Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 18


__ADS_3

"Aku dan kakekmu sudah tau hubunganmu dengan Vincent, cucu nenek," ucapan Nenek Wang membuatku dan Kak Daniel melongo, tetapi tidak dengan Kakek yang wajahnya berseri-seri.


"Apa? Benarkah itu, Ami?" tanya Kak Daniel tak percaya.


Aku terdiam, bingung dengan keadaan saat ini.


"Pantas saja kamu tidak mau Kakek jodohkan dengan yang lain. Ternyata kamu sudah punya pacar, hahaha ...."


Kakek menarik kesimpulannya sendiri, Nenek Wang tersenyum mendengarnya.


"Tunggu, tunggu sebentar!"


Aku harus meluruskan keadaan ini sebelum makin panjang.


"Kalian sepertinya salah paham, aku dengan si mesum ...."


Aduh aku salah sebut, aku memukul bibirku pelan dan dengan cepat meralat sebutan khasku untuk Vincent.


"... Ah maksudku Vincent. Ya Vincent itu, kami tidak punya hubungan apa-apa."


"Aku memang mengenalnya, tapi bukan hubungan yang seperti kalian pikirkan," ucapku mencoba meluruskan kesalahpahaman ini.


"Benarkah?"


Nenek Wang tampaknya tidak mempercayaiku. Aku mengangguk. Wajahnya tampak menunjukkan sedikit kekecewaan.


"Tapi, bagaimana kamu menjelaskan mengenai artikel ini?" tanya Kakek menyodorkan sebuah majalah kepadaku.


Aku melihat majalah tersebut, majalah MUSE. Majalah ini merupakan majalah yang cukup terkenal akan pemberitaannya mengenai gosip ataupun skandal para artis, model dan orang terkenal lainnya, baik itu pengusaha ataupun pejabat.


Aku membaca judul artikel tersebut, 'SEORANG PENGUSAHA MAPAN MEMAMERKAN KEMESRAANNYA DI DEPAN PUBLIK, KAUM HAWA PATAH HATI!'


Aku melongo membaca artikel tersebut. Di sana juga terpampang fotoku dan Vincent waktu di restoran Velvet yang memang terlihat 'mesra' bagi siapapun yang melihatnya. Apalagi ada adegan Vincent menciumku waktu itu, benar-benar terkutuk orang yang merilis foto ini! (Di sisi lain, Vincent dan Lucas bersin bersamaan, hihihi)


Mereka semua menatapku, menunggu jawaban dariku. Aku menghela nafas panjang.


Aku tersenyum miris. Akhirnya aku menceritakan kepada mereka bagaimana aku bisa mengenal Vincent. Semua kejadian dari awal hingga sekarang, mulai dari mobil Vincent yang menyerempetku, menyuruhku mengganti rugi biaya perbaikan mobilnya yang kurusak, hingga meminta bantuanku untuk pura-pura menyamar menjadi tunangannya waktu itu.


Aku tidak menceritakan kejadian waktu di apartemen Vincent kepada mereka. Nenek Wang juga tampaknya tidak ingin mengungkitnya.


Mereka akhirnya mengerti dan tampak kekecewaan yang cukup mendalam di wajah Kakek dan juga Nenek Wang.


Aku menggigit bibirku, entah kenapa merasa bersalah kepada mereka yang tampaknya sangat mengharapkan aku dan Vincent bersama.


"Nenek minta maaf ya, Sayang, Vincent sudah berbuat semena-mena terhadapmu," ucap Nenek Wang menyesal atas perbuatan Vincent kepadaku.


"Jangan berkata begitu, Nek. Aku juga ada salah sama dia. Jadi kami impas, Nek."

__ADS_1


Aku mencoba menghibur Nenek Wang. Nenek Wang menepuk tanganku yang digenggamnya dan tersenyum.


Perasaan ini terasa hangat di hatiku, karena aku tidak pernah menggenggam tangan nenek kandungku sendiri seperti ini, dia sudah tiada sejak lama sebelum aku lahir.


"Ngomong-ngomong, kenapa Kakek dan Nenek Wang bisa kenal?" tanya Kak Daniel yang mengundang rasa penasaranku juga.


"Sebenarnya kami teman satu sekolah yang sudah lama tidak bertemu, tapi berkat kamu ... Ami, kita bertemu di sini," ucap Nenek Wang.


"Sebenarnya Celine adalah cinta pertama Kakek, hahaha ...," jawab Kakek yang membuat aku dan Kak Daniel terkesiap.


"Aduh Juan, itu sudah cerita lama. Gak usah diungkit lagi, malu sama cucu." Nenek Wang protes atas jawaban kakek.


"Hahahaha ...."


Kakek tertawa lepas melihat Nenek Wang terlihat malu-malu. Aku dan Kakak saling melirik dan menahan senyum kami.


Dasar kakek, isengnya kumat lagi!


"Ami, apa kamu membenci Vincent?" tanya Nenek Wang padaku tiba-tiba.


"Hmm ...."


Aku agak ragu mengatakannya. Kalau dipikir-pikir, dibilang aku membencinya, aku merasa tidak begitu membencinya, tapi dia hanya menyebalkan menurutku.


"... Tidak Nek," jawabku mengakhiri keraguanku. Nenek Wang mengembangkan senyumnya.


"Kalau begitu, apakah kamu mau mempertimbangkannya?" tanya Nenek Wang lagi, pertanyaannya membuatku bingung.


"Maksud Nenek, apakah kamu mau mempertimbangkan untuk bersama Vincent, menjadi istrinya?" jawab Nenek Wang menjelaskan keinginannya.


"A ... apa? Nenek, aku ... aku rasa ini ...."


Belum sempat aku menolak, Nenek Wang menyelaku.


"Nenek tau kamu bingung sekarang, tapi rasa suka dan cinta bisa dipupuk perlahan-lahan. Yang penting kamu tidak membenci Vincent dan mengenai Vincent, Nenek tau dan sangat mengerti dia. Dia juga pasti menyukaimu."


"Kamu tau gak, Vincent itu dari dulu suka menutup dirinya. Kalau ada masalah selalu disimpan sendiri, dia berusaha mengatasinya sendiri. Tidak ingin menyusahkan siapapun, apalagi sejak ada kejadian itu ...." Nenek Wang terdiam sebentar.


Kejadian itu?


Aku mengernyitkan keningku, ingin kutanyakan mendetail kepada Nenek Wang tapi kuurungkan niatku.


"... Walaupun terkadang kelihatan dingin dan susah didekati tapi sebenarnya dia baik. Hanya saja dia belum menemukan orang yang dapat dia percaya sepenuhnya dan menurut Nenek orang yang dapat mengubah dan membuka dirinya itu adalah kamu, Ami."


Nenek Wang membujukku dan menggenggam tanganku erat. Aku menggigit bibirku dan ketika aku akan berbicara, Nenek Wang menyelaku lagi.


"Tidak perlu menikah dulu. Mungkin kalian bisa saling mengenal, bertunangan dulu saja."

__ADS_1


Nenek Wang terus berbicara, tidak memberikan kesempatan padaku.


"Menurutmu bagaimana, Juan? Apakah kamu keberatan?" tanya Nenek Wang meminta pendapat dari Kakek.


"Kalau aku tidak keberatan sama sekali, sekarang hanya tergantung dari mereka berdua saja," jawab Kakek menyetujui pendapat Nenek Wang.


"Kalau begitu, aku akan memberikan kabar baik ini kepada Vincent dan menanyakan pendapatnya dan bisa aku pastikan dia tidak akan menolaknya," ucap Nenek Wang memutuskannya begitu saja tanpa mendengar pendapatku lebih lanjut.


"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu. Kamu istirahatlah, Juan. Cepat sembuh ya, kalau ada waktu aku akan menjengukmu lagi," pamit Nenek Wang kepada kami.


Aku sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk bicara. Kenapa bisa begini?!


Setelah kepergian nenek Wang, aku melayangkan protesku kepada Kakek.


"Kakek!!!"


"Kenapa Kakek menyetujuinya begitu saja? Sama sekali tidak memberikan kesempatan kepadaku, tidak meminta pendapat dariku!"


Aku menyilangkan tangan di dadaku, menyalahi kakek yang tidak membelaku tadi.


"Ami, jaga sikapmu!"


Kak Daniel memarahiku, aku terkejut. Aku kesal tapi sikapku memang salah, tidak seharusnya aku menyalahi Kakek.


"Maaf Kek,"ucapku menyesal.


"Sudahlah Ami. Kakek juga minta maaf, ya. Seharusnya Kakek tidak egois, tetapi Kakek berharap dapat melihatmu menikah dengan pria yang tepat, karena Kakek tidak bisa menjaga dan melindungimu selamanya."


Ucapan Kakek membuatku menitikkan air mata, Kak Daniel merangkulku dan menepuk bahuku pelan.


"Kakek, jangan berkata begitu. Kakek pasti akan panjang umur. Kata dokter juga, Kakek sudah sehat dan bisa hidup seratus tahun lagi," ucapku sambil mengusap air mataku.


"Dasar mulutmu benar-benar manis sekali!" ucap Kakek mencubit pipiku.


"Menurut Kakek, Vincent orang yang tepat. Dia dapat menjaga dan melindungimu. Selain itu keluarga mereka terpandang di kota ini, jadi tidak akan ada yang berani mengganggumu," lanjut Kakek.


"Benar, Ami. Menurut Kakak, Vincent dapat menjagamu. Selain itu, perusahaan Royal Group dapat membantu kita mengatasi masalah yang sedang dihadapi Lin Corp sekarang, tapi semua kembali kepadamu lagi, kami tidak bisa memaksa."


Kak Daniel juga mencoba membujukku dan kakek mengangguk menyetujui ucapannya.


Maafkan aku, Kek. Maafkan aku, Kak Daniel. Tapi sudah ada orang yang kusukai, gumamku di dalam hati.


Aku tidak dapat mengatakannya, tidak ingin mengecewakan mereka.


Kak Daniel menghampiri kami dan kami bertiga berpelukan, perasaan ini terasa hangat.


Bagaimana ini? Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Semoga saja si mesum itu tidak menyetujui perjodohan ini, aku hanya bisa berharap begitu. Semoga saja!

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....


__ADS_2