Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 25


__ADS_3

"Sudah seperti buronan saja, fiuuuhh ...! Ini gara-gara si mesum itu!!" gumam Amira kesal.


Amira mengambil ponselnya dari tas kecilnya. Dia mengecek pesan masuk di ponselnya. Sejak turun dari pesawat, dia belum menyalakan ponselnya.


Dilihatnya ada beberapa pesan masuk dari Tiffany, kemudian dia menekan tombol panggilan keluar. Tidak beberapa lama kemudian, terdengar sapaan dari Tiffany di seberang telepon.


"Halo, Ami. Kamu sudah sampai?" tanya Tiffany.


"Sudah. Ini baru aja sampai," ucap Amira sambil berbaring memilin rambutnya dengan jari-jarinya.


"Kamu kok gak ngabarin sih kalau mau pulang ke sini?" protes Tiffany.


"Hehehe .... Sorry, aku dadakan juga. Sibuk ini itu, terus lupa deh. Ingatnya tadi di bandara, hehehe."


"Jiah! Kebiasaan deh! Jadinya gak bisa suruh Kak Leon jemput kamu kan?" ucap Tiffany mendengus kasar. Amira hanya tertawa kecil.


"Terus kamu tadi di bandara gimana? Gak kenapa-napa kan?" ucap Tiffany lagi khawatir.


"Uuu .... Kamu tadi gak lihat ya, aku sudah kayak seleb papan atas. Dikejar-kejar bahkan sampai diwawancara segala," ucap Amira bangga.


"Iiish, aku lagi serius, malah diajak bercanda," ujar Tiffany sebal.


"Hahaha, habisnya serius amat! Gak kenapa-kenapa kok Sayangku. Untung tadi ada petugas keamanan yang selamatin aku, jadi aman deh sampai ke pesawat. Kalau nggak, ini mukaku sudah habis kena cakar kucing liar." Amira menjelaskan kepada Tiffany kejadian di Bandara Serenity tadi.


"Untung deh! Kalau tidak, mungkin kamu musti oplas wajah, hahaha."


"iiiih, ogah," ucap Amira membayangkan dirinya melakukan operasi plastik di wajahnya.


"Aku mungkin senin baru bisa balik ke apartemen, kamu tidak apa-apa sendiri?" tanya Tiffany.

__ADS_1


"Gak apa-apa, sudah biasa ngejomblo!" jawab Amira asal yang mengundang gelak tawa Tiffany.


"Mau aku kasi info bagus gak?" tanya Tiffany memancing antusias Amira.


"Info tentang apa? Kalau tentang tugas akhir, ogah. Sudah mumet kepalaku," jawab Amira malas.


Tiffany berdecak, "Ck, bukan itu. Kalau tugas akhir mah bukan good news, malah bad news. Ini tentang Kak Leon, kamu tidak mau ketemu dia?"


"Mau dong ketemu dia, Kak Leon sekarang di mana? Di rumah? Aku ke sana ya sekarang," ucap Amira antusias.


"Ck, mulai deh ..." Tiffany berdecak.


"Dia gak ada di rumah. Beberapa hari ini dia lembur terus, jadi jarang pulang ke rumah," ucap Tiffany lagi.


"Lho, jadi good news nya apaan?" tanya Amira heran. Antusias yang dirasakan tadi menjadi ciut.


"Yah, payah. Kalau dia lembur, berarti kan makan aja gak ada yang perhatiin. Ngerti, kan maksudku," ucap Tiffany menjelaskan kepada Amira yang masih terdiam.


"Hahaha. Maaf, maaf," ucap Amira menahan tawanya, dan mengusap air mata tawanya. "Oke, cantik. Thank you ya infonya".


"Maaf aja gak cukup, oleh-olehku mana?" ucap Tiffany menagih janjinya.


"Tenang, ada kok. Sudah dulu ya, bye. Aku mau siap-siap dulu," ucap Amira mengakhiri panggilan.


Kemudian Amira segera ke dapur dan membuka kulkas. Dilihatnya isi kulkas yang kosong, hanya ada beberapa buah dan susu kotak. Dia berniat ke supermarket untuk membeli beberapa bahan untuk memasak. Tetapi diliriknya jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat. Perjalanan dari apartemen ke supermarket bolak balik saja memerlukan waktu sekitar 20 menit, belum belanjanya, belum lagi waktu untuk memasak, batin Amira.


"Ah, sepertinya gak keburu kalau mau masak buat Kak Leon", gumam Amira sambil memegang perutnya yang sudah minta diisi juga.


Akhirnya Amira memutuskan membeli makanan jadi saja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, dia bergegas ke restoran terdekat membeli makanan untuk dirinya dan Kak Leon.

__ADS_1


Tidak lupa dia memakai kacamata hitam, topi, dan masker untuk menutupi wajahnya, dia tidak ingin kejadian di bandara terjadi lagi.


Sesampainya di Rumah Sakit Rigo, tempat Kak Leon bekerja. Amira membawa tentengan berisi bungkusan makanan di tangannya. Dia berjalan menyusuri lantai rumah sakit, dicarinya ruangan Dokter Spesialis Bedah.


Amira belum pernah pergi ke rumah sakit itu sebelumnya, biasanya dia menemui Kak Leon di rumahnya. Jadi sekarang Amira seperti seorang anak ayam yang kehilangan induknya. Dia mengintip setiap ruangan dokter yang dilewatinya, membaca nama di setiap pintu ruangan itu.


"Kenapa banyak sekali sih, dokter bedah di sini?" gumamnya yang kebingungan.


Tingkah laku Amira menimbulkan kecurigaan orang-orang di sekitar. Apalagi style kostum yang dipakai Amira, sungguh sangat mencolok.


Dress mini berwarna baby pink di atas lutut yang mengekspos sedikit pahanya dan sepatu high heels yang berwarna senada dengan dressnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, dan dihiasi topi baseball berwarna putih serta wajah yang ditutupi masker dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


Bagaimana tidak mencolok dengan style seperti ini, bukan?


Beberapa perawat yang melewatinya merasa aneh dan melaporkannya kepada petugas keamanan di sana.


"Ah, ini dia, akhirnya ketemu!" ucap Amira girang setelah melihat nama Prof.Dr.Leon Kim, Sp.B di depan pintu ruangan.


Tetapi kegirangannya berubah menjadi ketakutan setelah dikelilingi oleh beberapa perawat dan petugas keamanan rumah sakit di depan pintu ruangan Kak Leon.


Ada apa ini? batinnya.


"Ini dia, Pak orangnya," ucap salah satu perawat yang mengelilinginya saat ini.


"Iya, Pak. Ini orang aneh itu," timpal perawat yang lain.


Amira kaget mendengarnya, "Apa?? Orang aneh?"


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2