Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 75


__ADS_3

Seharian di rumah membuat Amira merasa bosan karena tidak ada teman bicara dan hal yang bisa ia lakukan. Amira hanya mengepel beberapa ruangan karena untuk menyapu sudah ada robotic vacuum cleaner yang membantu pekerjaannya.


Akhirnya Amira memutuskan untuk membuat makan malam sebelum Vincent pulang ke rumah. Ia berbelanja beberapa bahan makanan di supermarket terdekat, dikarenakan isi kulkas Vincent yang kosong.


Selain bahan makanan, Amira berbelanja berbagai kebutuhan dapur juga, karena bumbu dapur di apartemen Vincent tidak lengkap. Setelah berbelanja, Amira segera pulang ke apartemen dan mulai memasak.


Tanpa terasa hari berlalu begitu cepat. Saat itu Vincent ada mengirim pesan kalau ia akan pulang terlambat dan meminta Amira agar tidak menunggunya. Karena kesibukannya, Amira tidak membaca pesan masuk di telepon genggamnya.


"Akhirnya selesai juga!"


Amira menatap makanan yang tersaji di atas meja makan dengan puas. Amira baru saja selesai memasak dan membersihkan peralatan masak di dapur, kemudian ia melepaskan apron di lehernya.


Amira melirik jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan sekarang sudah beraroma sama dengan makanan yang ia buat. Setelah selesai mandi, Amira mengoles krim yang diresepkan oleh dokter ke kulitnya yang masih ada ruam-ruam di beberapa area yang sudah mulai menipis.


Kemudian Amira keluar dari kamarnya dan menunggu Vincent di ruang tengah sambil menonton acara di televisi. Waktu berlalu begitu cepat, Amira menunggu Vincent hingga ia ketiduran di sofa dengan televisi yang masih menyala karena kelelahan.


°


°


°


°


Sementara itu di Little Royal.


Vincent masih berada di ruang kerjanya. Ia sedang menatap layar laptopnya dengan mata memincing. Lucas mengirimkan beberapa data mengenai latar belakang Steve.


Setelah mendengarkan percakapan bawahan Steve di ruang pantry tadi siang. Vincent merasa curiga dengan kejanggalan sikap Steve, karena itu Vincent meminta Lucas untuk menyelidiki semua informasi tentang Steve.


Vincent berpikir keras melihat laporan yang dikirimkan oleh Lucas. Tidak ada kejanggalan dari latar belakang Steve. Semuanya bersih, baik itu dari pendidikan, keluarga, maupun teman. Tidak ada motif baginya untuk menghancurkan Royal Group.


Vincent menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya pelan sambil memijat pelipisnya.


'Apa aku yang berpikiran terlalu jauh?'


Vincent merasa dirinya sudah berlebihan mencurigai seseorang. Ia melirik jam di layar laptopnya telah menunjukkan pukul sembilan malam. Vincent membuka ponselnya dan melihat tidak ada balasan pesan dari Amira. Kemudian ia menutup layar laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya untuk segera pulang ke apartemennya.


°


°

__ADS_1


°


°


°


Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Vincent segera masuk ke dalam lift. Setelah sampai di depan pintu apartemennya, Vincent menekan sandi pintu apartemen dan masuk ke dalam.


Keadaan ruangan begitu gelap gulita, hanya seberkas cahaya yang masuk dari ruang tengah. Vincent mengerutkan keningnya heran.


'Kenapa gelap sekali?'


Vincent meraba saklar lampu di dekat pintu masuk dan menekan tombolnya hingga akhirnya beberapa ruangan depan menjadi terang. Ia melepaskan sepatu kerjanya dan menggantinya dengan sandal rumah, kemudian bergegas masuk ke dalam.


Vincent melihat layar televisi yang masih menyala di ruang tengah dan Amira yang terlelap di sofa. Vincent tersenyum melihatnya.


Vincent menekan saklar lampu ruang tengah. Ia segera mencari remote televisi dan mematikan layarnya, kemudian meletakkan tas kerjanya di atas meja dan memandangi wajah Amira yang sedang tertidur.


'Sepertinya ia kelelahan. Apa yang dia lakukan hari ini?'


Vincent melihat Amira yang tertidur pulas, hingga tidak menyadari kedatangannya. Di sudut bibir Amira terlihat air liur yang keluar, Vincent tersenyum geli melihat gaya tidur Amira yang tidak ada cantiknya sama sekali. Ia mengelap air liur tersebut dengan selembar tisu yang ia ambil di atas meja.


Amira membuka matanya perlahan dan mengucek-uceknya pelan. Ia melihat Vincent di hadapannya yang masih menertawakannya.


"Kamu sudah pulang?"


Pertanyaan Amira mengagetkan Vincent. Vincent berdeham berusaha mengontrol tawanya, "Iya Sayang. Kamu kenapa malah ketiduran di sini?"


Amira bangun dan menyenderkan punggungnya di sofa, "Aku nungguin kamu ... Gak taunya malah ketiduran," ucap Amira sambil menggosok-gosok wajahnya.


"Aku kan sudah ngabarin jangan tunggu. Kamu gak baca pesanku ya?" tebak Vincent.


"Masa? Aku gak tau. Seharian ini aku sibuk nyiapin makan malam." Amira memanyunkan bibirnya merasa usahanya seharian ini sia-sia.


"Oh ya? Aku jadi gak sabaran mau cicip. Pasti enak!" hibur Vincent melihat Amira yang sedih.


"Tapi sudah dingin dan rasanya pasti sudah gak enak," ujar Amira.


Vincent duduk di samping Amira dan menarik wajahnya di hadapannya, "Apapun yang kamu buat semua terasa lezat di lidahku. Apalagi ... ini ...."


Vincent mencium bibir Amira yang kering karena baru bangun tidur dan membasahinya dengan bibirnya. Ia mengigit bibir Amira dengan pelan membuat Amira membuka mulutnya sehingga lidahnya leluasa mengeksplor di dalamnya.

__ADS_1


Amira mendorong Vincent pelan dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Wajahnya memerah karena malu.


"Mulutku pasti bau," protes Amira sambil menutup mulutnya.


Vincent tertawa melihat tingkah kekasihnya yang menggemaskan dan mengacak-acak rambutnya, "Sedikit," ucapnya santai dan segera beranjak dari tempatnya sebelum Amira melancarkan serangannya.


"Vincent Zhang!!" teriak Amira sebal karena Vincent langsung kabur setelah berhasil menjahilinya.


Amira beranjak dari duduknya menuju ke meja makan dan menatap makanan yang telah dingin. Ia menghela nafas pelan dan memegang perutnya yang sudah keroncongan karena ia juga belum makan dari tadi.


Amira mengambil makanan tersebut dan memindahkannya ke wadah tahan panas setelah itu memasukkannya ke dalam microwave untuk dipanaskan.


Tidak beberapa lama, Vincent keluar dari kamar sambil membawa handuk kecil di lehernya dan mengusap-usap rambutnya yang masih basah. Ia menuju ke dapur dan melihat Amira yang sedang sibuk memanaskan makanan yang ia masak.


Vincent menghampiri Amira dan memeluknya dari belakang. Amira terkejut dan menoleh. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Vincent langsung mengecup bibir Amira sekejap ketika Amira menoleh ke belakang. Amira segera memalingkan wajahnya dan tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya.


"Kelihatannya enak," ujar Vincent melihat makanan yang baru saja dikeluarkan oleh Amira dari microwave.


"Tau dari mana? Dimakan aja belum," balas Amira sewot tapi di dalam hatinya ia merasa senang mendengarnya.


"Dari aromanya," bisik Vincent di telinga Amira membuat Amira terasa tergoda, apalagi aroma mint dari tubuh Vincent yang terasa menyegarkan di penciuman Amira membuat sensasi di tubuhnya bergetar. Telinga Amira memerah. Amira segera berbalik dan menghindar dari Vincent, karena ia tidak ingin Vincent menyadari bahwa ia sedang memikirkan hal 'itu'. Jantungnya berdegup kencang. Walau begitu hal tersebut tidaklah luput dari penglihatan Vincent, ia tersenyum nakal melihat sikap Amira.


Sebenarnya dirinya juga merasakan hal yang sama yang dirasakan oleh Amira, tetapi ia berusaha untuk menjaga perasaan di antara mereka. Vincent menggosok tengkuk lehernya dan menghela nafas panjang, kemudian bergegas mengikuti Amira ke meja makan dan mereka menikmati makan malam sambil besenda gurau malam itu.


°


°


°


°


°


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


To be continue ....


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen ya....


Love You 😘

__ADS_1


__ADS_2