitu 😊🥰
Vincent membaca pesan yang dibalas Amira, dia merasa jengkel, Sebegitu senangnya dia tidak bertunangan denganku!
My Vincent
Aku sudah menyetujuinya!
My Chubby
APAAAA?!
Tidak ada balasan dari Vincent, Amira mengirim pesan lagi, dia tampaknya sudah kesal dan panik.
My Chubby
Kenapa? Seharusnya kau menolaknya,bukan?
My Chubby
My Chubby
Haloooo ....
My Chubby
😡😡😡
Vincent tidak membalas pesan dari Amira lagi. Ia merasa kesal mengetahui Amira begitu senang Vincent menolak rencana Neneknya, jadi ia ingin sedikit mengerjai gadis itu. Ia meminta Lucas untuk menyebarkan foto-foto 'mesra' nya ke sosial media.
Sementara itu di kediaman Lin.
Wajah Amira tampak kusut. Amira melemparkan ponselnya ke atas tempat tidurnya dan menghempaskan tubuhnya juga di atas tempat tidurnya.
Amira membenamkan wajahnya di bantalnya dan berteriak, "AAAAAAAAAAAAA!!!!"
Kemudian menarik wajahnya dari bantalnya dan memukul-mukul boneka beruang yang ada di sampingnya, "Dasar mesum! Dasar narsis!"
"Apa kau kira aku takut padamu, hah?!"
Amira memukul boneka beruang itu seolah-olah boneka itu adalah Vincent.
"Berani mengabaikanku, ha? Cepat minta maaf padaku!"
Amira menunjuk ke boneka beruang itu, kemudian boneka beruang itu ditundukkan kepalanya oleh Amira, "Hmm .... Bagus, bagus ... anak pintar ...."
Setelah puas melampiaskan emosinya, Amira merasa lelah dan ketiduran sambil memeluk boneka beruang itu.
Tanpa dia sadari, di dunia maya sudah heboh berita mengenai dirinya dan Vincent. Walaupun majalah MUSE sudah memberitakan hal itu, tetapi tidak semua kalangan membacanya. Lain halnya, apabila diberitakan melalui sosial media, semua kalangan bisa menjangkaunya.
Tiffany Kim, teman baik Amira, juga melihat berita tersebut dan sekarang berusaha menghubungi Amira, tetapi tidak berhasil.
DRRT ... DRRRT ... DRRTT ....
__ADS_1
Ponsel Amira bergetar di atas tempat tidur. Tiffany Kim meneleponnya berkali-kali. Amira tidak menyalakan nada deringnya.
Setelah sekian kalinya, Tiffany Kim menghela nafas,
"Ke mana gadis busuk itu,huh?!"
Tiffany sudah ingin menyerah menelpon Amira, ketika dia akan mematikan sambungannya, Amira mengangkatnya.
"Halooo, hoaemmm ...."
Terdengar suara Amira yang serak khas orang bangun tidur
"Siapa?" tanya Amira yang masih memejamkan matanya.
"AMIIIIII ...," teriak Tiffany yang kekesalannya sudah memuncak ketika mendengar Amira yang seperti baru bangun dari tidurnya.
"Astaga telingakuuuu!!! Yah, Tif! Bisa gak kalau ngomong gak usah teriak-teriak! Suaramu sungguh menyiksakuuuuu!!!!"
Amira yang kaget dari tidurnya segera bangun dan membalas teriakan Tiffany.
"Kau masih bisa protes, masih enak-enakan tidur, ha?! Kau belum lihat sosmed? Sekarang kau sudah jadi orang terkenal, tauu??!" ucap Tiffany yang masih teriak tetapi sudah lebih menurunkan volume suaranya.
"Apa maksudmu?" tanya Amira masih linglung karena baru bangun.
"Coba deh sekarang kamu lihat di salah satu sosmedmu, aku sudah share ke kamu juga", ucap Tiffany.
Amira segera membuka laptop di kamarnya dan masuk ke akun sosmednya. Dia membulatkan matanya, syok membaca berita yang di-share oleh Tiffany kepadanya.
Astaga! Kenapa malah menyebar ke sosmed sih?!
Amira kaget melihat berita dan foto-foto 'mesra' dirinya dan Vincent terpampang di sosial media. Beribu-ribu komentar dan like diberikan oleh netizen. Ada juga beberapa komentar negatif dan umpatan yang membuat Amira mengerutkan keningnya sebal.
"Halo, Ami. Kau masih mendengarkanku kan?" tanya Tiffany yang menunggu respon Amira.
"Bisa kamu ceritakan? Apa benar yang dikatakan di berita itu? Kamu tunangan dari CEO Royal Group itu? Kenapa kamu gak pernah cerita?" cecar Tiffany.
Amira mendengus, "Kamu lebih percaya berita itu daripada aku?"
"Jadi yang dikatakan media itu bohong? Tapi foto-foto itu bagaimana?" tanya Tiffany masih tidak percaya.
"Haaah! Panjang ceritanya Tif ... nanti akan aku ceritakan ketika kita bertemu." Amira menghela nafas panjang sambil membaca komentar netizen di laptopnya.
"Huh! Apa-apan ini? Dia bilang aku gendut? Sembarangan saja! Cih!" dengus Amira kesal ketika membaca kritikan netizen yang bilang Amira tidak pantas dengan Vincent karena porsi tubuhnya.
"Jelas-jelas badanku aduhai begini, pipiku aja yang sedikit chubby di sini!" Amira mencoba membela diri.
"Amiii .... Sekarang bukan masalah kamu gemuk atau nggak? Masalahnya sekarang ... kamu sudah menjadi sorotan para netizen dan kamu tau apa maksudku?" Tiffany menjelaskan, tetapi Amira tidak mendengarnya.
"Jadi kamu juga bilang kalau aku gendut?" Amira mengerucutkan bibirnya sebal.
Tiffany menepuk dahinya, kesabarannya benar-benar diuji saat ini, "Amiii!!"
"Iya, iya .... Bawel banget, kamu sudah kayak Kak Daniel aja," ucap Amira sewot.
"Lebih baik sekarang kamu gak usah kemana-mana dulu, sekarang saja di kampus sudah heboh, apalagi kamu di sana." Tiffany memberikan nasihatnya.
Tiba-tiba Amira cemas teringat Leon. Apakah Kak Leon juga membaca berita ini?
"Tif, apa Kak Leon juga tau tentang berita ini?" tanya Amira cemas dan menggigit bibir bawahnya.
"Hmm .... Aku juga tidak tau, Ami. Aku juga belum bertemu dengannya. Sudah dua hari ini dia lembur di rumah sakit," ucap Tiffany.
Amira diam tidak merespon, dia larut dalam pikirannya.
"Kamu tenang saja, aku akan menjelaskannya kepada Kak Leon jika dia bertanya padaku, aku ada selalu di pihakmu." Tiffany melanjutkan ucapannya mencoba menenangkan Amira.
"Thank you Tif ," ucap Amira tulus dan tersenyum.
"Aku akan mengabarimu lagi nanti, ok? Sekarang aku mau menghadap Dosen Huang untuk mengumpulkan tugas, doakan aku ya?" ucap Tiffany. Setelah itu, Tiffany memutuskan sambungan teleponnya.
Amira masih memikirkan Kak Leon. Apa Kak Leon akan mempercayai berita itu? batinnya cemas.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
To be continue ....