
"Jangan ganggu dia!"
Vincent menatap dingin ke arah Jason seolah akan menerkamnya apabila mengganggu mangsanya.
Glek!
Jason menelan ludahnya pelan. Vincent menatapnya tajam.
"Aku rencananya mau buka cabang Royal Group di kota Villas, menurutmu bagaimana?" ucap Vincent santai tapi dingin.
"Ah benarkah? Kenapa aku sebagai direktur perencanaan tidak tau. Tapi kota Villas kan kota terpencil, untuk apa membuka cabang di sana, Bro?" tanya Jason heran.
"Untuk memindahkanmu!" jawab Vincent dengan tampangnya yang serius.
Tiba-tiba dia mengerti maksud Vincent. Dia tidak suka Jason mengganggu wanita miliknya.
"Ooow ... ow .... Tidak, Bro. Aku tidak akan betah di sana, kamu cuma bercanda kan? Hehehe ... santai, Bro. Aku tadi hanya bercanda, aku tidak akan mengganggu wanitamu," ucap Jason tersenyum miris.
"Baiklah, mengenai Lin Corp bagaimana? Apa kamu yakin mau bekerja sama dengan mereka? Lee Construction bagaimana? Bukankah kamu sudah menyetujui Calvin Lee?" tanya Jason mengalihkan pembicaraan.
"Mengenai Lee Construction, kamu tidak perlu khawatir. Kita tetap bekerja sama dengan mereka, dan untuk Lin Corp aku ada rencananya sendiri," ujar Vincent tersenyum menyeringai.
"Baiklah, terserah padamu saja. Aku hanya bisa membantumu kalau kamu membutuhkannya," balas Jason sambil menepuk pundak Vincent.
"Tapi siapa gadis itu? Hebat sekali dia bisa melelehkan gunung es ini, aku jadi ingin bertemu dengannya," sindir Jason masih tidak menyerah.
Jason melihat tatapan Vincent yang dingin memberikannya peringatan, "Aku tidak akan mengganggunya, Bro. Hanya penasaran saja," ujar Jason sambil mengedikkan bahunya.
"Kamu janji tidak akan menceritakannya kepada nenek?" tanya Vincent ragu.
"Aku janji, akan menutup mulutku ini. Kalau aku memberitahukannya maka aku akan jomblo selamanya," jawab Jason mengucapkan sumpahnya.
Vincent melihat mata Jason yang menunjukkan keseriusannya, dia menghela nafasnya. Dia tau Jason tidak akan mundur begitu saja dan akan terus mengganggunya dan bertanya mengenai Amira.
"Gadis itu Amira Lin," jawab Vincent datar.
"Amira Lin? Lin ...? Apa dia ada hubungannya dengan Lin Corp?" tanya Jason antusias.
"Jadi kamu ingin bekerja sama dengan Lin Corp karena berhubungan dengan gadis itu?" tanya Jason lagi.
"Iya Lin Corp adalah perusahaan keluarganya, tapi aku mau bekerja sama dengan Lin Corp tidak sepenuhnya karena dia. Lin Corp sendiri sebenarnya memiliki kemampuan yang cukup bagus dalam desain interiornya, hanya saja semenjak Presdir Lin sakit, banyak sekali masalah di dalam internal dan eksternal perusahaannya," jawab Vincent memberikan penjelasannya.
"Gadis itu benar-benar hebat!" jawab Jason yang tidak mendengarkan Vincent. Dia merasa kagum dengan Amira karena bisa membuat Vincent yang mempunyai prinsip untuk tidak mencampuraduk masalah perusahaan dan pribadi, sekarang malah melanggar prinsipnya itu sendiri.
"Apa kamu tidak mendengarkan penjelasanku tadi?" tanya Vincent yang mulai kesal kepada Jason yang menyimpulkan sendiri.
__ADS_1
Percuma saja, aku berdiskusi dengan si playboy ini! Hufff ..., batin Vincent memijat pelipisnya.
"Apa kamu benar-benar menyukainya?" cecar Jason.
"Hmm ... aku rasa begitu," jawab Vincent yang sudah enggan meladeninya.
"Apa nenek sudah tau?" tanya Jason lagi.
"Tau apa?" ucap Nyonya Celine Wang yang sudah berdiri di depan pintu ruangan Vincent, mereka cukup kaget dengan kedatangannya.
"Nek," sapa Jason dan Vincent bersamaan.
Nyonya Celine menghampiri mereka dan duduk di sofa menyilangkan kakinya dan meletakkan tasnya di atas meja.
"Nenek sudah tau apa?" tanya Nyonya Celine kepada mereka berdua dan menatap ke Vincent.
Jason melihat Vincent hanya diam saja, akhirnya dia mencoba mengalihkan pembicaraannya, "Hehehe ... nenek tumben kemari, sudah makan belum?"
"Jason, apa yang kalian bicarakan tadi?" Nyonya Celine menatap Jason menuntut jawaban.
Jason menyenggol bahu Vincent, tapi Vincent diam tidak bergeming.
"Baiklah, kalau kalian tidak mau bicara, kalau begitu biar nenek saja yang bicara."
Nyonya Celine melihat majalah MUSE yang ada di atas meja dan akan mengambilnya, tetapi Jason dengan sigap mengambilnya dan memeluk majalah itu di dadanya. Jason tersenyum simpul dengan terpaksa.
Nyonya Celine melemparkan majalah itu di atas meja, membuat Jason sedikit takut, tetapi tidak dengan Vincent, dia masih sama tidak bergeming.
"Bisa kamu jelaskan ini, Vincent?" tanya Nyonya Celine sambil mengangkat kedua alis matanya.
"Ehem ... itu ... nenek, Vincent, aku pamit dulu ya, masih ada kerjaan yang belum aku kerjakan," ucap Jason berdiri sambil meletakkan majalah yang ada di dadanya ke atas meja dan melihat suasana ruangan yang semakin mencekam.
"Siapa suruh kamu pergi, duduk di sini!" ucap Nyonya Celine sinis. Jason yang sudah melangkah, terpaksa kembali ke tempat duduknya.
*A*duh, kenapa aku terjepit dalam pertarungan harimau dan naga ini?! batin Jason rasanya ingin menangis karena merasa dirinya tercekik dalam suasana itu.
"Nek, jangan marah, ok? Kakak sepupu tidak ada maksud untuk menyembunyikannya darimu," ucap Jason membela Vincent.
"Jadi kapan dia akan memperkenalkannya kepada nenek?" tanya Nyonya Celine yang berpura-pura tidak mengenal Amira.
"Itu ...."
Jason menyenggol tangan Vincent. "Haish, Bro tolong dijelaskan saja kepada nenek. Bukankah kamu menyukai gadis itu, tidak perlu disembunyikan lagi, Bro."
Jason lupa akan janjinya barusan, Vincent mendelik tajam.
__ADS_1
Jason segera menutup mulutnya. Nyonya Celine menatap kedua cucunya tidak ada yang mau menanggapinya.
"Hiks ... Dosa apa yang aku perbuat, ya Tuhan. Kenapa bisa punya kedua Cucu seperti ini."
Nyonya Celine menutup wajahnya dan berpura-pura menangis, "Kalian sekarang sudah besar, tidak perlu Nenek lagi. Sekarang kalian pun sudah bisa merahasiakan sesuatu ... hiks, mungkin lebih baik Nenek pergi menemui Kakek kalian saja, daripada dibuat kesal sama kalian berdua hiks ...."
Vincent menghela nafas panjang, "Katakan saja Nek, sebenarnya Nenek sudah tau semuanya kan?"
"Dan sebenarnya Nenek juga sudah menemui Amira, bukan?" tebak Vincent lagi.
Nyonya Celine terkesiap akan tebakan Vincent dan menghapus air mata buayanya.
"Ck, tidak ada yang bisa disembunyikan darimu. Memang punya cucu yang terlalu jenius itu tidak ada manisnya sama sekali," protes Nyonya Celine.
Jason melongo melihat perubahan sikap neneknya, "Nenek! Ternyata ... ternyata kau menipuku, haish!"
"Bukan aku yang menipumu, tapi kamu yang terlalu bodoh. Pantas saja uang kamu habis dibodohi cewek-cewek matre di luar sana," ucap Nyonya Celine memukul kepala Jason dan mendengus pelan.
Jason hanya tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Belajar pintarlah sedikit dari Kakakmu," nasihat Nyonya Celine, Jason mengangguk.
"Apa benar kamu menyukai Amira?" tanya Nyonya Celine kepada Vincent.
Vincent mengangguk pelan dan menatap tajam ke arah Jason, dan Jason menjauhkan tubuhnya dari Vincent.
Nyonya Celine merasa bahagia melihat cucunya yang dingin itu sudah mulai membuka hatinya, akan tetapi dia teringat soal ekspresi Amira yang sepertinya tidak terlalu suka dengan cucunya ini.
"Nenek tadi sudah menemui Amira, sepertinya kau memberikan kesan yang tidak terlalu baik untuknya," ucap Nyonya Celine cemas.
"Walaupun dia bilang dia tidak membencimu, tapi kamu harus lebih berusaha lagi untuk mengambil hatinya, Nenek akan membantumu," ucap Nyonya Celine memberikan semangat.
"Nek, sebaiknya kamu tidak usah ikut campur masalah ini, aku bisa mengurusnya," ucap Vincent berusaha meyakinkan neneknya.
"Iya, tenang Nek, aku pasti akan membantu kakak sepupuku mengejar calon istrinya," ucap Jason berkata dengan bangga.
"Kamu gak usah tambah masalah buat Kakak Sepupumu! Masalahmu sendiri sudah banyak, urus wanita-wanitamu itu! Kapan kamu bisa serius dengan satu wanita, JASOOOONNNN?!"
Nyonya Celine menceramahi Jason, dan menarik daun telinganya.
"Aduuh, duh .... Ampun, Nek. Ampun .... Ini telinga, bukan jepitan jemuran."
Jason dengan cepat memutar badannya dan melepaskan jeweran Neneknya, kemudian segera kabur dari ruangan itu.
Vincent menghela nafas panjang. Rasanya hari ini benar-benar melelahkan buatnya, tetapi mendengar perkataan Neneknya bahwa Amira tidak membencinya, membuat perasaannya bahagia ....
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....