
Leon menunggu Amira di toko perhiasan. Dia melirik jam tangannya.
"Kenapa Ami lama sekali?" gumam Leon. Karena sudah hampir dua puluh menit Leon menunggu di sana, dan dia juga menelpon ke ponsel Amira tetapi yang bersangkutan tidak mengangkat teleponnya.
"Maaf, saya mau tanya toilet wanita ada di sebelah mana ya?" tanya Leon kepada pelayan toko di sana. Kemudian pelayan tersebut memberitahukan letaknya, Leon segera keluar dari toko tersebut.
Leon berdiri di depan toilet wanita, tetapi dia tidak bisa masuk, karena takut dibilang orang mesum dan semacamnya. Cukup lama Leon berdiri, tetapi Amira tidak kunjung keluar. Leon berteriak, "Ami, apa kamu di dalam?"
Tidak ada sahutan dari dalam. Setelah yakin di dalam tidak ada orang yang keluar masuk, Leon memutuskan untuk masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya Leon, melihat Amira tergeletak di lantai dengan luka di pelipisnya.
Dengan segera Leon menggendong Amira keluar dari toilet dan membawanya ke rumah sakit.
Sementara itu di Apartemen Riverside.
Vincent menunggu Amira datang ke tempatnya. Dia melirik jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tetapi batang hidung Amira sama sekali tidak kelihatan. Vincent mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu sambil melirik ke arah pintu masuk.
Perutnya sudah berbunyi minta untuk diisi, kemudian ia berjalan ke dapur mengambil sepotong roti tawar untuk mengganjal perutnya.
'Apa dia masih marah dengan kejadian tadi?' batin Vincent.
"Ck ... berani sekali dia memberontak!" tukas Vincent berpikir Amira sengaja mengingkari janjinya.
Vincent berjalan keluar dan menghampiri unit apartemen Amira. Vincent memencet bel pintu itu dengan tidak sabaran. Tetapi tidak ada jawaban ataupun orang yang keluar dari sana. Vincent frustasi dan menggedor-gedor pintunya, tetapi sama tidak ada jawaban. Dia merogoh saku celananya dan menelpon ke ponsel Amira. Berulang kali dia menelpon tetapi tidak ada yang menjawab teleponnya.
"Kak Vincent?" panggil Tiffany yang saat ini berdiri di belakang Vincent dan memandangi Vincent dengan kaget.
Tiffany memang sudah mengenal Vincent sejak lama, tetapi dia tidak begitu akrab. Dia hanya tau Vincent dan kakaknya dulu adalah sahabat karib, tetapi sejak lima tahun yang lalu mereka sudah tidak dekat malah tepatnya seperti musuh kalau bertemu. Tiffany tidak mengetahui apa penyebabnya.
Sebenarnya semenjak berita mengenai Amira dan Vincent muncul, dia cukup terkejut juga. Tetapi dia belum ada waktu untuk bercerita kepada Amira. Dan sekarang dia terkejut melihat Vincent yang sekarang berdiri di depannya dan menatapnya dingin.
__ADS_1
"Kak Vincent kenapa bisa di sini?" tanya Tiffany heran.
"Amira di mana?" tanya Vincent tanpa menjawab pertanyaan Tiffany terlebih dahulu.
"Amira ... Amira ..." Tiffany sedikit ragu untuk mengatakan keberadaan Amira. Dia menatap Vincent dengan ketakutan.
"Di mana?" tanya Vincent kali ini lebih dingin dan tegas.
"Amira sedang pergi dengan kak Leon," jawab Tiffany cepat dengan sekali tarikan nafas. Tiffany memejamkan matanya, takut menatap mata yang penuh dengan amarah itu.
Vincent meremas ponsel di tangannya dan menatap Tiffany tajam, rasanya ingin melampiaskannya kepada gadis itu. Tetapi dia tau, Tiffany tidak bersalah.
Ponsel Vincent yang berada di genggamannya berdering. Vincent menatap layar ponselnya dan menjawab panggilan itu. Penelepon itu adalah Lucas.
"Halo," jawabnya dingin.
"Bos, tadi saya dapat info dari orang suruhan kita yang mengikuti Nona Lin. Katanya sekarang Nona Lin berada di rumah sakit, setelah habis diserang beberapa orang di departemen store," lapor Lucas.
Tiffany yang mendengar pembicaraan itu terkejut, tetapi dia tetap diam tidak berani mengganggu pembicaraan Vincent.
"Katakan dia ada di rumah sakit mana!" tanya Vincent panik.
"Di rumah sakit Rigo, Bos," jawab Lucas mencoba tetap tenang.
Vincent segera menutup teleponnya dan berlari menuju lift tanpa mengganti alas kakinya saat ini, Vincent memakai sandal rumah sewaktu keluar dari apartemennya. Tiffany yang berdiri di sana dengan cepat mengejar Vincent yang sudah berada di lift.
"Tunggu! Tunggu Kak Vincent! Aku juga mau ikut!" teriak Tiffany sambil menahan pintu lift.
Vincent hanya diam menatap Tiffany, tidak ada penolakan darinya. Tiffany segera memasuki lift dan mengikuti Vincent masuk ke dalam mobil menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Vincent mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Tiffany yang duduk di sampingnya hanya bisa berdoa agar bisa selamat sampai ke tujuan.
'Ya Tuhan, lindungilah aku!' batin Tiffany yang ketakutan karena laju mobil yang begitu cepat.
Setelah sampai di rumah sakit Rigo, Vincent segera turun dari mobil dan masuk ke dalam. Dia tidak menghiraukan teriakan petugas keamanan rumah sakit padanya, karena Vincent memarkirkan mobilnya begitu saja di depan pintu rumah sakit. Tiffany yang terkena imbas kemarahan petugas keamanan itu, dan Tiffany terpaksa memarkirkan mobil itu ke tempat parkirnya, karena kunci mobil masih menggantung di starternya.
Vincent segera menuju Unit Gawat Darurat dan menanyakan kepada perawat yang lewat di sana, "Sus, pasien yang bernama Amira Lin ada di mana?"tanya Vincent dengan wajah yang benar-benar terlihat panik dan kacau.
"Ada di mana, sus??!!" teriak Vincent pada perawat itu dan menggoyangkan tubuhnya.
"Maaf, Tuan. Anda harap tenang, ini di rumah sakit. Anda bisa menanyakan terlebih dahulu ke nurse station di sebelah sana," ucap perawat itu menunjukkan tempatnya.
Vincent bergegas ke nurse station dan menanyakan hal yang sama. Perawat itu mengecek nama yang di maksud di layar komputernya, "Nona Amira Lin sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat di ruangan 305," ucap perawat itu.
Vincent segera berlari ke arah lift dan menekan tombol lift menuju ke lantai 3. Tiffany yang melihat Vincent berlari dengan cepat menahan lift itu dan ikut masuk ke dalam dengan nafas terengah-engah.
Di dalam lift, Tiffany melihat wajah Vincent yang sangat kusut dan mencoba untuk menenangkannya, "Aku rasa Kak Vincent perlu tenang sedikit. Amira pasti tidak apa-apa, kan ada Kak Leon," ucap Tiffany yang mendapatkan tatapan tajam dari Vincent setelah mengucapkan hal itu. Tiffany terdiam dan menutup mulutnya.
Setelah sampai di lantai 3, Vincent berjalan dari lift tanpa menunggi Tiffany. Ia menyusuri lorong dan mencari ruangan rawat Amira. Akhirnya Vincent menemukan ruangan itu, ia segera masuk ke dalam tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Di dalam ruangan 305, tampak seorang pria yang duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur Amira. Ia menundukkan kepalanya sambil menggenggam salah satu tangan Amira yang saat ini belum sadar. Pria itu adalah Leon Kim.
Kepala Amira dililit perban dan tangannya dipasang selang infus. Wajahnya sedikit pucat tetapi dia tampak seperti seorang putri tidur.
Vincent yang berdiri di depan pintu ruang rawat itu, segera masuk dan menghampiri Leon. Leon terkejut akan kedatangan Vincent, dia segera berdiri dari tempat duduknya.
Vincent mendekati Leon dan melirik Amira sekilas, kemudian dia menarik kerah baju Leon dan melayangkan tinjunya di wajah Leon. Gerakannya sangat cepat dan Leon tidak bisa menghindarinya. Leon tersungkur ke lantai.
"AAAAAAA ... KAK LEON!" teriak Tiffany yang berdiri tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....