
Sepasang mata elang pria itu terus menatap tajam ke dalam manik mata teduh gadis di depannya yang penuh dengan keraguan. Ia menggenggam erat tangan gadis itu, memberikan kepercayaan penuh ke dalam sentuhannya.
Bibir gadis itu bergetar, menahan rasa perih yang menusuk di dalam dadanya. Ia mengigit bibirnya dan menarik nafas panjang, tetapi sepasang tangan pria yang menggenggamnya saat ini memberikannya kekuatan.
"Sebenarnya apa yang kamu ragukan dariku, Sayang?" tanya Vincent tajam, meminta jawaban dari kekasihnya itu.
"Vin …," lirih Amira.
"Bukan kamu yang aku ragukan, tapi …," Amira terdiam sejenak dan melanjutkannya lagi, "kamu kan tahu mamamu tidak menyukaiku, dia belum merestui hubungan kita …."
"Aku yang menikah denganmu, Ami. Bukan mamaku!" sela Vincent cepat.
Amira diam mendengarkan perkataan kekasihnya.
"Iya, tapi …." ucap Amira lagi menggantung.
"Sayang, kan sudah pernah aku bilang urusan itu biar aku yang mengurusnya. Aku sudah menemui papaku kemarin, dia menyetujui hubungan kita. Kalau mama, berikan saja dia waktu untuk menenangkan diri dulu, papa pun setuju membantuku untuk membujuknya. Kamu tenang saja," papar Vincent dan mencoba menghibur gadis itu.
Memang benar, beberapa hari yang lalu ia memang pergi menemui ayahnya dan meminta restu darinya. Vincent juga sudah mengetahui alasan dibalik kebencian ibunya terhadap Amira. Ia yakin ibunya perlahan juga akan menerima istri pilihannya ini. Ia hanya membutuhkan waktu untuk perlahan menerimanya saja.
"Bukan hanya ibumu Vin, tetapi ibuku juga …," ucap Amira terdiam sejenak dan melanjutkannya lagi, "ibuku juga tidak akan merestui hubungan kita. Sebenarnya ia telah memperingatkanku jauh sebelum kita memulai hubungan ini, tapi ternyata …." Amira mulai menceritakan ganjalan di dalam hatinya selama ini.
"Tapi ternyata kamu jatuh cinta sama aku dan juga ingin terus bersamaku, bukan?" sela Vincent dengan percaya diri.
Wajah Amira tersipu malu mendengarkan ucapan yang keluar dari bibir kekasihnya itu. Ia menundukkan wajahnya dan mengangguk pelan.
Vincent mengangkat dagu Amira menatapnya dengan lembut, "Aku akan menemui ibumu, biar aku yang menjelaskan tentang hubungan kita, sekalian aku melamarmu secara resmi kepada keluargamu," jelas Vincent.
Amira membulatkan matanya mendengarkan penjelasan kekasihnya itu, "Tapi Vin .…"
Dengan cepat Vincent membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Ia tidak ingin mendengarkan lagi penolakan yang keluar dari bibir gadis itu, kemudian ia melepaskan kecupannya dan menempelkan keningnya pada kening kekasihnya, menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, "Sayang, aku tidak ingin mendengarkan alasan apapun lagi, oke?"
Amira hanya diam menatap manik mata kekasihnya itu. Ia mencoba memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Apa kamu tahu impianku dulu adalah menjadi orang hebat yang bisa menjalankan perusahaan yang diembankan kepadaku dan mengembangkannya menjadi besar? Tetapi sekarang aku tidak peduli lagi, impianku telah berubah. Apa kamu tahu apa impianku sekarang?" tanya Vincent yang mendapatkan gelengan dari kekasihnya itu.
"Impianku sekarang adalah kamu. Aku ingin setiap aku terbangun dari tidurku, kamu lah orang pertama yang kulihat. Begitupun ketika malam tiba, aku ingin menatapmu sebelum aku terlelap, memelukmu dalam tidurku. Apa kamu mau membantuku mewujudkan impianku ini, Ami?" pinta Vincent kepada kekasihnya itu.
Amira tertegun mendengarkan deretan kalimat yang membuatnya terharu. Pernyataan cinta yang sederhana, tetapi begitu menyentuh hatinya. Ia tidak mungkin menolak pria di hadapannya ini, yang begitu sabar menghadapi semua sikapnya yang kekanak-kanakkan, menyelesaikan semua masalah yang ia hadapi tanpa ia minta dan menoleransi semua kesalahan yang ia perbuat.
"Will you be my wife, Amira Lin?" tanya Vincent sekali lagi dengan tatapan penuh cinta darinya.
Amira mengangguk cepat, "I will, Vin," jawab Amira dengan lirih karena wajahnya sudah basah dengan air mata bahagianya.
Vincent tertawa lepas mendapatkan jawaban dari bibir gadis itu. Ia mengangkat tubuh kekasihnya dengan melingkarkan kedua tangannya di belakang pahanya dan memutar-mutarkan tubuh mereka berdua. Amira pun mengalungkan lengannya di leher Vincent agar dirinya tidak terjatuh.
"Hahahahaha …." Tawa bahagia pria itu mewarnai kegelapan malam penuh bintang. Ia seperti anak kecil yang baru saja memenangkan suatu perlombaan dan seperti anak kecil yang permintaanya telah dipenuhi oleh ibunya. Begitu bahagia hatinya saat ini hingga ia pun tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
"Stop, Vin! Kepalaku pusing …," keluh Amira memegang kepalanya.
Vincent menurunkan tubuh gadis itu dan masih tidak ingin melepaskannya, ia memeluk erat tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia menenggelamkan wajahnya di pundak Amira sambil mengatur nafasnya kembali.
Amira pun merasa bahagia malam ini, tetapi masih ada satu masalah yang mengganggu pikirannya, ingin rasanya ia menanyakannya langsung kepada Vincent, tetapi ia tidak ingin merusak momen bahagianya saat ini.
__ADS_1
'Biarlah aku menjadi egois sekali ini saja. Maafkan aku, El,' batinnya sedih.
Vincent mengeluarkan cincin dari kotaknya dan mengambil tangan kiri Amira. Ia menyelipkan cincin itu di jari manis kekasihnya.
(Hanya ilustrasi saja, sumber gambar : Google)
Vincent menatapnya dengan puas dan beralih ke wajah gadis itu yang tersenyum manis kepadanya.
Tanpa mengatakan apapun, ia menangkup wajah gadis itu dan mencium bibir mungil berwarna merah muda yang menggoda matanya sejak tadi dengan lembut dan penuh kasih.
Amira pun mengalungkan lengannya di leher Vincent dan membalas ciuman itu. Perlahan namun pasti, tidak ada nafsu yang terukir, yang ada hanya bukti kasih mereka.
°
°
°
°
°
Sesampainya di hotel, Amira dan Vincent masih bergandengan tangan hingga di depan pintu kamar Amira. Mereka merasa enggan untuk melepaskan diri satu sama lain.
"Mmm … a-aku masuk dulu ya," ucap Amira memulai percakapan, karena ia sudah berdiri lima menit di depan pintu kamarnya tanpa ada yang memulai berbicara.
Vincent menarik tubuh Amira dan mengecup puncak kepala gadis itu, "Selamat malam, Sayang. Mimpiin aku ya," bisiknya di telinga Amira.
Sedangkan Vincent masih belum beranjak dari depan pintu kamar Amira. Ia memegang pipinya yang dikecup kekasihnya itu dan tertawa kecil. Hatinya begitu bahagia malam ini, tetapi masih ada satu masalah yang harus ia selesaikan sekarang. Ia pun berlalu dari tempat itu dengan raut wajah yang lebih serius.
Amira yang baru saja kembali ke kamarnya, mendengar sahabatnya yang sedang bersenandung bahagia di dalam kamar mandi. Ia mengerutkan keningnya heran, tetapi tidak mengindahkannya. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mengambil ponselnya, menekan nomor kontak kakaknya, Daniel.
Setelah mendengar nada masuk beberapa kali, akhirnya teleponnya tersambung.
"Halo, Kak. Lagi apa?" cecar Amira ketika Daniel baru saja akan menjawab teleponnya.
"Baru aja pulang dari kantor. Kenapa?"
"Ng-nggak apa-apa, cuma kangen aja."
"Bohong! Bilang aja maunya apa?" terka Daniel yang sudah tahu sifat adiknya luar dalam.
Amira menyengir dan terkekeh-kekeh, "Hehehe … Kak Daniel emang Kakakku yang paling baik deh," puji Amira.
Daniel mendengus pelan mendengar pujian adiknya itu, "Bilang aja gak usah muji-muji gitu, gak mempan," cetus Daniel sambil melonggarkan dasi di lehernya.
"Cih, gak seru," cibir Amira.
"Kalau gak ada yang penting, aku matiin nih, mau istirahat!" tutur Daniel sewot.
"Eh … tunggu dulu, Kak. Hehehe ... aku cuma mau tanya, ibu gimana? Apa kakak sudah tanyain masalah itu?" selidik Amira.
__ADS_1
"Oh masalah itu … Kakak sudah coba cari tahu, tapi setiap bahas tentang Royal Group, ibu selalu menghindar. Jadi … maaf Kakak juga gak bisa bantu apa-apa," tutur Daniel meminta maaf.
Amira menghela nafas pelan, "Oh … ya udah," ucapnya kecewa.
"By the way, hubunganmu dengan Vincent gimana? Baik-baik aja, kan?" tanya Daniel.
"Baik, Kak. Dia … dia melamarku hari ini," ucap Amira berterus terang. Wajahnya merona merah.
"Apa? Beneran? Terus kamu sudah menyetujuinya?" tanya Daniel kaget.
Amira mengangguk pelan dan ia menyadari Kakaknya tidak dapat melihatnya, dengan cepat ia menjawab, "Iya Kak, aku sudah menyetujuinya. Menurut Kakak gimana? Kalau aku cerita sama ibu nanti, ibu bakal marah gak?" tanyanya meminta pendapat kakaknya itu.
"Ya … Kakak juga tidak tahu, Ami. Coba aja kamu bicarakan pelan-pelan sama ibu nanti," tutur Daniel, "nanti Kakak bantuin deh," lanjutnya lagi mencoba menghibur adiknya.
"Hm … Baiklah. Dua hari lagi aku pulang, aku akan coba bicara dengan ibu. Ya udah kalau begitu. Selamat istirahat, Kak," ucap Amira mengakhiri teleponnya.
"Iya, kamu gak usah banyak pikiran juga, oke?" balas Daniel dan mendapat jawaban 'oke' dari adiknya, kemudian menutup teleponnya.
Amira memandangi ponselnya dan menghela nafas pelan, kemudian memandangi cincin pemberian Vincent dan tersenyum lebar, hingga suara cempreng di dekatnya membuyarkan lamunannya.
"Cieeeee … yang habis dilamar …," sahut Tiffany yang baru aja keluar dari kamar mandi.
Amira melirik sahabatnya dengan tajam dan mengerutkan keningnya heran, "Kok kamu tahu?"
"Ya tahu lah. Kan aku sama Kak Lucas yang mempersiapkan semuanya tadi. Bagaimana? Bagus kan dekorasinya," ucap Tiffany bangga.
"Ternyata kalian sudah merencanakannya bersama-sama? Sejak kapan? Kok kamu gak bilang-bilang sih!" selidik Amira dan mengajukan protes kepada sahabatnya itu.
"Kalau aku bilang, mana surprise lagi. Sudah dari tiga hari yang lalu, Kak Vincent yang datang sendiri meminta bantuanku untuk mengajakmu ke sini," balas Tiffany.
"Seharusnya acaranya bukan di tepi pantai, tapi di restoran sini. Kamu kenapa sih tadi tiba-tiba keluar? Jadinya aku sama Kak Lucas musti buru-buru menyiapkannya ulang," lanjut Tiffany lagi.
Amira hanya diam dan tersenyum tipis. Tiffany duduk di sampingnya dan menepuk bahunya pelan, "Kamu kenapa, Ami? Kenapa kelihatannya malah sedih?"
"Gak kok, masa sih …," kilah Amira dan memalingkan wajahnya. Tiffany menatapnya curiga.
"Beneran gak ada apa-apa. Kamu sendiri kenapa? Kelihatannya bahagia banget, apa ada yang kamu sembunyikan?" terka Amira curiga karena sejak tadi senyuman di bibir sahabatnya itu terus terukir.
Tiffany segera beranjak dari duduknya, "Nggak … nggak ada apa-apa kok," balas Tiffany dengan wajah memerah dan ia mendapatkan balasan tatapan curiga dari Amira.
Tiffany menelan salivanya pelan dan menyunggingkan senyumannya lagi.
"Sebenarnya ... aku dan Kak Lucas juga jadian malam ini," ujar Tiffany pelan dengan pipi merona merah. Ia menceritakan kejadian ketika ia bersama Lucas tadi. Ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya dan perasaannya disambut dengan baik oleh Lucas.
"Beneran?" tanya Amira tak percaya.
Tiffany memanyunkan bibirnya sebal melihat raut wajah sahabatnya yang curiga kepadanya, "Nyebelin banget sih. Ya beneran lah, ngapain juga bohong. Walaupun sebenarnya awalnya dia nolak sih ...."
"Lah gimana ceritanya?" cecar Amira bingung.
"Iya aku bilang sama dia 'aku gak mau dengar penolakan' gitu, terus dia langsung mengangguk aja," papar Tiffany yang membuat Amira tertawa lepas. Bukan Tiffany namanya kalau tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti keinginannya dan Amira sudah tahu sifat jelek sahabatnya itu, Pemaksa!
"Bodo amat lah, yang penting aku sudah gak jomblowati lagi. Hore!" teriak Tiffany jingkrak-jingkrak di atas tempat tidur dan menarik Amira bersamanya. Malam itu kedua sahabat itu saling berbagi kebahagiaan mereka masing-masing.
__ADS_1
To be continue ….