Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 56


__ADS_3

Halo readerss ❤


Sebelum membaca, mohon bantuannya ya untuk klik tombol like untuk setiap bab sebelumnya yang sudah dibaca dan bab ini.


Mohon dukungannya juga untuk vote cerita ini 😘


Bantuan dan dukunganmu adalah semangat untukku 🥰


Semoga kalian suka dengan ceritanya 🤗


Thank you 🙏


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Keesokan harinya, Amira kembali ke apartemennya setelah keadaannya cukup membaik.


Di depan pintu apartemennya, Amira melihat Leon yang sedang berdiri menundukkan kepalanya dan menyandarkan punggungnya di pintu.


"Kak Leon?"


Leon mendongakkan kepalanya, menatap Amira yang berada di depannya. Ia tersenyum lembut, tetapi matanya tersirat kesedihan yang mendalam.


"Ami..," ucapnya pelan.


"Kak Leon, sudah lama di sini?" tanya Amira melihat raut wajah Leon yang sedikit kusut, tidak seperti Leon yang selalu berpenampilan rapi.


"Kamu habis dari mana?" tanya Leon tidak menjawab pertanyaan Amira. Ia melihat Amira yang masih mengenakan baju kaos dan celana pendek yang diberikan oleh Leon waktu itu. Matanya tidak luput juga melihat jejak-jejak peninggalan Vincent di leher Amira.


Amira menjadi salah tingkah dilihat seperti itu oleh Leon. Ia tidak menjawab pertanyaan Leon.


Amira berjalan mendekati pintu dan menekan sandi pintu apartemennya. Ia masuk ke dalam dan mempersilahkan Leon untuk masuk.


"Kak Leon, duduk aja dulu. Aku ganti baju dulu," ucap Amira masuk dan berganti pakaian.


Ia sudah gerah memakai baju yang sama dari kemarin malam, sebenarnya ia ingin berganti pakaian yang ada di lemari Vincent yang berada di Hotel Martinez, tetapi ia mengurungkan niatnya itu. Ia menggunakan pelayanan laundry express untuk mencuci pakaiannya, sementara di-laundry Amira memakai jubah mandi dari hotel.


Setelah berganti pakaian, Amira keluar dari kamar dan menemui Leon di ruang tamu.


"Maaf ya Kak nunggu lama," ucap Amira merasa tidak enak. Ia tau Leon sudah menunggunya lama di depan pintu tadi.

__ADS_1


"Nggak kok, aku juga baru nyampe," kilah Leon.


"Mmm baju Kak Leon nanti habis cuci baru aku balikin ya," ucap Amira lagi, ia tidak berani menatap mata Leon.


"Buat kamu aja, lagian juga aku sudah gak muat."


Amira mengangguk pelan. Setelah itu hening, tidak ada yang membuka pembicaraan, hingga suara dering telepon memecahkan kecanggungan di antara mereka.


Leon mengambil ponsel di dalam saku jasnya dengan canggung, ia tidak melihat nama si penelepon dan langsung mengangkatnya.


"Halo," jawab Leon.


"Leon?" balas si penelepon, yang tidak lain adalah Vincent.


Leon melihat ke arah ponsel yang dipegangnya, ia lupa kalau kedatangannya ke sini adalah untuk mengembalikan ponsel Amira yang tertinggal di rumahnya. Tiffany meminta tolong kepada Leon untuk mengantarkan kepada Amira, karena ia ada urusan mendesak.


Amira melongo melihat ponsel dirinya ada di Leon, dan kaget setelah Leon menyerahkan ponselnya ke arahnya. Ia melihat nama di layar ponselnya, Your Vincent ❤.


Dengan cepat ia mengambil alih ponselnya, "Halo," jawab Amira gugup.


"...." Tidak ada jawaban dari Vincent. Amira menelan salivanya pelan menunggu tanggapan Vincent.


"Di apartemenku," jawab Amira gugup.


"...." Hening. Vincent tidak mengucapkan apapun. Amira menggigit bibirnya.


"Vin, itu tadi Kak Leon. Dia kemari untuk mengembalikan ponselku yang ketinggalan di rumahnya waktu itu," jelas Amira dengan gugup menanti tanggapan Vincent.


".... Aku besok kembali ke Amigos. Tunggu aku di apartemenku," perintah Vincent dan mematikan ponselnya.


Amira masih mematung dengan memegang ponselnya di telinga. Leon menepuk pundaknya. Amira kaget dan menatap Leon.


"Kenapa? Dia marah sama kamu?" tanya Leon penasaran.


"Ah nggak kok Kak. Tadi Kak Leon kemari mau ngembaliin ponselku ya?" tanya Amira berusaha bersikap normal.


"Iya. Maaf ya, aku malah mengangkat teleponmu," Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ami, kamu suka sama Vincent?" tanya Leon yang ingin memastikan perasaan Amira.

__ADS_1


Amira mengangguk pelan, "Maaf ya Kak, aku tidak bisa membalas perasaan Kak Leon."


"Apakah kalau aku mengungkapkan perasaanku jauh lebih awal sebelum kau berjumpa dengan Vincent, kau bisa menerima perasaanku?" tanya Leon ingin memastikan lagi.


Amira terdiam sejenak. Sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Leon itu, tetapi ia membulatkan tekadnya untuk mengatakannya, ia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Leon.


"Sejujurnya aku dari dulu suka sama Kak Leon, mungkin Tiffany pernah mengungkitnya sama Kak Leon. Tetapi semenjak bertemu dengan Vincent, aku merasa bahwa perasaanku terhadap Kak Leon dan perasaanku terhadap Vincent itu berbeda."


"Aku merasakan perasaan nyaman ketika bersama Kak Leon, tetapi itu bukan cinta. Itu hanya perasaan sayang. Berbeda rasanya ketika aku bersama Vincent, aku selalu berdebar-debar setiap bersamanya, walaupun terkadang aku tidak dapat menebak isi hatinya, tetapi aku tau ia tulus mencintaiku dan begitu juga perasaanku terhadap dia." Amira menjelaskan isi hatinya kepada Leon, ia merasa tidak enak dengan Leon.


Leon tersenyum miris, ia tau bahwa Amira akan menolaknya. Tetapi mendengar dari mulut Amira sendiri bahwa Amira tidak mencintainya, rasanya sungguh perih. Luka yang sudah menganga, ditabur garam lagi di atasnya, seperti itulah perasaan Leon sekarang.


"Aku berdoa semoga Kak Leon bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku," ucap Amira tulus.


Amira tidak ingin Leon berharap padanya. Biarkan Leon menemukan gadis yang lebih pantas darinya. Tidak masalah apabila Leon membencinya sekarang, itu sudah resiko yang harus ia hadapi karena memilih Vincent.


Leon mengerti ucapan Amira, ia tidak ingin membebani Amira dengan perasaan darinya. Leon hanya bisa memilih untuk secara diam-diam menyukainya atau mungkin secara perlahan melupakan perasaannya. Hanya itu pilihan yang ada di depan matanya saat ini.


"Baiklah, aku sudah paham maksudmu," ucap Leon, ia beranjak dari duduknya dan mendekati Amira.


Amira kaget dengan sikap Leon yang tiba-tiba mendekatinya. Leon tersenyum dan mengacak-acak rambut Amira. Menatap Amira dan mencubit hidung Amira.


"Apa yang kamu pikirkan? Kamu kira aku akan menciummu?" sindir Leon tersenyum. Amira menjadi salah tingkah.


"Aku selamanya adalah Kak Leon milikmu, Ami. Jangan menghindar dariku. Tetaplah bersikap manis seperti Amira yang biasanya," ucap Leon dengan lembut.


Amira menatap Leon dengan mata berkaca-kaca, "Maaf Kak," ucap Amira pelan, air matanya jatuh dari pelupuk matanya, ia menundukkan wajahnya.


Leon memeluk Amira dan menepuk punggung Amira dengan lembut, "Biarkanlah aku memelukmu untuk terakhir kalinya Ami," ucap Leon pelan, ia berusaha menahan air matanya yang berada di pelupuk matanya. Ia tidak ingin Amira melihatnya dan mendongakkan kepalanya ke atas.


Amira tidak ingin menolak permintaan Leon itu dan hanya mengangguk pelan.


Setelah berhasil mengontrol perasaannya, Leon melepaskan pelukannya dari Amira. Ia tersenyum dan mengacak-acak rambut Amira lagi.


"Katakan padaku kalau Vincent berani melukaimu, aku akan memberinya pelajaran untukmu," ucap Leon tertawa, tetapi ucapannya itu serius diucapkan olehnya. Ia akan menghajar Vincent apabila Vincent melukai Amira dan menyia-nyiakannya.


Amira tersenyum lembut mendengarkan ucapan Leon. Rasanya Leon tidak rela untuk mengalah saat ini, ia berharap Amira dapat berpaling kepadanya sekarang juga, tetapi ia tau itu tidak mungkin terjadi. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka di hatinya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2