
Mobil Limousine berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang kediaman keluarga Lin. Amira dan Tiffany turun dari mobil, disusul Vincent dan Lucas yang mengantar mereka turun. Pak David menurunkan koper mereka berdua dari bagasi.
"Kalian antar sampai di sini saja," ucap Amira menolak Vincent yang ingin mengantarnya masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa kok. Sebentar saja aku sekalian kenalan dengan ibumu," ucap Vincent lagi.
Amira menggeleng pelan dan mendorong Vincent agar masuk ke dalam mobil. "Kamu kan masih ada urusan di kantor, Sayang," ucapnya mengingatkan Vincent.
"Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti," balas Vincent dan mengecup pipi Amira.
Lucas hanya menatap Tiffany dengan tersenyum dan mengikuti Vincent masuk ke dalam mobil. Amira dan Tiffany mengamati mobil Limousine yang sudah mulai menjauh.
Amira melihat wajah sahabatnya yang begitu masam dan tersenyum kecil. "Kamu kenapa?"
"Aku lagi sebel. Kak Lucas perhatiinnya Kak Vincent aja mulu. Pacarnya dia atau aku sih," gerutu Tiffany sebal karena merasa tidak diperhatikan.
"Sudah jangan ngambek gitu ih … Yuk masuk ke dalam," ajak Amira menarik kopernya dan lengan Tiffany ke dalam rumah.
Selama di Kota Serenity, Tiffany tinggal sementara di kediaman keluarga Lin sebelum ia mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal baru. Ia berencana untuk menetap di Serenity. Padahal orangtuanya sudah memintanya untuk bekerja di perusahaan mereka sendiri, tetapi Tiffany menolak.
Bibi Lu kaget melihat Nona Mudanya yang pulang ke rumah. Ia pun segera menyambutnya dan membantunya membawa barang-barang.
"Nona, bukankah Anda pulangnya besok?" tanya Bibi Lu yang memang mendapatkan informasi dari majikannya bahwa Amira akan pulang besok.
"Iya Bi, seharusnya besok tetapi ada sedikit urusan jadi dipercepat," jawab Amira santai.
"Nona Kim, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu, Anda semakin cantik saja," puji Bibi Lu yang memang sudah lama tidak bertemu Tiffany sejak keluarga mereka pindah ke Kota Amigos.
"Makasih, Bi. Anda juga masih sama seperti dulu, awet muda," balas Tiffany.
"Hahaha … Nona Kim bisa saja. Saya sudah keriput begini masih dibilang muda," jawab Bibi Lu malu.
"Hm … Bibi pilih kasih nih. Masa Tiffany aja yang dipuji. Aku nggak?" gerutu Amira pura-pura marah.
"Ah … maaf Nona, bukan begitu … saya …." Bibi Lu merasa tidak enak hati dengan majikan mudanya itu.
"Hahaha … aku hanya bercanda aja, Bi. Gak usah dianggap serius," canda Amira tertawa lepas.
"Oh iya, ibu dan kakek di mana, Bi?" tanya Amira lagi karena tidak melihat kedua sosok yang ia rindukan.
"Nyonya sedang pergi ke kantor, sedangkan Tuan Besar sepertinya sedang berada di ruang kerjanya," jawab Bibi Lu.
"Oh … baiklah, kalau begitu kami ke kamar dulu ya, Bi. Barangnya biar kami bawa sendiri saja," sahut Amira menggandeng lengan Tiffany dan berjalan menuju ke kamarnya sambil membawa koper mereka masing-masing.
"Baiklah, Bibi siapkan makan siang dulu," balas Bibi Lu dan segera ke dapur.
°
°
__ADS_1
°
°
°
Amira menata barangnya yang ada di koper, kemudian pergi menemui kakeknya. Ketika keluar kamar, ia melihat kakeknya yang sedang duduk di ruang tengah sambil membaca koran. Gadis itu menghampirinya secara diam-diam dan merangkul leher kakeknya itu dari belakang, membuatnya sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Ami? Kata Daniel besok kamu baru pulang, kenapa sudah di sini?," tanya Kakek Juan heran.
Amira menyunggingkan senyuman kudanya dan duduk di samping Kakeknya.
"Soalnya Ami sudah kangen sama Kakek dan semuanya," jawab Amira dengan tersenyum simpulnya.
"Mulutmu ini masih saja tetap manis," ucap Kakek Juan tertawa terbahak-bahak.
"Baguslah kalau kamu sudah pulang, sekarang ada yang menemani Kakek merawat bonsai Kakek, hahaha ...," canda Kakek Juan yang membuat Amira cemberut.
"Bonsai melulu yang dipikirin … sebel," tutur Amira memanyunkan bibirnya.
Kakek Juan masih tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba tawanya terhenti ketika melihat cincin yang melingkar di jari manis cucunya. Ia mengerutkan keningnya. "Kakek belum pernah melihat kamu memakai cincin sebelumnya. Sejak kapan kamu hobi memakainya?" tanya Kakek Juan curiga.
Amira segera meremas jemari sebelah kirinya, kaget dengan pertanyaan Kakeknya yang mendadak.
'Ternyata mata Kakek cukup jeli juga. Padahal aku belum siap menceritakannya,' batin Amira melamun.
"Ami," panggil Kakek Juan memecahkan lamunan cucunya itu.
"Ada yang melamarmu?" tanya Kakek Juan lagi.
Amira menggigit bibir bawahnya dan mengangguk pelan. Wajahnya tersipu malu.
Wajah Kakek Juan pun terlihat bahagia mendapatkan anggukan dari cucunya itu. Ia tak menyangka mendapatkan berita bahagia dari cucunya itu. Tanpa basa-basi lagi, Kakek Juan pun mengajukan berbagai pertanyaan yang membuat Amira menjadi pusing.
"Kakek, stop! Aku jadi bingung mau jawab yang mana," sela Amira cepat.
Kakek Juan pun menghentikan berbagai pertanyaannya dan diam menunggu jawaban dari cucunya itu.
"Orang itu … Vincent Zhang," jawab Amira sambil memegang kedua pipinya malu.
"Be-benarkah? Kalian berdua …." Wajah Kakek Juan semakin berseri dan merasa tidak percaya dengan pendengarannya saat ini.
"Apa kan Kakek bilang kamu pasti akan menyukai pria itu. Hahaha ...," timpal Kakek Juan.
"Tapi ini beneran kan?" tanya Kakek Juan lagi tak percaya, karena peristiwa Majalah Muse dulu pernah mengecewakannya. Amira mengangguk menjawab pertanyaan itu.
Kakek Juan kembali tertawa terbahak-bahak. "Ah hari ini benar-benar hari yang membahagiakan … Rasanya Kakek tak sabar melihatmu memakai gaun pengantin dan mengantarmu ke tangan suamimu saat ini," ucap Kakek Juan mengkhayal hal yang masih jauh.
"Kakek!" protes Amira mendengarkan khayalan kakeknya itu.
__ADS_1
"Katanya mau Ami menemani Kakek merawat bonsai aja di rumah," sindir Amira membalas ucapan Kakek Juan.
"Hahahaha …. Gak jadi, lebih cepat menikah lebih baik, biar Kakek bisa menimang cicit," balas Kakek Juan membuat Amira membulatkan matanya.
"Kakek!" protes Amira pura-pura sebal dan mereka berdua pun tertawa bersama.
Nyonya Merina yang baru saja pulang, mendengarkan suara tawa dari dalam. Ia pun masuk dan menghampiri mereka.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Nyonya Merina.
"Ibu!" panggil Amira berdiri dari duduknya dan memeluk ibunya erat. Nyonya Merina pun membalas pelukan putrinya itu.
"Kamu kenapa pulang gak kasih kabar ke ibu?" tanya Nyonya Merina yang kaget melihat putrinya yang sudah berdiri di depannya.
"Biar suprise aja, hehehe …" jawab Amira.
"Dasar kamu ini …."
"Ami pulang bawa berita bahagia, Meri," timpal Kakek Juan mendekati mereka.
Nyonya Merina menoleh ke ayah mertuanya dan berbalik menatap putrinya, "Maksudnya? Berita bahagia apa?" tanyanya penasaran.
Amira terdiam sejenak. Ia sedikit ragu untuk menceritakannya kepada ibunya, tetapi cepat atau lambat ia juga harus memberitahukan kepada ibunya.
"Sebenarnya aku dilamar oleh pacarku, Bu," jawab Amira pelan hampir seperti gumaman.
"Kamu sudah punya pacar, Ami? Siapa? Kenapa kamu gak pernah cerita sama Ibu?" cecar Nyonya Merina.
"Ah apa si Leon itu? Cowok yang pernah kamu cerita pada Ibu dulu?" tebak Nyonya Merina sebelum Amira sempat menjawabnya.
Amira tersenyum miris mendengarkan tebakan ibunya. Memang benar kalau dulu ia pernah bercerita akan mengakui perasaannya kepada Leon, tetapi kenyataannya tidak. Ia malah jatuh ke dalam perangkap cinta Vincent.
"Bukan, Meri. Kamu salah. Pacar Ami itu Vincent. Vincent Zhang!" timpal Kakek Juan menggantikan Amira menjawab ibunya.
"Ma-maksudnya CEO Royal Group?" tanya Nyonya Merina terbata-bata.
"Iya benar. Vincent yang itu," balas Kakek Juan.
Sesaat Nyonya Merina terdiam membeku setelah mendengarkan nama pria yang menjalin hubungan dengan anaknya dan kaki yang menopangnya hampir terjatuh. Ia menahan tubuhnya dengan mencari pegangan di sampingnya. Tangannya memegang senderan sofa di dekatnya. Ia memegang jantungnya yang berpacu tidak beraturan dan dahinya mengeluarkan keringat dingin.
"Bu! Ibu kenapa?" teriak Amira yang panik melihat raut wajah ibunya yang berubah pucat.
Nyonya Merina duduk di sofa itu dan memejamkan matanya sebentar.
"Bu … kenapa, Bu? Jangan buat Ami takut," pinta Amira lirih karena ibunya masih diam tidak menjawabnya. Ia menggenggam tangan ibunya dengan erat.
Nyonya Merina membuka matanya dan menatap putrinya tajam. Baru kali itu Amira mendapatkan tatapan seperti itu dari ibunya. Ia menelan salivanya dengan bersusah payah.
"Berpisahlah dengannya," pinta Nyonya Merina kepada putrinya itu.
__ADS_1
To be continue ….