
Bulan mengintip di balik awan tebal, menggantikan mentari yang telah kembali ke pelatarannya. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan gorden yang menutupi jendela kaca bening yang sedikit terbuka di dalam ruangan Amira dirawat.
Seorang pria muda memasuki ruangan itu. Ia menatap tubuh Amira yang tertidur layaknya seorang putri tidur di dalam negeri khayalan. Pria itu berjalan ke arah jendela dan menutup kaca jendelanya dengan rapat, kemudian berbalik menghampiri gadis itu. Ia pun duduk di kursi samping tempat tidurnya.
Perlahan ia mengusap lembut pipi gadis itu yang terlihat pucat seperti selembar kertas putih. Hatinya nelangsa melihat kondisi gadis itu.
'Maafkan aku, Ami. Aku yang telah menyeretmu ke dalam masalah rumah tanggaku. Maafkan aku,' batin pria itu sedih. Pria itu adalah Adrian Song.
Adrian tak menyangka mantan istrinya itu tega melakukan hal seperti ini kepada Amira. Ya, Emmy telah menjadi mantan istrinya. Hari ini ia telah mengurus perceraiannya dengan Emmy.
Adrian pun telah mengundurkan diri dari perusahaan Tang. Sekarang ia tidak memiliki apapun, namun ia merasa begitu bebas, tenang dan nyaman. Rasa dendam di hatinya pun perlahan-lahan mulai memudar. Ia menyadari bahwa dengan melepaskan dendamnya itu, beban di hatinya pun perlahan-lahan terangkat dan merasakan kedamaian.
Adrian menggenggam erat tangan Amira dan mengecupnya pelan. "Ami, cepatlah sadar agar aku bisa melihat senyuman di wajahmu lagi."
Tidak berapa lama, Vincent masuk ke dalam ruangan itu. Ia terperanjat melihat kedatangan Adrian di tempat itu, apalagi sampai menyentuh kekasihnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Vincent tajam dan mengawasi Adrian dengan mata elangnya yang sudah memberikan tatapan sinis kepadanya.
Sebuah senyuman mengembang di bibir Adrian. Pria itu tidak merasa terintimidasi dengan tatapan yang diberikan Vincent kepadanya. Ia meletakkan tangan Amira dan beranjak dari duduknya, kemudian mendekati Vincent.
Adrian memperhatikan kondisi Vincent yang cukup mengenaskan baginya sekarang. Ia pun tertawa miris mengundang pertanyaan di dalam benak Vincent.
Masih dengan tatapan sinis, Vincent mengernyitkan keningnya. "Apa kamu ke sini untuk menertawakanku?" tanya Vincent dingin.
Adrian menghentikan tawanya dan manggut-manggut. "Ya kurang lebih seperti itu. Aku tak menyangka aku bisa melihat dirimu yang begitu menyedihkan," cibirnya dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
Vincent mengeraskan rahangnya dan kepalan tangannya mengerat. "Lihatlah sepuasmu, aku mau lihat apa kamu bisa keluar dari sini hidup-hidup!" ancam Vincent.
Gelak tawa memenuhi ruangan itu. Adrian tertawa renyah mendengarkan ucapan Vincent yang menurutnya konyol. Ia mengusap air mata di sudut-sudut matanya karena tertawa.
"Vincent, Vincent … Ternyata candaanmu lucu juga. Aku rasa kamu cocok jadi pelawak," cibir Adrian lagi.
Vincent menatapnya tajam dan tidak menggubris sindiran Adrian. "Sebenarnya apa tujuanmu ke sini?"
"Mau menculik gadismu," jawab Adrian santai, namun mampu membuat Vincent murka. Vincent menarik kerah kemeja Adrian membuat pria itu sedikit menunduk menghadap dirinya yang sedang duduk di atas kursi roda.
"Santai, Bro. Aku hanya bercanda," ucap Adrian lagi sambil menepiskan tangan Vincent dari kerah kemejanya.
"Katakan!" seru Vincent geram.
Adrian merapikan kemejanya yang sedikit berantakan, kemudian menatap Vincent. "Aku ke sini hanya ingin menjenguk Ami, tidak ada bermaksud apa-apa."
"Apa benar Emmy Tang pelakunya?" tanya Vincent yang sudah mengetahui siapa yang melakukan aksi tabrak lari itu. Lucas telah membantunya menyelidiki hal itu dan melaporkan kepadanya beberapa saat lalu.
Adrian tersenyum tipis. "Ternyata kamu sudah tahu pelakunya. Informasimu begitu akurat, tetapi aku harap kamu bisa melepaskan dia," tutur Adrian dengan nada sedikit memohon.
Walaupun Adrian tidak mencintai Emmy, namun ia masih menganggap Emmy sebagai teman. Ia tahu perbuatan Emmy sudah melewati batas, tetapi mantan istrinya itu melakukannya karena kesalahpahaman dan terbakar api cemburu yang membuat akal sehatnya tidak bekerja dengan baik.
Kondisi Emmy tidak begitu baik, ketika Adrian bertemu dengannya di pengadilan untuk menyelesaikan proses perceraian mereka. Selama proses persidangan itu, Emmy hanya diam dan tidak mengajukan tuntutan apapun kepada Adrian. Ia seperti mayat hidup yang diam tanpa ekpsresi dengan pikirannya yang kosong, membuat Adrian merasa sedikit iba terhadap mantan istrinya itu.
"Dia sudah menyesali perbuatannya, Vincent. Kondisinya saat ini juga tidak lebih buruk darimu. Aku harap kamu tidak menindaklanjuti masalah ini. Kalau kamu masih tetap bersikukuh, biar aku yang bertanggungjawab atas kecelakaan itu," lanjut Adrian lagi.
__ADS_1
Vincent melihat keseriusan di wajah Adrian. Ia tak menyangka Adrian akan mengatakan hal semacam itu. Ia pikir pria di depannya ini adalah pria yang penuh ambisi dan ego yang tinggi, tetapi ternyata penilaiannya salah. Adrian masih memiliki rasa empati di dalam dirinya.
Vincent tidak menjawab permintaan Adrian. Ia memalingkan wajahnya dan menatap kekasihnya yang masih belum sadar dari tidur panjangnya.
"Semua keputusan aku serahkan kepada Amira. Biar dia yang memberikan jawaban atas permintaanmu tadi," sahut Vincent datar.
"Terima kasih," ucap Adrian tersenyum tulus. Ia tahu Vincent telah menyetujui permintaannya itu, hanya saja ia tidak ingin menurunkan harga dirinya untuk menyanggupinya secara langsung.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Mungkin kita akan jarang bertemu atau mungkin tidak akan bertemu lagi," ucap Adrian sambil menepuk pundak Vincent pelan.
Vincent menoleh dan menautkan kedua alisnya, meminta penjelasan dari ucapan Adrian.
"Aku sedang belajar untuk melepaskan dendamku kepadamu. Aku tahu yang dilakukan kakekku dulu itu salah dan aku tidak ingin melakukan lagi hal yang sama dengannya. Awalnya aku ingin kamu merasakan penderitaan yang sama denganku dulu, merasakan rasa sakit dan kehilangan yang pernah aku alami, tetapi ternyata aku gagal," jelas Adrian.
Vincent hanya diam mendengarkan penjelasan Adrian. Ia juga berpikir bahwa dirinya dulu sungguh berlebihan melakukan hal itu dan membuat dendam yang berkelanjutan seperti sekarang ini.
"Rasa dendam itu malah membuatku tidak bahagia dan membuatku terbelenggu di dalam pikiranku yang sempit. Oleh karena itu, sekarang aku ingin bebas dan merasakan ketenangan," lanjut Adrian lagi dan menepuk pundak Vincent.
Vincent tidak menepis tangan Adrian, malah ia menepuk pelan punggung tangan pria itu. "Maafkan aku yang sudah membuat hidupmu menderita dulu," ucap Vincent tulus.
Senyuman lebar terukir di wajah Adrian telah menjawab permintaan maaf Vincent.
"Sampai bertemu lagi, Vincent Zhang. Aku harap kamu tidak membuat Amira menderita, kalau tidak … aku akan datang untuk merebutnya darimu," tutur Adrian pamit dan memberikan peringatan kepada Vincent sebelum meninggalkan ruangan itu.
Vincent merasa sangat menyayangkan kepergian Adrian. Sepintas ia berpikir bahwa Adrian bisa menjadi seorang sahabat yang baik dan saingan bisnis yang berkompeten. Namun ia pun bernafas lega. Setidaknya saat ini musuhnya berkurang satu. Lebih baik menambah satu teman daripada satu musuh, pikirnya.
__ADS_1
To be continue ….