
Tring ... tring ... tring ...
Ponsel Steve berdering, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo," sapa Steve.
"Tuan Liu, apa anda sudah mendapatkan rancangan itu?" sapa suara berat pria di seberang telepon.
"Belum, Tuan. Berikan saya sedikit waktu lagi. Presdir Zhang juga belum menentukan rancangan yang akan digunakan untuk Green Resort nanti," jawab Steve kepada pria misterius itu.
"Baiklah, saya harap anda tidak mengingkari kerjasama kita, kalau tidak anda tau apa yang akan saya lakukan bukan?" ancam pria itu kepada Steve.
Steve menelan ludahnya dan keringat dingin keluar dari keningnya, "Saya akan berusaha mendapatkan rancangan itu, asal anda jangan menyakiti dia!" balas Steve gugup.
Pria itu tidak menjawab dan langsung memutuskan komunikasi secara sepihak.
Steve mengenggam ponselnya dengan erat dan menatap ponselnya. Ia teringat kejadian dua minggu yang lalu.
Flashback dua minggu lalu
Hari itu sudah malam. Steve baru sampai ke rumahnya sekitar jam delapan. Ia memasuki halaman rumahnya setelah memarkirkan mobilnya. Ia heran melihat pintu depan rumahnya yang sedikit terbuka.
Steve segera berlari ke dalam rumah, ia melihat keadaan di dalam rumahnya yang porak poranda. Kursi yang terbalik, meja kaca yang pecah, dan beberapa majalah yang berserakan di lantai. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
Apa ada perampok?, gumam Steve dalam hati, tetapi ia melihat kondisi ruangan yang sepertinya tidak ada barang yang hilang.
Helen?!
Steve teringat dengan adik perempuannya, ia bergegas mencarinya ke dalam kamar tidur adiknya. Ia mencari ke dalam dan tidak menemukan sosok adiknya itu. Keadaan ruangan itu sangat kacau. Bantal yang sudah robek sehingga membuyarkan isinya di lantai dan buku-buku pelajaran adiknya yang berserakan.
Steve bergegas keluar dan mencari ke setiap ruangan, tetapi hasilnya sama. Ia tidak menemukan adik kecilnya itu.
Steve duduk di sofa ruang tamu dan menundukkan wajahnya dengan raut wajah cemas dan takut. Helen telah diculik!
Steve tidak dapat membayangkan betapa ketakutan adiknya sekarang.
Siapa sebenarnya yang menculik Helen?
Steve mengacak rambutnya dan merasa frustasi. Ia menatap ponselnya dan ingin menelepon pihak berwajib, tetapi ia mengurungkan niatnya.
Kalau aku menghubungi polisi sekarang, aku masih belum tau keadaan Helen. Tidak! Aku tidak boleh gegabah, gumam Steve di dalam hati.
Helen Liu adalah adik kandung Steve dan keluarga satu-satunya bagi Steve. Usianya saat ini 15 tahun. Orang tua mereka sudah tiada sejak dua tahun yang lalu akibat kecelakaan. Helen mempunyai fisik tubuh yang lemah, sejak kecil ia sering sakit-sakitan.
Steve sangat menyayangi adiknya itu, ia selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk adiknya. Helen jarang keluar rumah karena fisiknya yang lemah, oleh karena itu Steve mengundang guru privat untuk mengajar adiknya, memberikannya home schooling. Kebetulan hari ini guru privat-nya ijin tidak mengajar karena sakit, sehingga hanya Helen yang berada di rumah.
Tidak berapa lama ponsel Steve berdering, membuyarkan lamunan Steve. Ia menatap layar ponselnya. Nomor tak dikenal. Keringat dingin bercucuran di keningnya, ia merasa takut dan cemas.
Dengan cepat ia mengangkat panggilan itu. "Halo?"
"Tuan Liu," sapa penelpon itu, suara berat khas seorang pria dewasa.
"Kau siapa? Di mana adikku?" cecar Steve.
__ADS_1
Pria misterius itu mendengus menampilkan senyum seringainya, "Tenang, Tuan Liu. Adik anda aman bersama saya."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?!" ucap Steve mengeratkan giginya.
Pria itu mendengus lagi, "Yang saya inginkan sangat mudah, asal anda mau bekerja sama dengan saya, adik anda yang manis ini dijamin tidak ada luka sedikitpun ...,"
"... tapi kalau tidak ...." ucap pria itu memberi jeda dalam perkataannya.
Steve mengepalkan tangannya erat, "Jangan kau sentuh dia!"
"Apa yang kau inginkan cepat katakan?!" teriak Steve yang sudah tidak sabar.
"Saya hanya ingin hasil rancangan proyek Green Resort," jawab pria misterius itu dengan santai.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Steve merasa heran mendengarkan permintaan pria itu.
Pria misterius itu tertawa, "Anda tidak perlu tau siapa saya. Tugasmu hanya lah mengambil hasil rancangan itu dan memberikan kepada saya, maka adik anda akan selamat."
"Baiklah, tapi aku juga ada syarat," jawab Steve.
"Aku mau anda memberikan video adikku setiap harinya," jawab Steve lagi.
"Baiklah, asal anda mau bekerja sama dan tidak menghubungi pihak berwajib maka adik anda akan selamat dan saya akan memberikan videonya. Jangan anda coba-coba membohongi saya atau anda akan tau akibatnya!" ancam pria itu dan memutuskan komunikasi.
End of flashback.
Steve menatap ponselnya, ia melihat video adik perempuannya yang dikirimkan pria misterius itu. Keadaan Helen masih baik saat ini.
Aku harus memikirkan cara bagaimana menyelamatkan Helen! batin Steve.
Steve tau sepertinya orang yang menculik adiknya adalah rivalnya Royal Group, tetapi ia tidak bisa menebak siapa gerangan orang itu mengingat begitu banyak perusahaan yang tidak suka dengan Royal Group saat ini.
°
°
°
°
°
Di ruangan rapat.
"Baiklah sampai di sini dulu rapat hari ini. Saya ingin kalian masing-masing segera menyerahkan hasil rancangan akhir Green Resort dalam minggu ini agar Pak Vincent bisa menyeleksinya nanti," ucap Steve mengakhiri rapat karena sudah waktunya jam makan siang.
Steve berharap dalam minggu ini ia dapat mendapatkan hasil akhir rancangan proyek tersebut, sehingga ia dapat segera menyelamatkan adiknya walaupun ia harus mengorbankan karirnya dan kehidupannya. Ia tau resiko yang akan ia hadapi kalau membocorkan rahasia perusahaan, tetapi nyawa adiknya lebih penting dibandingkan semuanya.
"Apakah ada pertanyaan lagi?" tanya Steve kepada bawahannya.
Pintu ruangan meeting tiba-tiba dibuka. Vincent masuk ke ruangan itu. Semua karyawan berdiri menyambutnya termasuk Amira.
"Duduklah," ucap Vincent. Para bawahannya kembali duduk kecuali Steve.
__ADS_1
"Apa aku mengganggu?" tanya Vincent.
"Ah tidak, Pak. Kami baru saja selesai," jawab Steve. Vincent mengangguk.
"Oh iya Pak, untuk rancangan proyek Green Resort dalam minggu ini akan kami serahkan hasilnya. Pak Vincent bisa menyeleksinya nanti," ucap Steve berusaha mengingatkan Vincent.
"Baguslah kalau begitu," ucap Vincent sambil melirik ke arah Amira. Steve yang mengerti maksud Vincent segera membubarkan rapat itu dan para karyawan keluar dari ruangan. Amira yang ikut berjalan keluar ditarik tangannya oleh Vincent.
"Kamu mau ke mana?" tanya Vincent menarik Amira ke dalam pelukannya.
Amira membulatkan matanya dan melihat ke sekitar. Untungnya saat itu, rekannya yang lain sudah keluar dari ruangan.
"Ya ampun Vin. Ini di kantorrrr," ucap Amira setengah berbisik. Vincent tersenyum nakal.
"Iya aku tau. Aku cuma mau meluk kamu, gak boleh?" tanya Vincent lagi makin mengembangkan senyumnya.
Amira menundukkan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya, "Boleh sih, cuma kan gak enak aja kalau yang lain lihat," jawab Amira.
"Aku kangen sama kamu, Sayang." Vincent mengeratkan pelukannya.
"Baru aja beberapa jam gak ngelihat," balas Amira berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Tapi bagiku satu jam terasa satu hari, bagaimana dong?" balas Vincent seraya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Amira yang sudah memerah.
"Udah ah gombalnya." Amira memukul dada Vincent pelan tetapi Vincent memegang dadanya berpura-pura kesakitan.
Amira memutar bola matanya malas melihat kelakuan Vincent yang kekanak-kanakan. Ia beranjak meninggalkan Vincent.
"Mau ke mana?" teriak Vincent melihat Amira meninggalkannnya.
"Aku lapar!" ucap Amira berbalik menatap Vincent yang sudah berjalan ke arahnya dan merangkul pinggangnya.
°
°
°
°
°
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....
*Hai Readerssss!
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, like dan vote ya!
Dukungan sekecil apapun darimu begitu berharga bagiku.
Jangan lupa favorit ya, ok?
__ADS_1
Thank you 😘*