Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 98


__ADS_3

Amira berjalan keluar dari mansion. Masih dengan air mata mengalir, ia berjalan tanpa arah. Ia merasa kecewa ketika tadi menoleh ke belakang, tidak melihat sosok kekasihnya yang mengejarnya.


Gadis itu menatap langit malam yang sudah memperlihatkan kilatan cahaya di atasnya. Tidak berapa lama, tetesan air hujan pun turun membasahi tubuhnya. Ia segera berlari untuk mencari tempat teduh, tetapi kakinya tersandung batu kecil di jalan membuat dirinya tersungkur di jalanan yang sudah basah oleh hujan.


Amira meringis, lututnya terasa perih, tetapi rasa sakit di lututnya tidak sesakit rasa sakit di hatinya. Ia menangis memikirkan perlakuan Ibunya Vincent kepadanya, ia berpikir apa salahnya hingga dirinya dibenci. Padahal ini adalah pertemuan pertama mereka.


"Hubunganmu dengan putraku hanya seumur jagung, apa pantas kamu bilang kamu cinta sama dia? Saya rasa setelah kamu putus darinya, putraku itu mungkin tidak akan pernah mengingat ataupun mengenal kamu lagi!"


Ucapan Nyonya Thalia terus terngiang-ngiang di pikiran Amira. Ia merasa tidak pantas menjadi kekasih Vincent, makanan apa yang disukai dan tidak disukai kekasihnya saja ia tidak tahu. Belum lagi melihat keakraban kekasihnya tadi di meja makan dengan Eva, ia merasa cemburu.


Air hujan membasahi tubuh Amira yang sedang menangis terisak-isak, sehingga membuat air matanya tidak terlihat lagi karena tertelan air hujan. Kini ia tidak peduli dengan air hujan yang telah membasahi tubuhnya, ia tetap berjongkok di pinggir jalan sambil menahan rasa sakit di lututnya.


Tiba-tiba sebuah payung melindungi tubuh gadis itu dari belakang, ia heran dan menengadahkan wajahnya ke atas.


"Dasar gadis bodoh!" ucap si pemilik payung itu yang tidak lain adalah kekasihnya, Vincent Zhang.


Beberapa saat lalu ….


Vincent segera keluar dari mansion orangtuanya, ia bertemu dengan Alfred di depan pintu utama.


"Paman Al, apa kamu melihat ke arah mana Amira pergi?" tanya Vincent dengan wajah cemas.


"Tadi saya lihat Nona Lin berlari ke sebelah kiri jalan, Tuan Muda."


"Baiklah, terima kasih Paman Al."


Vincent segera mengambil mobilnya di parkiran. Ia melihat cuaca malam itu yang sedikit mendung dan ada beberapa kilatan cahaya yang menyambar, ia segera turun kembali dan meminta payung dari Alfred. Setelah itu, ia kembali dan melajukan mobilnya keluar mansion.


Vincent melajukan mobilnya dalam kecepatan pelan, ia mencoba mencari sosok kekasihnya itu di pinggir jalan yang minim pencahayaan. Tidak berapa lama hujan pun turun membasahi bumi.


Dengan cahaya lampu yang remang dan hujan yang deras membuat pandangan Vincent sedikit terhalang. Ia menajamkan penglihatannya ke kanan kiri jalan, hingga ia menemui sosok seorang gadis sedang berjongkok di trotoar tanpa perlindungan apapun, tidak salah lagi itu adalah kekasih yang ia cari, Amira Lin.


Tetesan hujan yang deras membuat tubuh Amira basah kuyup, tetapi gadis itu tidak peduli. Vincent memperhatikan punggung kekasihnya itu sejenak dan menghela nafas pelan, ia tahu bahwa kekasihnya itu sedang menangis sekarang. Vincent mengambil payung yang dimintanya dari Alfred dan keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Vincent berdiri di belakang Amira dengan memegang payung di tangan kanannya, ia mengarahkan payung itu lebih ke depan, membiarkan dirinya sendiri tak cukup terlindungi oleh payung demi melindungi gadis yang berada di depannya ini. Sebagian tubuhnya pun ikut basah terkena air hujan.


"Dasar bodoh!" ucap Vincent sekali lagi.


Amira mencoba berdiri dengan tertatih-tatih dan perlahan berbalik menatap kekasihnya itu. Ia menarik ujung bibirnya dan tersenyum. Ia bahagia melihat kekasihnya yang ternyata masih mengejarnya dan mengkhawatirkannya. Dengan segera ia menghambur ke dalam pelukan kekasihnya itu, memeluknya erat.


"Kenapa kamu pergi? Dasar bodoh! Apa kamu mau memberikanku kepada wanita lain, hah?!" tukas Vincent memarahi gadis yang sedang memeluknya saat ini.


Amira menggeleng kuat dan menengadahkan wajahnya menatap Vincent, "Nggak, Vin! Aku gak mau, aku … aku gak mau kehilangan kamu!" seru Amira dalam isak tangisnya.


"Dasar bodoh! Sejak kapan aku bilang mau meninggalkanmu? Kamu juga dilarang meninggalkan aku tanpa aku minta, mengerti?" perintah Vincent yang disambut anggukan dari Amira.


Amira mengernyitkan dahinya dan menatap Vincent, "Jadi maksudmu suatu saat kamu akan memintaku untuk meninggalkanmu?" protes Amira atas ucapan kekasihnya tadi.


"Tidak akan ada hari itu! Jangan harap kamu bisa pergi dari sisiku selamanya!" seru Vincent sambil melepaskan payung di tangan kanannya, ia menangkup wajah gadis itu dan menciumnya dengan memburu, ia kesal kepada kekasihnya itu karena tidak percaya kepadanya dan kesal karena ia meninggalkannya tadi. Nafas Vincent begitu memburu, ia mencurahkan kekesalannya itu ke dalam ciumannya.


Amira membalas ciuman kekasihnya dengan bersusah payah, karena pria itu begitu menggebu-gebu, tetapi perlahan Vincent melepaskan ciumannya dan menempelkan dahinya di dahi Amira.


"Yang aku cintai adalah kamu, Amira Lin. Apa kamu mengerti?" terang Vincent sekali lagi sambil mengatur nafasnya.


Amira merangkulkan tangannya di leher Vincent, sedangkan tangan Vincent menarik tengkuk Amira memperdalam ciuman mereka. Mereka tidak mempedulikan tubuh mereka yang sudah basah di bawah rintikan hujan yang menjadi saksi bisu kisah mereka malam ini.


°


°


°


°


°


Di Mansion Keluarga Zhang.

__ADS_1


Setelah kepergian Vincent dan Amira, Tuan dan Nyonya Mo pun juga pamit untuk pulang, mereka merasa kesal dengan ucapan dan sikap Vincent. Begitu juga dengan Eva, tetapi Eva tidak menyalahkan Vincent atau siapapun. Ia merasa dirinya kalah dari Amira yang telah memenangkan hati Vincent.


Di meja makan hanya tertinggal Thalia dan suaminya saja. Thalia mendengus sebal, ia menyilangkan kedua tangannya di dada, sedangkan James hanya menatap istrinya itu sambil menggelengkan kepala.


Thalia melirik suaminya sekilas, "Kenapa? Apa kamu mau bilang kalau ini semua salahku?"


"Bukankah aku sudah pernah bilang untuk membicarakannya dulu dengan Vincent? Dan lagi kamu sudah bisa lihat dengan jelas bukan, gadis yang dibawa oleh putramu itu adalah kekasihnya? Mengapa kamu masih berusaha menjodohkannya dengan Nona Mo?" James menggeleng kepalanya lagi, tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.


"Kenapa? Sekarang kamu membela putramu dengan kekasihnya itu? Oh … aku tahu … Apa kamu membela gadis kecil itu, hah? Kamu masih belum melupakan wanita ****** itu bukan?" cecar Thalia.


"Apa maksudmu, hah? Apa dia …."


"Iya benar. Dia adalah anak dari wanita itu. Apa kamu puas? Sekarang kamu mau menemui wanita itu lagi?"


"Thalia! Cukup!"


Air mata Thalia perlahan mengalir, dirinya tidak menyangka suaminya akan membentaknya demi orang lain.


Wajah James sudah berubah gelap. Ia tidak menyangka istrinya masih saja tidak mempercayai dirinya setelah berpuluh tahun kemudian. Ia menghela nafas pelan dan mengusap wajahnya kasar ketika melihat air mata jatuh di pipi istrinya itu.


"Maaf … maafkan aku …" ucap James lirih. Ia tau kalau kata maaf tidak cukup untuk mengobati bekas luka di hati istrinya yang sudah membekas selama puluhan tahun. Ia yang telah menorehkan luka itu.


Thalia mengusap air matanya pelan dan menatap suaminya, "James, aku tak peduli kamu sudah melupakan wanita itu atau tidak, tetapi yang pasti aku tidak akan merestui hubungan putra kita dengan gadis itu!"


"Thalia … Aku bukan mau membela gadis itu atau siapapun, tetapi apa kamu tidak memikirkan perasaan Vincent? Kamu mau dia membencimu, karena masa lalu kita?" tanya James mencoba menenangkan istrinya, tetapi yang ia dapatkan adalah tatapan marah yang dilayangkan oleh Thalia kepadanya.


"Oke … maaf. Itu semua adalah kesalahan yang telah kuperbuat di masa lalu, kamu masih mau menyalahkanku silahkan, aku terima … tapi kamu tolong jangan sangkutpautkan masalah kita dengan mereka, karena gadis itu tidak bersalah," ujar James lagi dan beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan istrinya sendiri di ruangan itu.


Thalia hanya diam mendengarkan perkataan suaminya itu. Ia tahu semua yang dikatakan suaminya itu benar, tetapi tetap ia tidak dapat menerima kenyataan itu. Setiap kali ia memikirkan kejadian yang pahit itu, hatinya merasa sakit. Bagaimana ia bisa begitu mudahnya menerima Amira sebagai calon istri putranya. Ia tidak dapat menerimanya begitu saja.


To be continue ....


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan votenya ya.

__ADS_1


Thank you 🙏


__ADS_2