
Gedung Royal Group
Seperti biasa aktivitas hari ini di perkantoran Gedung Royal Group sibuk dan padat. Karyawan dan karyawati perusahaan itu sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing yang sedang dikejar deadline. Demi mencari sesuap nasi, waktu yang berharga buat nokrong ataupun dihabiskan bersama keluarga terpaksa dikorbankan.
Royal Group merupakan perusahaan ternama dan untuk bisa menjadi karyawan tetap ataupun kontrak perlu perjuangan yang sangat berat, melewati berbagai seleksi dan para kandidat yang cukup hebat pula. Tetapi hal itu terbayarkan dengan berbagai fasilitas dan penghasilan yang terbilang sepadan dengan perjuangan itu.
"Maaf Bos, ada telepon dari Nyonya Celine," ucap Lucas menginterupsi rapat yang sedang berjalan sore ini di ruang meeting. Padahal jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tetapi belum ada tanda-tanda rapat itu akan berakhir.
Vincent menengadahkan tangannya, kemudian dengan sigap Lucas menyerahkan ponselnya.
"Halo Nek," sapa Vincent di telepon.
"Kamu masih di kantor? Nenek menghubungimu dari tadi gak diangkat-angkat," ucap Nyonya Celine. Vincent merogoh saku jasnya dan melihat ponselnya, ternyata ponselnya mati.
"Maaf, Nek. Handphoneku mati," jawab Vincent.
"Ada apa Nek? Aku lagi meeting. Kalau gak ada yang penting, nanti baru aku telepon balik setelah habis meeting," ucap Vincent lagi.
"Kamu masih ada mood buat meeting, ha?! Calon istrimu sudah pergi mencari pujaan hatinya." Nyonya Celine memarahi Vincent.
"Maksud Nenek apa?" Vincent mengernyitkan dahinya.
"Memangnya Amira ke mana?" tanya Vincent lagi mencerna perkataan Neneknya.
Nyonya Celine menghela nafas dengan kasar, merasa frustasi melihat cucunya ini, "Kamu ini ... kerjaan memang penting, tapi cinta juga harus dikejar. Kalau kamu begini terus, calon cucu menantu nenek kapan bisa jatuh hati sama kamu?"
"Nek ...." Vincent sudah tidak sabar, bukannya mendapatkan jawaban malah diceramahi.
"Baiklah, Nenek hanya bisa bilang, Amira ada di kota Amigos. Ia ikut penerbangan ke sana siang tadi. Kakeknya tadi bilang, masalah pertunangan itu tidak usah dibahas lagi, karena sudah ada orang yang disukai Amira."
"Sekarang terserah kamu, Nenek hanya bisa kasih kamu saran. Berusahalah mengejarnya lebih giat lagi," ucap Nyonya Celine kemudian mematikan secara sepihak.
Vincent terdiam sebentar memikirkan perkataan Neneknya. Suasana ruang meeting yang sebelumnya dingin menjadi makin suram, tidak ada yang berani mengeluarkan suara ataupun pendapat.
"Hari ini sampai di sini dulu. Kalian buat laporan dan presentasinya langsung kirimkan ke email saya," ucap Vincent kemudian meninggalkan ruangan.
Fiuuuuhhh ...! Semua yang masih berada di ruangan menghela nafas lega, sedari tadi rasanya untuk bernafas saja sulit!
"Rasanya lama-lama aku butuh tabung oksigen untuk mengikuti setiap rapat," ucap salah satu karyawan.
"Denyut jantungku malah berpacu lebih cepat daripada biasanya, seperti orang lagi jatuh cinta," timpal karyawan yang lain, yang sepanjang rapat mengeluarkan keringat dingin.
__ADS_1
Semua yang mendengar percakapan itu, tertawa bersama. Suasana ruangan yang suram menjadi cerah.
Vincent yang masih berdiri di luar ruangan hanya menyeringai dan mendengus kasar. Lucas yang berada di sampingnya tidak berani berkomentar apa-apa, kemudian mereka berjalan menuju lift.
"Kamu carikan tiket penerbangan ke Amigos malam ini!" perintah Vincent kepada Lucas setelah di dalam lift.
"Baik, Bos. Tetapi malam ini, ada perayaan ulang tahun Presdir Xiao, apa bos tidak menghadirinya?" tanya Lucas.
"Kamu siapkan saja hadiah dan minta Jason yang ke sana menggantikan aku," jawab Vincent.
"Baik, Bos," jawab Lucas.
Ting! (suara lift berdenting)
Vincent berjalan keluar menuju lobby, kemudian langkahnya terhenti dan berbalik menghadap Lucas yang berada di belakangnya, "Satu lagi, kamu coba cari tau di mana Amira Lin tinggal ketika berada di Kota Amigos, termasuk jadwal dia di sana. Kirimkan laporannya ke email-ku," perintah Vincent lagi.
Tanpa menunggu jawaban dari Lucas, dia berjalan ke arah pintu lobby dan masuk ke dalam mobil Rolls Royce yang sudah terparkir di depan menuju ke apartemennya untuk mengambil beberapa barang keperluannya.
Di dalam mobil, Vincent mengeluarkan ponselnya yang mati dan meminta kabel charger kepada Pak David yang sedang mengemudi. Karena kesibukannya di kantor, dia sampai lupa untuk membuka ponselnya. Hingga Nyonya Celine menghubunginya, baru Vincent sadar kalau ponselnya mati alias gak ada baterai.
Kemudian setelah ponselnya terisi sedikit, dia melihat ke kotak masuk pesan. Dicarinya nama Amira, dia menggeser jempolnya ke atas dan ke bawah, hasilnya NIHIL!
Gadis itu sama sekali tidak menghubungiku, batin Vincent yang sekarang hatinya merasa sedikit sakit. Merasa kehadirannya tidak berarti di kehidupan gadis itu.
"Halo," jawab Vincent tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Bro, kamu mau ke mana?" Seperti yang dia duga, Jason yang menghubunginya.
"Ah, kau mengacaukan kencanku malam ini, Bro. Seharusnya malam ini aku menemani wanita yang cantik dan seksi, malah harus menemani sesama pria. Teganya dirimu, Bro," cerocos Jason tanpa henti.
Vincent mendengus kasar dan menyeringai, "Kalau kamu mau dipindahkan ke Villas tidak apa-apa, tidak perlu hadir ke perayaan ultah Presdir Xiao, aku tidak masalah," ancam Vincent.
"Ow, baiklah, Bro. Aku lebih baik menemani pria saja, tidak apa-apa. Buang pikiran jahatmu itu!" ucap Jason mengalah.
"Malam ini aku ke Amigos. Untuk masalah di Serenity, tolong kamu handle dulu. Kalau ada masalah, kamu bisa cari aku di Little Royal atau telepon aku," ucap Vincent dengan nada sedikit memohon.
"Amigos?" Jason mengernyitkan dahinya.
"Ada urusan apa di Amigos? Oh, apa kantor cabang kita bermasalah?" tanya Jason mendadak panik.
"...." Hening tidak ada jawaban dari Vincent.
__ADS_1
Jason segera menutup mulutnya dan memukul bibirnya, "Mmm .... Anggap saja aku tidak mengatakan apapun."
"Baiklah, selamat bersenang-senang di sana. Kabari aku kalau sudah sampai," ucap Jason mengakhiri teleponnya.
Drrt ....
Ponsel Vincent bergetar, ia membaca pesan masuk di ponselnya.
Lucas
Bos, penerbangan ke Amigos malam ini jam delapan. Sudah saya kirimkan mengenai jadwal Nona Lin ke email anda dan alamat tempat tinggalnya beserta tiket penerbangan malam ini.
Vincent membaca pesan tersebut dan mengecek email-nya, kemudian melihat laporan yang dikirimkan oleh Lucas padanya.
°
°
°
°
°
°
Sementara itu di Amigos.
Amira baru sampai di apartemen tempat tinggal dirinya dan Tiffany. Apartemen itu cukup kecil dan sederhana, tetapi cukup bagi mahasiswi seperti mereka berdua.
Apartemen tersebut cukup strategis dan dekat dengan kampus mereka serta pusat perbelanjaan. Amira memasuki unit apartemennya. Dia menarik kopernya dan masuk ke kamarnya.
Hari ini suasana di apartemen cukup sepi. Tidak ada Tiffany di sana, karena hari ini hari Sabtu. Biasanya Tiffany pulang ke rumah orang tuanya di hari weekend. Rumah orang tuanya cukup jauh dengan kampusnya, oleh karena itu Tiffany menumpang di apartemen Amira selama weekday.
Amira menghempaskan dirinya di atas tempat tidur. Kopernya diletakkan begitu saja di atas lantai. Dia menatap langit-langit kamarnya.
Perjalanan hari ini cukup melelahkan. Apalagi mengingat tadi di bandara, ada beberapa wanita asing yang mengejarnya bahkan mendorong serta nyaris mencakarnya. Para wanita asing itu ternyata salah satu dari beberapa fans ataupun netizen gila yang tidak menyukai berita dirinya dan Vincent bersama. Untung saja ada petugas keamanan bandara yang membantunya di sana.
Selama perjalanan dari Bandara Serenity hingga ke apartemennya, Amira terpaksa memakai kacamata hitam dan menutup wajahnya dengan syal yang dibawanya.
"Sudah seperti buronan saja, fiuuuhh ...! Ini gara-gara si mesum itu!!" gumam Amira kesal.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue ....